Semarang (suaramerdeka.com) – Sebagai upaya percepatan penurunan angka kematian ibu dan bayi, Pemkot Semarang melalui Dinas Kesehatan Kota Semarang melaksanakan program Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) di tujuh rumah sakit. Selasa (30/7), secara seremoni program kerja sama ini ditandatangani oleh Sekda Kota Semarang, Adi Tri Hananto, Kepala Dinas Kesehatan Kota, dan perwakilan tujuh rumah sakit di Balai Kota.


Program ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menekan angka kematian bayi dan ibu melahirkan. Apalagi di Kota Semarang, angka kematian bayi dan ibu relatif masih tinggi. Tercatat pada tahun 2011 ada 31 kasus kematian ibu, tahun 2012 sebanyak 22 kasus, dan hingga Juli 2013 ada 18 kasus. Sedangkan pada bayi, pada tahun 2011 ditemukan 314 kasus, tahun 2012 sebanyak 293 kasus, serta 93 kasus pada tahun 2013. “Diharapkan dengan kerja sama ini dapat menekan angka kematian ibu dan bayi,” kata Adi Tri Hananto dalam sambutannya.

Ketujuh rumah sakit yang bekerja sama dengan pemkot, yaitu RSUP Dr Karyadi, RSI Sultan Agung, Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum, RS Telogorejo, RS St Elizabeth, RSUD Kota Semarang serta RSU Tugurejo. Dengan ditandatanganinya MoU, tujuh rumah sakit tersebut berkewajiban memberikan pelayanan kegawatdarurat ibu dan bayi serta kerja sama horisontal antar-fasilitas kesehatan tingkat dasar seperti Puskesmas dan BPM.

“Diupayakan peningkatan sistem dan mutu pelayanan kegawatdaruratan ibu dan bayi pada fasilitas kesehatan, jejaring rujukan dari pelayanan dasar sampai rumah sakit, serta meningkatkan kolaborasi perbaikan pelayanan kegawatdaruratan ibu dan bayi secara efektif, efisien berkeadilan dan memenuhi tata kelola klinis pelayanan,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan, Widoyono.

Menurut Widoyono sejumlah jejaring Puskesmas rujukan di antaranya Puskesmas Halmahera, Puskesmas Bangetayu, Puskesmas Mangkang, Puskesmas Mijen, Puskesmas Ngesrep dan Puskesmas Gunungpati. Selain itu upaya pembinaan dan peningkatan kapasitas standar pelayanan kegawatdaruratan kesehatan ibu dan bayi hingga kontrasepsi pasca persalinan terus dilakukan.

Sementara Kabid Bindal Sumber Daya Kesehatan Dinkes Provinsi Jateng, Pungky Samhasto memaparkan, di Jawa Tengah hingga semester I tahun 2013 tercatat ada 359 kasus kematian ibu dan 2.364 kasus kematian bayi. Kasus-kasus tersebut, di antaranya disebabkan oleh pendarahan eklamsia, infeksi serta faktor penyakit lainnya.

“Keterlibatan aktif dokter serta rumah sakit sebagai pemberi pelayanan rujukan diharapkan dapat menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Salah satunya melalui peningkatan kualitas pelayanan mulai dari IGD sebagai pintu masuk kasus emergency obstetric,” ungkap Pungky.

( Lanang Wibisono / CN34 / SMNetwork )

Sumber : www.suaramerdeka.com

{module [153]}