Kompas.com – Setelah 100 hari sistem Jaminan Kesehatan Nasional berjalan, kualitas layanan menjadi sorotan berbagai pihak. Kendali mutu pelayanan dirasakan harus diperbaiki agar masyarakat mendapat pelayanan yang prima.
Fadjriadinur menyampaikan, sebaran peserta yang terdaftar pada fasilitas pelayanan kesehatan primer belum merata. Masih ada puskesmas atau klinik yang pesertanya banyak, sementara tenaga dokternya hanya satu. Ada pula puskesmas yang pesertanya sangat sedikit. Hal ini akan sangat memengaruhi kualitas layanan yang diterima peserta. ”Jangan sampai akses dibuka seluas-luasnya, tapi kualitas layanan
menurun,” kata Fadjriadinur.
Idealnya, di satu pelayanan kesehatan primer seorang dokter melayani 5.000 peserta. Namun, karena berbagai hal, ada dokter yang melayani lebih dari 5.000 orang. Solusinya, ujar Fadjriadinur, jumlah dokter di lokasi yang pesertanya banyak ditambah atau menambah jam pelayanan. Ini sangat terkait dengan pemerataan tenaga kesehatan. Prasetyo menambahkan, dalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), fasilitas pelayanan kesehatan primer mendapat kapitasi atas peserta yang terdaftar. Akan tetapi, uang tersebut masuk ke kas daerah karena puskesmas adalah milik pemerintah daerah. ”Tidak jelas kapan dana dikembalikan kepada puskesmas dan bagaimana cara membaginya,” kata Prasetyo.
Disparitas
Demikian juga rumah sakit umum daerah adalah milik pemerintah daerah dan belum berbentuk badan layanan umum (BLU). Di fasilitas pelayanan kesehatan sekunder itu, menurut Prasetyo, tarif Indonesia Case- Based Groups (INA CBG) juga dinilai terlalu rendah dan terdapat disparitas tarif antar-rumah sakit. Padahal, untuk penanganan tertentu, misalnya endoskopi yang tindakan, cara, dan alat yang digunakan sama dengan di rumah sakit yang tipenya berbeda.
Berdasarkan catatan BPJS Kesehatan, per 28 Maret 2014, total jumlah peserta BPJS Kesehatan 119,2 juta orang dari target 121,6 juta orang tahun 2014. Jumlah pekerja bukan penerima upah yang mendaftar menjadi peserta BPJS Kesehatan juga meningkat dari 80.000-an sehari selama Januari 2014 menjadi sekitar 150.000 orang per hari dalam empat minggu terakhir.
Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART000000000000000000602415
{module [153]}