Mutu pada tingkat pelayanan kesehatan primer merupakan pondasi penting untuk mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap sistem kesehatan. Ketika masyarakat memperoleh pelayanan yang aman, efektif, dan berpusat pada pasien, kepercayaan terhadap sistem kesehatan akan meningkat. Sebaliknya, pelayanan yang bermutu rendah dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis, komplikasi penyakit, peningkatan angka kematian, bahkan pemborosan biaya kesehatan. Dalam praktiknya, konsistensi peningkatan mutu pelayanan kesehatan memiliki berbagai faktor dan tantangan. Scoping review Endalamaw, et al (2023) memetakan berbagai indikator, keberhasilan, dan tantangan dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan primer di berbagai negara.
Melalui analisis kerangka mutu pelayanan kesehatan Avedis Donabedian, mutu pelayanan dinilai dengan tiga komponen utama, yaitu struktur, proses, dan outcome. Struktur mencakup sumber daya yang mendukung pelayanan seperti tenaga kesehatan, infrastruktur, fasilitas, kebijakan, pendanaan, dan ketersediaan alat kesehatan. Proses menggambarkan interaksi antara tenaga kesehatan dan pasien seperti kegiatan pemeriksaan, diagnosis, edukasi, komunikasi, dan terapi. Sementara itu, outcome mengukur hasil yang diperoleh dari pasien dan masyarakat, yakni angka kesembuhan dan kematian, perubahan perilaku kesehatan, penyelesaian pengobatan, serta kepuasan pasien.
Hasil kajian membahas bahwa indikator struktur yang paling sering digunakan adalah ketersediaan tenaga kesehatan, regulasi dan kebijakan, fasilitas fisik, serta sumber daya pelayanan. Pada dimensi proses, indikator yang banyak digunakan meliputi kualitas diagnosis melalui pemeriksaan klinis maupun laboratorium, pemberian informasi kesehatan, edukasi pasien, dan tata laksana pengobatan. Sementara itu, indikator outcome umumnya diukur melalui angka kesembuhan, mortalitas, keberhasilan penyelesaian terapi, perubahan perilaku kesehatan, dan tingkat kepuasan pasien. Menariknya, sebagian besar indikator mutu pelayanan primer berfokus pada aspek proses pelayanan. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi antara tenaga kesehatan dan pasien menjadi salah satu elemen paling penting dalam penilaian mutu layanan.
Salah satu temuan penting dari kajian ini adalah adanya hubungan erat antara struktur, proses, dan outcome pelayanan. Pasien tidak hanya menilai kualitas berdasarkan tindakan medis yang diterima tetapi juga dari pengalaman sejak memasuki fasilitas kesehatan. Kebersihan lingkungan, kenyamanan fasilitas, dan kemudahan akses dapat meningkatkan kepuasan pasien bahkan sebelum tindakan klinis terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa investasi pada infrastruktur dan sistem pelayanan dapat memberikan dampak langsung terhadap persepsi mutu layanan.
Kajian ini juga mengungkap sejumlah keberhasilan yang telah dicapai berbagai negara. Pelayanan primer yang berkualitas di Amerika Serikat dikaitkan dengan penurunan angka rawat inap dan penurunan mortalitas akibat penyakit kronis tertentu. Sementara itu, pelayanan farmasi berbasis komunitas di Jepang terbukti memberikan dampak positif terhadap outcome klinis, perubahan perilaku kesehatan, dan efisiensi pelayanan. Kesamaan persepsi antara pasien dan pengelola layanan mengenai kompetensi tenaga kesehatan dan kualitas pelayanan di beberapa negara lainnya menjadi indikator positif yang menunjukkan terciptanya hubungan yang baik antara penyedia dan penerima layanan. Namun, tantangan yang ditemukan juga masih sangat beragam khususnya di negara berkembang. Masalah utama yang sering muncul adalah kekurangan tenaga kesehatan, keterbatasan fasilitas dan peralatan, ketidakmerataan kualitas layanan antarwilayah, rendahnya keterlibatan masyarakat, serta kurangnya kepatuhan terhadap pedoman pelayanan. Sebagai contoh, layanan kesehatan remaja di Ethiopia menunjukkan tingkat mutu yang belum optimal pada aspek struktur, proses, dan outcome.
Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan kualitas komunikasi, edukasi, dan keterlibatan pasien dalam setiap proses pelayanan penting untuk dipertahankan. Kompetensi klinis harus diimbangi dengan adanya keahlian komunikasi terhadap pasien. Selain itu, fokus peningkatan mutu seharusnya tidak hanya terbatas hanya pada indikator hasil seperti angka kesembuhan atau kepuasan pasien tetapi juga secara menyeluruh. Indikator yang dapat ditinjau contohnya seperti kecukupan sumber daya manusia, penyediaan fasilitas dan peralatan yang memadai, penguatan sistem pembiayaan, penerapan kebijakan berbasis mutu, hingga pelibatan masyarakat dalam evaluasi layanan. Melalui upaya-upaya tersebut, peningkatan mutu pelayanan kesehatan primer diharapkan dapat menghasilkan dampak nyata bagi kesehatan masyarakat.
Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S.Gz., MPH
(Peneliti Divisi Manajemen Mutu PKMK FK-KMK UGM)
Selengkapnya:
- Endalamaw, A., Khatri, R.B., Erku, D. et al. Successes and challenges towards improving quality of primary health care services: a scoping review. BMC Health Serv Res 23, 893 (2023). https://doi.org/10.1186/s12913-023-09917-3