JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) perlu segera menetapkan standar pelayanan medis nasional untuk menjamin masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang maksimal, termasuk bagi golongan yang kurang mampu.
Pengembangan Sistem Pengingat dan Pendukung Pengambilan Keputusan Klinis Dalam Pelayanan TB dan TB/MDR di Rumah Sakit
Kerangka Acuan Workshop
Pengembangan Sistem Pengingat dan Pendukung Pengambilan Keputusan Klinis
Dalam Pelayanan TB dan TB/MDR di Rumah Sakit
Sebagai bagian dari kegiatan Sustainable Hospital Delivery Managing System
for TB and MDR-TB Care (HDMS TB/MDR-TB) Phase 2
Kerjasama antara:
PKMK FK UGM Dengan
RSUP Dr. Sardjito, RS Islam Jakarta Cempaka Putih dan RS Bethesda Yogyakarta
![]()
Pendahuluan
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta bekerja sama dengan Otsuka SA Switzerland dan 3 rumah sakit di Indonesia (RS. Bethesda Yogyakarta, RS Islam Jakarta, dan RSUP Dr. Sardjito), sedang melaksanakan program intervensi perbaikan kualitas dan efisiensi tatalaksana kasus TB/MDR-TB di rumah sakit. Upaya intervensi tersebut dikenal sebagai Sustainable Hospital Delivery Managing System (HDMS) for TB and TB/MDR TB project. Salah satu aktifitas dalam upaya peningkatan mutu pelayanan adalah dengan melakukan evaluasi sistem remainder dan sistem pendukung keputusan klinis dalam peningkatan pelayanan TB di rumah sakit. Aktifitas ini akan berupaya mengembangkan sistem pengingat (remainder) bagi klinisi untuk membantu meningkatkan kepatuhan pasien dalam perencanaan pengobatan dan kepatuhan dokter dalam menjalankan pedoman klinis TB.
Sistem Pengingat klinis adalah suatu sistem yang dibuat untuk membantu dokter, perawat atau pengasuh (keluarga) dalam memberikan memberikan perawatan yang berkualitas tinggi kepada pasien dan membantu memastikan bahwa intervensi klinis yang diberikan tepat waktu. Sistem ini dibuat dengan berbasis komputer yang besisi peraturan perawatan klinik primer, penggunaan obat, protokol perawatan preventif penyakit kronis dan sistem teknologi informasi untuk memungkinkan dokter lebih mudah memantau pengobatan pasien.
Sistem pengingat klinis ini menggabungkan komponen pengetahuan teknologi informasi yang inovatif dengan desain pengingat untuk dokter atau pasien. Kedua, database dan desain dari sistem pengingat klinis ini dapat memperluas kategori pencegahan perawatan penyakit kronis dengan mudah. Ketiga, pengguna sistem pengingat medis bisa tatap muka dengan sistem web yang memungkinkan dokter, staff klinik, administrator sistem untuk berinteraksi dengan sistem pengingat medis ini secata intuitif dan produktif dimanapun mereka berada. Sehingga pada akhirnya sistem pengingat medis ini bisa dibuat kedalam perangkat yang lebih praktis yang bisa lebih fleksibel dibawa.
Evaluasi dari sistem pengingat klinis ini dimulai dari kemudahan penggunaan, peningkatan produktivitas klinik, peningkatan kinerja dokter, evaluasi yang berdampak pada biaya administrasi dan peningkatan keberhasilan pengobatan pasien.
Tujuan kegiatan
- Mengevaluasi sistem reminder rumah sakit dan untuk pengembangan sistem reminder bagi pasien yang lebih baik.
- Mengevaluasi sistem pendukung keputusan klinis di rumah sakit saat ini dan untuk mengembangkan sistem yang lebih baik untuk dokter.
Narasumber kegiatan
- Prof. Adi Utarini, MSc, MPH, PhD (AU)
- Dr. Ari Prombandari, MPH, PhD (AP)
- Dr. Hanevi Djasri, MARS (HD)
- Dr. Nandyan Wilasoto (NW)
- DR. Dr. Pinzon Rinaldy, SpS, MKes (PR)
Waktu dan Tempat Kegiatan
Waktu : Kamis Jumat, 12-13 Maret 2015
Tempat : Hotel 101 Yogyakarta
Jadwal Pelaksanaan
|
Kamis, 12 Maret 2015 |
||
|
09.00 – 09.15 |
Regristrasi undangan |
|
|
09.15 – 09.30 |
Pembukaan dan sambutan |
AU |
|
09.30 – 10.00 |
Maksud dan Tujuan workshop |
AP |
|
10.00 – 10.15 |
Coffee break |
PKMK |
|
10.15 – 11.00 |
Konsep dan Penerapan “clinical reminder system” [button type=”info” target=”_blank” link=”https://drive.google.com/file/d/0B85Ahc2VdqcdMGRGLW0zWDQteFk/view?usp=sharing” icon=”info-sign”]Materi[/button] |
HD |
|
11.00 – 12.00 |
Pengalaman RS Bethesda dalam penerapan “clinical reminder system” [button type=”info” target=”_blank” link=”https://drive.google.com/file/d/0B85Ahc2VdqcdVDRxSWZzTUJsZTg/view?usp=sharing” icon=”info-sign”]Materi[/button] |
PR |
|
12.00 – 13.00 |
Lunch break |
|
|
13.00 – 14.00 |
Diskusi Pembahasan Penerapan Clinical Pathways TB di 3 RS: Progress, Hambatan dan Usulan Perbaikan |
PKMK |
|
|
||
|
Jumat, 13 Maret 2015 |
||
|
09.00 – 10:00 |
Diskusi Bentuk-Bentuk “clinical reminder system” yang akan diterapkan |
PKMK |
|
10.00 – 10.15 |
Coffee break |
|
|
10.15 – 12.00 |
Diskusi Bentuk-Bentuk “clinical reminder system” yang akan diterapkan [button type=”info” target=”_blank” link=”https://drive.google.com/file/d/0B85Ahc2Vdqcdanh1UWYydEtlVTg/view?usp=sharing” icon=”info-sign”]RSI Jakarta Cempaka Putih[/button]
[button type=”info” target=”_blank” link=”https://drive.google.com/file/d/0B85Ahc2Vdqcdcm50V3c1QkNTMk0/view?usp=sharing” icon=”info-sign”]RS Bethesda[/button] |
PKMK |
|
12.00 – 13.00 |
Lunch break |
|
|
13.00 – 14.00 |
Penyusunan POA dan Penutup [button type=”info” target=”_blank” link=”https://drive.google.com/file/d/0B85Ahc2VdqcdT3h0RDhQbUlUa2c/view?usp=sharing” icon=”info-sign”]Individual Key Performance Indicators[/button] [button type=”info” target=”_blank” link=”https://docs.google.com/presentation/d/1b7Au2cHdXXqlrdjFrRRjerQLHgWONrBUB9hZPU_PAwY/edit?usp=sharing” icon=”info-sign”]POA[/button] |
HD |
Peserta
- Direktur Medik dan Keperawatan (1 orang)
- Manajer/Penanggung Jawab Mutu RS (1 orang)
- Dokter spesialis yang menangani kasus TB (2 orang)
- Perawat yang menangani kasus TB (2 orang)
Output
Workshop ini diharapkan menghasilkan usulan detail Sistem Pengingat dan Pendukung Pengambilan Keputusan Klinis Dalam Pelayanan TB dan TB/MDR di Rumah Sakit
[button type=”success” icon=”check” target=”_self” link=”http://www.mutupelayanankesehatan.net/index.php/component/content/article/1835″] Laporan Hasil Kegiatan [/button]
[button type=”success” icon=”check” target=”_self” link=”http://www.mutupelayanankesehatan.net/index.php/component/content/article/1895″] Laporan Hasil Kegiatan [/button]
Bimbingan Teknis Perencanaan dan Pengembangan Layanan Unggulan Rumah Sakit dalam Clinical Strategic Plan
Bimbingan Teknis Perencanaan, Implementasi, dan Evaluasi Sasaran Internasional Keselamatan Pasien (IPSG) Sesuai Standar Internasional Akreditasi Rumah Sakit
Reminders improve quality-assurance testing in health care
Practices’ adherence to a quality-assurance program for point-of-care testing devices can be improved with reminders, according to a study published in the Journal of Evaluation in Clinical Practice.
81% Peserta BPJS Nilai Perlu Adanya Perbaikan
Sekira 81 persen peserta pelayanan menilai Badan Jaminan Kesehatan Nasional (BPJS) masih harus terus melakukan perbaikan. Perbaikan yang dimaksud tersebar dalam beberapa komponen di antaranya ketidakpuasan pelayanan.
Kepala Departemen Komunikasi dan Humas BPJS Kesehatan Irfan Humaidi menjelaskan, menyikapi hal tersebut pihaknya akan terus melakukan perbaikan dan evaluasi.
Payers Seek Quality Measures That Matter to Patients, Fox Says
Efforts to improve quality in cancer care by creating standards of measurement abound, including the Quality Oncology Practice Initiative (QOPI), launched in 2006 by the American Society of Clinical Oncology (ASCO).1 But although measuring quality with the goal of improving patient care is important, it’s essential for healthcare leaders to grasp what is being measured and to ensure that it actually matter to patients.
That was the message from John Fox, MD, MHA, associate vice president of Medical Affairs at Priority Health, who gave the talk, “Payer Perspectives on the Role and Impact of QOPI Certification.” At the outset, Fox said that healthcare tends to value those things that are easiest to measure, although “They are not necessarily the things that are the most important.”
Pakar: RS Tanpa Kelas Harus Dibarengi Payung Hukum
Pakar Kebijakan Kesehatan Universitas Indonesia (UI), Budi Hartono menyambut baik rencana Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) segera membangun rumah sakit (RS) tanpa kelas di seluruh wilayah Indonesia. Namun, katanya, PDIP tidak bisa asal membuat RS tanpa kelas tersebut tanpa dibarengi payung hukum yang jelas yang berpotensi pelayanan dan mutunya tidak sesuai dengan prosedur RS di Indonesia.
Mesti Ada Kepastian Proses Hukum Kasus Anestesi di Siloam
Kasus meninggalnya dua pasien akibat obat anestesi Buvanest Spinal di RS Siloam, Karawaci, Tangerang, beberapa waktu lalu, tidak boleh dipandang enteng.
Obat produksi PT Kalbe Farma diduga menjadi penyebab meninggalnya dua pasien di RS tersebut.
Mantan anggota Komisi Hukum DPR RI, Didi Irawadi, menegaskan persoalan itu harus mendapat perhatian penegak hukum untuk membuktikan ada atau tidaknya pelanggaran pidana.
coba shortcode
[button type=”info” target=”_self” link=”#” icon=”info-sign”]coba button[/button]