Jakarta (Metrotvnews.com) : Menkes Nafsiah Mboi membantah hasil survei terkaik kematian ibu yang masih tinggi di Indonesia.
Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi mempertanyakan metode perhitungan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012. Menkes menyoroti angka kematian ibu (AKI) di Indonesia naik dari 228 per 100 ribu kelahiran hidup (SDKI 2007) menjadi 359 per 100 ribu kelahiran pada 2012.
“Ada kemungkinan metode perhitungannya kurang tepat. Karena lonjakan kenaikannya dibanding SDKI sebelumnya terlalu jauh,” ujar Nafsiah seusai meluncurkan program imunisasi lanjutan, di Kerawang, Jawa Barat, Kamis (22/8).
Lantaran itu, saat ini kementerian/lembaga terkait masih mengkaji data yang tercatat di dalam SDKI 2007. Perhitungan data SDKI sendiri dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Oleh karena itu, untuk sementara waktu, tegas Nafsiah, hasil SDKI 2012 belum bisa diumumkan ke publik.
Sedangkan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Fasli Jalal cenderung berpendapat AKI memang mengalami kenaikan. Pasalnya masih banyak proses persalinan bukan dilakukan di tempat semestinya dan tanpa didampingi oleh tenaga medis.
Bahkan Fasli mengatakan bila dilihat dari Sensus Penduduk 2010, angka kematian ibu bahkan lebih tinggi dari SDKI 2012. Namun saat didesak, Fasli enggan menyebutkan jumlahnya.
“Yang jelas sudah pasti target menurunkan AKI sesuai MDGs, yaitu 102 per 100 ribu sudah mustahil tercapai,” tuturnya.
Sebelumnya Kepala Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LDFEUI) Sonny Harry B Harmadi mengatakan tingkat AKI tinggi lantaran pernikahan usia dini yang gagal dikendalikan pemerintah.
“Pada saat ini di Indonesia sekitar 45% pernikahan perempuan dilakukan pada usia sangat dini atau di bawah 18 tahun. Padahal melahirkan di saat usia belum sampai 20 tahun berisiko kematian lima kali lipat dibanding dengan kehamilan saat usia telah mencapai 20 tahun ke atas,” sebut dia. (Cornelius Eko Susanto)
Editor: Agus Tri Wibowo
Sumber : www.metrotvnews.com
{module [153]}