MEDAN (waspada.co.id) – Keberadaan dokter spesialis penyakit dalam di Sumut ternyata masih sangat minim dan distribusinya lebih berpusat pada wilayah perkotaan. Saat ini Sumatera Utara hanya memiliki 180 dokter spesialis penyakit yang sebagian besar berada di ibu kota Provinsi, Medan.
Hal itu dikatakan Pelaksana tugas (Plt) Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujonugroho dalam pidato tertulisnya dibacakan Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara, Nurdin Lubis pada Acara Kongres Nasional XV Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (KOPAPDI) di Grand Ballroom JW Mariot Medan.
Menurut Plt Gubsu Provinsi Sumatera Utara memiliki tidak kurang dari 180 orang dokter spesialis penyakit dalam yang mayoritas berada di ibukota provinsi sebagai sentra pendidikan. “Yang lainnya tersebar pada sejumlah Kabupaten/ Kota hingga ke Pulau Nias, dari segi pelayanan mungkin kebutuhan dan distribusi ini perlu di verifikasi lebih lanjut dengan cara memperoleh informasi terbaru untuk update Ilmu Kedokteran sistim telekomunikasi namun tidak mengabaikan pendekatan ilmu yang didasarkan pada bukti-bukti ilmiah atau Evidence-base medicine,” ungkapnya, hari ini.
Plt Gubsu mengharapkan Kegiatan Kongres Nasional ini dapat meningkatkan profesionalisme para dokter spesialis penyakit dalam secara baik dan benar sesuai undang-undang yang berlaku dan perkembangan terkini sehingga mampu menunjang program pemerintah di bidang kesehatan.
Menurutnya beberapa tahun terakhir ini ada kecendrungan masyarakat untuk berobat ke luar negeri yang berdampak mengalirnya dana ke luar negeri, seperti pernyataan Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Wilayah Sumatera Utara devisa yang mengalir dari Provsu untuk berobat ke luar negeri mencapai 3 sampai 4 Triliun Rupiah setiap tahun. Ini merupakan tantangan khususnya bagi para dokter spesialis penyakit dalam bersama pemerintah daerah dan para stakeholder agar dapat memformulasikan bentuk yang mirip dengan Travel Medicine atau sesuatu yang lebih focus berupa sentra pelayanan penyakit tropis berdasarkan kemampuan yang ada baik sarana Rumah Sakit maupun Sumber Daya Manusia.
Sebelumnya Ketua Pelaksana Kongres Nasional XV Harun Al Rasyid Damanik mengatakan bahwa Tema Kongres Nasional ini adalah “55 Tahun Peran Profesional PAPDI Menapak Era Globalisasi Ditengah Masyarakat Indonesia dan Kedokteran Universal”.
Menurut Panitia peserta Kongres diperkirakan berjumlah 2475 orang dari 36 Cabang PAPDI dan telah melaksanakan seminar tentang standarisasi internis dengan mencapai 500 makalah, Malam Budaya, Bakti Sosial, Donor Darah dan ceramah internis.
Selanjutnya Menteri Kesehatan RI Nafsik Mboi, mengatakan melaui video mengatakan bahwa Tema Kongres ini sangat relevan dengan misi 2010-2014 bahwa masyarakat sehat dan berkeadilan menuju daya saing kesehatan.
Menurut Menteri pada tahun 2020 yang akan terjadi perdagangan bebas se Asia – Pasifik untuk melalui Kongres Nasional XV ini diminta kepada peserta Kongres agar meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia, Memperkuat Regulator Nasional, Meningkatkan Kompetensi, Menjaga Kepercayaan masyarakat terhadap dokter, Ciptakan Pelayanan Kresehatan yang aman, Memberikan pemerataan dokter spesialia di Indonesia tidak hanya di kota tetapi harus sampai ke daerah. Selanjutnya Direktur Jenderal Bina Usaha Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Suriantoro, memukul gong pertanda dimulainya Kongres Nasional XV ini.
RIDIN
Editor: SASTROY BANGUN