Jakarta (detik.com) – Pemprov DKI Jakarta terus memperperbaiki sistem rujukan agar pasien dapat terlayani dengan baik. Untuk itu, Dinas Kesehatan DKI Jakarta menggandeng Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk menyusun aturan rujukan.
“Dalam minggu depan ini, kita usahakan ada launching kerjasama antara FK UI, RSCM, dan Dinkes. Pak Gubernur akan launching supaya tahu audit rujukan, aturannya bagaimana rujukan itu. Kita akan tuangkan dalam Pergub. Jadi semua orang itu jelas aturannya. Kalau sekarang belum, ya namanya juga baru,” ujar Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.
Hal ini disampaikan Ahok dalam acara Indonesia Case Base Group (INA CBG’s) Mendukung BPJS 2013 Tingkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan Menuju Jakarta Baru di Ballroom Hotel Lumire, Senen, Jakarta Pusat, Jumat (22/3/2013). Dalam acara ini, hadir pula Kepala Dinas Dien Emmawati, jajaran Suku Dinas (Sudin) Kesehatan dan 500 orang perwakilan dari 90 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dan RS swasta yang mengikuti program KJS.
Kerjasama ini diharapkan akan mengoptimalkan fungsi pelayanan 119 dan online. “Kita tinggal lihat sendiri rumah sakit mana yang kosong,” lanjut Ahok yang mengenakan baju Betawi ini.
Ahok menjelaskan sistem pembayaran online dengan KJS. Satu paket penanganan pasien termasuk biaya obat dan rawat inap akan masuk sebagai data yang terintegrasi.
“Kalau ini langsung diverifikasi komputer. Kamu memasukkan obat-obat per grup gitu, kalau memasukkan yang di luar, kamu pasti ditolak. Kalau kamu memasukkan yang di dalam, kamu akan diterima. Diterima Jamkesda, langsung bayar ke Bank DKI,” jelas Ahok.
“Sehingga dengan cara seperti ini, masyarakat merasa akan diterima di semua rumah sakit. Pokoknya dengan 119 dan websitenya, bisa tahu kamar berapa. Orang akan mulai cari, kirim. Jadi tidak akan lagi terjadi orang sakit dikirimnya, nyari-nyari gitu. Soalnya si rumah sakit berjaringan,” imbuhnya.
Ahok berharap dengan pelatihan ini seluruh rumah sakit di Jakarta yang mengikuti program KJS dapat menjalankan sistem dengan baik. Sistem ini akan mulai dijalankan pada April mendatang. Sementara Ahok mengatakan bahwa jaringan online di rumah sakit sudah ada sebelumnya.
“Supaya orang rumah sakit ngerti ngisi. Kalau nggak dilatih, ya nggak bisa ngisi. Ini kan software di komputer, dia harus tahu gimana ngisi nantinya. Dan dia juga harus tahu kenapa ditolak semacamnya. Supaya kalau ditolak dia perbaiki sebelum diisi formulir onlinenya,” kata Ahok.
(sip/nrl)