Reportase Pelatihan Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dalam Era Integrasi Layanan Primer (ILP)

Pelatihan Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dalam Era Integrasi Layanan Primer (ILP) menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam Forum Mutu ke-21 yang mengusung tema “Strengthening Health Quality Management Systems for Better Patient Outcome”. Kegiatan yang diselenggarakan pada Kamis (11/12/2025) ini menegaskan pentingnya mutu pelayanan kesehatan di tingkat layanan primer di tengah transformasi pelayanan kesehatan yang terus berkembang. Pelatihan ini diharapkan dapat menjadi ruang penguatan kapasitas bagi tenaga kesehatan puskesmas agar mampu mengimplementasikan prinsip ILP secara sistematis, terukur, dan berorientasi pada keselamatan serta luaran pasien yang lebih baik. Pelatihan ini dihadiri oleh 85 orang peserta melalui zoom meeting.

Materi 1 Kebijakan dan Konsep ILP Implikasi pada peningkatan mutu Puskesmas Peraturan Perundangan : UU Nomor 17 Tahun 2023, PP Nomor 28 Tahun 2024 dan PMK Nomor 19 Tahun 2024 Overview Kaitan Standar Akreditasi dan Pedoman Puskesmas (ILP)

tjaPemateri pelatihan ini adalah dr. Tjahjono Kuntjoro, MPH, DrPH. Sesi ini bertujuan memberikan pemahaman mendalam mengenai kerangka hukum terbaru, termasuk UU Nomor 17 Tahun 2023, Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024, dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 19 Tahun 2024, serta mengaitkan Standar Akreditasi dengan Pedoman Integrasi Layanan Primer (ILP). Tjahjono menggaris bawahi bahwa peningkatan mutu di Puskesmas terbagi dua, internal dan eksternal, dan mendorong Fasyankes agar tidak ragu menerapkan siklus kehidupan dalam operasionalnya sesuai mandat peraturan perundang-undangan.

Perhatian utama Tjahjono diarahkan pada perubahan struktural dan kebijakan dalam peraturan perundangan baru. Tjahjono menyoroti Pasal 60 Undang-undang Kesehatan yang kini secara eksplisit menyebutkan sistem jejaring pelayanan, bukan hanya jaringan, yang dibedakan menjadi lima struktur dan mencakup seluruh Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) baik milik pemerintah maupun swasta. Struktur jejaring diperkuat hingga ke unit layanan terkecil, mencakup unit pelayanan kesehatan di tingkat desa/kelurahan (Pasal 62-73), Posyandu (Pasal 74), dan diperkuatnya jejaring lintas sektor (Pasal 78) dari tingkat kecamatan hingga Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW). Lebih lanjut, Bab 9 menekankan kewajiban Pencatatan dan Pelaporan yang harus dimulai dari tingkat desa, didukung oleh Bab 10 yang mewajibkan Puskesmas melakukan Pembinaan dan Pengawasan hingga ke tingkat desa.

Dasar pemikiran di balik ILP adalah pendekatan akses individu, keluarga, dan masyarakat untuk pelayanan yang bermutu. Tjahjono menekankan konsep Patient Person Centered Care yang erat kaitannya dengan patient/client experience, karena beliau menegaskan, “Mutu itu sebetulnya apa yang dirasakan dan dialami oleh pasien’’. ILP mewajibkan integrasi erat antara Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) dan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM), dengan penekanan kuat pada Early Detection, di mana screening harus dilakukan sebelum masalah berkembang menjadi penyakit. Meskipun fokus utama tetap pada upaya promotif dan preventif, ILP juga harus mencakup upaya kuratif. Sebagai penutup, Tjahjono menyimpulkan bahwa upaya identifikasi risiko demi menjaga mutu dan keselamatan pasien sebaiknya dimulai dari tingkat pedesaan, sejalan dengan perluasan jejaring Puskesmas hingga ke tingkat desa/kelurahan.

Materi 2: Identifikasi Kebutuhan Peningkatan Mutu Sesuai Standar Akreditasi Pada Era ILP

Memasuki materi 2, Tjahjono mengajak seluruh peserta untuk menelaah secara lebih mendalam proses identifikasi kebutuhan peningkatan mutu sesuai standar akreditasi pada era Integrasi Layanan Primer (ILP). Penekanan diberikan pada pentingnya memahami standar akreditasi Bab V, yang mencakup aspek-aspek krusial seperti peningkatan mutu berkesinambungan, manajemen risiko, sasaran keselamatan pasien, pelaporan insiden keselamatan pasien, serta penerapan pencegahan dan pengendalian infeksi. Dengan memahami elemen-elemen tersebut, puskesmas diharapkan mampu membangun fondasi layanan yang berkualitas, adaptif, terukur, dan senantiasa berorientasi pada keselamatan pasien.

Untuk memperkuat pemahaman, peserta diberikan penugasan praktik berupa identifikasi kebutuhan peningkatan mutu sesuai standar akreditasi mutu pada masing-masing klaster, mulai dari Klaster 1 hingga Klaster 4, termasuk lintas klaster. Melalui tabel kerja yang disediakan, peserta diminta memetakan standar-standar yang relevan mulai dari peningkatan mutu, manajemen risiko, SKP, pelaporan insiden, hingga PPI serta standar manajemen seperti manajemen fasilitas dan keselamatan serta audit internal dan tinjauan manajemen. Aktivitas ini mendorong peserta menilai kesiapan puskesmas masing-masing sekaligus mengidentifikasi area prioritas yang memerlukan penguatan untuk memenuhi tuntutan akreditasi dalam konteks ILP.

Materi 3 : Quality Safety Risk Management

Pada sesi Quality, Safety, and Risk Management, dr. Tjahjono menegaskan bahwa mutu, keselamatan, dan manajemen risiko merupakan tiga elemen yang tidak terpisahkan dalam membangun layanan kesehatan yang andal dan berorientasi pada keselamatan pasien termasuk bagaimana risk uncertainty dapat menimbulkan dampak positif ketika dikelola dengan baik. Selain itu, peserta juga diajak mengenali berbagai hazard yang berpotensi mengganggu proses pelayanan sehingga dapat diidentifikasi sejak dini dan dicegah sebelum berkembang menjadi insiden keselamatan. Dr. Tjahjono juga menekankan pentingnya manajemen risiko yang dilakukan secara komprehensif, mulai dari proses identifikasi, analisis, mitigasi, hingga evaluasi berkelanjutan.

Sebagai penguatan lebih lanjut, sesi ini juga memperkenalkan penyusunan risk register sebagai tools untuk mendokumentasikan seluruh risiko yang ada di organisasi maupun pada tingkat kluster beserta tindakan pengelolaan yang diperlukan terhadap setiap risiko yang teridentifikasi. Semua risiko dicatat secara sistematis dalam risk register, sehingga memungkinkan penetapan respons yang tepat, terarah, dan proporsional terhadap setiap potensi masalah yang muncul. Di samping itu, dr. Tjahjono juga mengulas secara singkat Standar Keselamatan Pasien (SKP) yang menjadi acuan utama dalam menjamin keamanan layanan, serta kerangka regulasi nasional yang mengatur keselamatan pasien, termasuk Undang-Undang Kesehatan dan regulasi turunannya yang menegaskan kewajiban fasilitas pelayanan kesehatan dalam menerapkan budaya keselamatan secara berkelanjutan, yakni UU Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.

Setelah peserta memahami kerangka manajemen risiko dan standar keselamatan pasien, sesi berikutnya memperluas perspektif peserta pada aspek pelaporan insiden, yang menjadi bagian penting dalam siklus perbaikan mutu berkelanjutan. Melanjutkan paparan Tjahjono, materi pelaporan insiden keselamatan pasien dan PPI disampaikan oleh dr. Yael Esthi Nurfitri Kuncoro, Sp.DVE, FINSDV, FAADV, FISQua, CRP. Yael mengawali dengan definisi insiden keselamatan baik pada pasien maupun keluarga, pengunjung maupun karyawan, serta menjelaskan bahwa pelaporan insiden merupakan proses pendokumentasian setiap kejadian yang berpotensi atau telah menyebabkan cedera, kerugian, maupun kondisi near miss, sebagai dasar analisis dan pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang. Dalam konteks ILP, Yael juga menegaskan bahwa penerapan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) harus semakin terintegrasi dan konsisten di seluruh unit layanan, sejalan dengan rujukan utama Permenkes No. 27 Tahun 2017 tentang PPI di Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang menjadi pedoman nasional. Selain itu, dr. Yael juga menjelaskan perbedaan antara slip, lapse, dan mistake, tiga bentuk kesalahan manusia yang sering menjadi akar penyebab insiden sehingga fasilitas pelayanan kesehatan dapat melakukan investigasi yang lebih akurat dan menetapkan intervensi perbaikan yang tepat sasaran.

Materi 4 : Pengelolaan Mutu Secara Sistematis sesuai standar akreditasi dan ILP

yaelMateri selanjutnya disampaikan oleh Yael, bagaimana cara meningkatkan mutu. Yael menyampaikan peningkatan mutu memang erat kaitannya dengan akreditasi, namun mutu tidak boleh berhenti setelah mencapai status paripurna (PPS/Penilaian Pasca Survei). Yael menekankan Puskesmas tidak cukup hanya berfokus pada PPS, melainkan melibatkan aspek komitmen, monitor, dan improve yang harus terus berjalan dalam siklus berulang. Beliau menekankan pentingnya melakukan self assessment secara berkala dan berulang sebagai kunci utama. Selain itu, mutu bukanlah tanggung jawab eksklusif tim manajemen mutu, melainkan tanggung jawab bersama.

Dalam era klasterisasi Puskesmas, Yael menjelaskan bahwa peningkatan mutu harus diintegrasikan per sasaran dan kegiatan dalam klaster tersebut. Misalnya, Klaster 2 yang berfokus pada sasaran Ibu, anak, dan remaja harus mencari dan menetapkan indikator kinerja serta indikator mutu yang relevan di dalamnya.

Yael juga mengingatkan pentingnya melakukan screening kesehatan pada petugas Puskesmas secara rutin. Selain itu, audit internal disarankan untuk dilaksanakan sepanjang tahun guna mengevaluasi proses dan pelaksanaannya. Beliau memperluas definisi mutu, menyatakan bahwa cakupannya tidak hanya terbatas pada patient safety, tetapi juga mencakup Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK), Komunikasi dan Informasi (KI), serta K3. Pada sesi penutup, Yael memberikan statement yang kuat, menekankan kembali kepada seluruh staf Puskesmas bahwa mutu adalah tanggung jawab bersama seluruh organisasi.

Reporter:
Salwa Nada Agfi Arofah & Tri Yatmi (Divisi Manajemen Mutu PKMK UGM)

 

 

 

 

Reportase Kegiatan Pelatihan Clinical Pathway dan Perhitungan Cost of Care

Pelatihan Clinical Pathway dan Cost of Care yang diselenggarakan oleh Divisi Manajemen Mutu Rumah Sakit PKMK FK-KMK UGM pada Kamis, 11 Desember 2025 telah sukses dilaksanakan secara daring. Kegiatan diikuti oleh 56 peserta klinisi dan akademisi dari berbagai institusi kesehatan. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua, konsultan PKMK FK-KMK UGM sekaligus dosen MMR FK-KMK UGM dengan moderator Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep., MPH.

12desPada sesi pertama, dr. Hanevi menjelaskan konsep dasar clinical pathway (CP) sebagai instrumen penting untuk memastikan tata kelola klinis yang akuntabel dan berbasis bukti. CP tidak hanya terbatas digunakan sebagai pedoman klinis tetapi juga strategi untuk meningkatkan kualitas pelayanan dari awal hingga akhir, memperbaiki risk-adjusted patient outcomes, meningkatkan kepuasan pasien, dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya. Penulisan CP yang lengkap dan spesifik disebut sebagai kunci akurasi dalam perhitungan pembiayaan.

Memasuki sesi kedua, peserta diajak memahami langkah penyusunan CP berdasarkan pedoman klinis terkini. dr. Hanevi menekankan pentingnya kesepakatan antarprofesi karena CP mencakup standar kedokteran, keperawatan, gizi, dan profesi kesehatan lainnya. Ia juga memaparkan prinsip pemilihan topik CP, hubungan CP dengan Panduan Praktik Klinis (PPK), serta pemanfaatan CP sebagai alat justifikasi tatalaksana. Sebagai catatan, penerapan CP dinilai mudah karena hanya membutuhkan checklist pada template tetapi implementasinya tetap memerlukan komitmen rumah sakit, pelatihan berkala, dan dukungan sistem informasi. Sesi ini juga membahas komponen utama CP, mulai dari timeline, kategori pelayanan, outcome, hingga pencatatan variasi klinis. Selanjutnya, tantangan penerapan CP turut dibahas, yakni terkait dengan kebutuhan integrasi CP elektronik dengan laboratorium, radiologi, dan farmasi.

Peserta kemudian mendapatkan simulasi perhitungan cost of care untuk memahami struktur pembiayaan layanan kesehatan secara lebih komprehensif pada sesi ketiga. dr. Hanevi menekankan bahwa perhitungan unit cost harus mencakup biaya langsung maupun tidak langsung agar rumah sakit dapat memetakan margin, efisiensi, serta kesesuaian dengan tarif klaim INA-CBGs. Sesi terakhir membahas evaluasi CP dan manfaatnya terhadap efisiensi biaya. dr. Hanevi menjelaskan bahwa kepatuhan 100% dalam pengisian CP hampir tidak mungkin dicapai karena setiap pasien memiliki kondisi klinis yang unik. Meskipun kepatuhan pengisian CP tidak selalu mencapai 100% rumah sakit tetap perlu memantau tingkat kepatuhan untuk meningkatkan konsistensi pelayanan. Diskusi juga menyoroti bagaimana CP membantu mengendalikan ketidakefisienan sumber daya, terutama ketika terdapat perbedaan antara unit cost dan tarif klaim.

Setiap pergantian sesi berlangsung dengan diskusi yang sangat interaktif. Diskusi pelatihan berlangsung aktif, mulai dari pertanyaan terkait pencatatan variasi, tingkat spesifikasi obat dalam CP, penerapan CP di IGD, hingga perhitungan hari perawatan berdasarkan waktu diagnosis. Para peserta dari berbagai daerah juga berbagi pengalaman, termasuk penerapan CP pada kasus kebidanan, kolaborasi lintas profesi di rumah sakit, maupun tantangan dalam menghitung unit cost karena keterbatasan kebijakan tarif.
Pelatihan ditutup dengan pesan bahwa meskipun sesi berlangsung singkat, peserta diharapkan dapat menerapkan ilmu yang diperoleh dalam praktik sehari-hari baik dalam penyusunan, implementasi maupun evaluasi CP dan cost of care. PKMK FK-KMK UGM membuka peluang tindak lanjut berupa pendampingan atau in-house training bagi institusi yang membutuhkan penguatan lebih lanjut. Melalui pemahaman yang lebih komprehensif mengenai CP dan cost of care, diharapkan fasilitas kesehatan dapat meningkatkan mutu layanan secara berkelanjutan.

Reporter:
Nikita Widya Permata Sari, S.Gz., MPH

 

 

Reportase Forum Mutu IHQN XXI “Strengthening Health Quality Management Systems for Better Patient Outcomes”

PKMK-Yogyakarta. Indonesian Healthcare Quality Network (IHQN) bekerja sama dengan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM menyelenggarakan Forum Mutu IHQN ke-21. Tahun ini, Forum Mutu mengangkat tema besar “Strengthening Health Quality Management Systems For Better Patient Outcome”. Kegiatan ini menjadi wadah bagi para praktisi dan pemangku kepentingan untuk mendiskusikan implementasi kebijakan mutu kesehatan terbaru di Indonesia dan menghasilkan perspektif untuk mendukung transformasi sistem kesehatan.

Acara yang diselenggarakan di Yogyakarta pada Rabu (10/12/2025) ini dihadiri oleh 30 peserta luring dan 120 peserta daring melalui Zoom Meeting, menunjukkan tingginya minat terhadap isu kualitas pelayanan kesehatan.

fm 1Dalam sambutan pembuka, Ketua PKMK FK-KMK UGM, Dr. dr. Andreasta Meliala, M.Kes., MAS, menekankan pergeseran fokus mutu menuju Patient Outcome. “Tujuan akhir dari peningkatan kualitas pelayanan adalah seberapa baik pasien merasakan peningkatan kualitas hidup setelah dilakukan perawatan, baik untuk penyakit akut maupun penanganan canggih seperti stem cell,” ujar Dr. Andreasta. Andre menegaskan perlunya sistem pelaporan mutu yang kuat dan akuntabel, sehingga dinas kesehatan dapat memastikan protokol daerah berjalan konsisten dan laporan mutu disampaikan secara berkala.

Senada dengan hal tersebut, Ketua IHQN, Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua, mengutip Donald Berwick bahwa tujuan akhir dari setiap microsystem organisasi adalah menciptakan outcome klinis dan experience yang baik. Ia juga menyinggung pentingnya peran generasi muda, berharap “Gen Z diharapkan menjadi pemimpin di RS dan fasyankes dengan mutu yang kuat.” Hanevi juga menyoroti peran sistem informasi dan pemanfaatan aspek klinis digital dalam mendukung mutu, seperti penggunaan digital tower untuk kasus stroke.

Sinergi Kebijakan Menuju Mutu Kesehatan

fm 2Sesi pertama menghadirkan Prof. dr. Adi Utarini, MSc, MPH, Ph.D, yang memaparkan materi “Mewujudkan Pelayanan Kesehatan Bermutu melalui Sinergi Kebijakan dan Implementasi Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 12 Tahun 2025”.

Prof. Adi menyoroti bahwa Indonesia sedang berada di tengah perubahan besar. Adi berharap Indonesia dapat segera membuat Annual Report Mutu bukan sekadar laporan burden penyakit atau cakupan program tetapi laporan yang menunjukkan perbaikan kualitas dari waktu ke waktu berdasarkan apa yang dirasakan pasien. Adi memaparkan Rencana Strategis (Renstra) Kemenkes 2025-2029 yang memiliki enam tujuan, dimana Tujuan ke-2 secara spesifik terkait dengan mutu. Namun, pihaknya mengakui adanya kelemahan implementasi yang berfokus di internal Kemenkes serta tantangan dalam kuantitas dan kualitas data. Diharapkan, Rencana Aksi Nasional (RAN) Mutu Pelayanan Kesehatan 2025 dapat mendukung Renstra ini, khususnya dalam aspek mutu klinis dan keselamatan pasien. Adi menjelaskan bahwa Rencana Strategi Nasional (Strategi) terdiri dari tiga poin besar memahami strategi itu sendiri, aksi implementasi (yang tercantum dalam Renstra Kemenkes), dan pendukung analisis ekonomi serta proses penyusunan strategi yang melibatkan banyak pihak.

Proses pengembangan strategi nasional (Strategy Developing National Program) melibatkan enam fase, termasuk monitoring, evaluasi, dan review. Poin penting lain yang disoroti adalah Contingency Measure, dimana bencana (seperti di Sumatera) atau pandemi global dapat menyebabkan kemunduran signifikan bahkan hingga lima tahun dari capaian yang sudah diraih.

Di akhir sesinya, pihaknya mengajak para calon pemimpin dan stakeholder dari tingkat dinas kabupaten, provinsi, hingga kementerian untuk bergerak bersama-sama mempelajari dan mengimplementasikan Renstra Kemenkes demi perbaikan mutu pelayanan kesehatan.

fm 3Sesi berikutnya menghadirkan Kepala Dinas Kesehatan DIY, dr. Gregorius Anung Trihadi, MPH, yang membahas aspek mutu dalam implementasi PMK Nomor 11 Tahun 2025 di Provinsi Yogyakarta. Anung menyebut dinamika regulasi beberapa tahun terakhir sebagai “badai regulasi” yang memaksa institusi pelayanan kesehatan melakukan penyesuaian secara cepat. Pihaknya menguraikan implikasi kebijakan baru, termasuk perubahan perizinan berusaha yang kini berlaku sepanjang institusi beroperasi, perubahan definisi rumah sakit menjadi berbasis kompetensi dengan minimal 50 tempat tidur, serta pelimpahan kewenangan perizinan kepada Bupati dan Wali Kota dengan batas waktu 28 hari.

Anung menyampaikan bahwa “badai regulasi” yang terjadi beberapa tahun terakhir menantang institusi pelayanan kesehatan untuk terus melakukan penyesuaian. Narasumber juga membahas PMK Nomor 11 Tahun 2025 dan kaitannya dengan PMK Nomor 5 Tahun 2025 yang salah satunya mengatur perizinan berusaha berbasis Online Single Submission (OSS).

Implikasi signifikan dari regulasi baru ini meliputi Perizinan berusaha berlaku sepanjang pelaku usaha menjalankan kegiatan, berbeda dengan lisensi 5 tahun sebelumnya. Rumah Sakit kini berbasis kompetensi dengan minimal 50 tempat tidur, bukan lagi berbasis kelas. Perizinan saat ini menjadi kewenangan Bupati dan Walikota, dengan batas waktu 28 hari sejak berkas masuk. Anung mengakui tantangan di lapangan, terutama terkait pemetaan monitoring Fasyankes dan permintaan panduan jelas mengenai sanksi administratif bagi Fasyankes yang gagal meningkatkan mutu. Pihaknya juga menegaskan bahwa, di DIY yang mencapai hampir 100% coverage JKN, Akreditasi tetap menjadi komponen penting sebagai standar kerjasama BPJS.

Reporter :

Salwa Nada Agfi Arofah
(Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Quality Improvement Strategies in Healthcare Facility

fm 4Becoming C-Suite Hospital Leader at Young Age: How to Overcome the Challenges?

Sesi inspiratif dibuka oleh dr. Mega Febrianora yang menekankan peran pemimpin muda dalam mempercepat perubahan manajemen rumah sakit. Mega menilai pemimpin masa depan perlu menguasai teknologi, memiliki kecerdasan emosional yang matang, serta mampu membangun budaya kerja kolaboratif. Pemahaman yang jelas tentang alasan strategis suatu inisiatif menjadi fondasi untuk perencanaan yang tepat dan pelaksanaan yang efektif. Jangan malu dan takut untuk berkata benar.

Narasumber juga mengangkat tantangan personal seperti keraguan diri dan imposter syndrome, dimana kita bisa tangani dengan mencari rekan sebaya maupun mentor untuk menjaga kepercayaan diri. Pesannya tegas bahwa usia tidak menjadi batas untuk memimpin, asalkan memiliki integritas, keberanian, dan visi jangka panjang.

fm 5Clinical Research Unit RS Persahabatan

Jika dilihat dari sisi teknis, Dr. dr. Heidy Agustin, Sp.P(K) dari RSUP Persahabatan memaparkan peran Clinical Research Unit (CRU) sebagai penggerak inovasi layanan melalui penelitian klinis. Heidy menyoroti tata kelola penelitian, kolaborasi dengan lembaga nasional dan internasional, serta pengembangan fasilitas riset seperti biobank dan laboratorium biomolekuler. Berbagai penelitian unggulan dipaparkan, mulai dari uji klinis vaksin hingga riset genomik BGSi. Ke depan, CRU akan menargetkan peningkatan mutu riset, digitalisasi proses penelitian, dan perluasan kolaborasi pada 2026

 

fm 6Qualified Risk Management Analyst (QRMA): Dalam Manajemen Risiko RS

Dalam sesi berikutnya, Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua, menekankan pentingnya manajemen risiko sebagai fondasi mutu dan keselamatan pasien di rumah sakit. Beliau menjelaskan bahwa penerapan Qualified Risk Management Analyst (QRMA) dan integrasi Enterprise Risk Management (ERM) diperlukan agar rumah sakit memiliki budaya sadar risiko yang kuat dan konsisten. Hanevi juga menyoroti tantangan seperti rendahnya budaya pelaporan dan resistensi perubahan, sehingga dibutuhkan standar metodologi yang seragam serta komitmen seluruh unit. Sesi ditutup dengan ajakan memperkuat kapasitas SDM dan kerangka kerja manajemen risiko agar implementasinya efektif di seluruh lini pelayanan.

Secara keseluruhan, forum ini berperan sebagai ruang kolaboratif bagi para pemangku kepentingan untuk bertukar praktik baik dan memperkuat fondasi mutu layanan kesehatan di Indonesia. Perspektif yang dihadirkan memberi gambaran menyeluruh tentang peran kepemimpinan, manajemen risiko, ditunjang dengan penelitian klinis sebagai pilar penting transformasi mutu yang terukur, inovatif, dan berkelanjutan bagi sistem kesehatan Indonesia.

Reporter:

Indra Komala R.N., MPH
(PKMK, Divisi Mutu)

Transformasi Teknologi dalam Sektor Kesehatan untuk Meningkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan

fm 7Subtopik pertama, Streamlining Workflow with Connected Patient Care, disampaikan oleh Benedict Sulaiman, S.Kom., MM., MARS., MCSE., CFP selaku CTO Mandaya Hospital Group. Ia menekankan pentingnya konektivitas digital yang mengintegrasikan Rekam Me, perangkat medis, aplikasi pasien, call center, hingga pemanfaatan Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, integrasi menyeluruh menjadi fondasi rumah sakit modern yang lebih efisien, mengurangi beban administratif, menekan biaya operasional, mengoptimalkan sumber daya, dan memperkuat kemampuan monitoring jarak jauh. Benedict menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital memerlukan integrasi sistem yang matang, infrastruktur jaringan yang kuat, tata kelola yang jelas, serta SDM yang siap berubah. Transformasi digital, ujarnya, harus diposisikan sebagai proses perubahan organisasi yang berkelanjutan.

Subtopik kedua, Stroke Digital Twin: Inovasi Teknologi untuk Meningkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan, disampaikan oleh Lutfan Lazuardi, M.Kes., Ph.D. yang menyoroti stroke sebagai beban kesehatan besar di Indonesia dari sisi kematian, disabilitas, dan pembiayaan JKN, dengan tantangan yang makin kompleks akibat pergeseran usia kejadian, ketimpangan wilayah, serta layanan yang masih reaktif dan seragam. Melalui pendekatan digital twin berbasis data real-time dan kecerdasan buatan, Lutfan mendorong pergeseran layanan stroke menuju model yang lebih prediktif, personal, dan berbasis data melalui riset bertahap serta kolaborasi lintas disiplin sebagai dasar penguatan layanan klinis dan kebijakan

Dalam sesi diskusi, Benedict menegaskan bahwa teknologi, termasuk AI, perlu dimanfaatkan secara tepat guna dengan tetap melalui verifikasi dokter agar dapat dipertanggungjawabkan, serta harus selaras dengan visi dan misi rumah sakit. Bagi rumah sakit yang belum memiliki direktur IT, Benedict menyarankan opsi outsourcing dengan strategi IT yang terintegrasi dalam rencana strategis. Lutfan menyampaikan bahwa pemanfaatan data stroke untuk evaluasi mutu masih tahap awal namun sangat potensial, dengan hasil percontohan yang baik di Vietnam, serta menekankan pentingnya kolaborasi lintas akademisi dan stakeholder dalam implementasi digital twin.

Sebagai penutup sesi pemaparan, Fadhilah menekankan bahwa transformasi teknologi tidak dapat berdiri sendiri, tetapi harus dibangun melalui kolaborasi lintas sektor agar benar-benar mampu meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.

Reporter:

Sensa Gudya Sauma Syahra
(PKMK UGM)

Rekaman video dan materi dapat diakses melalui link berikut

FORUM MUTU IHQN xxi

 

 

Fenomena Self-Diagnose di Kalangan Mahasiswa: Tantangan Baru bagi Mutu Kesehatan Mental

Saat ini, kualitas mutu kesehatan mental merupakan isu yang sangat penting, khususnya bagi kelompok dewasa muda seperti mahasiswa. Mahasiswa adalah kelompok yang sangat aktif mengakses informasi kesehatan mental baik melalui media sosial maupun platform digital lain. Studi oleh Ismail, Kusumaningtyas, dan Kanapsijah Firngadi (2023) di Yogyakarta telah mengungkap fenomena menarik sekaligus mengkhawatirkan, yakni sebagian mahasiswa cenderung melakukan self-diagnose atau menilai kondisi psikologis mereka sendiri tanpa berkonsultasi dengan tenaga profesional. Penelitian ini melibatkan 402 mahasiswa dan menunjukkan bahwa sekitar 12,9% responden pernah melakukan self-diagnose. Self-diagnose berkaitan dengan pengetahuan yang kurang tepat serta sikap yang kurang mendukung isu kesehatan mental. Mahasiswa yang melakukan self-diagnose memiliki kemungkinan dua kali lebih besar memiliki pengetahuan rendah (AOR 2,31) dan sikap yang kurang positif (AOR 2,12) terhadap kesehatan mental.

Penelitian ini juga mencatat bahwa hanya sekitar separuh mahasiswa yang memiliki pengetahuan baik mengenai gangguan mental dan 53% menunjukkan sikap positif terhadap individu dengan kondisi tersebut. Faktor pendidikan diketahui merupakan pengaruh sangat menentukan pengatahuan dan sikap positif. Mahasiswa yang tidak pernah mendapatkan materi psikologi atau psikiatri memiliki risiko lebih tinggi memiliki pengetahuan yang kurang memadai. Menariknya, anggota keluarga mahasiswa dengan riwayat gangguan mental tidak selalu meningkatkan pemahaman tetapi justru menjadi faktor risiko pengetahuan rendah dalam studi ini. Hal tersebut berkaitan dengan kuatnya stigma keluarga dan budaya. Misalnya seperti praktik pasung yang masih terjadi di sebagian wilayah Indonesia sehingga pengalaman personal belum tentu diiringi dengan pemahaman yang tepat terhadap kesehatan mental.

Selain temuan di atas, hubungan antara pengetahuan dan sikap juga ditemukan. Meskipun sangat lemah tetapi tetap menunjukkan arah yang jelas, yaitu semakin baik pemahaman seseorang tentang kesehatan mental maka semakin positif juga sikapnya. Berdasarkan temuan ini, literasi kesehatan mental disarankan dapat menjadi fondasi penting dalam mendorong penerimaan dan mengurangi stigma. Dalam konteks mahasiswa yang sedang membangun pola pikir jangka panjang, peneliti mempertegas perlunya pendidikan literasi kesehatan mental yang terstruktur, sistematis, dan mudah diakses. Program kampus yang menyediakan edukasi formal, modul konseling, atau kampanye kesehatan mental dapat berperan besar dalam membentuk sikap inklusif di masa depan.

Bagi praktisi kesehatan dan pengelola layanan kesehatan mental, temuan ini memberi implikasi kuat bahwa tren self-diagnose perlu dipandang sebagai tantangan baru. Praktisi perlu memperkuat edukasi berbasis bukti serta memberikan layanan konsultasi yang lebih ramah, cepat, dan mudah diakses agar mahasiswa tidak bergantung pada informasi daring yang sering kali bias atau tidak akurat. Sementara itu, pengelola layanan dan manajemen mutu kesehatan mental dapat memanfaatkan temuan ini untuk merancang intervensi yang menekan stigma, memperluas literasi, serta mengurangi kesenjangan antara kebutuhan dan akses layanan. Melalui optimalisasi pendekatan promotif-preventif serta mengintegrasikan edukasi di lingkungan kampus, upaya peningkatan kualitas layanan kesehatan mental dapat berjalan lebih efektif dan relevan bagi mahasiswa di Indonesia.

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya: https://link.springer.com/article/10.1186/s41983-023-00760-1 

 

 

Health and care sector latest developments

Health and Social Care Select Committee new report published
The Health and Social Care Select Committee has today published a report following its inquiry into community mental health services.

It contains a number of recommendations to government, including to continue funding a pilot of six innovative 24/7 Neighbourhood Mental Health Centres, with a view to opening one in every community. As things stand, the government has not guaranteed funding for the centres beyond next April.

Continue reading

Merancang Strategi Menuju Rumah Sakit Masa Depan: Sebuah Pendekatan Systems Thinking

Meningkatnya tekanan terhadap sistem kesehatan, rumah sakit di seluruh dunia berada pada titik kritis. Banyak negara masih mengandalkan model rumah sakit yang dirancang puluhan tahun lalu, padahal kompleksitas kebutuhan saat ini telah melampaui batas sistem tradisional. Pertanyaannya bukan lagi sekadar berapa banyak tempat tidur atau tenaga medis yang harus ditambah, tetapi bagaimana seluruh ekosistem rumah sakit dapat bergerak secara dinamis, responsif, dan berkelanjutan. Tantangan ini menjadi dasar pembentukan systems thinking dengan membentuk tim pemodelan lintas-profesi dan melakukan 20 sesi diskusi dalam penelitian yang dilakukan Kumar et al. (2025). Hasilnya adalah tujuh causal loop diagrams (CLD) komprehensif yang menggambarkan hubungan sebab-akibat di seluruh sistem rumah sakit, mulai dari sistem kesehatan nasional, layanan rawat jalan, IGD, rawat inap, bedah/prosedur, hingga perencanaan kluster rumah sakit. CLD ini berfungsi sebagai “bahasa bersama” yang memudahkan berbagai pemangku kepentingan memahami bagaimana variabel-variabel seperti permintaan, kapasitas, alur pasien, dan sumber daya saling memengaruhi.

Salah satu penemuan penting adalah adanya banyak positive feedback loops dalam berbagai layanan inti. Sebagai contoh, ketika permintaan meningkat, rumah sakit biasanya merespons dengan menambah tempat tidur atau tenaga kesehatan. Namun penambahan kapasitas ini justru dapat memicu peningkatan permintaan lebih lanjut, yakni fenomena yang dikenal sebagai supplier-induced demand. Dengan memahami pola umpan balik seperti ini, rumah sakit dapat menghindari solusi jangka pendek yang hanya memperbesar masalah dalam jangka panjang.

Analisis causal loop juga membantu mengidentifikasi 15 titik intervensi potensial yang dapat mengubah perilaku sistem secara signifikan. Beberapa di antaranya meliputi right-siting pasien ke layanan primer atau telehealth, pemanfaatan teknologi untuk mempercepat length of stay, peningkatan efisiensi operasional, serta penguatan layanan pencegahan dan berbasis komunitas untuk menurunkan angka kunjungan. Intervensi ini dirancang untuk memutus siklus tekanan permintaan yang berulang dan menciptakan sistem rumah sakit yang lebih berkelanjutan.

Selain itu, salah satu variabel terpenting yang ditemukan adalah “agilitas”, yaitu kemampuan rumah sakit untuk mengalihkan atau menambah sumber daya secara cepat dalam menghadapi krisis. Dalam analisis jaringan dari seluruh CLD, agilitas menempati posisi pusat, menunjukkan bahwa fleksibilitas dalam penempatan staf, alokasi tempat tidur, dan pengaturan alur layanan adalah komponen kunci bagi rumah sakit masa depan yang mampu beradaptasi dengan cepat.

CLD dan peta logika yang dihasilkan dalam penelitian ini dipublikasikan secara terbuka sehingga dapat digunakan oleh perencana rumah sakit di berbagai negara. Dengan pendekatan ini, keputusan strategis dapat diambil secara lebih holistik dan berbasis bukti, bukan reaktif atau parsial karena semua variabel dalam sistem dilihat sebagai satu kesatuan yang saling terkait. Secara keseluruhan, penggunaan causal loop dan systems thinking memberikan cara baru untuk memahami dinamika kompleks permintaan dan kapasitas rumah sakit. Pendekatan ini dapat mencegah perangkap ekspansi kapasitas tanpa arah, mengungkap intervensi strategis yang lebih efektif, memperkuat fleksibilitas rumah sakit, serta membantu merancang sistem layanan kesehatan yang tangguh dan berkelanjutan untuk kebutuhan masa depan.

Selengkapnya dapat diakses melalui:
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12107927/ 

 

Reportase ITIC Global International Travel and Health Insurance Conference

Venice – Italy, 2-6 November 2025
Reporter: Debby Sartika Mahardhika
Mahasiswa Program Studi S2 Magister Manajemen Rumahsakit (MMR) HPM FKKMK UGM

ve1

International Travel & Health Insurance Conference (ITIC) 2025 merupakan konferensi yang dihadiri oleh pelaku industri kesehatan global. Mulai dari perusahaan asuransi internasional, rumah sakit, klinik, penyedia evakuasi medis, hingga regulator untuk membahas perkembangan terbaru, tantangan terkini, serta arah masa depan industri kesehatan lintas negara.

Partisipasi dalam ITIC 2025 menjadi penting karena dinamika mobilitas global dan meningkatnya kebutuhan terhadap layanan kesehatan yang terstandarisasi, cepat, dan terintegrasi bagi wisatawan internasional. Melalui berbagai sesi panel, diskusi kasus, dan peluang jejaring profesional, konferensi ini memberikan wawasan yang relevan bagi institusi pelayanan kesehatan dalam meningkatkan kualitas layanan, efisiensi proses klaim, serta memperluas jejaring kerja sama dengan asuransi internasional.

Travel and Medical assistance – Looking to the Future

Speaker : Alastair Crossley – Head of Travel Solution of AXA

Tren Positif Travel and Tourism Medicine Global Menuju Tahun 2035

Dalam salah satu sesi konferensi tentang Travel and Tourism Market, dipaparkan tren tingkat tinggi yang menunjukkan peningkatan sektor pariwisata dunia pascapandemi. Data tahun 2024 menunjukkan bahwa industri perjalanan dan pariwisata telah melampaui kinerja tahun 2019, yang sebelumnya merupakan titik tertinggi sebelum pandemi. Proyeksi ke depan juga sangat optimistis. Pada tahun 2025, nilai ekonomi sektor ini diperkirakan mencapai USD 11 triliun, dan akan terus bertumbuh hingga mencapai USD 16,5 triliun pada tahun 2035.

Peningkatan ini mencerminkan pemulihan kuat minat masyarakat global untuk berwisata, didorong oleh kemajuan teknologi, peningkatan akses transportasi, dan berkembangnya segmen pariwisata berbasis pengalaman serta kesehatan (wellness tourism).

Faktor Pendorong Utama Perubahan Tren Perjalanan

Tiga kekuatan besar disebut menjadi pendorong utama perubahan perilaku wisatawan dunia:

  • Perubahan Iklim (Climate Change)
    Tren seperti cool-cations (liburan ke daerah beriklim sejuk), sustainable travel, dan localized avoidance mulai mendominasi preferensi wisata global.
  • Faktor Geopolitik
    Dinamika politik internasional, terutama kebijakan pemerintahan Amerika Serikat, konflik di Timur Tengah, serta isu over-tourism, mempengaruhi arah destinasi dan perilaku wisatawan dalam memilih tempat yang lebih aman dan autentik.
  • Medical Tourism
    Pariwisata medis tumbuh signifikan berkat peningkatan akses, biaya yang lebih rendah, dan waktu pelayanan yang lebih cepat. Faktor ini menjadikan wisata kesehatan sebagai salah satu sektor kunci dalam peta pariwisata global masa depan.

Sustainabillity is changing Traveller behaviour

Kesadaran akan isu lingkungan dan perubahan iklim juga mengubah pola perjalanan dunia. Data menunjukkan:

  • 28% wisatawan Eropa kini memilih destinasi dengan suhu lebih sejuk (cooler vacations), dengan peningkatan minat besar ke negara seperti Islandia, Norwegia, dan Alaska.
  • 84% wisatawan berupaya melakukan perjalanan yang lebih berkelanjutan.
  • 69% ingin meninggalkan destinasi dalam kondisi lebih baik
  • 44% percaya bahwa pemerintah harus menjadi pemimpin dalam inisiatif pariwisata

Pengaruh Sosial dan Demografi Wisatawan

Faktor sosial dan digital turut membentuk arah industri:

  • 75% wisatawan dipengaruhi oleh media sosial dalam menentukan destinasi.
  • 77% mencari pengalaman authentic, bukan sekadar kunjungan populer.
  • Menariknya,   80%   wisatawan   solo   adalah   perempuan,   menunjukkan   tren kemandirian dan eksplorasi personal yang semakin kuat.

Pengaruh Geopolitik terhadap Pariwisata Global

  1. Dampak Administrasi Amerika Serikat
    Terjadi penurunan 10% jumlah pengunjung pada awal tahun 2025. Negara yang paling terdampak adalah Kanada (-18%), Denmark (-21%), dan Meksiko (-23%). Kerugian ekonomi akibat penurunan ini diperkirakan mencapai USD 12,5 miliar hingga USD 21 miliar.
  2. Konflik di Timur Tengah
    Penurunan 3% jumlah pengunjung ke Yordania. Sekitar 2,5 juta wisatawan Eropa lebih sedikit yang berkunjung ke negara-negara non-GCC. Israel mengalami penurunan 75% jumlah wisatawan akibat ketegangan politik dan keamanan regional.
  3. Fenomena Over Tourism
    Di Venesia, jumlah wisatawan mencapai rasio 10:1 dibanding penduduk lokal. Di Makau, terdapat 547.000 pengunjung per kilometer persegi. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran mendorong pemerintah untuk menerapkan kebijakan pengendalian wisata.

Peningkatan Medical Tourism

  1. Aksesibilitas
    Kosta Rika mencatat pertumbuhan 8% kunjungan wisata medis. India menerima sekitar 2 juta pasien internasional setiap tahunnya. Biaya layanan kesehatan di Thailand disebut 70% lebih murah dibanding Amerika Serikat.
  2. Biaya Lebih Rendah
    Wisata medis menawarkan penghematan hingga 75% dibanding layanan kesehatan di negara asal. Prosedur bedah jantung bypass di India tercatat 12 kali lebih murah dibanding di Amerika Serikat.
  3. Akses Layanan yang Lebih Cepat
    Waktu tunggu layanan kesehatan di Kanada rata-rata 6 bulan, sedangkan di Kosta Rika hanya sekitar 1 minggu. Faktor ini menjadi pendorong utama meningkatnya mobilitas pasien lintas negara.

Dampak terhadap Jaringan dan Infrastruktur Medis

  1. Infrastruktur Kesehatan
    Diperkirakan terjadi investasi global sebesar USD 280 miliar dalam pembangunan fasilitas medis hingga tahun 2030. Klinik spesialis di negara tujuan wisata medis meningkat 45%. Terdapat pertumbuhan 2,5 kali lipat rumah sakit internasional yang terakreditasi.
  2. Perluasan Jaringan
    Lebih dari 150 negara kini memiliki jaringan wisata medis. Telemedicine mengalami pertumbuhan tiga kali lipat, memungkinkan pasien berkonsultasi lintas negara secara virtual.
  3. Dampak terhadap Tenaga Kesehatan
    Permintaan terhadap tenaga medis meningkat 25%. Sekitar 40% tenaga spesialis berpindah ke area dengan permintaan tinggi. Investasi untuk pelatihan tenaga medis mencapai USD 15 miliar.

Cashless dalam Layanan Kesehatan : Risiko dan Manfaat

Speaker : Guillaume Debaene – Founder TravelMed Assistance

Kesenjangan Tradisional dalam Bantuan Rawat Jalan

  • Overlook pada Layanan Rawat Jalan
    Sistem asuransi tradisional secara historis mengabaikan layanan rawat jalan, dengan fokus utama pada rawat inap dan kondisi darurat. Pendekatan ini tidak lagi relevan mengingat perubahan pola penyakit dan preferensi perawatan preventif. Rawat jalan sekarang mewakili sebagian besar interaksi layanan kesehatan, namun seringkali tidak tercover dalam polis tradisional.
  • Biaya di awal bagi wisatawan
    Wisatawan internasional seringkali dihadapkan pada biaya muka yang signifikan ketika memerlukan layanan medis di luar negeri. Dalam banyak kasus, mereka harus membayar tunai di muka dan kemudian mengajukan klaim reimbursment ke negara asal mereka. Proses ini tidak hanya membutuhkan likuiditas yang cukup, tetapi juga menimbulkan ketidakpastian bagi wisatawan
  • Beban Administratif yang Berlebihan
    Beban administratif dalam sistem tradisional sangat berat. Proses klaim memerlukan dokumentasi ekstensif, verifikasi manual, dan periode tunggu yang panjang. Beban ini tidak hanya mempengaruhi konsumen tetapi juga meningkatkan biaya operasional penyedia asuransi karena perlunya staf yang didedikasikan untuk memproses klaim.

Hambatan Operasional yang Dihadapi Penyedia Asuransi

  • ve2Tantangan Biaya Operasional
    Implementasi solusi cashless dihadapkan pada biaya operasional yang signifikan. Biaya ini menjadi hambatan utama, terutama bagi perusahaan dengan margin operasional yang ketat.
  • Tuntutan Pembayaran dari Penyedia Layanan
    Penyedia layanan kesehatan (dokter, rumah sakit, klinik) seringkali menuntut pembayaran langsung atau jaminan pembayaran sebelum memberikan layanan. Proses verifikasi yang tidak efisien dapat menyebabkan penundaan layanan atau penolakan klaim, yang merugikan semua pihak.
  • Inflasi Harga dan Ketidaktransparanan
    Salah satu hambatan terbesar adalah inflasi harga yang tidak konsisten. Penyedia layanan seringkali menaikkan harga untuk pasien asuransi dibandingkan dengan pasien cash, menciptakan distorsi pasar yang merugikan sistem. Ketidaktransparanan harga membuat sulit bagi penyedia asuransi untuk mengontrol biaya dan menawarkan produk yang kompetitif.
  • Tantangan Jaringan Global
    Membangun jaringan global yang komprehensif merupakan tantangan logistik yang kompleks. Setiap negara memiliki regulasi yang berbeda, standar praktik medis yang bervariasi, dan struktur biaya yang unik. Menstandardisasi layanan cashless lintas negara memerlukan negosiasi kontrak yang rumit dengan ribuan penyedia layanan.
  • Biaya Perbankan dan Transaksi
    Biaya perbankan internasional dan biaya transaksi mata uang asing dapat mengurangi margin keuntungan. Biaya ini seringkali ditransfer kepada konsumen akhir, membuat solusi cashless menjadi kurang menarik dari segi harga.

Keunggulan Solusi Cashless bagi Penyedia Asuransi

  • Kenyamanan Global dan Aksesibilitas
    Solusi cashless menawarkan kenyamanan tanpa batas dengan jangkauan di lebih dari 100 negara. Ini menghilangkan kekhawatiran wisatawan dan ekspatriat tentang akses layanan kesehatan di negara asing. Dengan satu kartu atau aplikasi, mereka dapat mengakses jaringan penyedia layanan yang telah diverifikasi tanpa perlu membayar di muka.
  • Penyederhanaan Proses
    Proses yang disederhanakan tanpa penundaan menjadi keunggulan kompetitif utama. Verifikasi hak pertanggungan dapat dilakukan secara real-time melalui sistem terintegrasi, Ini tidak hanya meningkatkan kepuasan pelanggan tetapi juga mengurangi beban administratif.

Manfaat Implementasi Cashless yang Tepat

  • Peningkatan Akuisisi Pelanggan
    Implementasi solusi cashless yang efektif secara langsung berdampak pada akuisisi pelanggan yang lebih baik. 67% pelanggan memilih untuk pembayaran cashless. Konsumen modern lebih cenderung memilih penyedia asuransi yang menawarkan kemudahan akses dan proses tanpa ribet.
  • Peningkatan Retensi Pelanggan
    18% pelanggan akan menjadi pelanggan tetap dan akan merekomendasikan kepada pelanggan lainnya
  • Kontrol Biaya yang Lebih Baik
    Sistem cashless memungkinkan kontrol biaya yang lebih efektif. Tercatat lebih banyak kasus dapat diselesaikan oleh Dokter umum ($20-200) dibandingkan harus ke emergency departement ($ 1.000+) dengan cost yang lebih terkontrol.

Pengurangan Waktu Reimbursement

Waktu reimbursement yang lebih pendek tidak hanya menguntungkan pelanggan tetapi juga meningkatkan arus kas bagi penyedia layanan. Sehingga klinik atau rumah sakit dapat lebih focus dalam melakukan pelayanan

Solusi dan Opsi Strategis untuk Penyedia Asuransi

  • Kolaborasi dengan Perusahaan Assistance Lokal
  • Delegation : focus on high value decisions

Pemanfaatan AI untuk Manajemen Kasus

  • AI Chat untuk Pra-otorisasi dan Verifikasi
  • Komunikasi Proaktif dengan Anggota
  • Rekomendasi Provider Kesehatan

Dokumentasi meeting one-on-one dengan beberapa medical assistance

ve3

Bersama para Delegasi Asia (Manila – Seoul – Thailand – Indonesia)

ve4