Rancang Bangun Implementasi Keselamatan Pasien dan
Manajemen Mutu Pelayanan di era Penerapan Jaminan Kesehatan Nasional

20 Agustus 2014

Pendahuluan

Pada sesi paralel A ini, kegiatan dibagi menjadi tiga sesi yang dimoderatori oleh Dr. Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK, PhD. Sesi yang pertama yakni Implementasi keselamatan pasien & manajemen mutu pelayanan di RS Pendidikan: Pelajaran dari Penerapan JCI. Kemudian dilanjutkan dengan sesi kedua yakni Implementasi Keselamatan Pasien dan Manajemen Mutu Pelayanan RS swasta yang ikut dalam skema JKN kemudian disusul dengan sesi terakhir yakni patient safety implementation in ICU. Ketiga sesi tersebut berlangsung sangat baik, semua peserta sangat antusias dalam mengikuti diskusi tersebut hingga tidak terasa melewati batas waktu yang sudah disepakati. Namun demikian, tidak mengurangi semangat dari para peserta untuk terus menggali informasi dari para penyaji yang ada.

SESI PARALEL A1:

Implementasi keselamatan pasien dan manajemen mutu pelayanan di RS Pendidikan: Pelajaran dari penerapan JCI.
(drg. Basoeki Soetardjo diganti oleh Ibu Ida)

Moderator: dr. Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK, PhD
Bertindak sebagai moderator dalam sesi panel A1 yakni dr. Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK, PhD dengan menghadirkan pembicara drg. Basoeki Soetardjo dari RSUD Moewardi, namun karena beliau berhalangan hadir sehingga diwakilkan oleh Ibu Ida. Dalam sesi diskusi tersebut lebih jauh dijadikan sebagai ajang sharing oleh pihak RSUD Moewardi tentang bagaimana membangun sistem RS yang berbasis keselamatan pasien dan manajemen mutu. Dalam penjelasannya, RSUD Moewardi sangat concern dalam membangun sistem RS berstandar kelas dunia yakni melalui dua cara, melalui keselamatan pasien yang tertuang dalam UU NO 44 Tahun 2009 dan manajemen mutu. Disampaikan pula mengenai konsep dari tim RS dalam membangun sistem yakni dengan cara memperhatikan input, proses dan output dimana kesemuanya haruslah berbasis pada standard dan pedoman yang berlaku. Adapaun framework peningkatan mutu dan keselamat pasien yang dibangun di RSUD Moewardi dimulai dari komitment diseluruh civitas hospitalia, kemudian adanya kegiatan-kegiatan yang focus pada evaluasi kinerja dan ditambah dengan adanya suatu budaya organisasi dan dimana kesemuanya tersebut menuju pada peningkatan mutu dan keselamatn pasien.

Proses dalam peningkatan mutu di RSUD Moewardi juga menggunakan siklus PDCA dimana Semua permasalahan yang ada dianalisis dengan menggunakan fishbond analisis, dari permsalahan yang ada setiap indicator memiiki kamus indokator, SPO pencatatn dan pengupulan data dan akan dimonitor secara berkala, dan akan dilaporkan kepada dewan pengawas setiap tiga bulan. Ada beberapa alasan mengapa dilakukan peningkatan mutu pelayanan kesahatan yakni 1) Adanya pelayanan kesahatan dewaasa ini yang dirasa tidak aman dan ini bukan isapan jempol, yang mana sesuai dengan undang 44 Tahun 2009 tentang akreditasi yang sudah diamanahkan dan kewajiban dari RS untuk mengikuti akreditasi yang pada versi Tahun 2012 berfokus pada pelayaann kesehatan yang berfokus keselamatn pasien dan peningkatan mutu pelayanan kesehatan. 2) Adanya perubahan tata nilai mutu pelayanan kesehatan pasien dan hukum yang sekarang sudah merambah pada pelayanan kesehatan. 3) Misi JCI atau meningkatkan keselamatan dan kualitas perawatan pasien di seluruh dunia.

Disampaikna juga bahwa keselamatan pasien yang dilakukan di RS Moewardi terdiri dari survey budaya keselamatan pasien yakni selalu mengadakan kegiatan yang berkaitan dengan sosialisasi dan implementasi dari standar akrediasi dan juga kegiatan tentang proses bagaimana penanganan masalah yang berhubungan dengan kesalamatan pasein dan apakah RS sudah memiliki tim yang sigap dan sangat proaktf melakukan sosialisasi), 7 Langkah keselamatan pasien, risk manajemen baik tingkat unit kerja maupun tingkat RS harus ada komite mutu dan keselamatan pasien RS baik pada kegiatan unit kerja maupun RS, sistem pencatatan dan pelaporan insiden yakni memberikan reward bagi yang aktif melaporkan apabila ada kejadian-kejadian keselamatan pasien, Root Canal Analysis (RCA) yang terkait dengan solusi dan problem solving yang terkait dengan risk manajemen, FMEA (Failure Mode Effect Analysis).


SESI  A2:

Implementasi Keselamatan Pasien dan Manajemen Mutu Pelayanan RS Swasta yang ikut Dalam Skema JKN.
Oleh: dr Dini Handayani, MARS

Moderator dr. Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK, PhD
Bertindak sebagai moderator dalam sesi panel A2 yakni dr.Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK, PhD menghadirkan pembicara dari Group RS Swasta Awal Bros Tangerang yakni dr Dini Handayani. Dalam sesi diskusi beliau banyak memaparkan pengalaman-pengalam keikutsertaa RS Awal Bros dalam era JKN. Lebih lanjut, Tonang memaparkan bahwa dalam mengimplementasikan keselamaatan dan mutu manajemen itu tidak lepas dari keharusan RS dalam mengidentifikasi resiko/ risk-assessment. Keberhasilan RS Awal Bros dalam meraih akreditasi JCI 4 dari 8 RS Group dari Awal Bros tidak lepas dari keyakinan manajemen dan seluruh staf bahwa bisnis RS itu adalah bisnis kepercayaan dan RS akan berkembang dengan baik apabila ada kepercayaan dari semua lapisan masyarakat.

RS Awal Bross dalam menjadi RS yang terpercaya, tidak penah berhenti belajar dari pengalaman-pengalaman yang sudah dijalankan oleh RS lain maupun dari literatus yang ada bahwa memperbaiki komunikasi adalah pondasi yang sangat penting dan ini sangat disadari oleh semua pihak. Kesalahan komunikasi disinyalir sebagai penyebab mengapa pasien lari berobat ke luar negeri, padahal jika disadari sudah ada 7 RS yang sudah terakreditasi internasional di Indonesia. Dalam Memprebaiki mutu layananan sangat disadari oleh Puncak pimpinan bahwa pengeluaran terkait dengan mutu itu sangatlah besar sehingga yang terpenting adalah kendali mutu dan kendali biaya, Lebih lanjut dijelaskan oleh penyaji dalam keikutsertaan RS Awal Bros dalam Era JKN bukan tanpa kendala dan apabila dikatakan untung ataupun rugi jawabannya adalah iya rugi, namun disitulah pentingnya dalam mengatur operasionalnya.

Pada sesi tanya jawab yang dibuka oleh moderator disambut sangat antusias oleh para peserta sehingga jalannya diskusi berlangsung lancar dan terkendali. Pada akhir sesi presentasi penyaji memberikan kata-kata mutiara yakni “organisasi kesehatan yang paling sukses adalah organisasi yang mengenali sifat usaha mereka dan mengelolanya untuk memberikan seluruh dimensi kualitas”


SESI A3:

Patient Safety Implementation in ICU
Oleh dr. Rudyanto Sedono

Moderator: Dr.Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK, PhD,
Pemaparan yang menarik dengan gaya khas yang nyentrik berhasil menghipnotis para peserta dalam forum mutu pada sesi A3. Berada pada jam yang agak rentan dengan kondisi fokus peserta menurun namun penyaji berhasil membuat peserta menjadi sangat antusias dan membuat suasana menjadi menyenangkan dengan penyampaian pengalaman-pengalamannya selama bekerja sebagai kepala ICU RSCM. Dalam pemaparan yang disampaikan oleh penyaji dimulai dengan pertanyaan seberapa amankah health care? Ternyata health care itu sendri berada di posisi yang tidak memberi keamanan kepada si pengguna pelayanan itu sendiri, sehingga sangat dibutuhkan implemntasi patien safety yang meliputi Quality of treatment and unit management, Quality of monitoring, Quality of continous and same standard dan Quality in 24 hours.

Disampaikan juga oleh penyaji bahwa ada beberapa hal yang membuat masalah-masalah keselamatan itu muncul yakni peningkatan kompleksitas dalam sistem dan perubahan teknologi yang sangat cepat, dan sebagainya. Penerapan implementasi standar tidak bisa disamakan, harus melihat kondisi rumah sakit, sistem pelayanan kesehatan, sistem pemerintahan, dan juga nilai, hukum, sosial budaya, norma, etika, adat istiadat yang berlaku di masyarakat. Yang sangat penting disebutkan oleh penyaji adalah kearifan lokal yang dijalankan oleh instansi tersebut sehingga dapa mengimplemnetasikan patient safety secara benar.