DPR akan Bahas Nasib Program Magang Dokter

Jakarta (Republika.co.id)— DPR akan melakukan pembahasan dengan pihak terkait mengenai kelanjutan program internship (magang) untuk dokter baru. Ini menyusul banyaknya masukan dari mahasiswa fakultas kedokteran (FK) dan juga para praktisi serta akademisi di bidang ini yang meminta untuk melakukan evaluasi terhadap program tersebut.

Continue reading

SJSN Diharapkan Bisa Tingkatkan Mutu Pelayanan RS

Jakarta (Kompas.com) – Rumah sakit diharapkan menerapkan kendali mutu dan biaya agar pelayanan rumah sakit terjaga mutunya dan keselamatan pasien. Menurut Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI), adanya SJSN diharapkan mampu mendorong pengembangan pelayanan kesehatan dengan mengedepankan pelayanan yang efisien dan efektif.

Continue reading

Setiap Minggu 1 Pesawat Jumbo Jet Jatuh di Indonesia, Isinya Ibu Hamil Semua

Oleh : dr.Sitti Noor Zaenab, M.Kes.

art-18mar-2Judul tulisan ini menggambarkan bahwa setiap minggu di wilayah Indonesia ada sekitar 300 lebih ibu mati/meninggal karena hamil, melahirkan, dan nifas. Bayangkan setiap minggu ada 300 nyawa ibu melayang yang dalam setahun identik dengan 52 kali pesawat jumbo jet jatuh dan penumpangnya mati semua. Dan yang melayang itu nyawa sungguhan, siapa yang peduli? Sepertinya biasa saja, tapi pernahkah anda membayangkan kalau yang kena musibah itu adalah anda sendiri atau keluarga dekat anda? Bagaimana kesedihan dan rasa kehilangan yang dialami? Yang lebih membuat miris lagi adalah kenyataan bahwa sekitar 60% kematian itu sebenarnya bisa dicegah (avoidable). Penggambaran di atas menggunakan angka “absolut”, tetapi selama ini kita sering hanya menggunakan angka”rates”.

Seperti kita ketahui bahwa di tahun 2015 kita harus bisa mencapai target MDG 4 yaitu kematian bayi (AKB) sebesar 23/1000 KH, dan target MDG 5 yaitu kematian ibu (AKI) sebesar 102/100.000KH. Menurut SDKI (Survei Demografi Kesehatan Indonesia) AKI tahun 1991 sebesar 390/100.000KH, turun menjadi 228/100.000KH pada tahun2007. Apakah kita bisa mencapai target 102/100.000KH pada tahun 2015 yang tinggal 2 tahun lagi?

Menurut Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc. Ph.D, situasi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di Indonesia memprihatinkan, kematian ibu dan kematian bayi tidak menurun, justru meningkat di berbagai provinsi dan kabupaten/kota. Mengapa kita tidak awas pada kematian yang meningkat? Apa yang kurang tepat selama ini? Apakah kesehatan ibu dan anak bukan merupakan isu penting? Dengan latar belakang seperti itu, terlihat bahwa selama ini sistem monitoring kinerja program KIA hanya menggunakan angka “rates” bukan angka “absolut”. Angka “rates” ini merupakan hasil dari berbagai survei, dan survei yang menggunakan metode berbeda akan membuahkan hasil yang berbeda pula. Dengan hanya mengandalkan data survei yang berupa rates, program KIA menjadi tidak riil karena hanya berhadapan dengan gambaran angka, tidak sempat membayangkan bahwa yang mati itu adalah manusia nyata. Penggunaan data rates juga berarti selalu ketinggalan dengan kejadian riil di lapangan. Mengkonkritkan program KIA menjadi penting karena selama ini sistem kesehatan dan segala programnya jarang yang berani menggunakan penurunan kematian ibu dan kematian bayi sebagai tujuan terukur. Kita tidak tahu bagaimana menghubungkan penurunan kematian ibu dan kematian bayi dengan program. Akibatnya dalam pelaksanaan program KIA tidak ada pacuan (peningkatan adrenalin) untuk para pelaku kegiatan.

Di Provinsi DIY dan Provinsi NTT dilakukan kegiatan dengan menggunakan data absolut untuk meningkatkan adrenalin para pelaku kegiatan. Di NTT program dilakukan sejak tahun 2010 dengan bertumpu pada program Sister Hospital, sementara di DIY dilakukan pada tahun 2012 dengan menggunakan model surveilans respons dan peningkatan perhatian pada kejadian nyata kematian ibu dan kematian bayi. Kedua provinsi ini juga menata sistem rujukan dengan mengembangkan manual rujukan KIA.

Berangkat dari permasalahan dan pengalaman tersebut maka pada tanggal 8 dan 9 Maret 2013 Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM dalam rangka Annual Scientific Meeting (ASM) 2013 FK UGM, menyelenggarakan Semiloka mengenai: Penggunaan data Kematian “absolut” untuk Peningkatan Kinerja Program MDG 4 dan MDG 5 di level kabupaten/kota. Semiloka ini bertujuan merumuskan model penggunaan data absolut untuk meningkatkan kepedulian dan memacu adrenalin pelaku kegiatan KIA, dan mengenalkan manual rujukan KIA di level kabupaten/kota. Juga membahas keuntungan dan kerugian menggunakan data absolut dalam konteks penghitungan rates.

Semiloka ini sangat menarik karena para pembicara adalah para pelaku dan pengambil kebijakan di daerah, seperti Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT dan Provinsi DIY, Kepala Dinas Kesehatan kabupaten Ende dan Kabupaten Kulon Progo, Direktur RSUD Bajawa dan RSUD Panembahan Senopati Bantul. Tampil sebagai pembahas utama adalah para pakar di bidangnya yaitu: Dirjen Bina Gizi dan KIA Kementerian Kesehatan yang diwakili oleh dr.KiranaPritasari, MQIH., pakar manajemen kesehatam Prof.dr. Laksono Tisnantoro, M.Sc, Ph.D., pakar epidemiologi Prof.dr. Bhisma Murti, MPH, M.Sc., dan pakar KIA Prof.dr.Endang Basuki, MPH. Acara ini dibuka dan ditutup oleh Dr.dr. Ova Emilia, Sp.OG (K), M.Med.Ed selaku Wakil Dekan Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni FK UGM.

Menurut dr.Sarminto, M.Kes (Ka.Dinkes DIY) keuntungan pemakaian angka absolut adalah bahwa angka bisa diperoleh bulanan sehingga lebih mudah dipakai untuk memantau perkembangan program, tetapi angka rates juga punya kelebihan yaitu angka lebih bisa dipercaya karena berdasar survei. Hal tersebut didukung pula oleh dr.Hambang Haryatno,M.Kes (Ka.Dinkes Kulon Progo), bahwa nilai positif dari penggunaan angka absolut adalah dapat dengan mudah diamati peningkatan atau penurunannya tanpa perlu melihat jumlah kelahirannya, artinya dapat secara actual menunjukan progress angka kematian. Angka absolut lebih cocok digunakan untuk analisis dalam wilayah, kenaikan satu angka saja sudah berarti atau berpengaruh bagi suatu wilayah, dan intervensi terhadap kejadian kematian Ibu dan Bayi dapat langsung ditindak lanjuti. Adapun nilai positif dari penggunaan angka rates yaitu bagus untuk membandingkan dengan wilayah lain. Juga penggunaan angka rates lebih adil karena secara proporsional menghitung jumlah kematian dengan jumlah penduduk / kelahiran hidup. Pendapat-pendapat tersebut dilengkapi pula oleh dr. Johanes Don Bosco Do, M.Kes. (Ka.Dinkes Ende) bahwa angka absolut sangat cepat untuk digunakan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Sedang angka rates cocok untuk penentuan target kinerja program.

Dari semiloka ini ada beberapa hal yang disimpulkan bersama yaitu:

  1. Penggunaan angka absolut dan rates keduanya dibutuhkan bersama-sama
    • Angka absolut untuk melihat secara cepat kasus kematian dan memberi respon cepat di suatu wilayah. Juga melihat secara nyata (berapa kepala/nyawa yang hilang) dari tahun ke tahun. Bisa memacu adrenalin!!
    • Angka rates dipakai untuk membandingkan antar wilayah yang berbeda, dipakai untuk respon terencana.
  2. Untuk mengurangi kegaduhan sewaktu menghadapi kedarurutan obstetri perlu menata sistem rujukan KIA dengan menyusun manual yang jelas dan berdimensi lokal, dengan menyertakan sumber pendanaannya yang jelas.
  3. Konsep Surveilans Respons penting sekali diterapkan dalam program KIA, terutama deteksi kasus kematian ibu dan bayi, dan konfirmasi kasus dalam kegiatan AMP
  4. Jumlah kematian maternal cenderung menurun, tapi kematian neonatal masih tetap/cenderung meningkat
  5. Presentasi jumlah kematian yang bisa dicegah lebih tinggi daripada yang tidak bisa dicegah
  6. Untuk mengetahui permasalahan KIA dari hulu ke hilir dan menentukan intervensi yang tepat (yang berdimensi lokal/kab/kota) maka sebelumnya perlu melakukan Mapping Intervention
  7. Soft Skill tenaga kesehatan dalam berkomunikasi dan memberi informasi sangat penting dalam mensukseskan MDG 4-5
  8. RSUD mendukung MDG 4-5 (RS PONEK, RSSIB)

Upaya mempercepat penurunan kematian ibu dan kematian bayi dalam mencapai MDG 4-5, maka direkomendasikan:

  1. Dibudayakan penggunaan angka “absolut ” untuk memacu adrenalin para pemangku kepentingan, disamping angka “rates”
  2. Perlu menata sistem rujukan KIA dalam Manual Rujukan KIA yang berdimensi lokal (kab/kota) disertai sumber pembiayaan yang jelas
  3. Begitu ada kasus kematian maka segera dilakukan AMP dan direspons segera dalam konsep Surveilans Respons
  4. Untuk menentukan intervensi yang tepat dari permasalahan KIA dari hulu ke hilir , maka perlu didahului dengan kegiatan Mapping Intervention yang berdimensi lokal (kab/kota)
  5. Perlu peningkatan soft skill tenaga kesehatan dalam berkomunikasi dan memberi informasi kepada para stakeholders
  6. Semua kegiatan harus dilengkapi Standar Operating Procedure (SOP), dan SOP harus dipatuhi.

Semoga ke depan dengan komitmen kuat, dan kerja sistematis dan terarah dari para pemangku kepentingan, pesawat jumbo jet berisi ibu hamil, tidak harus jatuh setiap minggu di wilayah Indonesia tercinta ini. Amin

 

{module [150]}

Ibu dan Bayi Mati dan Dokter yang Segera Pergi

edi-18marIstilah kematian, bukan hal asing terdengar di telinga. Dalam berbagai sajian berita yang dapat kita baca di surat kabar, dengar di radio atau tonton di televisi banyak sekali berita kematian manusia yang diungkap. Entah mati akibat kecelakaan, bunuh diri, overdosis obat-obatan terlarang, keracunan makanan, perang, kasus pembunuhan ataupun kematian akibat tindakan medis yang dianggap kurang tepat. Kematian manusia, oleh karena sebab apapun, sebenarnya adalah kasus yang tidak pernah diharapakan. Pada dasarnya semua manusia ingin hidup panjang, sejahtera, sehat, aman, nyaman dan bahagia. “Hidup hingga 1000 tahun,” ujar sastrawan Chairil Anwar. Berdasar kenyataan ini – bila ada kematian yang disebabkan oleh hal yang “tidak wajar” – kasus kematian akan segera menjadi berita besar. Disebar di surat kabar, radio, televisi, media online bahkan di jejaring sosial. Semua orang heboh dan tergerak untuk memberitakan kematian tersebut ke seantero jagad.

Tapi bayangkan bila seorang ibu hamil dan bayi yang meninggal, apakah berita akan seheboh itu? Sayangnya tidak! Padahal, nyawa seorang ibu hamil dan seorang bayi yang meninggal sama dengan nyawa manusia lainnya. Kita tidak akan heboh atau berfikir bahwa kematian ibu adalah hal yang mengenaskan, sampai kematian itu menimpa ibu kita sendiri. Kita baru akan tersentuh bila bayi yang meninggal itu, adalah adik, sepupu atau keponakan yang sudah lama kita harap-harapkan. Bila tidak merasakan sendiri, maka kejadian kematian ibu dan bayi tersebut seolah tidak ada rasanya. Bila mendengar seorang ibu meninggal saat persalinan, mungkin jempol kita tidak akan tergerak untuk menulis status dijejaring sosial untuk mengabarkan kematian tersebut. Hal berbeda terjadi bila kita mendengar kabar kematian seorang pengendara motor akibat kecelakaan di jalan raya. Tangan kita akan sigap membuka situs jejaring sosial, dan jempol lincah menari untuk mengabarkan berita tersebut.

Penyebab yang memungkinkan membuat orang tidak sadar akan parahnya kasus kematian ibu dan bayi adalah penggunaan angka rates bukan angka absolut. Pada saat mudik dihari raya lebaran, pihak kepolisian rutin mengupdate data kematian akibat kecelakaan yang terjadi di jalan raya. Data ini biasanya dipampang di atas papan besar di pinggir jalan tol atau di jalan yang paling sering menjadi lokasi kecelakaan. Bisa dibayangkan bila data tersebut berbunyi: “korban meninggal akibat kecelakaan per tanggal 25 September 2012 sebesar 30%”. Apakah masyarakat akan segera sadar dan lebih hati-hati berkendara? Coba bandingkan dengan tampilan data seperti ini: ” korban meninggal akibat kecelakaan per tanggal 25 September 2012 sebesar 378 orang”. Saat membaca informasi tingkat kematian pada data pertama, orang yang sedang berkendara kemungkinan tidak akan langsung “ngeh” bahwa sudah banyak orang yang mati akibat kecelakaan di jalan raya dibanding bila membaca data kedua. Bila melihat data kedua, kemungkinan besar orang akan langsung sadar dan bergumam “wah, sudah banyak yang mati. Saya harus hati-hati.”

Selain membuat masyarakat sadar mengenai parahnya kasus kematian ibu dan bayi, hal lain yang perlu disadari oleh masyarakat adalah penyebab kematian ibu dan bayi sendiri. Salah satu penyebabnya adalah tenaga kesehatan yang kurang berkualitas. Di daerah-daerah terpencil Indonesia, tenaga kesehatan yang berkualitas untuk membantu persalinan maupun memberi pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat adalah barang langka. Tidak semua tenaga kesehatan khususnya dokter dan dokter spesialis bersedia datang dan menetap di daerah terpencil. Kekosongan tenaga dokter dan dokter spesialis membuat masyarakat didaerah terpencil sulit mendapat pelayanan kesehatan yang berkualitas. Upaya pencegahan, bisa jadi jarang dilakukan. Penanganan penyakit-penyakit rumit termasuk kasus kebidanan yang komplikasi mungkin tidak optimal.

Menghadapi hal seperti ini, penting sekali melakukan berbagai upaya untuk membuat dokter dan dokter spesialis berkenan datang bahkan betah mengabdi di daerah sulit. Memberi fasilitas yang memadai untuk mereka bekerja. Memberi mereka insentif yang memadai. Memberi sarana pendukung kehidupan sehari-hari yang memadai. Menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif untuk tinggal dan bekerja. Analoginya, bila kita mengundang tamu ke rumah, maka kita harus persiapkan segala hal terbaik agar mereka bersedia datang ke rumah kita. Kita memberi sajian yang paling nikmat dan berkesan agar mereka betah berlama-lama di rumah kita. Nampaknya sederhana. Kenyataannya, untuk mempersiapkan “sajian” bagi dokter dan dokter spesialis untuk rela datang dan mengabdi ke daerah terpencil tidaklah mudah. Selalu ada saja hambatannya. Namun satu yang perlu diingat, segala upaya terbaik bagi kesehatan masyarakat harus selalu diperjuangkan. (par)

 

{module [152]}

Pembayaran Dokter Pribadi DKI Merujuk pada Perpres

Jakarta (Kompas.com) – Direktur Utama PT Askes Fahmi Idris menegaskan bahwa sistem kapitasi untuk membayar dokter dalam program dokter keluarga yang direncanakan pemerintah Provinsi DKI telah sesuai dengan aturan yang ada. Semuanya diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 12/2013 tentang Jaminan Kesehatan.

Continue reading