Jakarta (Pos Kota) – Lebih dari 60 persen dari 120 ribu tenaga dokter berpraktik di Pulau Jawa. Kondisi tersebut  bakal menyulitkan pemerintah untuk melaksanakan program sistem jaminan sosial nasional (SJSN) bidang kesehatan.


Sebab jelas Sekjen Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI)  Dr Daeng M Faqih dalam program SJSN yang diberlakukan serentak per 1 Januari 2014 tersebut, pemerintah akan mengatur praktik dokter dengan sistem rayonisasi.

“Artinya satu dokter akan menangani sekian ribu penduduk yang terkaver dalam SJSN. Akan ada pembagian jumlah penduduk disesuaikan dengan jumlah dokter yang ada,” jelas Daeng disela diskusi publik IDI menjelang 105 tahun bertema dokter untuk bangsa mengabdi demi rakyat, Kamis (11/4).

Jika tenaga dokter terkonsentrasi di Pulau Jawa, maka tugas dokter di luar Pulau Jawa akan semakin berat. Selain menghadapi medan yang tentu lebih sulit, mereka juga akan menanggung tugas pemeliharaan kesehatan penduduk dengan jumlah yang lebih besar.

Karena itu, PB IDI lanjut Daeng akan berupaya membantu pemerintah untuk mendistribusikan tenaga dokter yang ada. “Kita akan petakan semua dokter yang ada, sampai tempat tugasnya dimana. Pemetaan dilakukan hingga tingkat kecamatan diseluruh Indonesia,” lanjutnya.

Hasil pemetaan inilah kata Ketua Umum PB IDI dr Zaenal Abidin yang nantinya akan dijadikan dasar untuk mendistribusikan tenaga dokter yang ada dan masih berpraktik.  “Pulau Jawa memang penduduknya paling padat. Belum tentu 60 persen dokter yang ada sudah memenuhi kebutuhan semua penduduk Pulau Jawa atau sebaliknya,” jelas Zaenal.

Pemetaan jumlah tenaga dokter rencananya akan dilakukan tahun ini. Targetnya sebelum pelaksanaan SJSN, kegiatan pemetaan sudah bisa diselesaikan, sehingga dapat menjadi dasar bagi pemerintah untuk melaksanakan program SJSN tahun 2014. (inung/d)

Sumber : www.poskotanews.com