Jakarta (beritasatu.com) – Sebagai upaya mengatasi lonjakan pasien peserta Kartu Jakarta Sehat (KJS), Dinas Kesehatan (Dinkes) akan menambah jumlah dokter di Puskesmas. Penambahan dokter di Puskesmas akan disesuaikan dengan rasio jumlah pasien yang datang berobat ke Puskesmas.
Kepala Dinkes DKI Jakarta Dien Emmawati mengatakan, saat ini sedang menghitung penambahan dokter di Puskesmas. Namun dia enggan menjelaskan detail penambahan dokter di Puskesmas.
“Jangan diomongin detailnya [menambah dokter berapa]. Kita akan lihat rasionya. Jumlah pasiennya berapa. Kalau hanya 75 pasien, ya dokternya 1 cukup. Tergantung kasus,” kata Dien usai mendampingi Ikatan Rumah Sakit Jakarta Metropolitan (IRSJAM) bertemu dengan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di Balaikota DKI, Jakarta, Rabu (27/2).
Dien membantah terjadi lonjakan pasien sebanyak 300 orang per satu puskesmas untuk sekadar mendapatkan KJS. Sebab, pintu masuk untuk mendapatkan kartu tersebut adalah Puskesmas. Bagi warga yang tidak berobat ke Puskesmas, tidak akan mendapatkan kartu itu.
“Lihat saja di Puskesmas kelurahan, tetap melayani 75 hingga 100 pasien. Kalaupun sampai ada 150 pasien, pasti karena ada dua dokter, tidak sampai 300,” ujarnya.
Karena itu, Dien belum bisa memastikan kebutuhan ideal jumlah dokter untuk Puskesmas. Semuanya tergantung kasus penyakit yang terjadi di Puskesmas tersebut. Kalau hanya penyakit biasa, satu dokter sanggup menangani 100 orang pasien. Sedangkan untuk penyakit khusus dibutuhkan tenaga dokter spesialis.
“Tergantung kasus. Kamu enggak bisa menggeneralisir. Kalau kasusnya mudah, untuk 100 pasien per satu dokter juga bisa. Jadi bukan 35 pasien per satu dokter. Enak aja 35, itu sih dokter gigi. Dokter umum tangani 75-100 pasien masih ideal,” jelasnya.
Untuk membantu peningkatan kualitas pelayanan Puskesmas, Dinas Kesehatan DKI bekerja sama dengan Fakultas Universitas Indonesia. Ikatan kerja sama tersebut sudah ditandatangani pekan lalu. Hanya saja Dien tidak mau mengungkapkan berapa jumlah tenaga medis yang akan turut terlibat di beberapa puskesmas Jakarta.
“Tenaga dokternya akan ada di Puskesmas Koja, Tambora, Cilincing, dan Tanah Abang. Nah itu sudah. Sampai sekarang kita bisa lihat polanya seperti apa. Nanti kita evaluasi lagi,” tuturnya.
Ditegaskannya lagi penambahan jumlah dokter harus diiringi dengan kenaikan jumlah pasien. Seperti di Puskesmas Tambora, terjadi kenaikan jumlah pasien, maka jumlah dokter ditammbah dengan bantuan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. “Jadi, kalau tidak ada kenaikan, enggak usah ditambah. Tapi kalau terjadi kenaikan kita tambah. Macam di Tambora terjadi kenaikan kita tambahkan,” paparnya.
Menurutnya, pihaknya tidak bisa asal menambah tenaga dokter di Puskesmas karena ada rumusan tersendiri untuk melakukan penambahan. Hal itu disebabkan anggaran untuk membayar tenaga dokter tambahan dalam APBD sangat terbatas.
“Dapatnya [penggantian uang] transportasi saja. Enggak digaji. [Jumlah uang] transportasinya tergantung APBD. Nanti kita kihat evaluasinya dengan RSCM,” imbuhnya.
Penulis: Lenny Tristia Tambun/NAD
Sumber : http://www.beritasatu.com/megapolitan/99231-penambahan-dokter-puskesmas-disesuaikan-pasien-kjs.html