Yogyakarta (strokebethesda.com) – Clinical pathway adalah rencana penatalaksanaan pasien yang bersifat multi disiplin, yang berisi detail langkah-langkah penanganan seorang pasien mulai masuk RS sampai dengan keluar RS. Saat ini tim stroke center RS Bethesda melakukan kegiatan pengembangan dan uji coba pathway.

Clinical pathway merupakan langkah-langkah protokol terapi dan standar pelayanan pasien. Clinical pathway lebih merupakan pengingat (reminder) dan perangkat evaluasi untuk kemajuan pasien. Clinical pathway bukan merupakan tirani bukti ilmiah dan tidak mengancam kebebasan klinik. Penyimpangan/ variansi dari pathway masih sangat dimungkinkan sesuai dengan perkembangan kondisi pasien.


Hasil penelitian Wolff, dkk (2004) pada 123 pasien dengan stroke memperlihatkan bahwa ada peningkatan yang signifikan pada aspek kepatuhan program terapi stroke setelah pemberlakuan pathway, yaitu : (1) skrining disfagia dalam 24 jam pertama sebesar 40,7%, (2) pemberian aspirin atau clopidogrel dalam 24 jam pertama sebesar 55,4%, dan (3) proporsi pasien yang mendapat penilaian neurologi secara rutin dalam 48 jam pertama sebesar 52,4%. Penelitian lain oleh Hanger (2002) memperlihatkan bahwa pemberlakuan bangsal rehabilitasi medik sebagai bagian dari clinical pathway stroke baru menurunkan rerata lama inap secara signifikan tanpa mempengaruhi luaran pasien.

Pemberlakukan clinical pathway diharapkan memperbaiki proses pelayanan pasien stroke. Penelitian Suzuki, dkk (2004) memperlihatkan bahwa pemberlakuan pathway memperbaiki proses pelayanan CT Scan di IGD untuk pasien stroke. Waktu antara pasien datang dan CT scan selesai dilaksanakan (Door to CT Completion Interval/ DCI). Pemberlakuan pathway memperbaiki waktu DCI dari 48 menit menjadi 22 menit (p<0,02). Analisis multivariat memperlihatkan bahwa pemberlakuan pathway merupakan prediktor yang paling kuat dalam perbaikan proses pelayanan (OR: 10.92, 95% CI: 1.22 -97.96). Penelitian Quigley (1998) menunjukkan bahwa pemberlakuan clinical pathway memperbaiki proses dan luaran program rehabilitasi untuk stroke dan trauma kepala berat. Pemberlakuan pathway akan mempercepat rujukan pada program rehabilitasi, dan memperpendek lama rawat inap secara bermakna (322 hari VS 26 hari). Penelitian lain oleh Taylor, dkk (2006) menunjukkan bahwa clinical pathway tidak terbukti memperbaiki luaran pasien stroke. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai status fungsional yang baik pada saat keluar RS tidak menigkat secara signifikan pasca pemberlakuan pathway (66,2% VS 67,1%). Mortalitas pasien pun tidak berbeda bermakna pasca pemberlakuan clinical pathway (20,3% VS 23,1%). Penelitian uji klinik oleh Sulch, dkk (2000) memperlihatkan bahwa tidak ada beda bermakna dalam hal mortalitas dan lama rawat inap antara kelompok yang menjalani pathway dan kelompok tanpa pathway. Pemberlakuan pathway memperbaiki proses dokumentasi, dan edukasi pada pasien secara bermakna (Sulch, dkk, 2002). Hasil serupa ditunjukkan oleh penelitian Kwan, dkk (2004) pada 251 pasien stroke dengan metode pre dan post test analysis. Kelompok pasien yang menjalani pathway lebih sedikit yang menderita ISK (OR 0.37, CI 0.15&ndash;0.91), dengan proses dokumentasi dan pelayanan yang lebih baik (misalnya: waktu CT scan kepala yang lebih cepat). Tidak ada perbedaan bermakna dalam hal kematian dan lama tinggal di RS diantara kedua kelompok.

Pemberlakuan suatu clinical pathway dikhawatirkan oleh banyak pihak akan meningkatkan biaya pelayanan medik.
Penelitian Claesson, dkk (2001) menunjukkan bahwa tidak ada beda pembiayaan yang bermakna antara pasien di
bangsal stroke yang terintegrasi dan bangsal biasa. Pembiayaan stroke sangat bervariasi tergantung pada severitas dan kompleksitas masalah klinis. Hal tersebut tidak terbukti dalam penelitian Bowen dan Yaste (2004) yang mengukur biaya stroke antara sebelum dan sesudah pemberlakukan protokol standar (clinical pathway) pelayanan stroke. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pembiayaan stroke menjadi lebih rendah secara signifikan setelah pemberlakuan clinical pathway. Hal ini terkait dengan penurunan lama rawat inap.

Beberapa kajian sistematis dan meta analisis telah dibuat untuk mensintesis data tentang efektivitas clinical pathway dalam memperbaiki luaran stroke. Sulch dan Kalra (2000) menyimpulkan bahwa hasil penelitian masih sangat bervariasi dan belum bersifat konklusif. Kajian sistematis Kwan dan Sandercock (2003) melakukan kajian sistematis pada 3 uji klinik dan 7 penelitian non randomisasi yang menilai efektivitas clinical pathway untuk pelayanan stroke akut. Hasil kajian sisematis memperlihatkan bahwa tidak ada beda yang bermakna dalam hal angka kematian dan ketergantungan antara sebelum dan sesudah pemberlakuan clinical pathway. Bukti ilmiah dari beberapa penelitian non randomisasi menunjukkan bahwa pasien yang dikelola dengan clinical pathway lebih sedikit yang mengalami ISK (OR: 0,38, 95% CI 0,18-0,79), dan readmisi (OR: 0,11, 95% CI 0,03-0,39).

Kajian sistematis yang lebih baru dari Kwan dan Sandercock (2005) menunjukkan bahwa masih banyk diperlukan
eksplorasi yang mendalam untuk menilai efektivitas clinical pathway untuk pelayanan stroke. Kajian tersebut menunjukkan bahwa belum ada bukti yang konklusid bahwa clinical pathway menurunkan angka kematian. Ada bukti ilmiah yang lemah bahwa pathway akan memperbaiki status fungsional saat keluar RS dan menurunankan angka kejadian komplikasi ISK. Dampak pemberlakukan pathway untuk menurunkan biaya perawatan dan lama tinggal di RS masih belum konklusif, dan masih diperlukan penelitian tambahan untuk mencapai hasil yang lebih konklusif. Patterson (2002) menyampaikan bahwa penelitian clinical pathway untuk stroke seyogyanyalah untuk lebih mempertimbangkan perbaikan luaran dan bukan dengan menilai proses pelayanan. Proses pelayanan yang lebih baik tidak semata-mata akan memperbaiki luaran stroke, hal ini terkait dengan kompleksitas masalah medis pada stroke.