Tahun 2013 ini, PMPK FK UGM mengadakan kegiatan diskusi bulanan yang akan dilaksanakan setiap pertengahan bulan. Kegiatan diskusi ini bertujuan untuk melakukan pembahasan terhadap artikel kebijakan dan manajemen. Bulan Januari ini, tema yang diangkat adalah mengenai intervensi mapping dengan fasilitator dr. Rossi Sanusi (Dosen Senior IKM FK UGM). Kegiatan ini dihadiri oleh para dosen, peneliti, konsultan & asisten konsultan dari PMPK, KMPK dan MMR UGM.

Teori H.L Blum menjelaskan bahwa derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh 4 faktor besar yaitu genetik (keturunan), pelayanan kesehatan, perilaku dan lingkungan. Perilaku merupakan suatu reaksi seseorang terhadap lingkungannya atau sebagai suatu respon dari reaksi terhadap lingkungan. Untuk melakukan suatu perubahan perilaku dibutuhkan intervensi yang efektif dan dirancang dengan baik yang berpedoman pada teori dan diinformasikan dengan bukti empiris mengenai perilaku yang akan diubah.
Bartholomew, L & Mullen, P (2011) menjelaskan bahwa bila meneliti perubahan perilaku dibutuhkan teori dengan tujuan untuk mengidentifikasi faktor penyebab yang relevan tentang perilaku dan metode perubahan apa yang akan dilakukan sehingga akan menghasilkan intervensi yang efektif.
Banyak peneliti tidak memulai suatu proses intervensi dengan melakukan penilaian pada determinan masalah dan tidak membuat suatu model logika perubahan yang jelas. Sehingga intervensi seringkali gagal karena tidak menggunakan metode yang berdasarkan bukti yang akhirnya tidak efektif menemukan kebutuhan yang paling mendasar. Lebih lanjut peneliti perlu tahu bahwa bukan hanya penggunaan teori yang diperlukan dilapangan melainkan bagaimana secara efektif memilih dan menggunakan berbagai teori untuk merancang, menguji dan melaporakan intervensi.
Bartholomew dkk, juga menyatakan bahwa perlunya menggambarkan teori dan konsep teoritis sehingga adanya pemahaman yang lebih baik dan jelas mengenai kesehatan dan masalah perilaku yang akan diubah. Teori dibutuhkan dalam penelitian perubahan perilaku untuk memastikan bahwa peneliti telah mengidentifikasi faktor penyebab yang relevan, metode perubahan dan memaksimalkan efektifitas intervensi.
Salah satu pendekatan yang bisa digunakan adalah dengan Teori Intervensi Mapping yang merupakan kerangka kerja untuk mengembangkan promosi kesehatan dan program perubahan perilaku. Tujuan intervensi mapping adalah untuk menyajikan pada siapa saja program perubahan perilaku akan dikembangkan sehingga keputusan dalam setiap perencanaan, implementasi dan evaluasi intervensi menjadi efektif.
Hal tersebut juga dijelaskan oleh Schmid, A et al (2010) yang meneliti program pencegahan stroke sekunder dengan menyatakan bahwa intervensi mapping dapat menentukan tujuan, determinan, sasaran, strategi pelaksanaan, evaluasi program dan membuat program yang dimaksud.
Berikut enam langkah proses intervensi mapping dan kegiatan yang dilakukan pada setiap langkah:
1. Mendeskripsikan masalah kesehatan
- Menentukan kebutuhan provider
- Menentukan kebutuhan pasien
Hal yang perlu dilakukan terlebih dahulu adalah pertanyaan tentang persoalan kesehatan atau perubahan perilaku spesifik dan determinanya kemudian dilakukan identifikasi bukti hubungan sebab akibat antara konsep dan perilaku. Untuk mengetahui jawaban tersebut dapat dilakukan melalui wawancara semi terstruktur dengan provider dan diskusi kelompok.
Sebagai contoh membahas masalah kanker mulut dan dampak dari ketelatan diagnosis pada hasil kesehatan. Deskripsi masalahnya dengan menjawab pertanyaan apa penyebab ketelatan diagnosis dan faktor teoritis dan non teoritis yang berhubungan dengan ketelatan diagnosis kanker mulut dan dampaknya bagi kesehatan. Selain itu perlu mempertimbangkan perilaku dan motivasi penduduk tentang risiko dan kondisi lingkungan yang mungkin memudahkan atau membatasi terjadinya perilaku.
2. Membuat matriks sasaran program
- Menentukan sasaran
- Menentukan determinan penting yang dapat diubah
- Menggolongkan populasi dari target
- Membuat matriks sasaran program Target pertama intervensi adalah determinan terhipotesis. Untuk menilai perilaku dilihat melalui 3 aspek yaitu pengetahuan, sikap dan praktik. Sehingga tiga aspek tersebut menjadi salah satu determinan terhipotesis. Selain itu, promosi kesehatan pada kelompok risiko menjadi salah satu bentuk kinerja yang dapat diharapakan untuk menjadi determinan terhipotesis.
3. Memilih metode berbasis teori & praktek
- Mengolah metode untuk mencapai sasaran program
- Menggunakan literatur secara teori dan empiris untuk menjelaskan lebih lanjut tentang metode-metodenya
- Menjelaskan metode-metode yang ada dalam bentuk strategi
4. Menyusun program intervensi
- Mengoperasionalkan strategi ke dalam rencana dengan mempertimbangkan faktor-faktor pengganti dan tempat pelaksanaan
- Merancang materi-materi panduan
- Menguji coba materi dengan kelompok target
- Membuat materi-materi tersebut
5. Penerapan dan pelaksanaan program
- Mengembangkan sistem yang saling berkaitan
- Menentukan sasaran penerapan dan pelaksanaan program
- Menentukan determinan untuk penerapan dan pelaksanaan
- Menuliskan rencana pelaksanaan
6. Pengukuran dan mengevaluasi program
- Mengembangkan model evaluasi dengan menggunakan informasi dari langkah-langkah sebelumnya dan informasi dari perkiraan kebutuhan
- Mengembangkan pertanyaan-pertanyaan evaluasi berdasarkan matriks sasaran program sebagai pengembangan instrumen
- Mengembangkan pertanyaan-pertanyaan evaluasi dari perkiraan kebutuhan dan intervensi mapping
Tujuan dari pengukuran & evaluasi adalah memahami bagaimana intervensi efektif atau menentukan mengapa intervensi tidak berpengaruh. Dalam model logika perubahan, pertanyaan untuk evaluasi adalah apa pengaruh intervensi pada perilaku dan determinan perilaku. Hal ini penting yang mana tidak hanya intervensi dilihat dari hasil utama seperti perilaku atau status kesehatan melainkan juga variabel yang terhipotesis untuk mempengaruhi perilaku.
Daftar Pustaka :