obat-ilustrasiBENGKULU – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan bahwa 95 persen bahan baku untuk pembuatan obat dalam negeri masih bergantung pada impor, karena itu pengembangan penelitian mikroba yang mengandung antibiotik menjadi salah satu prioritas penting.

“Pengembangan penelitian mikroba yang mengandung antibiotik menjadi penting karena bahan obat kita masih bergantung impor,” kata Koordinator Penelitian LIPI di Pulau Enggano, Ary Prihardhyanto Keim saat Simposium Enggano bertajuk “Enggano : Alam dan Manusianya” di Bengkulu, Selasa.

Menurut dia, ekspedisi Widya Nusantara yang dilakukan LIPI di Pulau Enggano pada Maret hingga April 2015 menemukan sejumlah mikroba yang mengandung antibiotik dan antibakteri yang dapat dikembangkan menjadi bahan baku obat.

Mikroba yang berpotensi menjadi antibakteri berupa aktinomisetes laut yang diisolasi dari sedimen hutan bakau di pesisir pantai Pulau Enggano.

Sebanyak 29 isolat aktinomisetes berhasil diisolasi dari tiga sampel sedimen hutan bakau dan selanjutnya mengevaluasi potensi isolat tersebut untuk memproduksi senyawa metabolit bioaktif.

Penelitian selanjutnya kata dia difokuskan pada uji potensi isolat aktinomisetes Pulau Enggano dalam menghasilkan metabolit sekunder yang memiliki aktivitas antibakteri, antimikobaterium, antimalaria dan antivirus.

Selain menemukan mikroba dari sedimen hutan bakau, penelitian yang berlangsung selama 20 hari itu juga menemukan tiga jenis tumbuhan jenis Smilax spp yang berpotensi menjadi antibakteri dan antioksidan.

Bagian tanaman yang diekstrak dari tiga jenis tumbuhan masing-masing Smilax macrophylla, Smilax odoratissima dan Smilax zeylanica yakni batang dan daun.

“Penelitian ini masih berlanjut yang diarahkan untuk menghasilkan ekstrak yang mempunyai aktivitas antioksidan tinggi,” paparnya.

Selain menemukan kandungan mikroba dalam sejumlah tanaman di pulau berpenghuni 2.800 jiwa itu, ekspedisi LIPI di Pulau Enggano juga menemukan 14 spesies flora dan fauna baru.

Koordinator Ekspedisi Widya Nusantara 2015, Amir Hamidy mengatakan bahwa temuan tersebut masih bisa bertambah, sebab sejumlah flora dan fauna yang ditemukan di pulau terdepan Indonesia yang menghadap langsung Samudera Hindia tersebut, masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

“Pulau Enggano sangat unik karena tidak pernah menyatu dengan Pulau Sumatera, karena itu kekayaan keanekaragaman hayatinya juga sangat tinggi,” tambahnya. [Ant/L-8]

Sumber: http://sp.beritasatu.com/

{module[153]}