7aprBadan Mutu DI Yogyakarta bekerjasama dengan Indonesia Healthcare Quality Network (IHQN) dan Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM menyelenggarakan workshop Penyususnan Clinical Pathway dan Perhitungan Cost of care. Workshop ini diselenggarakan pada tanggal 23 – 24 Maret 2015 di Hotel Santika Yogyakarta, dengan agenda kegiatan hari pertama adalah Penyususnan Clinical Pathway dan hari ke 2 pelatihan perhitungan cost of care. Pembicara dalam acara ini adalah dr. Hanevi Djasri, MARS dan drg. Puti Aulia Rahma, MPH.

Peserta pelatihan ini terdiri dari klinisi, staf keuangan rumah sakit di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah serta mahasiswa dari Magister Manajemen Rumah sakit – IKM FK UGM. Tujuan pelatihan ini adalah untuk membekali peserta agar mampu menyusun clinical pathway dan melakukan perhitungan cost of care dan dapat mengimplementasikan tahapan penyusunan clinical pathway di rumah sakit masing-masing. Clinical pathway adalah salah satu tools untuk mengendalikan mutu dan biaya sehingga dapat meningkatkan outcome klinik. Standar akreditasi rumah sakit pun menentukan setiap rumah sakit minimal memiliki 5 clinical pathway dalam setahun. Cost of care yang dihitung berdasarkan clinical pathway akan membantu rumah sakit menetapkan tarif layanan yang sesuai mutu.

Peserta dalam pelatihan ini dibagi menjadi enam kelompok. Terdapat enam topik yang dihasilkan dari masing-masing kelompok yaitu BHP dengan TUR-P, penumonia anak, SC elektif tanpa penyulit, apendisitis akut, DHF, dan demam typhoid. Kendala dalam pelatihan kali ini adalah tidak semua peserta membawa perlengkapan yang dibutuhkan seperti SOP dan SAK dan literatur yang dibutuhkan. Namun, ini bukan menjadi kendala berarti, dalam proses penyusunan clinical pathway peserta tetap secara aktif mencari literatur review melalui internet.

Formulir clinical pathway yang telah disusun, dipresentasikan di depan narasumber dan diberi masukan. Formulir yang sudah mendapat masukan kemudian direvisi oleh peserta. Formulir yang telah direvisi kemudian diujicoba implementasinya menggunakan rekam medis yang sudah dibawa. Namun, ujicoba semacam ini hanyalah simulasi. Implementasi clinical pathway sesungguhnya dilakukan saat memberi pelayanan kepada pasien.

Perhitungan cost of care juga dilakukan menggunakan clinical pathway yang sudah direvisi. Dalam perhitungan cost of care peserta umumnya menggunakan buku tarif bukan buku unit cost. Biaya tiap item pelayanan diasumsikan sebesar 70% dari tarif. Setelah semua biaya dihitung, didapatlah cost of care untuk tiap pelayanan. Cost of care inilah yang dibandingkan dengan tarif INA CBGs untuk mengetahui selisihnya.

Text : Elisa Sulistyaningrum, S.Gz, Dietisien, MPH