SURABAYA – RSAL dr Ramelan Surabaya berhasil melakukan operasi pemasangan Stent Graft Aorta ke penderita pelebaran dinding pembuluh darah aorta pekan ini.
Keberhasilan ini sangat luar biasa, karena merupakan satu – satunya di Indonesia karena tim operasi yang terlibat dalam hal ini asal Indonesia.
Sebelumnya , operasi itu juga pernah dilakukan di Indonesia. Sayangnya, saat operasi, melibatkan tim operasi asal luar negeri. Namun, yang tergabung dalam tim RSAL dr Ramelan ini dokter asal Indonesia semua.
dr spesialis jantung intervensi Rukma Juslim mengatakan, awalnya pasien berusia 69 tahun ini mengalami nyeri di daerah perut.
Setelah diperiksa, ternyata ditemukan kelainan dalam pembuluh darahnya. Indikasi awal, pembuluh besar aortanya mengalami pelebaran dinding pembuluh darah.
“Kalau dibiarkan bisa berbahaya, karena akan menyebabkan penderitanya meninggal mendadak dalam hitungan detik,” katanya.
Dia menjelaskan, dalam kondisi ini, penderita akan mengalami pelebaran dinding pembuluh darah yang sangat besar. Jika ini pecah, akan sangat bahada.
“Makanya kami mencoba melakukan tindakan dengan memasang Stent ini ke pembuluh darahnya. Stent digunakan sebagai upaya pencegahan agar pembuluh darah tetap stabil dan tidak pecah,” terangnya.
Dalam pemasangan stent ini pun, dikatakannya tidak boleh sembarangan.
Menurutnya, proses pemasangan ini harus dilakukan secara hati – hati.
Kalau salah sedikit pun akan sangat fatal, karena bisa menjadi penyumbat di pembuluh darah ini. Selain itu, rentan terjadinya kebocoran dalam pembuluh darah ini,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, dalam penanganan kemarin, stent dimasukkan dalam pembuluh darah di kaki kiri.
a mengatakan, pihaknya tidak melakukan operasi manual karena dianggap memakan waktu dan terlalu beresiko.
“Kami masukkan stent melalui pembuluh darah dan didorong ke tempat tujuan. Setelah itu, stent ini akan mengembang sesuai dengan kebutuhan dan menjaga stabilitas ukuran dinding pembuluh darah,” ungkapnya.
Dalam operasi ini, kata dia, pasien hanya dibius lokal bukan total. Jadi, pasien bisa melihat langsung proses operasi yang dilakukan.
Waktu yang digunakannya pun cukup singkat hanya sekitar 1 jam 30 menit.
“Kami sangat bangga dengan keberhasilan ini, karena bukan bermaksud tinggi hati, tapi kami melakukannya dengan tenaga medis anak negeri semua,” jelasnya.
Rukma menuturkan, pihaknya akan terus memantau perkembangan pasien.
Dia menjelaskan, sejauh ini kondisi pasien sangat normal dan tidak ada sedikit pun gangguan yang tampaknya mengganggu.
“Stent ini bisa bertahan seumur hidup. Jadi, tidak perlu khawatir pembuluh darah pecah, karena sudah ada alat ini. Tapi, kami janji akan memantaunya setiap saat,” paparnya.
Terpisah, Kepala Rumah Sakit (Karumkit) dr Ramelan Surabaya Laksamana Pertama TNI dr Nalendra mengaku sangat bangga dengan keberhasilan timnya atas operasi pemasangan ini.
“Memang ini bukan operasi atau metode yang baru. Tapi setidaknya kami bangga karena kami berhasil melakukannya tanpa ada bantuan tenaga medis dari luar negeri,” katanya.
Ia menjelaskan, operasi ini lebih safety. Sebab, jika melakukan operasi biasa, khawatirnya penderita memiliki kontra indikasi jika dibius secara total.
“Sangat beresiko sekali, tapi kalau pakai metode pemasangan stent ini dijamin lebih nyaman dan tahan lama,” tuturnya kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).
Dia mengungkapkan, pihaknya akan terus mengembangkan metode ini. Artinya, pihaknya akan memperbaiki apa yang kurang dalam operasi dan penangannya. Hal sepele pun akan diperbaiki.
“Kedepan saya memiliki cita – cita RSAL dr Ramelan ini menjadi ikon rumah sakit yang bisa melalukan operasi evar dan tefar. Jadi, masyarakat tidak perlu jauh – jauh berobat ke luar negeri,” imbuhnya kepada Surya (TRIBUNnews.com Network)
Nalendra menjelaskan, biaya yang ditanggung penderita pun tidak terlalu mahal. Menurutnya, biaya yang harus dikeluarkan penderita hanya sekitar Rp 300 juta.
Nominal itu pun bisa dibantu dengan menggunakan BPJS bagi penderita yang menjadi peserta BPJS.
Saat ini, pihaknya sedang koordinasi dengan BPJS Provinsi dan pusat. “Kalau di luar negeri biaya bisa sampai Rp 500 juta – Rp 1 miliar lebih,” pungkasnya kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).
Sumber: http://surabaya.tribunnews.com
{module[153]}