JAYAPURA (cenderawasihpos.com) – Bakal Calon Gubernur Papua, Lukas Enembe Sip berpendapat bahwa wajah kesehatan di Papua perlu mendapat perhatian serius. Tak hanya yang berada di perkotaan tetapi terlebih pada daerah yang terisolir. Ia prihatin, banyak rumah sakit tak memberikan pelayanan maksimal sehingga peran rumah sakit yang seharusnya untuk memberi perawatan dan penyembuhan bagi pasien terus mendapat protes dari publik.
Salah satunya yang dianggap nyata dan muncul hingga kini adalah RSUD Dok II. Dari penilaiannya, RSUD Dok II merupakan rumah sakit rujukan baik dari Papua maupun Papua Barat. Namun sayangnya pelayanan dari rumah sakit peninggalan Belanda ini masih jauh dari harapan. Jika tak segera disikapi, ia khawatir masyarakat di Papua akan terus mengeluh atas pelayanan kesehatan di Papua.
Hal tersebut disampaikan Lukas saat meresmikan Posko Kesehatan Lukmen – Lukas Enembe dan Klemen Tinal- di Kotaraja, tepatnya di depan Ramayana Mal, Selasa (4/12) kemarin. Ia melihat persoalan di RSUD Dok II pada dasarnya ada pada managemen, baik ditingkat pimpinan maupun pejabat di bawahnya. Prediksinya ketika seorang dokter masuk dalam bursa pencalonan direktur, sosok tersebut memiliki pendapat dan visi jelas bagaimana merubah wajah Rumah Sakit Dok II. Tapi ketika sudah masuk dan menjadi bagian di dalamnya maka semua akan tunduk pada sistem.
Bagi Lukas, penanganan RSUD Dok II perlu menempatkan orang yang tepat untuk mengelola tak hanya managemen tetapi hingga ke bagian terkecil dan yang terpenting adalah bagaimana sosok tersebut mau melihat kondisi riil kesehatan di Papua secara objektif, sehingga mampu bekerja dengan hati demi kualitas pelayanan kesehatan yang benar-benar manusiawi.
Dengan apa yang dimiliki Papua, Lukas berpendapat bahwa persoalan kesehatan tak perlu lagi dipergunjingkan. “ Saya melihat Papua memiliki potensi yang luar biasa, kita memiliki hutan dan tanah tapi kondisi RSUD Dok II saya anggap tak layak. Sekarang lihat bagaimana wajah kesehatan di Papua jadi jelas perlu ada perubahan dan pelayanan para medis,” bebernya menjawab pertanyaan Cenderawasih Pos usai peresmian Posko kesehatan gratis.
Ia menganggap tenaga medis mulai dari perawat, suster termasuk cleaning service dan petugas administrasi perlu diberi intensif lebih agar tak lagi muncul keluhan yang berdampak pada menurunnya kualitas pelayanan.
“Jika mereka mendapatkan intensif yang baik, saya pikir akan muncul tanggungjawab dipundaknya untuk memberikan yang terbaik bagi pasien. Sehingga pasien yang masuk ke RSUD Dok II keluar tak jadi jenasah tetapi keluar dengan senyum,” tandasnya. Dirinya mengaku pernah ribut di RSUD Dok II karena dengan dana yang besar tetapi ternyata untuk mendapatkan obat harus menunggu lama karena ketika itu rumah sakit kehabisan stok Karenanya ia menilai perlu ada perubahan dan pelayanan. “Saya senang karena bidan dan suster mau ikut terlibat dalam kegiatan ini. Saya pikir inilah kontribusi dan dedikasi yang bisa diberikan kepada masyarakat, apalagi berkonsep pengobatan gratis,” imbuhnya.
Disinggung tentang intensif lebih yang perlu diberikan kepada petugas medis sementara alokasi anggaran untuk pendidikan dan kesehatan telah ditetapkan 30 persen, Lukas menjawab bahwa hal tersebut bisa dialokasikan dari anggaran khusus di luar dari 30 persen tadi.
Bagi Lukas, pelaku pembangunan adalah manusia, ketika manusia itu sehat maka akan bekerja dan menghidupi diri serta keluarga dan memberi manfaat bagi yang lain. Tetapi ketika manusia itu sakit maka semua roda aktifitas termasuk pencaharian akan terganggu. Catatan yang disampaikan, menurut data Indeks Prestasi Manusia Indonesia, usia orang Papua tiap individu hanya 56 tahun dan jika bisa lebih dari itu maka itu adalah bonus dari Tuhan dan jika ingin memperpanjang 70 tahun maka sering berolahraga untuk menjaga kesehatan.
Sementara Ketua Panitia Kegiatan, dr Anton Mote menyampaikan, kegiatan bhakti sosial yang dimulai dengan pengobatan gratis ini diawali di Kota Jayapura dan akan berlanjut dengan menyambangi 6 kabupaten yakni, Sarmi, Wamena, Yahukimo, Merauke, Serui dan Deiyai.
Dari pengobatan kemarin, pihaknya tak hanya memberikan pelayanan kesehatan secara gratis tetapi ada juga sunat massal, aksi donor darah, dan promosi kesehatan dengan mengacu pada program departemen kesehatan. “ Kami langsung berkomunikasi dengan pasien dan jika ditemukan ada penyakit berat maka langsung dibuatkan rujukan,” imbuhnya.
Selain pelayanan yang bersifat standby, Mote juga menambahkan bahwa ada tim mobile yang menyambangi warga di wilayah Kabupaten Jayapura dan Keerom. “Semua nanti dilanjutkan ke enam kabupaten lainnya dan finish di Kabupaten Deiyai. Saya pikir masyarakat di enam daerah ini sangat membutuhkan pelayanan kesehatan yang juga layak,” jelasnya. Agenda bhakti social Lukmen ini diawali dengan jalan sehat yang diikuti ratusan orang dari Saga Abepura menuju depan Ramayana.
Kemudian peresmian posko kesehatan gratis Lukmen di depan Mal Ramayana. Peserta jalan sehat juga diberi kesempatan untuk merebut doorpize dengan hadiah utama 1 unit sepeda motor. Uniknya dari acara bagi-bagi hadiah ini banyak peserta yang ‘bertingkah’. Pertanyaan dari Mc yang belum selesai dilontarkan langsung dijawab begitu saja. Begitu juga beberapa kali pengumuman pencabutan nomor undian satu persatu peserta naik secara meyakinkan dengan membawa nomor undian. Namun ketika berada di atas panggung ternyata banyak nomor yang terbalik sehingga kejadian ini cukup menghibur bagi mereka yang tak berhasil meraih hadiah. (ade/luc)