(Merdeka.com) – Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengemukakan bahwa angka anak penderita gizi buruk di daerah ini masih di bawah target nasional.
“Angka penderita gizi buruk atau gizi kurang di Daerah istimewa Yogyakarta (DIY) saat ini hanya mencapai 11,3 persen sedangkan target pemerintah 15 persen pada 2014,” kata Kepala Seksi Gizi Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY, Siti Badriyah di Yogyakarta, Senin.
Seperti dikutip dari Antara, Badriyah menjelaskan, rata-rata balita yang terindikasi gizi buruk di Yogyakarta tidak disebabkan karena ekonomi keluarga rendah.
“Melainkan karena ada penyakit penyerta pada anak, misalnya hidrosefalus, TBC atau diare,” ujarnya.
Penyebab lain karena kesalahan pola asuh orang tua sehingga mengakibatkan kurangnya asupan gizi. Jadi, dia melanjutkan, meskipun orang tua bayi tergolong mampu, tetapi karena sibuk, mereka menitipkan anak kepada pembantu yang kurang mengetahui asupan gizi proporsional.
“Dengan begitu maka anak bisa terkena gizi buruk,” katanya.
Hingga kini dinas masih kesulitan melacak keseluruhan balita penderita gizi buruk. Sebab tingkat kunjungan orang tua bayi ke pos pelayanan kesehatan terpadu (posyandu) masih belum menyeluruh.
“Ibu balita yang menimbangkan anaknya ke posyandu hingga saat ini masih sekitar 76 persen,”katanya.
Padahal, indikasi utama gizi buruk atau gizi kurang antara lain dapat diketahui dari tingkat berat badan balita. Kalau dalam dua bulan berat badan anak tidak naik, maka orang tua harus segera merujuk ke Puskesmas untuk mengetahui kualitas gizi anak masuk kategori kurang atau bahkan buruk.
Oleh sebab itu hingga kini dinas masih terus berupaya mengampanyekan pentingnya datang ke posyandu di setiap kecamatan bagi masyarakat DIY melalui berbagai media.
“Kalau pada zaman orde baru saat awal-awal digalakkan Posyandu, hampir seluruh masyarakat yang memiliki balita mau menimbangkan anaknya, tapi sekarang susah,” katanya.