Disarikan oleh: drg. Puti Aulia Rahma, MPH
Lembaga asuransi kesehatan seperti PT. Askes di Indonesia merupakan salah satu sumber data yang dapat digunakan untuk menilai mutu pelayanan kesehatan yang diberikan oleh berbagai jenis sarana pelayanan kesehatan (dari primer hingga tingkat tersier) baik untuk penyakit kronis maupun penyakit akut. Namun demikian, untuk dapat memberikan informasi yang baik maka data yang dimiliki asuransi kesehatan juga harus dipastikan merupakan data yang baik.
Salah satu penelitian yang mengevaluasi seberapa baik data lembaga asuransi kesehatan dapat digunakan untuk menggambarkan mutu pelayanan yang diberikan oleh sarana pelayanan kesehatan adalah penelitian yang dilakukan oleh Hannan dkk. Tim peneliti mengumpulkan data klinis dari New York’s Cardiac Surgery Reporting System (CSRS) dan data administratif dari Health Care Financing Administration’s Medicare Provider Analysis and Review File (HCFA’s MEDPAR). Tiga puluh satu rumah sakit di New York yang menyelenggarakan layanan bedah coronary artery bypass graft (CABG) sekitar tahun 1991 – 1992 menjadi lokasi pengumbilan data. Sebanyak 13.557 pasien yang sesuai dengan data, dipilih sebagai sample. Data tersebut dianalisis dalam studi observasi yang bertujuan untuk menilai kemampuan relatif data klinis dan administratif untuk menilai kualitas pelayanan rumah sakit terhadap pasien bedah CABG.
Penggunaan data administratif dalam penelitian ini mendatangkan keuntungan dan kerugian tersendiri. Tidak mahal dalam proses pengumpulannya, mudah diakses dan dapat mengidentifikasi perbedaan outcome regional, merupakan keuntungan yang sangat membantu peneliti. Namun, data administratif ini cukup sulit untuk digunakan untuk menilai kualitas layanan, hanya dapat digunakan untuk menyaring potensi masalah kualitas layanan.
Berbeda dengan data administratif, data klinis dapat digunakan dengan mudah dalam penelitian ini, khususnya untuk memprediksi mortalitas bedah CABG. Kenyataan ini didukung dalam penelitian lain sebelumnya yang juga mengkomparasi penggunaan data administratif dan data klinis. Model statistik yang dibangun dari data klinis dapat lebih prediktif, secara substansial, dibandingkan data administratif. Identifikasi outlier rumah sakit juga berbeda secara substansi. Perbedaan substansi ini dapat diatasi dengan penambahan 3 elemen data klinis ke dalam data administratif, demikian saran penelitian tersebut.
Hasilnya evaluasi menunjukan: Pertama, ketika digunakan untuk mengeliminasi diagnosis sekunder yang diduga lebih merupakan komplikasi, bukan faktor resiko (komorbiditas), data administratif memiliki kemampuan prediksi lebih rendah dibandingkan data klinis. Namun demikian temuan kedua juga menunjukan bahwa bila model administratif telah dimodifikasi untuk mengeliminasi komplikasi potensial memberikan kemampuan prediksi tidak terlalu rendah dibanding model klinis.
Rekomendasi dari penelitian ini adalah: staf yang bertugas dibidang pengumpulan data administrasi hendaknya menambah beberapa elemen data klinis pada data tersebut. Implementasi saran ini membutuhkan sistem yang dapat memberi peringatan kepada pengkode ketika sebuah kasus sudah dikode. Sistem juga harus memudahkan pengkode untuk memasukkan data bila ada bidang baru dari tipe kasus yang sudah ada. Tipe-tipe kasus dapat juga ditambah sewaktu-waktu sehingga data adiminstratif dapat segara digunakan oleh investigator untuk meneliti berbagai macam pasien.
Nampaknya rekomendasi penelitian ini juga bisa diterapkan di Indonesia. Per tahun 2012, penelitian Vania dan Sastramihardja dari ITB menunjukkan bahwa mekanisme pendataan dan pengumpulan data sektor informal pendukung PT. Askes masih belum baik. Saat ini, PT. Askes menggunakan sistem informasi manajemen (SIM) berbasis teknologi dengan platform bernama ASTERIX (Askes Integrated dan Responsive Information Exchange). Untuk mencapai target peserta Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) Kesehatan di tahun 2014, PT. Askes menggunakan sistem di dalam ASTERIX yang disebut bridging system yaitu Sistem Antrian Terpadu dan Sistem Klaim Terpadu. Saat ini kondisi pengelolaan sistem informasi PT. Askes memiliki aplikasi bisnis yang cukup bagus, namun infrastruktur teknis yang dimiliki masih menjadi kelemahan sehingga kinerja ASTERIX belum optimal.
Sumber:
Vania DR. dan Sastramihardja, HS., 2012, Penyusunan Rekomendasi Kendali Sistem Informasi Cakupan Semesta dengan Menggunakan Proses Penilaian Resiko, Jurnal Sarjana Institut Teknologi Bandung Bidang Teknik Elektro dan Informatika, Vol. 1, No. 2.
{module [150]}