Sosialisasi Konsep IQ-Care dan Rencana Uji Coba di Tingkat Kabupaten/Kota

Kerangka Acuan Kegiatan

Sosialisasi Konsep IQ-Care dan Rencana Uji Coba
di Tingkat Kabupaten/Kota

Diselenggarakan oleh:
Direktorat Pelayanan Kesehatan Primer, Kementerian Kesehatan RI
dan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM
Didukung oleh: WHO Indonesia

Kamis- Jumat, 8-9 Juli 2021

PENDAHULUAN

Indonesia telah memulai perjalanannya menuju Universal Health Coverage (UHC) sejak 2014 melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Sejak diterapkan, program JKN telah berkontribusi pada peningkatan pemanfaatan layanan kesehatan pada masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah. Namun, ketimpangan masih menjadi tantangan besar di masa mendatang. Faktor-faktor seperti ketidakmerataan distribusi tenaga kesehatan, lambatnya pembangunan infrastruktur kesehatan, dan lemahnya rantai suplai medis menjadi isu utama di banyak daerah di Indonesia.

Penguatan FKTP dapat menjadi pintu masuk pelayanan kesehatan diharapkan dapat menjadi jawaban dari permasalahan di atas. Melalui Undang-Undang No. 40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), peran FKTP sebagai komponen penting untuk memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas kepada seluruh rakyat Indonesia semakin diperkuat termasuk dalam strategi pencapaian SDGs 2030 serta Standar Pelayanan Minimal (SPM). Puskesmas diharapkan mampu berperan aktif sebagai koordinator wilayah yang menjalankan fungsi pengawasan dan pembinaan kepada organisasi pelayanan kesehatan yang ada di wilayahnya (Permenkes 43/2019 tentang Puskesmas).

Perlu upaya mengintegrasi pelayanan kesehatan diantara FKTP yang terdiri dari berbagai organisasi pelayanan kesehatan (Puskesmas, klinik swasta, dan dokter praktek mandiri), interprofesional (dokter, perawat, bidan, sanitarian, tenaga gizi, laboratorium, apoteker, kader, relawan, dsb), program kesehatan (UKP, UKM, program kesehatan prioritas, pencegahan dan pengendalian penyakit/wabah, dsb), serta lintas sektor (sosial, pendidikan, perumahan rakyat, dsb).

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (PKMK FK-KMK) UGM berkolaborasi dengan Direktorat Pelayanan Kesehatan Primer dan WHO telah melakukan penyusunan Pedoman Pelayanan Terintegrasi di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Untuk Meningkatkan Mutu Layanan Primer di Indonesia yang akan menjadi acuan semua pihak dalam melakukan upaya integrasi pelayanan di FKTP, sehingga saat ini perlu dilakukan sosialisasi konsep IQ Care dan protokol uji coba serta brainstorming mengenai situasi integrasi pelayanan kesehatan di masing-masing di tingkat Kabupaten/Kota.

TUJUAN PERTEMUAN

  1. Mensosialisasikan Pedoman Konsep dan Penerapan Pelayanan Terintegrasi di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Untuk Meningkatkan Mutu Layanan Primer di Indonesia di Kabupaten Badung (Provinsi Bali) dan Kota Cimahi (Provinsi Jawa Barat)
  2. Mendiskusikan situasi integrasi pelayanan kesehatan di masing-masing Kabupaten Badung (Provinsi Bali) dan Kota Cimahi (Provinsi Jawa Barat)

PESERTA

  1. Direktur Pelayanan Kesehatan Primer
  2. Tim IQ-Care Direktorat Pelayanan Kesehatan Primer
  3. Prof. Dr. dr Akmal Taher, Sp.U (K)
  4. Dinkes Provinsi Jawa Barat
  5. Dinkes Provinsi Bali
  6. Dinkes Kota Cimahi
  7. Dinkes Kabupaten Badung
  8. Semua FKTP dari Kecamatan terpilih
  9. Tim PKMK – UGM
  10. WHO Perwakilan Indonesia

FASILITATOR

Tim Direktorat Pelayanan Kesehatan Primer:

  1. drg. Saraswati, MPH
  2. dr. Upik Rukmini, MKM

Tim PKMK FK-KMK UGM:

  1. Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua
  2. Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep. MPH
  3. Andriani Yulianti, MPH
  4. Stevie Ardianto Nappoe, SKM, MPH

JADWAL DAN AGENDA KEGIATAN

Hari : Kamis-Jumat, 8-9 Juli 2021
Waktu : 12.30-15.30 WIB
Metode : Zoom

AGENDA KEGIATAN

           Waktu Kegiatan Narasumber Moderator
Hari ke – 1, Kamis, 8 Juli 2021
12.30 WIB – 12.45 WIB Pembukaan Panitia
Doa Panitia
Indonesia Raya Panitia
Laporan Kegiatan Koordinator PP
Sambutan dan Arahan Direktur PKP
Kebijakan Pelayanan Kesehatan Primer Direktur PKP

Koordinator PP

12.45 WIB -13.00 WIB Pentingnya Integrasi dan Kolaborasi antar FKTP dalam meningkatkan akses dan kualitas Pelayanan Kesehatan Prof. Dr. dr Akmal Taher, Sp U (K)
13.00 WIB – 13.30 WIB Diskusi Panitia
13.30 WIB – 13.45 WIB

Overview Konsep IQ care

materi

Dr.dr Hanevi Djasri.
13.45 WIB – 14.00 WIB

Overview Rencana Uji Coba Konsep IQ Care

materi

Stevie Ardianto Nappoe
14.00 WIB – 14.30 WIB Diskusi
14.30 WIB – 15.00 WIB Gambaran situasi Pelayanan Kesehatan Primer Kab/Kota (Secara Umum)

  • Aksesibilitas
  • Mutu
  • Tantangan

Dinas Kesehatan Badung

Dinas Kesehatan Cimahi

PKMK UGM

15.00 WIB – 15.20 WIB Diskusi
15.20 WIB – 15.30 WIB Rangkuman dan Penutupan Hari I Eva Tirtabayu Hasri Panitia dan PKMK-UGM
Hari ke – 2, Jumat, 9 Juli 2021
12.30 WIB – 12.40 WIB Pembukaan dan Review Hari Pertama Panitia
12.40 WIB – 13.50 WIB Pengantar Diskusi Gambaran Situasi integrasi Pelayanan Kesehatan masing-masing Kabupaten/Kota (Sebelum masuk ke break out room)

  

Stevie Ardianto Nappoe

Panitia dan PKMK-UGM

15.30 WIB – 15.20 WIB (Breakout Room berdasarkan Kabupaten ) Brainstrorming gambaran situasi integrasi Pelayanan Kesehatan di masing-masing Kabupaten/Kota

  • Dinkes Kabupaten Badung
  • Dinkes Kota Cimahi

Fasilitator

Panitia dan PKMK-UGM

   15.20 WIB – 15.30 Rangkupan dan Penutup Andriani Y

 

Panduan Pertanyaan

Panduan pertanyaan ini akan didiskusikan pada pertemuan awal pengenalan konsep IQ Care di tingkat Kabupaten/Kota dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran situasi integrasi pelayanan kesehatan yang sudah dilakukan sebelum masuk pada kegiatan uji coba.

  1. Apakah organisasi bapak/ibu bekerjasama dengan penyedia layanan kesehatan lainnya (provider) dalam memberikan pelayanan kesehatan terutama pelayanan yang tidak tersedia di organisasi bapak/ibu? Bagaimana Kerjasama ini dilaksanakan? Bagaimana koordinasi dengan provider tersebut?
  2. Apakah bapak/ibu memiliki mitra dengan stakeholder lain diluar kesehatan untuk layanan non-kesehatan yang dapat diberikan sebagai tindak lanjut kepada pasien? Bagaimana koordinasi bapak/ibu dengan stakeholder tersebut?
  3. Apakah organisasi bapak/ibu memiliki sistem informasi yang bisa di akses oleh semua pemberi layanan termasuk provider lain yang menjadi mitra bapak/ibu? Bagaimana proses berbagi informasi ini berjalan?
  4. Apakah bapak/ibu mengalami kendala dalam menjalankan sistem rujukan ke pelayanan sekunder termasuk rujukan balik? Bagaimana koordinasi bapak/ibu dengan faskes rujukan tersebut? Apakah ada supervisi dari faskes rujukan untuk meningkatkan kualitas rujukan?
  5. Apakah organisasi bapak/ibu sudah mempunyai tim pemberi pelayanan yang terdiri dari berbagai disiplin untuk menangani penyakit/program kesehatan tertentu? Bagaimana sistem koordinasi dari team tersebut?
  6. Apakah dalam memberikan pelayanan kesehatan pasien dan keluarga sudah dilibatkan dalam pengambilan keputusan? Jika belum, mengapa? 

 

 

 

Program IQ-CARE

Area Pekerjaan
Aktivitas 1: Analisis situasi
A. Dikusi online bersama tim PKP dan WHO membahas implementasi integrasi layanan kesehatan (berdasarkan kerangka kerja WHO) di Indonesia

B. Pengumpulan data dan telaah dokumen

C. Diskusi Mingguan bersama PKP dan WHO

D. Diskusi online draft hasil analisis situasi

E. Diskusi online presentasi hasil analisis situasi kepada PKP dan WHO

F. Pertemuan internal konsultan UGM untuk finalisasi laporan
Aktivitas 2: Penyusunan konsep dan design

A. Konsultasi meeting online bersama PKP dan WHO

B. Pengembangan konsep dan modifikasi integrasi serta kolaborasi bersama aktor kunci di fasilitas layanan primer.

C. Diskusi mingguan bersama PKP dan WHO

D. Diskusi online membahas konsep dan design integrasi bersama PKP dan WHO

E. Diskusi internal UGM finalisasi model integrasi yang diusulkan

F. Pertemuan internal konsultan UGM untuk Finalisasi model Integrasi diusulkan
Aktivitas 3: Penyusunan rencana uji coba di Bandung dan Bali

A. Lokakarya selama 2 hari dengan PKP, WHO, Dinkes Kabupaten Bandung-Bali

B. Rapat internal konsultan untuk penyusunan protokol Uji coba dan evaluasi
Aktivitas 4: Pelaksanaan Uji Coba dan evaluasi
  A. Rapat sosialisasi rencana uji coba di Kota Cimahi-Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Badung Provinsi Bali

B. Pendampingan pada puskesmas terpilih

Konsep dan Pedoman IQ-Care (Draft Final 20 Agustus 2021)

C. Workshop Evaluasi Uji Coba Konsep IQ-Care Secara Offline

  • ToR Evaluasi Uji Coba Konsep IQ-Care
  • Konsep IQ-Care (Draft Final 1 September 2021)
  • Pedoman IQ-Care (Draft Final 1 September 2021)

Diseminasi Rancangan Konsep dan Pedoman IQ Care

  • Konsep Integrasi Pelayanan Kesehatan di FKTP
  • Laporan Kegiatan Proyek IQ-Care
  • Pedoman Integrasi Pelayanan Kesehatan di FKTP
D. Rapat internal konsultan UGM untuk pengembangan draf laporan evaluasi
E. Lokakarya  finalisasi hasil evaluasi uji coba bersama PKP dan WHO secara online
Aktivitas 5: Penyusunan roadmap integrasi
A.Rapat internal konsultan UGM untuk menyusun roadmap integrasi
B. Lokakarya online bersama PKP dan WHO membahas peta jalan yang layak untuk integrasi layanan kesehatan di Indonesia
Penyusunan Laporan Akhir dan Administrasi

 

 

Pertemuan Koordinasi UGM – Project HOPE – CDC dan PUSDATIN – P2P

Kerangka Acuan Kegiatan

Pertemuan Koordinasi UGM – Project HOPE – CDC dan PUSDATIN – P2P

Program INSPIRASI 2020 ~ 2025
(Improving Quality Of Disease Preparedness, Surveillance And Response In Indonesia)

14 Januari 2021

  PENDAHULUAN

Dalam Permenkes 45 tahun 2014 disebutkan bahwa rangka meningkatkan kemampuan pengelolaan data dan informasi kesehatan, diperlukan sistem surveilans kesehatan secara nasional agar tersedia data dan informasi secara teratur, berkesinambungan, serta valid. Surveilans kesehatan adalah kegiatan pengamatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit. Dalam pelaksanaannya terjadi kesenjangan dalam sistem surveilans, baik di pusat maupun di daerah.

Salah satu masalah yang terjadi di Indonesia adalah mengenai interoperabilitas data. Hal ini dikarenakan kesulitan dari aspek teknis, seperti perbedaan aplikasi yang digunakan di provinsi, kabupaten atau puskesmas. Aplikasi ini memiliki database atau penamaan yang berbeda, sehingga sulit untuk digabungkan. Banyak puskesmas juga masih belum memiliki tenaga khusus yang ditugaskan secara khusus untuk mengelola surveilans penyakit.

Oleh karena itu, program INSPIRASI (Improving Quality of Disease Preparedness, Surveillance and Response in Indonesia) yang dilakukan oleh UGM – Project HOPE bersama CDC akan berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk membahas kesenjangan – kesenjangan yang terjadi dan mencari tindak lanjut untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan data dan informasi pada sistem surveilans di Indonesia.

  TUJUAN PERTEMUAN

  1. Membahas detail dan capaian kegiatan yang telah dilakukan oleh UGM dan CDC, melaporkan hasil sementara kegiatan asesmen kesenjangan pelaksanaan kegiatan surveilans penyakit di Indonesia.
  2. Membahas detail dalam pelaksanaan kegiatan selanjutnya, berupa mapping system data interoperability, penjelasan tentang kegiatan data sharing agreement, dan rencana peningkatan interoperabilitas data surveilans Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

  PESERTA

  1. Centres for Disease Control and Prevention (CDC)
    1. William Hawley, MPH, Ph.D (Country Director, Indonesia, Centers for Disease Control and Prevention)
    2. C. Yekti Praptiningsih MDDs, MEpid (Medical Epidemiologist, Centers for Disease Control and Prevention)
    3. Amalya Mangiri
  2. UGM
    1. Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua
    2. dr. Hardhantyo MPH, Ph.D
    3. Anantasia Noviana
  3. Project HOPE
    1. drh. Yogi Mahendra
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (P2P dan Pusdatin)
    1. drh. Endang Burni Prasetyowati M.Kes
    2. drg. Rudy Kurniawan, M.Kes
    3. Ibu Eka
    4. Pak Edi
    5. Pak Abdurahman

  JADWAL KEGIATAN

Hari : Kamis, 14 Januari 2021
Waktu : 09.00 – 11.00
Lokasi : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Peserta : CDC, UGM, Project HOPE, Kemenkes RI

Materi Pembahasan :

  • Membahas area peningkatan dalam sistem surveilans di Indonesia yang dapat difollow up oleh tim UGM dan CDC
  • Pembahasan detail dan capaian kegiatan INSPIRASI saat ini
  • Membahas materi tentang
    • Rencana narasumber dalam Systems mapping and interoperability architecture development
    • Pembahasan tentang teknis pelaksanaan peningkatan sistem interoperabilitas data surveilans.
Waktu Materi Pembahasan Narasumber / Fasilitator
09.00 – 09.15 Pembukaan Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua
09.15 – 09.45 Laporan hasil kegiatan gaps asesmen pelaksanaan kegiatan surveilans di Indonesia dan rencana program INSPIRASI dr. Hardhantyo MPH, Ph.D
09.45 – 10.45 Diskusi dan penyusunan rencana tindak lanjut
10.45 – 11.00 Kesimpulan dan Penutup Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua

Review hasil evaluasi kesenjangan

Kerangka Acuan Kegiatan

Results of assessment on surveillance and PHEOC gaps in Indonesia

Program INSPIRASI 2020 ~ 2025
(Improving Quality Of Disease Preparedness, Surveillance And Response In Indonesia)

14 Januari 2021

  PENDAHULUAN

………………………………….

 

 

  TUJUAN PERTEMUAN

  1. Diseminasi pelaksanaan kegiatan analisa kesenjangan pelaksanaan surveilans sistem di Indonesia dan kesiapan PHEOC di Provinsi guna pencegahan bencana public health di masa mendatang.
  2. Menentukan rencana tindak lanjut

  PESERTA

  1. Centres for Disease Control and Prevention (CDC)
  2. UGM
  3. Project HOPE
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
  5. Dinas Kesehatan Provinsi
  6. Dinas Kesehatan Kabupaten
  7. Peneliti dalam pusat penelitian
  8. Mahasiswa Program FETP, KMPK

  JADWAL KEGIATAN

Hari : Sabtu, 20 Februari 2021
Waktu : 09.00 – 11.30
Lokasi : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Peserta : CDC, UGM, Project HOPE, Kemenkes RI

Waktu Materi Pembahasan Narasumber / Fasilitator
09.00 – 09.15 Pembukaan dr. Hardhantyo MPH, Ph.D
09.15 – 10.30 Laporan hasil kegiatan asesmen kesenjangan pelaksanaan kegiatan surveilans di Indonesia dan rencana program INSPIRASI

Paparan

Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua

Pembahas:

  • Dirjen P2P Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
  • Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan
  • Dinas Kesehatan Provinsi Yogyakarta
10.30 – 10.45 Diskusi dan penyusunan rencana tindak lanjut
10.45 – 11.00 Kesimpulan dan Penutup dr. Hardhantyo MPH, Ph.D

Wawancara Mendalam Pelaksanaan Surveilans Penyakit

Kerangka Acuan Kegiatan

Wawancara Mendalam Pelaksanaan Surveilans Penyakit

Program INSPIRASI 2020 ~ 2025
(Improving Quality Of Disease Preparedness, Surveillance And Response In Indonesia)

14 – 24 Desember 2020

  PENDAHULUAN

Berdasarkan permenkes nomor 45 tahun 2014, surveilans kesehatan adalah kegiatan pengamatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit. Hal ini dilakukan agar dapat memberikan kewaspadaan dini dari potensi kejadian luar biasa dan menyusun rencana pengendalian dan penanggulangan secara efektif dan efisien.

Sistem surveilans yang telah dilaksanakan saat ini menitikberatkan pada integrasi unit – unit penyelenggara surveilans dengan laboraturium, sumber sumber data, pusat penelitian, pusat kajian dan penyelenggara program kesehatan, meliputi tata hubungan surveilans epidemiologi antar wilayah. Semakin banyak unit – unit yang terlibat dalam suatu sistem, permasalahan yang mungkin terjadi akan meningkat. Contoh permasalahan klasik surveilans antara lain adanya sumber daya manusia yang belum sesuai standar, dikarenakan belum semua petugas yang mendapatkan pelatihan sehingga dalam pelaporan dan interpretasi data belum maksimal. Selain itu dalam melakukan umpan balik dan diseminasi informasi juga belum terlaksanan rutin.

Program INSPIRASI (Improving Quality of Disease Preparedness, Surveillance and Response in Indonesia) memiliki tujuan untuk membantu pelaksanaan kegiatan surveilans kementerian kesehatan, termasuk dinas kesehatan provinsi dan kabupaten dalam mendeteksi, mencegah, dan merespon potensi bencana kesehatan.

  TUJUAN PERTEMUAN

  1. Mengetahui proses pelaksanaan surveilans penyakit dari prosedur deteksi dini, registrasi, konfirmasi, pelaporan, analisis, respon hingga komunikasi hasil surveilans kepada publik
  2. Mengetahui kendala, saran dan harapan perbaikan dalam pelaksaaan surveilans berbasis kejadian dan surveilans berbasis indikator (SKDR)

  TIM KERJA

  1. Core team :
    • Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua (Principle Investigator)
    • dr. Hardhantyo MPH, Ph.D (Project Director)
    • Anantasia Noviana (Business official)
    • Centres for Disease Control and Prevention (CDC)
  2. Supporting team
    • Andriani, SE, MPH
    • Eva Tirta Bayu S.Kep, NS, MPH
    • dr. Bernadeta Rachela
    • dr. I Wayan Cahyadi
  3. Project Partner
    • Project HOPE

  JADWAL KEGIATAN

Waktu Materi Pembahasan Narasumber / Fasilitator
08.00 – 08.05 Pendahuluan Program INSPIRASI 2020 ~ 2025 dr. Bernadeta Rachela
08.15 – 09.25 Wawancara pelaksanaan kegiatan surveilans, kendala serta usulan perbaikannya Andriani, SE, MPH dan dr. Bernadeta Rachela
09.25 – 09.30 Penutup dr. Bernadeta Rachela

 

MATERI WAWANCARA

Detail pertanyaan terdapat dalam guideline, adapun informasi umum terkait materi wawancara seperti yang tertera dalam komponen dibawah ini.

  1. Secara umum mohon Bapak/ Ibu dapat memberikan pandangan tentang apa saja program surveilans yang dikerjakan diwilayah Bapak / Ibu saat ini?
  2. Bagaimana pelaksanaan surveilans berbasis kejadian mulai dari sistem deteksi, registrasi, konfirmasi, pelaporan, analisis, respon hingga komunikasi hasil surveilans kepada publik
  3. Bagaimana pelaksanaan surveilans berbasis indikator (SKDR) sistem deteksi, registrasi, konfirmasi, pelaporan, analisis, respon hingga komunikasi hasil surveilans kepada publik.
  4. Mengetahui kendala dan saran perbaikan dalam pelaksaaan surveilans berbasis kejadian dan surveilans berbasis indikator (SKDR)
  5. Adakah kendala dalam pemakaian aplikasi / website pelaporan data surveilans, adakah integrasi data antara simpus dengan aplikasi / website
  6. Bagaimana pengalokasian anggaran dan SDM dalam surveilans.
  7. Komponen apa yang dapat kita perbaiki bersama dalam waktu dekat.
  8. Apakah harapan terhadap system yang ada saat ini

 

 

 

 

Indepth BNPB

Kerangka Acuan Kegiatan

Wawancara Mendalam Pelaksanaan Program Kesiapsiagaan
dan Manajemen Penanganan Bencana Public Health

Program INSPIRASI 2020 ~ 2025
(Improving Quality Of Disease Preparedness, Surveillance And Response In Indonesia)

14 – 24 Desember 2020

  PENDAHULUAN

Bencana merupakan peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan /atau non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, sebagain besar wilayah Indonesia merupakan perairan yang terdiri dari 17.508 pulau, dengan lima pulau besar. Bencana hidrometerologi sangat berpotensi terjadi dengan topografi yang beragam dan kompleks, berbukit bukit, banyak aliran sungai disertai pengaruh perubahan iklim. Posisi geografis Indonesia juga terletak diantara 3 lempeng besar dunia, yakni lempeng Eurasia, lempeng Pasifik, lempeng Indo Australia. Sehingga secara geografi Indonesia juga rawan mengalami gempa tektonik maupun vulkanik. Berbagai latar belakang tersebut menyebabkan Indonesia sangat rawan terjadi bencana alam. Bencana alam secara mudahnya dapat diartikan sebagai bencana yang diakibatkan oleh peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain gempa bumi, tsunami, erupsi gunung berapi, banjir, kekeringan, angin topan dan tanah longsor.

Bencana sosial merupakan bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau antar komunitas dan teror. Keanekaragaman suku, budaya, serta jumlah penduduk sebesar 255.182.144 jiwa dengan luas wilayah daratan 1.910.931km2 yang sebagian besar tinggal di pulau Jawa (57%) sebagiannya lagi menyebar dari Sabang-Merauke, menurut Badan Pusat Statistik (2015). Menjadi faktor resiko terjadinya bencana sosial.

Hubungan dengan masyarakat global, pariwisata, pengembangan pusat pusat industri dan beberapa daerah yang memiliki penyakit endemis juga menyebabkan Indonesia mengalami kerentanan dalam hal bencana non alam. Jika diartikan bencana non alam merupakan bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa non alam antara lain berupa gagal teknologim gagal modernisasi, epidemi dan wabah penyakit. Hal ini tentunya masih dapat kita rasakan sampai saat ini, sebagai salah satu contoh yakni pandemi Covid 19 yang terjadi hampir setahun.

Berbagai potensi tersebut seolah seperti pisau bermata dua, dapat menguntungkan sekaligus merugikan. Merugikan karena bencana alam, non alam dan sosial rawan terjadi di Indonesia. Bencana non alam dibidang kesehatan masyarakat seperti kejadian luar biasa, wabah dan Pandemi Covid 19 yang berlangsung hampir satu tahun memang berdampak langsung pada sistem kesehatan. Namun bencana lain baik alam maupun sosial juga dapat berdampak pada sistem kesehatan atau yang sering disebut dengan krisis kesehatan. Krisis kesehatan yang terjadi diantaranya korban mati, korban luka, sakit, pengungsi, lumpuhnya pelayana kesehatan, penyakit menular, sanitasi lingkungan, gangguan jiwa, dan masalah kesehatan lainnya.

Sebagai salah satu lembaga pemerintah non departemen yang diamanai oleh Undang Undang No 24 Tahun 2007, BNPB menjadi lembaga yang memiliki dua unsur yakni pengarah penanggulangan bencana dan pelaksana penanggulangan bencana. Lembaga ini menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam penanggulangan bencana baik dalam situasi tidak terjadi bencana (pra), tanggap darurat (saat bencana) maupun setelah bencana(pasca), hal tersebut yang melatarbelakangi kami untuk melakukan wawancara mendalam untuk mengetahui kesiapan dan kendala yang dihadapi BNPB dan BPBD dalam menangani bencana alam, non alam dan sosial. Sehingga dapat membantu peningkatan kapasitas penanggulangan bencana yang mengacu pada sistem penanggulangan bencana nasional.

  TUJUAN PERTEMUAN

  1. Mengetahui mekanisme BNPB (Public Health Emergency Operation Center – PHEOC) dalam menangani bencana alam, sosial, dan terkhusus terkait bencana public health (krisis kesehatan, wabah penyakit, epidemi dan pandemi) beserta kesiapan pencegahannya di masa depan.
  2. Mengetahui kendala dan saran perbaikan dalam pelaksanaan PHEOC

  TIM KERJA

  1. Core team :
    • Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua (Principle Investigator)
    • dr. Hardhantyo MPH, Ph.D (Project Director)
    • Anantasia Noviana (Business official)
    • Centres for Disease Control and Prevention (CDC)
  2. Supporting team
    • Andriani, SE, MPH
    • Eva Tirta Bayu S.Kep, NS, MPH
    • dr. Bernadeta Rachela
    • dr. I Wayan Cahyadi
  3. Project Partner
    • Project HOPE

  JADWAL KEGIATAN

Waktu Materi Pembahasan Narasumber / Fasilitator
08.00 – 08.05 Pendahuluan Program INSPIRASI 2020 ~ 2025 dr. Cahyadi Surya
08.15 – 09.25 Wawancara pelaksanaan kegiatan surveilans, kendala serta usulan perbaikannya Eva Tirta Bayu S.Kep, NS, MPH dan dr. Cahyadi Surya
09.25 – 09.30 Penutup dr. Cahyadi Surya

 

MATERI WAWANCARA

Detail pertanyaan terdapat dalam guideline, adapun informasi umum terkait materi wawancara seperti yang tertera dalam komponen dibawah ini.

  1. Secara umum mohon bapak/ibu dapat memberikan pandangan tentang managemen penanggulangan bencana alam dan non alam yang ada di Indonesia saat ini? Apakah sudah sesuai dengan undang-undang 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana
  2. bagaimana peran BNPB mulai pra bencana, adakah system yang disiapkan untuk kejadian bencana epidemi/pandemi? (Mengikuti siklus penanggulangan bencana : pencegahan, mitigasi, kesiapan, peringatan dini, tanggap darurat, pemulihan, rehabilitasi dan rekonstruksi
  3. Mapping sumber daya yang dapat digunakan pada saat terjadi bencana.
  4. Prosedur koordinasi penanggulangan bencana public health bersama kementerian kesehatan, pembagian wilayah kerja
  5. Kegiatan drill emergency exercise persiapan pandemi / epidemi?
  6. Koordinasi lintas sektoral pada proses penanggulangan bencana.

 

 

 

 

FGD Dinkes

Kerangka Acuan Kegiatan

Focus Group Discussion Pelaksanaan Program Surveilans Penyakit Di 5 Provinsi
(Provinsi Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur, Papua)

Program INSPIRASI 2020 ~ 2025
(Improving Quality Of Disease Preparedness, Surveillance And Response In Indonesia)

14 – 24 Desember 2020

  PENDAHULUAN

Berdasarkan permenkes nomor 45 tahun 2014, surveilans kesehatan adalah kegiatan pengamatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit. Hal ini dilakukan agar dapat memberikan kewaspadaan dini dari potensi kejadian luar biasa dan menyusun rencana pengendalian dan penanggulangan secara efektif dan efisien. Dalam peraturan permenkes nomor 1479 tahun 2003 tersebut terdapat 29 penyakit menular yang harus dimonitor di rumah sakit dimana 25 diantaranya dapat dilakukan pendataan oleh pelayanan primer (Puskesmas).

Sistem surveilans yang dilaksanankan saat ini menitikberatkan pada integrasi unit – unit penyelenggara surveilans dengan laboraturium, sumber sumber data, pusat penelitian, pusat kajian dan penyelenggara program kesehatan, meliputi tata hubungan surveilans epidemiologi antar wilayah. Data yang terkumpul di setiap unit akan diintegrasikan dan terhubung sampai ke pusat. Informasi yang cepat dan akurat dapat menjadi landasan yang kuat pengambilan kebijakan strategis di tingkat lokal maupun nasional.

Program INSPIRASI (Improving Quality of Disease Preparedness, Surveillance and Response in Indonesia) memiliki tujuan untuk membantu pelaksanaan kegiatan surveilans kementerian kesehatan, termasuk dinas kesehatan provinsi dan kabupaten dalam mendeteksi, mencegah, dan merespon potensi bencana kesehatan.

  TUJUAN PERTEMUAN

  1. Mengetahui proses pelaksanaan surveilans penyakit dari prosedur deteksi dini, registrasi, konfirmasi, pelaporan, analisis, respon hingga komunikasi hasil surveilans kepada publik
  2. Mengetahui kendala, saran dan harapan perbaikan dalam pelaksaaan surveilans berbasis kejadian dan surveilans berbasis indikator (SKDR)

  TIM KERJA

  1. Core team :
    • Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua (Principle Investigator)
    • dr. Hardhantyo MPH, Ph.D (Project Director)
    • Anantasia Noviana (Business official)
    • Centres for Disease Control and Prevention (CDC)
  2. Supporting team
    • Andriani, SE, MPH
    • Eva Tirta Bayu S.Kep, NS, MPH
    • dr. Bernadeta Rachela
    • dr. I Wayan Cahyadi
  3. Project Partner
    • Project HOPE

  JADWAL KEGIATAN

Waktu Materi Pembahasan Narasumber / Fasilitator
08.00 – 08.05 Pendahuluan Program INSPIRASI 2020 ~ 2025 dr. Hardhantyo, MPH, PhD
08.15 – 09.25 Wawancara pelaksanaan kegiatan surveilans, kendala serta usulan perbaikannya Moderator:
dr. Bernadeta Rachela
09.25 – 09.30 Penutup dr. Hardhantyo, MPH, PhD

 

 PESERTA

Dinas Kesehatan Provinsi :

  • Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
  • Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi
  • Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular

Dinas Kesehatan Kabupaten

  • Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
  • Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi
  • Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular

MATERI WAWANCARA

Detail pertanyaan terdapat dalam guideline, adapun informasi umum terkait materi wawancara seperti yang tertera dalam komponen dibawah ini.

  1. Secara umum mohon Bapak / Ibu dapat memberikan pandangan tentang apa saja program surveilans yang dikerjakan diwilayah Bapak / Ibu saat ini?
  2. Bagaimana pelaksanaan surveilans berbasis kejadian mulai dari sistem deteksi, registrasi, konfirmasi, pelaporan, analisis, respon hingga komunikasi hasil surveilans kepada publik
  3. Bagaimana pelaksanaan surveilans berbasis indikator (SKDR) sistem deteksi, registrasi, konfirmasi, pelaporan, analisis, respon hingga komunikasi hasil surveilans kepada publik.
  4. Mengetahui kendala dan saran perbaikan dalam pelaksaaan surveilans berbasis kejadian dan surveilans berbasis indikator (SKDR).5. Adakah kendala dalam pemakaian aplikasi / website pelaporan data surveilans, adakah integrasi data antara simpus dengan aplikasi / website
  5. Mohon memberikan input terkait program surveilans covid – 19 di wilayah Bapak / Ibu? Apa bagaimana proses pencatatannya, apa saja kendalanya, apakah terhubung dengan system informasi data milik pemerintah pusat secara langsung
  6. Bagaimana pengalokasian anggaran dan SDM dalam surveilans.
  7. Komponen apa yang dapat kita perbaiki bersama dalam waktu dekat. Apakah harapan terhadap system yang ada saat ini.