PADANG, KOMPAS.com – Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mendapat sambutan positif dari masyarakat terbukti dari jumlah peserta yang terus meningkat. Dampaknya, biaya kapitasi untuk fasilitas kesehatan (faskes) primer juga terus meningkat. Namun hal tersebut juga menimbulkan pertanyaan lain, mungkinkah JKN lebih berorientasi pengobatan (kuratif) dibandingkan promotif atau preventif?
“Setiap harinya makin banyak masyarakat yang mendaftar dan ingin merasakan manfaat JKN. Peningkatan peserta berarti makin banyak kemungkinan masyarakat yang sakit. Akibatnya biaya kapitasi untuk faskes primer terus meningkat,” kata Kepala Cabang BPJS Kesehatan Kantor Cabang Padang, Eddy Martadinata, kepada Kompas Health, di Padang, Kamis (27/3/2014).
“JKN justru mengubah kebiasaan masyarakat dr kuratif menjadi promotif dan preventif. Penyuluhan kesehatan harus terus berjalan supaya jumlah orang sakit terus berkurang,” kata Eddy.
Selama tiga bulan pelaksanaan JKN, BPJS Kesehatan Kantor Cabang Padang membayar biaya kapitasi kepada faskes primer dengan jumlah yang terus meningkat. Faskes tersebut antara lain puskesmas, klinik swasta, dokter keluarga, dan doker gigi praktek dengan cakupan wilayah Kota Padang, Pesisir Selatan, Pariaman, Kepulauan Mentawai, dan Kabupaten Pariaman.
Sedangkan biaya kapitasi klinik swasta mencapai Rp 1.209.152.000 pada Januari 2014. Pada Februari 2014 jumlahnya meningkat menjadi Rp 1.277.675.100, sedangkan pada Maret 2014 menjadi Rp 1.388.696.400.
BPJS Kesehatan Kantor Cabang Padang memiliki faskes meliputi 82 puskesmas, 20 praktik dokter umum, 5 praktik dokter gigi, 19 klinik swasta, 4 klinik TNI, dan 8 klinik POLRI.
Peserta JKN Padang
Menurut Eddy, data tersebut juga membuka pentingnya manajemen yang andal dalam penerapan JKN. Sistem manajemen yang baik memungkinkan faskes primer tetap bisa beroperasi sejalan dengan jumlah peserta yang semakin meningkat. Sistem manajemen yang baik juga memungkinkan pencairan kapitasi bisa berjalan tepat waktu, yaitu 15 hari kerja usai pengajuan klaim.
{module [153]}