(Liputan6.com) – Sekitar 7 warga di kampung Jokbijoker, Mbatde, dan Kwesefo, Kabupaten Tambrauw, Papua meninggal akibat sulitnya pelayanan kesehatan.


Menurut data Kementrian kesehatan, Kampung Jokbijoker, Mbatde dan Kwesefo merupakan desa di dalam wilayah Distrik Kwoor yang merupakan kampung yang sangat terpencil dan susah dijangkau dari Ibu Kota Kabupaten Timbraw. Untuk menuju kampung tersebut harus ditempuh dengan berjalan kaki selama 5-7 hari atau menggunakan helikopter.

“Jumlah kematian ini merupakan akumulasi dari kematian tahun sebelumnya, sedangkan jumlah kematian periode triwulan I tahun 2013 adalah 2 orang terdiri dari 1 orang ibu hamil dan 1 orang Lansia,”ujar tim investigasi kemenkes dalam pernyataannya yang dikirimkan melalui surat elektronik, Sabtu (13/4/2013).

Tim yang terdiri dari Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan, Ditjen PP & PL, Ditjen Gizi-KIA), UP4B dan Dinkes Provinsi Papua Barat juga menilai kalau jenis penyakit yang sering menyerang warga adalah ISPA, cacingan, malaria, anemia, penyakit kulit, dan diare. Hal ini disebabkan karena kurangnya pelayanan kesehatan akibat geografis wilayah yang sangat sulit.

“Kondisi geografis lokasi dugaan KLB (kejadian Luar Biasa) sangat terpencil. Beberapa kasus kematian terjadi pada ibu melahirkan, neonatal dan Balita,” jelasnya.

Sebelumnya sempat dikabarkan kalau warga yang meninggal di kampung Jokbijoker, Mbatde, dan Kwesefo menderita kelaparan padahal hasil kebun seperti ubi-ubian (kasbi, keladi, petatas), pisang, sagu, jagung, buah-buahan dan bermacam sayuran cukup melimpah di ketiga kampung tersebut.

Namun tim membantah kabar ini karena setelah melihat lokasi langsung, tim memperkirakan kalau warga yang meninggal ini akibat kebersihan dan kesehatan lingkungan yang buruk, perilaku hidup bersih dan sehat yang kurang diperhatikan warga.

“Demikian pula dengan pelayanan kesehatan yang kurang karena lokasi kampung yang sangat sulit dijangkau, perilaku merokok, kebiasaan membuat perapian di dalam rumah ataupun ketersediaan jamban yang kurang karena masyarakat terbiasa buang air di hutan atau di sungai. Ditambah lagi cara pengolahan makan masih sangat terbatas, seperti air minum tidak dimasak dulu tetapi langsung diminum dari sumber-sumber mata air yang ada di kampung,”tulisnya.

Hasil Pengukuran Anthropometri pada Balita di Desa Bikar, Jokbijoker dan Kwesefo menunjukkan bahwa dari 31 penduduk Jokbijoker yang diukur terdapat 4 Balita masih dalam status gizi normal. Dari 36 orang penduduk Bikar yang diukur terdapat 11 Balita diantaranya 6 Balita berstatus gizi normal, 1 anak kurus, dan 4 anak sangat kurus yang langsung dirujuk ke Puskesmas Saosapor.

Sementara hasil pengukuran di kampung Kwesefo menunjukkan ada 27 Balita yang diukur terdiri dari 4 bayi dan 23 Balita. Dari 4 bayi ini, 2 bayi berstatus gizi normal dan 2 bayi lainnya kurus. Sementara dari 23 balita, diketahui 13 anak kategori normal, 6 anak dan 4 anak kurus. (Fit)

Sumber : health.liputan6.com

{module [153]}