Exchange and Study Program on “Universal Health Coverage and Hospital Accreditation Program Realization”
Program SHA:
Melayani Manusia lebih Manusiawi
PKMK, Bangkok – Beban kerja yang tinggi atau faktor ketidakpuasan terhadap reward yang diperoleh, terkadang menyebabkan tenaga kesehatan melayani pasien dengan asas menggugurkan kewajiban. Tenaga kesehatan kurang menumbuhkan empati. Tenaga kesehatan juga sering kali tidak memiliki waktu untuk mendengarkan pasien dari hati ke hati.
Agar layanan kesehatan yang manusiawi dapat membudaya di Thailand, Health Accreditation Institute (HAI) meluncurkan program Sustainable Healthcare and Healthcare Promotion by Appreciation and Accreditation atau disingkat SHA. Program SHA ini ditujukan untuk meningkatkan rasa kemanusiaan dalam sistem layanan kesehatan dan dalam jiwa tenaga kesehatan. Tujuan dari program ini adalah untuk mengubah fokus dari layanan kesehatan yang bersifat patient-centered menjadi human-centered. Program ini juga diharapkan dapat menyeimbangkan aspek biomedis dan spiritual dalam layanan kesehatan.

Dalam paparannya, Consulting Advisory Institution (CAI) dari HAI, Dr. Duangsamorn Boonpadung mengatakan bahwa SHA adalah program dengan pendekatan ganda pada evaluasi sistemik akreditasi dan pengembangan spiritual untuk meningkatkan kebahagiaan dan keberlanjutan. “Pendekatan spiritual healthcare awalnya ditolak di rumah-rumah sakit di Thailand karena tidak berdasar ilmiah, tetapi lama-lama bisa diterima juga karena banyak pelajaran yang bisa diambil,” tutur Duangsamorn.
Dalam program SHA, terdapat narrative medicine. “Narrative medicine berarti menceritakan keadaan pasien. Sesuatu yang harus kita pelajari dari pasien. Kita harus menaruh perhatian dengan apa yang dibutuhkan pasien,” terang Duangsamorn. Dalam program SHA juga ditekankan penghargaan. Dalam hal ini, tenaga kesehatan belajar untuk mencari sisi terbaik dari seseorang. Tenaga kesehatan juga akan belajar merasakan aspek terbaik dari organisasinya. Mereka juga akan memahami jiwa dari sistem kehidupan.
Program SHA juga mendorong adanya dialog. “Dialog berarti saling mendengar atau saling bicara pengalaman masing-masing. Untuk memberi koneksi antar orang yang ada,” tutur perempuan bergelar Datin ini. Dalam konesp dialog ini, percakapan antar tenaga kesehatan dan pasien dibiarkan mengalir. Dialog juga dilakukan dalam posisi setara tanpa ada penghakiman. Dengan demikian, seseorang dapat “mengalami” menjadi orang lain secara utuh. Melalui dialog semacam ini, akan tumbuh juga pemahaman yang mendalam satu sama lain.
Untuk memberi kesembuhan yang paripurna pada pasien, diperlukan sebuah lingkungan yang menyembuhkan. Dalam program SHA, ini disebut healing environment. “Lingkungan yang menyembuhkan berarti lingkungan yang nyaman bagi pasien, membuat mereka seperti berada di rumah kedua. Membuat mereka cepat sembuh, tidak hanya mendapat perawatan,” terang Duangsamorn.
Dalam program SHA, tenaga kesehatan juga diajarkan untuk belajar dari penderitaan. Penyakit dan penderitaan merupakan kesempatan untuk belajar dan bertumbuh. Dengan belajar dari penderitaan pasien, tenaga kesehatan dapat belajar untuk lebih berempati kepada pasien.
Oleh : drg. Puti Aulia Rahma, MPH