ac19nov6

Samarinda, 14 NOVEMBER 2014

BPJS (Badan penyelenggara Jaminan Kesehatan) Kalimantan Timur telah menyelenggarakan sosialisasi tentang fraud dan workshop singkat penyusunan clinical pathway di hotel Bumi Senyiur Samarinda, 14 Novemver 2014. Kegiatan ini diikuti oleh 110 peserta dari Komite medik dan Wadir pelayanan rumah sakit mitra BPJS. Dalam penyelenggaraan kegiatan ini BPJS Kalimantan Timur bekerjasama dengan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-UGM. Kegiatan ini sebagai wujud nyata BPJS kepada para penyedia layanan kesehatan di wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara untuk mewujudkan cakupan semesta tahun 2019.

Acara ini dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya ciptaan W.R Supratman dan Hymne BPJS oleh semua peserta kemudian dilanjutkan pembukaan resmi oleh kepala Departemen Manajemen Pelayanan Kesehatan (MPK) regional VIII dan penjelasan tentang implementasi clinical pathway di Kalimantan Timur oleh dr. Henry Yapari, M. Kes

ac19nov7Pemaparan materi oleh narasumber dimulai pukul 10.00 WIT. dr. Hanevi Djasri MARS memulai kegiatan ini dengan pemaparan materi tentang Pedoman Pencegahan, Deteksi dan Penindakan Fraud di Rumah Sakit Dalam Jaminan Kesehatan. Ada 15 jenis fraud yang dijelaskan dr hanevi , 5 diantaranya paling banyak terjadi di rumah sakit di Indonesia yaitu upcoding, keystroke mistake, cancelled services, no medical value dan standard of care. Kenyataannya peserta sosialisasi tidak begitu paham tengang fraud. Peserta menganggap fraud sebagai hal yang baru walaupun potensi fraud sudah ada sejak diberlakukannya Jamkesmas.

Kepala Divisi Mutu pelayanan kesehatan ini melanjutkan presentasi dengan judul Konsep Dasar dan Manfaat Clinical Pathways. “Clincial Pathways adalah leader driven-strategy” ungkap pria kelahiran Jakarta ini. clinical pathway menjadi alat kendali mutu dan biaya dalam era JKN. Biaya yang dikeluarkan oleh pemberi pelayanan kesehatan dapat dihitung berdasarkan clinical pathway dan dibandingkan dengan tarif INA-CBG’s sehingga jika biaya pelayanan yang diberikan kepada pasien melebihi tarif INA-CBG’s maka rumah sakit dapat melakukan efisiensi tanpa perlu melakukan fraud.

Langkah-langkah penyusunan clinical pathway menjadi materi yang ditunggu-tunggu oleh peserta. Materi ini disampaikan oleh drg. Puti Aulia Rahma MPH. Dokter alumni kedokteran gigi UGM ini menjelaskan ada 8 langkah penyusunan clinical pathway mulai dari menentukan topik, menunjuk koordinator, menetapkan pemain kunci, melakukan kunjungan lapangan untuk telaah PPK, pencarian literatur, melakukan focus group discussion, penentuan lama rawat inap, dan menentukan desain clinical pathway.

ac19nov8Peserta mengikuti proses penyusunan clinical pathway dengan antusias. Ada enam topik yaitu Kehamilan ektopik terganggu, DHF grade II, Appendectomy, Hipertensi dalam kehamilan, Schizofrenia akut, dan Tonsilectomy. Sesi ini dilanjutkan dengan presentasi clinical pathway oleh peserta. Setiap selesai presentasi, dr. Hanevi Djasri MARS dan drg. Puti Aulia rahma MPH memberikan tentang hal tekhnis dan medis sedangkan Eva Tirtabayu Hasri S. Kep.,MPH memberikan masukan untuk aspek Standar Asuhan Keperawatan. Kegiatan ini diakhiri dengan rencana tindak lanjut oleh dr. Hanevi Djasri MARS berupa implementasi draft clinical pathway yang telah dibuat di rumah sakit masing-masing dan mengevaluasinya serta melakukan revisi clinical pathway.