Jakarta (detik.com), Meski sudah melewati evaluasi satu bulan pertama, pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) oleh BPJS Kesehatan masih punya banyak tantangan. Salah satunya adalah bagaimana dokter di Indonesia bisa tetap memberikan pelayanan terbaik dengan sistem baru.


“Ya jadi JKN ini kan merupakan pengelolaan sistem baru, yang berupa integrasi. Jadi pasti masih banyak tantangan-tantangannya,” ujar dr Kalsum Komaryani, MPPM, atau dr Yani, Kepala Bidang Pembiayaan Kesehatan Kemenkes RI, ditemui dalam acara talkshow ‘Tantangan Penerapan Sistem Jaminan Nasional oleh BPJS’ yang diselenggarakan di Hotel Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Selasa (18/2/2014).

Diungkapkan oleh dr Yani beberapa tantangan tersebut antara lain meningkatkan cakupan kepesertaan menuju universal health coverage, update iuran, dan menjaga sustainabilitas keuangan.

Data terakhir yang dihimpun oleh BPJS Kesehatan menyebutkan total peserta saat ini adalah sekitar 117 juta jiwa. Meski terlihat cukup positif dari sisi kepesertaan, nyatanya di lapangan masih ada beberapa RS dan dokter yang mengeluhkan rendahnya tarif INA-CBG’s. Inipun menurut dr Yani termasuk dalam tantangan tambahan bagi BPJS.

“Intinya bagaimana dokter yang biasa dibayar dengan sistem fee for services, sudah nyaman, pasien disuruh ini dan itu, sekarang dengan INA-CBG’s mereka dituntut harus bisa menyediakan pelayanan kesehatan seefektif mungkin,” tutur dr Yani.

Ini berarti tim dokter sebagai tenaga medis yang memberikan pengobatan pada pasien disebutkan harus bisa menyesuaikan diri terhadap perubahan ini. Diharapkan juga dengan INA-CBG’s maka alur pengobatan yang diberikan pada pasien menjadi lebih teratur.

“Jangan sampai program (JKN -red-) ini hanya jadi program politik semata, padahal filosofinya sangat besar dan baik, yaitu memberikan jaminan kesehatan untuk seluruh penduduk Indonesia. Yang pasti, ini program bersama, bukan hanya program pemerintah saja,” tegasnya.

(ajg/vit)

Sumber: http://health.detik.com/read/2014/

{module [153]}