KPI dibuat untuk mengukur secara tepat tingkat kinerja yang dihasilkan. Agar dapat digunakan untuk menggambarkan kualitas dan tingkat kinerja pelayanan, maka KPI pelayanan TB untuk klinisi disusun berdasarkan literatur akademis yang berbasis bukti jika bukti atau data di lapangan tidak tersedia. Menurut JCAHO, KPI tidak ditujukan untuk langsung mengukur kualitas melainkan berfungsi memberikan alarm mengenai adanya potensi perbaikan dimasa mendatang dalam hal proses dan outcome.

Dalam project ini, pengembangan KPIs untuk klinisi akan dilakukan bersama-sama antara tim konsultan/peneliti dengan tim klinisi/tim TB RS. Output yang diharapkan adalah set indikator kinerja utama (KPIs) klinisi yang akan menjadi ukuran kinerja dan memberikan indikasi mengenai area-area pada klinisi yang perlu mendapat perbaikan.

Langkah-langkah menyusun KPIs adalah sebagai berikut:

Siklus pertama:

  1. Mendefinisikan tujuan pengukuran dan audience. Dalam hal ini, tujuan pengukuran adalah untuk meningkatkan kinerja pelayanan klinis TB/MDR-TB di RS. Audience pengukuran adalah para klinisi (dokter, perawat) yang terlibat dalam pelayanan TB/MDR-TB di RS.
  2. Memilih area yang akan diukur, dengan fokus pada area dimana masih terdapat gap yang lebar antara kinerja saat ini dengan potensi yang sebenarnya masih dapat dicapai. Selain itu, pengukuran ini juga akan dilakukan dengan memperhatikan keseimbangan dalam pengukuran dari beberapa perspektif yang berbeda. Pengukuran ini akan menggunakan balanced scorecard.
  3. Mendefinisikan kriteria yang telah dipilih, melalui diskusi untuk menjustifikasi beberapa kriteria potensial dan sekaligus mendapatkan kesepakatan mengenai kriteria mana yang akan diilih sebagai indikator kunci utama.
  4. Mendefinisikan indikator, untuk memberikan definisi yang jelas bagi setiap orang yang akan terlibat dalam proses pengukuran. Definisi ini akan dibuat sesederhana mungkin untuk memudahkan pengguna, dengan menerangkan:
    1. Populasi target sebagai denominatornya
    2. Target yang ingin dicapai, yaitu nilai yang ingin didapat dari hasil pengukuran sebagai tingkat kinerja yang diharapkan
    3. Threshold for action, untuk memberikan batasan mengenai kapan suatu tindakan perlu dilakukan untuk perbaikan. Threshold tergantung pada ketersediaan pelayanan dan sumber daya.
    4. Aksi yang dapat dilakukan sesuai dengan hasil pengukuran.
  5. Mengembangan Minimum Data Set (MDS), yaittu menentukan data apa yang perlu dikumpulkan untuk mengukur setiap KPI.
  6. Sosialisasi pada stakeholders (internal RS)
  7. Piloting pertama
  8. Evaluasi hasil piloting untuk melihat apakah tujuan pengukuran tercapai

Siklus kedua:

  1. Melakukan revisi pada area yang diukur, kriteria, indicator dan data set
  2. Sosialisasi kembali pada stakeholder
  3. Piloting kedua
  4. Finalisasi KPIs dan penyusunan laporan

Jadwal Kegiatan adalah sebagai berikut:

Workshop

Tujuan

Lokasi

Tanggal

1. Siklus Pertama

1.1

  1. Mendefinisikan tujuan pengukuran dan audience
  2. Memilih area yang akan diukur
  3. Mendefinisikan kriteria yang akan digunakan
  4. Mendefinisikan indikator

Jakarta

Yogyakarta

1.2

Mengembangkan Minimum Data Set

Jakarta

Yogyakarta

1.3

Sosialisasi pada stakeholders

Jakarta

Yogyakarta

1.4

Piloting Pertama: Pengumpulan data

Jakarta

1.5

Evaluasi hasil pengumpulan data

2. Siklus Kedua

2.1

Merevisi area, kriteria dan indicator

Merevisi Minimum Data Set

Jakarta

Yogyakarta

2.2

Sosialisasi pada stakeholders

Jakarta

Yogyakarta

2.3

Piloting Kedua: Pengumpulan data

Jakarta

2.4

Evaluasi hasil pengumpulan data

3.Finalisasi

3.1

Finalisasi dan sosialisasi akhir

Jakarta

Yogyakarta