Kebijakan Retensi Bagi Dokter dan Dokter Spesialis
Agar Kerasan di Daerah Sulit dan Kemungkinan Membentuk
Asosiasi Dokter di Daerah Sulit

Yogyakarta, 6 – 7 Maret 2013

Rendahnya minat dokter untuk menetap di daerah sulit dijadikan dasar pelaksananaan semiloka dalam acara Annual Scientific Meeting yang dilaksanakan di Ruang Senat Fakultas Kedokteran UGM pada tanggal 6 – 7 Maret 2013 lalu. Dalam rangka pemberlakuan BPJS Kesehatan yang akan dimulai 1 Januari 2014, keberadan dokter dan dokter spesialis diseluruh pelosok Indonesia sangat penting. Selain memberi perhatian terhadap penyiapan fasilitas kesehatan yang memadai, dokter dan dokter spesialis sebagai pemberi layanan kesehatan juga perlu diperhatikan baik dalam aspek pemerataan di seluruh Indonesia, jumlah dan kemampuan yang dimiliki.

Acara yang bertema Kebijakan Retensi Bagi Dokter dan Dokter Spesialis Agar Kerasan di Daerah dan Kemungkinan Membentuk Asosiasi Dokter di Daerah Sulit ini diisi oleh sekitar 22 pembicara-pembicara yang merupakan pakar dibidangnya. Sebutlah Kepala Badan PPSD Kemenkes RI, dr. Untung Suseno Sutarjo, M.Kes yang membawakan materi tentang kebijakan pemerintah terkait program-program yang dirasa “pas” untuk membuat para dokter maupun dokter spesialis kerasan di daerah terpencil tempat mereka ditugaskan. Ada juga dr. Andreasta Meliala, M.Kes MAS dari FK UGM yang membahas mengenai mitos-mitos dan bukti-bukti yang diyakini dalam upaya peningkatan penyebaran serta retensi di daerah sulit. Selain membahas tentang teori dan kebijakan terkait retensi dokter dan dokter spesialis, pembicara lain yang diundang dalam acara ini juga membawakan materi lain seperti hasil penelitian mengenai profil tenaga dokter yang bekerja di daerah terpencil, pengalaman para dokter yang pernah atau masih bertugas di daerah terpencil serta pemanfaatan teknologi untuk memenuhi kebutuhan para dokter dan dokter spesialis yang bertugas di daerah terpencil.

Teknologi sangat diperlukan bagi dokter dan dokter gigi spesialis yang bertugas didaerah terpencil untuk mempermudah mereka mengakses ilmu pengetahuan terkini untuk menunjang keterampilan mereka. Pemutakhiran ilmu sangat diperlukan oleh para dokter dan dokter spesialis karena mereka dituntut untuk selalu memberi pelayanan kepada pasien dengan tindakan-tindakan berbasis bukti. Pemutakhiran ilmu juga mereka perlukan karena menjadi syarat untuk registrasi ulang tiap 5 tahun. Untuk mendukung kebutuhan para dokter dan dokter spesialis di daerah terpencil, Fakultas Kedokteran UGM mulai merintis program pengembangan ilmu jarak jauh. Dalam program ini, para dokter di daerah terpencil atau di daerah manapun di Indonesia, dapat mengkases seminar-seminar atau pelatihan yang diselenggarakan oleh berbagai pihak dengan mudah.

Dengan teknologi ini, kata Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, Ph.D selaku penggagas program pendidikan jarak jauh Fakultas Kedokteran UGM, dokter dan dokter spesialis di daerah terpencil dapat mengikuti seminar atau pelatihan dengan biaya lebih murah, hanya membayar biaya seminar atau pelatihan. Mereka tetap bisa berada di daerah tempat tugas, tidak waktu kerja yang terbuang, tidak perlu mengeluarkan biaya akomodasi namun tetap bisa mendapat sertifikat. Selain mempermudah para dokter dan dokter spesialis, program semacam ini juga dirasa dapat membuat betah para dokter dan dokter spesialis yang bertugas di daerah terpencil karena walaupun mereka tinggal di daerah sulit, namun akses terhadap “dunia luar” tetap dapat terpenuhi.

Selain dukungan teknologi, dukungan organisasi profesi dalam membuat dokter dan dokter spesialis di daerah sulit sangat penting. Seperti di Australia, organisasi dokter di dearah sulit membantu para dokter dan dokter spesialis yang bertugas di daerah sulit memiliki kehidupan yang mudah. Organisasi ini membantu mencarikan pekerjaan bagi pasangan dari dokter dan dokter spesialis yang bertugas di daerah sulit. Organisasi juga membantu memfasilitasi kebutuhan para dokter spesialis yang bertugas didaerah sulit.
(drg. Puti Aulia Rahma, MPH).

Materi Acara ASM 6-7 Maret 2013

{jcomments on}