Genuine Caring: Sinergi Bidan-Pasien

Topik bahasan yang diangkat minggu ini masih seputar mutu pelayanan kebidanan. Seperti halnya tenaga kesehatan profesional lain, bidan memiliki peran penting dalam proses pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak. Peran tersebut tidak dapat dipungkiri semakin memiliki ‘porsi’ yang besar untuk daerah terpencil, dimana jumlah tenaga kesehatan sangat terbatas. Tuntutan untuk mempertahankan mutu dapat ‘terabaikan’ manakala rasio provider kesehatan yang tersedia dengan pengguna layanan kesehatan tidak sebanding. Namun tentu saja setiap upaya peningkatan mutu tetap harus dilakukan dan diusahakan oleh provider kesehatan, salah satunya adalah membekali tenaga kesehatan dengan pengetahuan dan ketrampilan yang memadai, serta tentu saja membangun relasi yang baik dengan pasien itu sendiri.

Minggu ini akan disajikan 2 artikel yang diharapkan dapat memberikan input positif. Artikel pertama akan menguraikan bagaimana penerapan genuine caring dapat meningkatkan mutu pelayanan bagi ibu hamil. Sedangkan artikel kedua akan memaparkan rekomendasi yang dapat dijadikan referensi untuk meningkatkan mutu pelayanan melalui bidan yang berkualitas. (lei)

 

Genuine Caring: Peningkatan Pelayanan Ibu Hamil Dalam Meningkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan

Proses persalinan membutuhkan perhatian dan perawatan optimal dan intensif terutama pada saat menangani ibu hamil yang mempunyai faktor risiko dan komplikasi tinggi. Perhatian dan perawatan optimal diberikan bukan hanya pada saat proses persalinan namun diberikan juga pada fase kehamilan, dan postpartum awal. Fase-fase ini sangat berisiko dan memerlukan penanganan optimal. Risiko tinggi akan terus meningkat jika wanita menjalani kehamilan tanpa ada perencanaan sehingga tidak bisa dikontrol sesuai prosedur layanan kesehatan.

Pada tahun 2001 WHO menyatakan proporsi kehamilan normal kurang dari 10% dari total ibu hamil di seluruh dunia dan berglund dan Lindmark tahun 2000 di Swiss menemukan hanya sebagian wanita saja memiliki kehamilan normal misalnya kehamilan tanpa nyeri sedangkan sebagian besarnya berisiko tinggi untuk terkena dan rentan terhadap penyakit karna secara emosional ibu hamil lebih cemas, takut, ambivalen terhadap kehamilan dan perasaan gagal melahirkan. Hal ini bisa dicegah dengan meningkatkan perhatian intensif pada masa kehamilan, mengurangi kecemasan ibu hamil akan hal-hal terkait proses persalinan dan pendampingan dari tenaga kesehatan untuk mendukung persiapan persalinan.

Perkembangan ilmu pengetahuan kesehatan membatasi ruang gerak bidan, bidan bertanggungjwab pada persalinan normal sedangkan dokter bertanggungjawab pada persalinan dengan risiko tinggi. Ini dapat menimbulkan rasa ketidakmiliki dan perhatian terhadap keamanan dan keselamatan pasien ketika dalam fase kehamilan, persalinan dan post partum awal.

Genuine caring dicapai dengan melakukan 3 hal antara lain:

  • Membangun protective relationship
    Komponen ini sangat penting bagi wanita hamil yang berisiko tinggi untuk melindungi martabat wanita dimana setiap wanita hamil diperlakukan secara baik sebagai pribadi yang unik, perlu hubungan mutualitas atau hubungan timbal balik dari bidan dan ibu hamil secara terbuka, memiliki hubungan saling membutuhkan dan saling percaya. 5 komponen untuk membangun protective relationship antara lain:
    • Mutuality
      Dibutuhkan saling pengertian antara bidan dan ibu hamil dan saling terbuka bukan hanya pada masalah proses persalinan namun sampai pada pembayaran. Hal ini mengurangi stress, mencegah ketidaknyamanan dan ketidakpuasan. Mutuality diperlukan hubungan yang simetris karena mempertemukan 2 orang yang siap ‘memberi dan menerima’
    • Trust
      Bidan harus percaya pada keluhan ibu hamil. Feeling, penafsiran kelahiran dan kemampuan layaknya seorang ibu mengasuh anaknya. Sebaliknya bidan membutuhkan kepercayaan akan profesional dan tugasnya dari ibu hamil
    • Ongoing dialog
      Membangun hubungan yang erat diperlukan komunikasi yang terus menerus, ini cara menunjukan respect ibu hamil dan tanggung jawab bidan mendampingi ibu hamil, komunikasi yang dibangun juga untuk mengetahui apa yang terjadi selanjutnya, dan ibu hamil siap menghadapi situasi itu
    • Shared responsibility
      Karena ibu hamil berisiko tinggi maka perlu share keadaan dan kondisi yang terjadi ke bidan yang mendampingi dan bidan yang mendampingi memberikan respon untuk keselamatan ibu dan janin yang ada dalam kandungan.
    • Presence
      Bidan perlu menemani ibu hamil, hal ini membutuhkan kedekatan secara emosional dan fisik. Membantu meminimalizir risiko tinggi yang kemungkinan terjadi pada saat kehamilan dan persalinan, hal ini membutuhkan waktu dan tenaga.

      art-11jul

      Model penanganan ibu hamil dengan risiko tinggi: Genuine caring in caring for the genuine

  • Update knowledge
    Genuine care kedua yang bisa diidentifikasi adalah update knowledge, penangangan ibu hamil perlu berfokus pada knowledge terintegrasi, selain itu ibu hamil dapat menjadi pelajaran buat bidan, satu ibu hamil satu pelajaran karena setiap ibu hamil memiliki kebutuhan dan keluhan yang bermacam-macam. Bidan mengintegrasikan dengan knowledge yang dimiliki sehingga meningkatkan kemampuan bidan menangani ibu hamil.
    Update knowledge terdiri dari dari 5 elemen antara lain
    • Genuineness towards oneself
      Ibu hamil menerima keadaannya untuk bersalin tanpa rasa takut, ketika emosi ibu hamil tidak stabil maka bidan mengobservasi dan mengukur tekanan darah.
    • Intuitive dan reflective knowledge
      Peran bidan memberikan security dan safety bagi ibu hamil, terutama risiko tinggi, membutuhkan praktik dan banyak pengalaman, perlu membagi dan sharing pengalaman antar sesama bidan dengan tujuan dapat saling mensupport dan mencari jalan keluar jika menemukan masalah yang sulit untuk diatasi sendiri.
    • Balancing natural dan medical perspective
      Menyeimbangkan alami dan modern meningkatkan sensitifitas kepedulian.
    • Supporting normalcy
      Ibu hamil berisiko mau diperlakukan secara normal, bidan menggunakan teknik dan skill untuk mempromosikan dan menangani persalinannya demi keselamatan ibu dan anak.
    • Exhibiting sensitivity for the genuine
      Genuine sensifitas meningkatkan proteksi dengan meningkatkan kepedulian yang lebih misalnya menganggap komplikasi bukan hanya komplikasi tapi lebih dari sekedar komplikasi, selain itu ibu hamil dengan penyakit tertentu mendapatkan perlakuan lebih misalnya ibu hamil dengan diabetes diperiksa level gula darahnya dll

Pendampingan ibu hamil bukan saja pada keadaan fisik namun pendampingan juga secara psikologis, perlu persiapan persalinan dan memperkuat emosi ibu serta memberikan konseling mempersiapkan diri menjadi parents. Penelitian terkait hubungan ibu hamil dan bidan perlu ditingkatkan supaya dipakai sebagai evaluasi perbaikan mutu pelayanan kesehatan ibu dan anak setiap saat. Hubungan yang dibangun bukan hubungan ibu hamil dan pasien namun hubungan yang lebih dari itu yakni hubungan rela “memberi dan menerima”.

Oleh : Dedison Asanab, S.KM (Peneliti Pusat Penelitian Kebijakan Kesehatan dan Kedokteran Undana)

Sumber: Marie Berg, 2005. A Midwifery Model Of Care For Childbearing Women At High Risk: Genuine Caring In Caring For The Genuine. The Journal of Perinatal Education | Winter 2005, Volume 14, Number 1.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1595225/pdf/JPE140009.pdf 

 

Menjamin Mutu Pelayanan Kebidanan melalui Bidan yang Berkualitas

Isu ketenagaan merupakan salah satu isu yang masih belum terpecahkan sampai sekarang di Indonesia maupun negara-negara berkembang lainnya, jumlah tenaga yang sangat minim dan penyebaran yang tidak merata merupakan hal yang masih sering dijumpai. Apalagi di era JKN sekarang ini, isu ini diprediksi akan memperburuk pelayanan kesehatan dan memperbesar gap antara daerah yang maju dan daerah tertinggal dalam pelayanan kesehatan. Terlepas dari isu tersebut pernahkan kita bertanya, bagaimana kualitas kompetensi dari tenaga yang ada sekarang ini? Apakah berkualitas atau hanya sekedar “ada” saja? Apabila jawabannya tidak maka hal ini merupakan masalah yang serius karena akan berefek domino, sudah tenaganya kurang yang ada pun belum tentu berkualitas.

Salah satu jenis tenaga yang mendapat perhatian penting adalah bidan. Hal ini karena bidan mempunyai peranan penting dalam sistem pelayanan kesehatan, selain bertanggungjawab menyelamatkan ibu dalam proses kelahiran bidan juga harus memastikan anak yang dilahirkan selamat dan sehat tanpa komplikasi apapun, ada 2 nyawa yang menjadi tanggung jawab bidan, yakni ibu dan bayinya. Selain itu untuk daerah-daerah terpencil (desa) bahkan masih terjadi di perkotaan, bidan merupakan orang pertama yang dicari untuk mendapat pengobatan dasar, biasanya setelah pelayanan dari bidan tidak berhasil barulah masyarakat pergi ke dokter atau puskesmas. Menurut Morolong & Chabeli, untuk menjamin mutu pelayanan kesehatan yang baik, sistem kesehatan membutuhkan bidan dan perawat yang kompeten.

Yang menjadi pertanyaannya sekarang apakah bidan-bidan kita sekarang ini sudah kompetent? Untuk menjawab hal ini salah satu penelitian dari Seani A, dkk bisa menjadi bahan pertimbangan yang menarik untuk kita memperbaiki mutu pelayanan bidan kita. Seani, dkk melakukan pengukuran kompetensi bidan-bidan terkait pencegahan low Apgar Score pada neonatus di Afrika Selatan, tepatnya pada 130 orang bidan di 3 rumah sakit daerah di Distrik Vhembe, Propinsi Limpopo. Dari 130 orang bidan yang ikut sebagai responden 70,5% diantaranya berusia kurang dari 40 tahun, hal ini menurut Seani, dkk merupakan hal yang baik karena bidan-bidan muda biasanya lebih fresh dan punya banyak pengetahuan baru yang membantu dalam memberikan pelayanan. Namun bukan berarti bidan senior (yang berusia lebih tua) tidak diperlukan, mereka sangat diperlukan untuk mentoring dan sharing experience kepada junior atau adik-adik mereka yang lebih muda.
Seani, dkk membagikan angket berupa daftar skill atau kompetensi yang seharusnya dimiliki oleh seorang bidan dan responden harus menjawab sesuai dengan persepsi mereka apakah mereka merasa punya kompetensi yang baik untuk setiap skill tersebut atau tidak. Hasilnya cukup mengejutkan karena lebih dari 50% bidan-bidan tidak merasa berkompeten untuk beberapa skill seperti mengukur tekanan darah dengan benar, mengukur diameter kepala bayi, managemen efek dari Demerol, persalinan sungsang, persalinan vakum dan vorsep, distosia bahu, interpretasi CTG, dan pengukuran pada kasus Caput 2++. Skilll-skill tersebut merupakan skill minimal yang harus dimiliki seorang bidan untuk menjamin ibu dan bayi yang dilahirkan sehat tanpa komplikasi (Apgar Skor kurang dari 10/10). Seani, dkk menelusuri lebih lanjut ternyata skill-skill tersebut sudah diberikan atau diajarkan pada saat pendidikan bidan dulu, dan bahkan ada juga yang dilatih kembali pada saat capacity building di rumah sakit.

Oleh karena itu Seani, dkk memberikan rekomendasi sebagai berikut :

  1. Mentoring secara berkelanjutan untuk bidan-bidan muda atau yang baru lulus dan baru bekerja di rumah sakit oleh bidan senior yang bertanggung jawab di unit maternitas atau bisa juga melibatkan dosen atau pembimbing dari organisasi pendidikan bidan yang kompeten.
  2. Kebijakan, norma, manual, dan SOP yang berkaitan dengan pelayanan kebidanan harus terus direview, diperbaharui dan disosialisasikan kepada seluruh bidan untuk menjadi perhatian.
  3. In-service Education kepada semua bidan yang terlibat dalam pelayanan dalam bentuk workshop, symposium, short course, dan sebagainya. Hal ini harus dilakukan secara terus menerus selain untuk meningkatkan kompetensi bidan hal ini juga sebagai refreshing pengetahuan bagi mereka.

Terkait dengan masalah kekurangan tenaga yang masih menjadi prioritas kita di Indonesia, menurut Hoope-Bender, dkk dalam pemenuhan tenaga kesehatan, investasi di bidang pendidikan saja tidak akan berhasil tanpa adanya perbaikan regulasi, manajemen SDM, dan lingkungan tempat tenaga tersebut akan bekerja. Apabila 3 komponen ini berjalan baik maka tidak hanya jumlah tenaga saja yang terpenuhi namun juga menjamin mutu pelayanan kesehatan yang berkualitas. Dalam konteks pemenuhan tenaga bidan, hal ini ditegaskan oleh Renfreu, dkk yang menyatakan bahwa pelayanan kebidanan yang bermutu berhubungan dengan penggunaan sumber daya yang efektif dan efisien, hal ini hanya bisa tercapai apabila dikerjakan oleh bidan yang berpendidikan, terlatih, berlisensi, dan diatur dengan aturan yang jelas. Semua itu harus terintegrasi dengan sistem pelayanan kesehatan, yakni dalam hal kerjasama tim yang efektif, sistem rujukan, dan sumber daya kesehatan yang mencukupi.

Hal ini bisa menjadi masukan yang baik bagi kita untuk menyempurnakan sistem pelayanan kesehatan kita demi menjamin mutu kesehatan yang merata untuk seluruh rakyat Indonesia.

Oleh : Stevie Ardianto Nappoe, SKM-Pusat Penelitian Kebijakan Kesehatan dan Kedokteran-UNDANA
Sumber : Seani. A, et all. 2013. Competence of Midwives with Regard to The Prevention of Low Apgar Scores among Neonates. International Journal of Research in Medical and Health Sciences (IJRMHS) Nov. 2013, Vol. 3, No. 3, ISSN : 2307-2083. http://www.ijsk.org/uploads/3/1/1/7/3117743/1_nursing.pdf 

Renfreu, J. Mary, et all. 2014. Midwifery and quality care: findings from a new evidence-informed framework for maternal and newborn care. Lancet; 384: 1129–45.
http://www.thelancet.com/pdfs/journals/lancet/PIIS0140-6736(14)60789-3.pdf 

 

Quality Incentive Payments: Team-based or Individualized?

payJuly 06, 2015 12:28 pm Sheri Porter – Pay-for-performance programs first appeared on the health care landscape more than decade ago, and ever since then, stakeholders have been struggling with how to best reward health care professionals for their good work. Are physicians and other health care professionals best incentivized with payment based on individual-level work or with team-based compensation?

Continue reading

ICMR to begin research in ‘Quality of care in pregnancy and childbirth’ soon

pharmabizIndian Council of Medical Research (ICMR) will soon begin research in the area of ‘Quality of care in pregnancy and childbirth’.

The research areas under this project include interventions using quality maternal health indicators as an outcome; evidence on the sustainability of proven interventions including evidence on feasibility of implementation and scale up in a variety of settings;

 

Continue reading

RSUD Sumedang Intensifkan IGD Menjelang Lebaran

rs sumedangSUMEDANG, (PRLM).- Rumah Sakit Umum Daerah Sumedang akan mengintensifkan pelayanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) menjelang Hari Raya Idul Fitri 1436 H.

Upaya itu guna menangani para pasien emergency, terutama yang mengalami kecelakaan lalu lintas (laka lantas) di perjalanan ketika mudik Lebaran ke kampung halamannya. Terlebi jika kecelakaannya menonjol (lakajol) yang menimbulkan lebih dari lima korban tewas.

Continue reading

New online tool compares quality of local long-term care homes

the recordWATERLOO REGION — No longer will people deciding on long-term care have to rely on personal anecdotes or how a home looks or during a quick visit.

Now they can use an online tool that measures the quality of care in long-term care homes across Canada and allows comparisons.

Researchers at the University of Waterloo lead the development of criteria used for the tool, launched this week by the Canadian Institute for Health Information.

“It empowers the public by giving them information that they can use to make decisions or ask questions about quality of care,” said Prof. John Hirdes of UW’s school of public health and health systems.

“Now you can judge for yourself.”

The searchable database includes more than 1,000 facilities in nine provinces.

Continue reading

Urusan Kesehatan di NTT Perlu Disinkronkan

suarapembaharuanKupang- Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terus berupaya mensosialisasi pelaksanaan kesehatan di NTT. Hal itu untuk penguatan Sistem Kesehatan Daerah dalam konteks Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dan Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Hal itu disampaikan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, melalui Kepala Biro Kesra NTT, Bertholomeus Badar,SH, MM pada acara lokakarya di Hotel T-More, Kupang, Selasa, (30/6).

Continue reading

The Quality Of Health Care You Receive Likely Depends On Your Skin Color

huff postUnequal health care continues to be a serious problem for black Americans.

More than a decade after the Institute of Medicine issued a landmark report showing that minority patients were less likely to receive the same quality health care as white patients, racial and ethnic disparities continue to plague the U.S. health care system. That report, which was published in 2002, indicated that even when both groups had similar insurance or the same ability to pay for care, black patients received inferior treatment to white patients.

Continue reading