Menuju Pelayanan Kesehatan yang Aman Bermutu dan Efisien
21 Agustus 2014
Pendahuluan:
Pada sesi paralel B dibagi menjadi empat sesi yakni presentasi pertama membawa materi diskusi Analisa strategi efisiensi di RS Swasta kelas B dalam era JKN, presentasi kedua yakni Pegalaman dari projek outsuka, presentasi ketiga membawakan materi diskusi merencanakan layanan klinis yang inovatif dan yang terakhir yakni Implementasi penilaian kinerja SDM Puskesmas (Berdasarkan Kepmenkes 857/2009) sebagai acuan dasar untuk ‘Remunerasi’ di Puskesmas” yang mana kesemuanya ini akan di moderatori oleh dr.Trisasi Lestari. Keempat sesi tersebut berlangsung sangat baik, semua peserta sangat antusias dalam mengikuti diskusi.
SESI PARALEL B4:
Analisa strategi efisiensi di RS Swasta kelas B dalam era JKN
(dr.Astari Mayang Anggarani)
Bertindak sebagai moderator dalam sesi paralel B4 yakni Dr.Trisasi Lestari dengan menghadirkan pembicara dr.Astari Mayang Anggarani dari RS Pelni Jakarta Barat. Penyaji menjelaskan bahwa sangat disadari oleh semua tim RS Pelni bahwa merupakan suatu konsekuensi bagi rumah sakit swasta yang melayani peserta JKN yakni menghadapi perubahan mendasar dalam sistem klaim menjadi paket pelayanan yang nilainya ditentukan di depan (prospective payment system). Untuk itu, praktisi rumah sakit swasta harus mengubah paradigma pelayanan melalui redesain proses bisnis. Hal ini bukan tanpa alasan melihat volume pasien yang semakin bertambah bagaikan menerima air terjun sehingga kata layanan yang terjangkau sengaja dimasukkan dalam memasuki jaminan kesehatan nasional untuk dapat tetap survive dalam bisnis kesehatan.
Dengan kepesertaan JKN, dibuka selebar-lebarnya akses terhadap pelayanan kesehatan. Hal ini menimbulkan perubahan besar dalam penerimaan pasien. Tantangan dalam era JKN ini antara lain adanya perubahan fee-for-service dengan fixed payment maupun progressive payment. Selain itu adanya disparitas tarif pelayanan. Proses administrasi klaim INA-CBG’s di RS pun berubah, menuntut kesiapan dari RS itu sendiri. Kesiapan RS ini juga perlu dilakukan karena RS diawasi berbagai pihak termasuk OJK. Dari hasil evaluasi yang dilakukan pada rentan bulan Jan-Jul 2014 terbukti agar RS dapat layani peserta JKN dengan baik maka strategi efisiensi biaya dijadikan sebagai pondasi utama, bersamaan dengan peningkatan investasi dan pengendalian profil pasien terbukti memperlancar pelaksanaan strategi baik berupa ketepatan waktu 100% dan tingkat pencairan klaim 80%.
SESI B5
Pengembangan Sistem Kendali Mutu dan Biaya Penatalaksanaan TB di RS: Pengalaman Projek Otsuka
Oleh: Dr. Ari n. Probandari, MPH,PhD
Bertindak sebagai moderator dalam sesi paralel B5 yakni dr.Trisasi Lestari dengan menghadirkan pembicara dr Ari Probandari. Selain menjadi panitia dalam kegatan forum mutu beliau juga berupaya menghadirkan materi yang sangat menarik yakni Pengembangan Sistem Kendali Mutu dan Biaya Penatalaksanaan TB di RS, Pengalaman dari Projek Otsuka. Menurut penyaji bahwa tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengembangkan sistem kendali mutu dan biaya penatalaksanaan TB di rumah sakit melalui metode action researc, karena sebenarnya RS tidak pernah benar-benar bisa menghitung besaran biaya untuk pelayanan TB dikarenakan oleh pengetahuan dokter dan pasien tentang pelayanan TB, Continuity of care pasien TB serta biaya pelayanan tidak dapat dilaksanakan secara akurat dan caranya bervariasi.
Hal ini sangat menarik jika dapat dihitung besaran biayanya maka akan dipergunakan sebagai dasar perhitungan biaya pentalaksanaan kasus lainnya. Sudah penah ada upaya-upaya yang pernah dibuat sebelumnya namun lebih menyentuh pada environmental saja. Hasil yang didapatkan yakni pada studi tahap pertama menunjukkan bahwa standar penatalaksanaan TB belum sepenuhnya diterapkan di rumah sakit. Pembiayaan pelayanan TB lebih banyak dilakukan oleh eksternal. Biaya pelayanan TB sulit diestimasi karena sistem akutansi yang ada tidak mampu menghitung biaya pelayanan per jenis kasus yang ditangani.
Studi tahap kedua masih dalam persiapan intervensi. Pada tahap tersebut dibutuhkan pendekatan pada rumah sakit untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya implementasi sistem kendali mutu serta biaya serta mendapatkan komitmen internal untuk melakukan perubahan. Pelajaran yang dapat diambil pada tahap kedua yakni antusiasme yang tidak berimbang antara peneliti dengan subjek atau hospital, Kebutuhan dialog agar RS dapat memahami intervensi yang mana bukan hanya kepentingan peneliti namun juga kepentingan RS kemudian di berbagai RS, sudah ada clinical pathway namun belum diimplementasikan dengan baik.
SESI B6
Merencanakan layanan klinis yang inovatif.
Oleh: dr.Bayu Chandra Cahyono
Bertindak sebagai moderator dalam sesi paralel B6 yakni dr. Trisasi Lestari dengan menghadirkan pembicara dr.Bayu Chandra Cahyono yang berasal dari RSUD Kaliwates Jember. Sesi presentasi yang berlangsung selama 30 menit. Materi presentasi yang dibawakan sangat menarik sehingga mengundang rasa penasaran peserta bahwa bagaiman cara merencanakan layanan klinis yang inovatif ditengah persaingan usaha di kalangan perumah-sakitan (RS) yang sudah dapat dirasakan semakin nyata, baik antar RS Indonesia, regional maupun global.
Disampaikan oleh penyaji bahwa semula RS Kali Wates merupakan RS milik PTP Nusantara XII namun kini telah berpisah dan berdiri sendiri. Perlu disadari pula bahwa RS merupakan lembaga yang padat modal, padat karya, padat teknologi, dan padat masalah. RS hendaknya terus berinovasi agar memiliki daya saing yang tinggi sehingga perlu mengenali kurangnya fasilitas dan SDM, tanggap terhadap pasien, dan pelayanan yang aman bagi pasien. Daya saing yang baik tentunya sangat diperlukan di era globalisasi dan pasar bebas, terkait juga dengan penerapan JKN di Indonesia.
Berdasarkan hasil penelitian disajikan bahwa ada beberapa strategi untuk menciptakan inovasi dalam dunia perumah-sakitan, yaitu strategi yang mencakup empat strategi Inovasi nilai, dan empat Kuadran Inovasi. Kemudian, yang dimaksud dengan 4 Strategi Inovasi nilai adalah menciptakan inovasi tiada henti. Sedangkan 4 kuadran Inovasi adalah strategi yang mempermudah para pelaku bisnis perumah-sakitan apakah inovasi layanan yang dilakukan sudah sesuai dengan kondisi pasar yang ada. Untuk menjawab persaingan yang semakin ketat setiap RS diharapkan mampu berinovasi terhadap layanan dan inovasi RS yang diharapkan adalah inovasi yang tidak berbiaya tinggi tetapi memiliki nilai jual yang tinggi.
SESI B7
Implementasi penilaian kinerja SDM Puskesmas (Berdasarkan Kepmenkes 857/2009) sebagai acuan dasar untuk ‘Remunerasi’ di Puskesmas”
Oleh:dr. Dr. Ismet Kosasih dan dr. Desi Efriani (Kota Samarinda)
Bertindak sebagai moderator dalam sesi paralel B7 yakni Dr.Trisasi Lestari dengan menghadirkan 2 pembicara yakni dr. Dr. Ismet Kosasih dan dr. Desi Efriani yang berasal dari Kota Samarinda. Diawali dengan penjelasan mengenai implementasi penilaian kinerja SDM di Puskesmas yang disampaikan oleh pembicara utama kemudian dilanjutkan dengan pemaparan bagaimana cara perhitungan penilaian kinerja yang disampaikan oleh dr. Desi Efriani. Pelaksanaan diskusi berlangsung dengan lancar tanpa ada kendala yang berarti.
Dijelaskan di era JKN ini, Puskesmas menjadi ujung tombak pelayanan primer sehingga menjadi bagian terpenting keberhasilan pelayanan primer. Sehingga untuk menyediakan pelayanan yang bermutu perlu SDM berkualitas dan insentif yang pantas sebagai reward. Menurut pengalaman yang disampaikan oleh penyaji bahwa hampir seluruh PKM di Kota Samarinda telah menerapkan sistem penilaian produk Permenkesi untuk memberikan reward/jasa palyanan medik kepada petugas sejak 2012. Reward diberikan dari insentif yang berasal dari Jamkesda Samarinda. Tools ini salah satu tujuannya menilai kinerja SDMK yang ruang lingkupnya seluruh SDMK PMK baik PNS maupun non-PNS.
Penilaian kinerja di Samarinda ini sudah dilakukan di 24 Puskesmas di Kota Samarinda sejak 2012. Keunggulannya adalah menyeluruh (PNS maupun non-PNS), prestasi kerja terukur, fleksible-auditable-akuntabel, penilaian lengkap (mencakup tupoksi maupun keg tambahan), dapat disinkronisasi dengan SKP sesuai dengan ASN. Instrumen yang digunakan antara lain: 1) instrumen umum (Form A) berisi kelompok SDM, pendidikan, masa kerja, kehadiran, pengurang (teguran)/penambah (penghargaan); dan 2) instrumen khusus (Form B dan C) untuk produktivitas kerja. Untuk variabel produktivitas kerja menggunakan 3 pola, pola I ditentukan oleh maksimal jumlah pasien dalam suatu kurun waktu penilaian; Pola II digunakan bila suatu pekerjaan dilakukan lebih dari satu tenaga kesehatan sejenis sesuai porsinya; sedangkan Pola III digunakan bisa suatu pekerjaan dilakukan lebih dari satu jenis tenaga kesehatan.
Adapun manfaat seperti yang dijelaskan oleh penyaji bahwa penilaian kinerja dapat memberikan penghargaan secara finansial maupun penghargaan non-finansial berupa kesempatan seminar, studi lanjut, dan lain-lain