SURABAYA (Okezone.com) – Rumah Sakit Universitas Airlangga (RS Unair) menetapkan diri melayani pasien kaya. Mereka berupaya mencegah pasien berobat ke luar negeri.

Direktur Utama RS Universitas Airlangga, Surabaya, Prof. Muh Dikman Angsar SpOG(K) berkata, permintaan layanan kesehatan orang kaya sangat tinggi. Mulai dari keinginan menyembuhkan penyakit sampai keinginan untuk mempercantik diri.


“Kesadaran hidup mereka juga tinggi. Sehingga selektif dalam memilih layanan kesehatan,” ujarnya seusai penandatangan MoU (Memorandum of Understanding) dengan Dinkes Kota Surabaya untuk pelayanan pasien peserta Jamkesmas nonkuota kemarin.

Sayangnya, kata Dikman, layanan kesehatan untuk orang kaya itu tidak diperhatikan pemerintah. Akibatnya, banyak di antara mereka yang ke luar negeri. Dikman menunjukan, saat ini rumah sakit pemerintah lebih memprioritaskan melayani pasien miskin. Mulai dari penyedian Jamkesmas dan Jamkesmas nonkuota (Jamkesda dan SKTM).

“Orang kaya tidak ada yang urusi. Padahal kebutuhan layanan kesehatan mereka juga tinggi,” tandasnya.

Akibatnya, lanjut Dikman, banyak orang kaya yang lebih memilih berobat ke luar negeri. Seperti diketahui, dana orang kaya yang lari keluar negeri untuk berobat memang tinggi. Secara nasional, diperkirakan Rp7 triliun per tahun. Dari jumlah tersebut, Rp2 triliun di antaranya berasal dari Jawa Timur. Negara-negara penikmat dana tersebut di antaranya adalah Singapura, Malaysia, sampai Australia. Dikman menegaskan, dilatarbelakangi dari kondisi memprihatinkan seperti itu, pihaknya bertekad mencegah pasien ke luar negeri.

RS Unair siap menampung pasien kaya yang membutuhkan layanan kesehatan berkualitas. Hal ini diwujudkan dengan 75 persen tempat tidur yang ada di RS Unair, diperuntukan untuk pasien kaya.

RS Unair saat ini memiliki kapasitas 250 tempat tidur dengan 25 orang perawat. Menurut Dikman, kualitas dokter di Jatim sebenarnya tidak kalah dengan dokter luar negeri. Dia mencontohkan, 80 persen dokter RS Unair merupakan lulusan luar negeri. Keahlian mereka dalam bidang kedokteran juga diperhitungkan di dunia internasional.

“Marilah kita bersama-sama mempromosikan layanan kesehatan dalam negeri. Kami yakin, kalau mereka (orang kaya) sudah tahu, pasti memilih berobat di sini daripada ke luar negeri,” paparnya.

Meski menjaring pasien kaya, RS Unair juga tetap menerima pasien miskin. Hanya saja alokasi pasien miskin relatif lebih sedikit yakni 25 persen saja. Kemarin, RS Unair sudah menandatangani MoU (Memorandum of Understanding) dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya. Dalam MoU tersebut, RS Unair bersedia menyediakan 25 persen tempat tidurnya untuk melayani pasien miskin Kota Surabaya.

“Layanan Jamkesmas non-kuota ini merupakan gambaran kepedulian kami terhadap sesama yang kurang beruntung,”kata dia.

Sementara itu, Direktur RS dr Soetomo Surabaya dr Dodo Anondo MPH bertutur, tahun ini pihaknya sudah siap menjalani proses akreditasi sebagai rumah sakit kelas dunia (world class hospital). Bulan Oktober mendatang, Joint Commission International (JCI) akan melakukan penilaian terhadap RSU dr Soetomo. “Kami sudah melakukan berbagai persiapan. Terutama terkait pelayanan pasien,” tuturnya. (deny bachtiar/koran si)(//rfa)