23mar-2Pada aspek Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) capaian MDGs Indonesia belum sesuai dari target yang diharapkan. diantaranya adalah menurunnya Angka Kematian Bayi (AKB) menjadi 32 per 1000 KH, menurunnya Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi 359 per 100.000 KH dan menurunnya prevalensi gizi kurang pada balita menjadi 18,4%. Tetapi angka tersebut masih jauh dari target sebesar AKB 19 per 1000 KH, AKI 102 per 100.000 KH dan prevalensi gizi kurang 18,8%. Hal tersebut disampaikan dalam Seminar Bedah Buku Inovasi KIA di Ruang Senat, Gd KPTU Lt. 2 FK UGM Yogyakarta pada Rabu, 18 Maret 2015, yang diselenggarakan pkl. 08.00-16.00wib. Dalam diskusi juga terungkap bahwa terdapat beberapa penyebab mengapa target MDGs dalam sektor KIA tidak tercapai diantaranya adalah:

  1. Pemilihan indikator program tidak cukup sensitif memberikan hal-hal yang berkaitan dengan kualitas implementasi di lapangan
  2. Sumber Daya Manusia (SDM) terutama tenaga kesehatan yang belum tersebar secatra merata di Indonesia
  3. Program-program yang selama ini dikerjakan dalam hal follow up kegiatan tersebut sangat terbatas, sehingga keberhasil pelaksanaan program tersebut tidak secara maksimal dilakukan.
  4. Kurangnya revitalisasi program Keluarga Berencana (KB).

Beberapa tahun terakhir UGM telah melakukan 7 inovasi penting dalam percepatan penurunan angka kematian maternal dan neonatal di Indonesia diantaranya adalah Pendekatan hulu dan hilir untuk intervensi KIA di kabupaten, dalam intervensi ini indikator keberhasilannya adalah penurunan angka kematian ibu di Kabupaten/Kota. Inovasi selanjutnya adalah penggunaan angka absolut untuk surveilans respon di Kabupaten/Kota, penggunaan angka absolut ini sangat penting karena data kematian ini memberikan makna dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak. Inovasi ketiga yaitu peringkasan form AMP, konsep utama yang dikembangkan dalam peringkasan form ini adalah minimal dan informatif dimana setiap informasi yang tertera merupakan info wajib yang diperlukan didalam penyusunan rekomendasi serta penentu penyebab kematian. Selanjutnya inovasi keempat yaitu kesatuan operasional dan pengembangan antara RS PONEK dengan Puskesmas PONED hasil dari inovasi ini yaitu dapat mendukung revplusi KIA untuk menurunkan angka kematian ibu. Inovasi kelima yaitu penggunaan konsep manajemen baru untuk rujukan Ibu dan Anak, hasil dari inovasi ini yaitu adanya pengembangan manual rujukan KIA dengan tujuan untuk menjalankan sistem rujukan palayanan ibu dan bayi yang dikaitkan dengan sumber pembiayaan. Inovasi keenam yaitu penggunaan pendekatan interprofesi dalam KIA, pendekatan baru yang dilakukan FK UGM dengan berusaha mengembangkan kegiatan interprofesi di Kabupaten/Kota melalui berbagai strategi dan inovasi yang ketujuh yaitu Knowledge Management berbasis web untuk kesehatan ibu dan anak, PKMK FK UGM memfasilitasi dalam peningkatan ilmu dibidang kesehatan melalui diskusi bulanan, jurnal ilmiah, forum komunikasi kesehatan dan fasilitas peningkatan keilmuan lainnya.

Kementerian kesehatan turut mengapresiasi adanya buku inovasi KIA ini karena tidak banyak universitas yang berperan aktif didalam memajukan percepatan pencapaian MDG di Indonesia. Mereka banyak menunggu adanya project yang dimintakan oleh kemeterian kesehatan. Hal ini merupakan inovasi penting yang menelurkan teori dan data menjadi sebuah kebijakan di tingkat pusat. Kemeterian kesehatan nantinya akan membicarakan inovasi ini untuk diadvokasikan dilevel nasional. Materi ringkas inovasi KIA ini (37 halaman) dapat didownload pada website www.kesehatan-ibuanak.net , materi ringkas ini ditujukan kepada para pembuat kebijakan didaerah, agar mereka mampu memahami secara cepat apa saja teknik-teknik untuk menurunkan jumlah kematian ibu dan bayi di daerahnya. Selain itu kami juga akan turut memberikan update apabila versi lengkap (200 halaman) sudah terbit dan dapat didownload.

Oleh: Elisa Sulistyaningrum, S.Gz, Dietisien, MPH.