Banda Aceh, (Analisa). Kekosongan dokter di sejumlah daerah terpencil dan pedalaman di wilayah Provinsi Aceh selama ini, berdampak tidak maksimalnya pelayanan kesehatan bagi warga setempat.

 


Karenanya, menurut Kepala Bagian Kebidanan dan Kandungan Fakultas Kedokteran (FK) Unsyiah dan RSUZA Banda Aceh, dr HM Andalas Sp.OG, kekosongan itu tidak boleh dibiarkan dan perlu segera diisi.

 

“Seperti yang terjadi di Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar, kita meminta alumni FK Unsyiah untuk mengisi kekosongan para dokter di daerah pedalaman itu,” kata Andalas kepada wartawan, Sabtu (30/3).

Menurutnya, diharapkan para dokter umum dapat mengisi setiap kekosongan karena sangat naif, jika di satu sisi Aceh punya Fakultas Kedokteran justru di beberapa lokasi dokter di Puskesmas seperti Pulo Aceh masih terjadi kekosongan.

“Ini juga dalam rangka program bagaimana memberikan masyarakat sehat, mengurangi angka kematian bayi, penyakit menular (HIV/AIDS) dan menyahuti langkah Millenium Development Goals (MDGs),” tegasnya.

Andalas menjelaskan, sesuai ketentuan setiap 2.500 orang penduduk, harus ada satu dokter. Namun, ada beberapa lokasi di Aceh justru tidak ada dokter sama sekali.

Ditambahkan, di Indonesia, saat ini ada 8.000 dokter umum, namun sebagian dokter itu belum lulus uji kompetensi, sehingga tidak memenuhi syarat untuk praktik sebagai dokter.

Tidak Boleh Praktik

“Di satu sisi, masyarakat membutuhkan dokter untuk memberikan pelayanan kesehatan, namun satu sisi mereka tidak boleh praktik. Maka harus ada salah satu short cut (memotong mata rantai) ikut ujian kompetensi agar mereka bisa buka praktik,” ujarnya.

Masalah lainnya yang muncul, ada juga dokter yang sudah lulus tidak mau di tempatkan pada daerah terpencil, maka solusinya dibuat kembali penempatan dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT ), mengingat saat ini hampir 60 persen dokter berada di kawasan kota besar.

“Masalah lainnya, ada dokter yang tidak mau di tempatkan di Puskesmas, karena kurang memberikan harapan, akibatnya tidak ada kewajiban selama ini untuk di tempatkan di kecamatan, maka sekarang hampir 40 persen Puskesmas di Indonesia tanpa dokter,” sebutnya.

Andalas juga berharap, Pemerintah Aceh harus memikirkan jaminan keselamatan para dokter di daerah terpencil, dan jaminan pendidikan anak. Karena tugas mereka sangat berisiko, pergi mengobati masyarakat siang dan malam. “Mereka harus diberikan jaminan, meski selama ini sudah diberikan dana insentif, tetapi itu belum cukup,” ungkapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, sekitar 5.000 lebih penduduk Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar, hingga saat ini kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan yang maksimal. Kondisi ini disebabkan tidak ada seorang pun dokter yang bertugas di kepulauan tersebut sejak beberapa waktu terakhir.

“Saat ini tak ada dokter di Pulo Aceh. Hanya ada para medis. Kondisi ini sangat menyulitkan warga Pulo Aceh mendapatkan pelayanan kesehatan,” kata Kepala Puskesmas Pulo Aceh, Muballirah. (mhd)

Sumber : www.analisadaily.com

{module [153]}