Jakarta (detik.com), Menggabungan khasiat antara obat herbal dan obat moderen tampaknya menimbulkan dilema. Dan memang ada beberapa obat-obatan herbal yang tidak baik jika digabungkan pengonsumsiannya bersama obat kimia.


Namun, jika pasien menggabungkan keduanya, sebaiknya dokter jangan langsung melarang. “Penggabungan obat kimia dan herbal tidak 100 persen aman. Tetapi, ini jangan dilarang. Harus ditanya dan diatur kapan bisa minum herbal kapan tidak boleh,” ujar dr Arijanto Jonosewojo, Sp.PD FINASIM.

Hal ini disampaikannya pada acara peluncuran produk Seed to Patient PT SOHO Group dengan tema ‘Dilema Dokter Meresepkan Obat Herbal’ pada Kamis (22/8/2013). Acara ini bertempat di Le Meridien Hotel, Jl Jendral Sudirman kav 27, Jakarta.

Kepala Poliklinik Komplementer Alternatif RSU dr Soetomo Surabaya ini juga menyarankan bahwa dokter-dokter juga harus belajar mengenai herbal. “Jangan melarang saja karena masyarakat dapat bukti. Karena untuk kesembuhan tidak bisa semua dirasionalkan,” terangnya .

Ia berani mengatakan hal ini berdasarkan pengalaman pasiennya yang mengidap asma selama 5 tahun dan tak sembuh-sembuh. Namun, setelah minum herbal selama 4 minggu asma pasien tersebut tak lagi kumat.

“Itu yang harus dicari. Obat itu harus tetap ada uji, nggak bisa empiris saja. Kalau mau tradisional jamu diangkat harus ada penelitian karena ini perlindungan untuk masyarakat,” tutur dr Arijanto.

Dirinya pun menjelaskan bahwa obat-obatan yang sudah dalam golongan fitofarmaka dan juga herbal terstandar pada mulanya berasal dari jamu. “Karena yang kita tau kan jamu itu dibawah saja, padahal yang difitofarmaka itu dari jamu juga, tapi diteliti,” tutupnya.

(vit/vit)

Sumber : health.detik.com

{module [153]}