Sukabumi (Galamedia.com) – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) R. Syamsudin, Kota Sukabumi mengaku kesulitan memberikan tindakan terhadap para dokter yang kerap melanggar displin kerja. Pihak rumah sakit juga khawatir mereka memilih berhenti menjadi PNS dokter rumah sakit.


“Sebetulnya kami sebagai pimpinan rumah sakit bukannya tidak bisa menerapkan ketentuan displin kerja bagi para dokter rumah. Hanya saja banyak pertimbangannya, termasuk dampak psikologisnya,” ujar Direktur RSUD R. Syamsudin Kota Sukabumi, dr. H. Suherman, M.K.M. ketika dihubungi “GM”, Rabu (20/11).

Misalnya jika dikenai sanksi dari manajemen rumah sakit, bisa saja lebih mereka memilih pindah tugas ke rumah sakit lain atau membuka praktik sendiri.

“Jadi sebetulnya bukan kita tidak mampu menindak tegas para dokter yang sering terlambat. Namun ada pertimbangan kemanusiaan, bila mereka berhenti, bakal banyak pasien yang tidak terlayani, ” katanya.

Sesuai prosedur, pihak manajamen rumah sakit sudah berkali-kali me­nyam­paikan imbauan untuk datang tepat waktu. “Manajemen rumah sakit berusaha me­lakukan upaya-upaya perbaikan dari sisi layanan, di antaranya mengimbau pa­ra dokter agar tepat waktu,” ungkapnya.

Buka peluang

Mengenai optimalisasi pelayanan, secara bertahap pihaknya membuka peluang selebar-lebarnya kepada lulusan spesialis. “Namun sayang, tenaga spesialis hingga saat ini masih sangat minim,” katanya.

Untuk itu, pihaknya secara bertahap menyekolahkan tenaga dokter di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia untuk meningkatkan SDM.

“Tahun ini sudah ada beberapa tenaga medis yang dikirim ke sejumlah perguruan tinggi untuk bisa menambah keilmuannya. Dengan harapan nantinya mereka mampu memberikan pelayanan optimal,” ungkapnya.

Mengenai keterlambatan dokter yang mengganggu pelayanan, ia membantahnya.

“Bahkan belakangan pasien yang dirawat di rumah sakit mengalami peningkatan signifikan. Hampir semua ruangan rawat inap selalu penuh,” katanya.

Sumber : http://www.klik-galamedia.com/

{module [153]}