Indikator mutu pelayanan merupakan sebuah alat untuk melaksanakan manajemen kontrol dan alat untuk mendukung pengambilan keputusan dalam rangka perencanaan kegiatan untuk masa yang akan datang. Mengukur mutu pelayanan kesehatan baik di tingkat primer seperti Puskesmas dan tingkat lanjut seperti rumah sakit memerlukan indikator mutu yang jelas, apakah menggunakan konsep WHO, IOM atau menurut pakar lainnya, misal indicator mutu yang dikembangkan oleh WHO yakni indikator mutu yang mengukur dimensi akses, efisiensi efektifitas, akseptabilitas, keadilan, dan keselamatan. Dengan pengukuran akan tergambarkan apa yang sebenarnya sedang dilakukan sarana pelayanan kesehatan dan membandingkannya dengan target sesungguhnya atau harapan tertentu dengan tujuan untuk mengidentifikasi kesempatan untuk adanya peningkatan mutu (Shaw, 2003).

Untuk meningkatkan mutu perlu peningkatan standar dalam menjaga mutu pelayanan kesehatan. Misalnya menurunkan AKI perlu tenaga kesehatan sebagai ujung tombak pelayanan dan tentunya dengan pelayanan sesuai standar yang mengacu pada semua persyaratan kualitas pelayanan dan peralatan kesehatan agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Hal ini masih menjadi fokus pembangunan kesehatan, dimana tingginya AKI masih terus menjadi perhatian yang sangat besar dari pemerintah terutama dengan adanya target baru yang lebih ambisius yakni sustainability development goals (SDG’s), Maka dari itu tenaga kesehatan setidaknya memberikan pelayanan sesuai standart pelayanan minimal agar mutu pelayanan tetap terjaga.

Seperti diketahui bahwa Indikator merupakan sebuah petunjuk atau tolak ukur sehingga beberapa mutu layanan kesehatan harusnya dapat diukur misalnya angka kematian ibu, angka kematian bayi, mutu layanan kesehatan hingga mutu audit maternal dan perinatal. Penilaian ini dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi faktor medik, non medik dan faktor pelayanan kesehatan yang berpengaruh kepada penurunan mutu layanan kesehatan. Melalui kegiatan ini diharapkan para pengelola pelayanan dasar (Puskesmas dan jajarannya) dan di tingkat pelayanan rujukan primer (Rumah Sakit Kab / Kota) dapat memilih indikator mana yang akan digunakan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan