Jakarta (Liputan6.com) – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tidak ingin Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) berjalan setengah-setengah. Untuk itu, segala upaya dilakukan dalam menyempurnakan sistem yang ada. Salah satunya dengan Health Technology Assesssment (HTA).
Dengan HTA, Kemenkes berharap bisa meningkatkan mutu pelayanan kesehatan untuk masyarakat Indonesia. Termasuk di dalamnya memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dalam obat-obatan, alat medis, tenaga medis, serta sistem pelayanannya.
HTA merupakan salah satu metode pengkajian standar baku pembiayaan yang bertujuan untuk memanfaatkan dana yang terkumpul semaksimal mungkin dengan memperhitungkan harga standar baku untuk pengobatan maupun layanan kesehatan. Melalui HTA, diharapkan tidak lagi ada celah untuk permainan tindakan medis atau pemberian obat yang tidak pada tempatnya.
Menurut Wakil Menteri Kesehatan, Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti, MSc, PhD, HTA itu sangatlah penting. Karena, HTA merupakan sebuah alat (tools) yang dapat menilai apakah sebuah teknologi tersebut memadai atau tidak.
“Negara kaya pun selalu merasa kurang untuk masalah kesehatan. Apalagi negara yang hampir kaya (Indonesia), itu tentu selalu terbatas,” kata Ghufron.
Dengan ditetapkan HTA nanti, maka setiap dokter atau ahli medis sudah tahu obat mana yang paling bagus untuk pasien tersebut dan menyesuaikannya dengan biaya.
“Value for money kita harus benar-benar bernilai. Misalnya, dengan biaya Rp 10 ribu, maka harus obat paling bagus. Kalau seperti itu, value-nya kita sudah dapati,” jelas Ghufron.
Dengan penerapan HTA yang baik bisa menghasilkan perhitungan paket jaminan kesehatan, manfaat, dan perawatan apa saja yang tercakup di dalamnya demi memastikan dapat tercapainya jaminan sosial yang sesuai dengan azas adil dan merata.(Adt/Igw)
Oleh : Aditya Eka Prawira
Sumber : http://health.liputan6.com/read/522927/cegah-permainan-di-sjsn-kemenkes-gunakan-teknologi-hta