Jakarta (Metrotvnews.com) : Mahalnya pendidikan dokter belum sebanding dengan imbal jasa yang diterima dokter ketika memberikan pelayanan. Akibatnya, seorang dokter harus bekerja melebihi standar waktu kerja normal.


Keadaan ini dapat mengakibatkan kelelahan dan membahayakan pasien dan dokter. Ditambah lagi masalah masih kurangnya jumlah dokter yang ideal untuk Indonesia.

Dari ketentuan World Health Organization (WHO) seharusnya ada 40 dokter umum per 100 ribu penduduk. Di 2013 ini, Indonesia baru memiliki 33 dokter umum untuk 100 ribu penduduk.

Dari data Kementrian Kesehatan RI, dokter umum di Indonesia baru berjumlah 88.000 jiwa, dengan selisih kekurangan dokter sebanyak 12.371 orang. Meskipun angka produksi lulusan dokter umum setiap tahunnya mencapai 6 ribuan, timpangnya angka sebaran dokter dan jarak perbedaan mutu dokter dari tiap-tiap lulusan fakultas kedokteran masih menjadi masalah yang memperparah sulitnya akses pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Dari masalah produksi lulusan dokter sendiri, sandungan yang dihadapi masih banyak. Dari soal waktu yang lama untuk lulus pendidikan dokter, menjaga kualitas lulusan dokter, hingga persoalan biaya pendidikan kedokteran, yang acapkali bernilai fantastis.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia, Zaenal Abidin mengatakan untuk masalah biaya seyogyanya adalah fokus pemerintah.

“Siapapun tidak ada yang boleh menghalangi hak dasar manusia penduduk Indonesia untuk mendapatkan akses pendidikan dan pelayanan kesehatan. Orang ingin sehat harus diberikan kesempatan. Orang ingin pintar harus diberikan kesempatan. Namun pada kenyataannya hal tersebut membutuhkan biaya. Itulah demikian sehingga konstitusi negara mengatur, bahwa negara memiliki tanggung jawab untuk membantu masyarakat menunaikan hak dasarnya tersebut,” jelasnya.

“Oleh karena itu hak masyarakat untuk mendapatkan pendidikan dan pengajaran serta kewajiban negara untuk membantu memfasilitasi seluruh warga negara Indonesia dalam mendapatkan akses pendidikan dan pengajaran, Namun kenyataannya penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran di Indonesia sekolah kedokteran masih mahal. Artinya kalau mahal, berarti harusnya sekolah dokter disubsidi oleh negara,” tambah dr. Zaenal.

Tidak pelak lagi, akhirnya sebaran tenaga kedokteran tidak merata. Terdapat beberapa kabupaten dan kota yang memiliki kelebihan dokter sementara di daerah lain sangat kekurangan. Kebanyakan tenaga kesehatan lebih condong untuk berkumpul pada daerah yang lebih mudah mencari penghasilan, karena mahalnya proses pendidikan kedokteran.

“Kalau sampai penghasilan dokternya juga kecil, namun biaya sekolah sangat mahal, maka jadinya timpang tinggi. Kalau mau dibiayai (disubsidi pemerintah-RED) ketika di masa pendidikan, dengan demikian gajinya bisa dibuat standar,” tutup dr. Zaenal.

Bagi Anda yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai topik ini, silakan ajukan pertanyaan Anda di fitur Tanya Dokter Klikdokter.com di laman website kami.(ADV)

Sumber : http://www.metrotvnews.com/

{module [153]}