Solo (Suaramerdeka.com) – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Moewardi kekurangan dokter spesialis. Tak hanya itu, dari jumlah keseluruhan dokter spesialis di sana, belum seluruhnya pun berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).


“Ketika mereka belum PNS ada kemungkinan tidak bertugas di sini. Kalau ini terjadi kami makin kekurangan dokter spesialis,” jelas Kasubag Hukum dan Humas RSUD Dr Moewardi, Elysa, Rabu (4/12).

Elysa menyebutkan, jumlah dokter spesiasialis yang dimiliki rumah sakit milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng itu sekitar 200 orang. Separuh diantaranya sudah memegang Nomor Induk Pegawai (NIP) sebagai abdi negara.

“Kalau dari sisi jumlah memang sudah cukup banyak sampai 200 dokter spesialis. Tapi masalahnya dari jumlah itu masih disub-subkan lagi,” ungkap wanita berjilbab ini.

Pengsuban dokter spesialis, jelas Elysa, tidak terlepas dari status rumah sakit tersebut sebagai rumah sakit tipe A. Dia mencontohkan untuk dokter spesialis penyakit dalam saja. Sebagai rumah sakit tipe A dokter spesialis penyakit dalam ini masih dibagi lagi menjadi dokter khusus jantung, lambung, paru-paru dan lain sebagainya.

“Terkadang dokter spesialis jantung juga menangani lambung. Itu contoh kecil. Dari data yang dimiliki untuk dokter kandungan terbanyak jumlahnya dengan 23 orang, sementara dokter spesialis radioterapi hanya dua orang,” papar wanita yang juga seorang dokter itu.

Meski begitu, lanjut Elysa, pihaknya terus berusaha memenuhi kebutuhan dokter spesialis dengan mengajukan pengadaan ke Pemprov. Termasuk pengadaan untuk pengangkatan PNS bagi dokter spesialis.

Terpisah, Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI Ali Ghufron Mukti mengaku sulitnya mencari dokter spesialis. Bahkan munculnya kasus dokter Dewa Ayu Sasiariy Prawanani cs yang dipidanakan karena malapraktik makin mempertebal permasalahan tersebut.

“Dokter spesialis itu mencarinya juga sulit. Bayangkan saja dari yang mendaftar 70 ribu untuk tenaga dokter, setelah diverifikasi persyaratannya ternyata hanya 30 ribu yang lolos dan ternyata tidak ada satu pun yang dokter spesialis,” tandas Ali Ghufron.

( Gading Persada / CN19 / SMNetwork )

Sumber : http://www.suaramerdeka.com/

{module [153]}