Reportase Konferensi HMA Vietnam 2025

hma 25

Tahun 2025 ini, acara Hospital Management Asia (HMA) kembali fokus pada prinsip-prinsip inti manajemen rumah sakit, yaitu: Kualitas dan keselamatan layanan; Pengalaman pasien; dan Kepemimpinan yang efektif. Teknologi digital telah menjadi sorotan utama di HMA 2024 di Bali, dan HMA Vietnam 2025 ini memperdalam konteks bagaimana teknologi dapat meningkatkan area-area inti tersebut.

Berdasarkan hal tersebut maka sesi pararel HMA 2025 dibagi menjadi 3 bagian dan beberapa sub-bagian sebagai berikut:

A. Quality and Safety

  1. Early Detection & Clinical Decision-Making
  2. Transforming Care Delivery
  3. Preventing Hospital-Acquired Infection (HAI)
  4. Addressing Safety Risks & Concerns
  5. Turning Data into Operations

B. Patient and Staff Experience

  1. Efficiency, Advocacy & Partnership (patient)
  2. Putting Patients First (patient)
  3. PREMS, PROMS, Solutions & Results (patient)
  4. Engagement & Collaboration (staff)
  5. Staff Safety & Wellbeing (staf)
  6. Streamlining Workflow with Connected Patient Care

C. Leadership Summit

  1. Healthcare Cost VS Quality
  2. Value-Based Care
  3. Succession Planning & Emerging Leaders
  4. Hospital @ Home
  5. Medical Tourism
  6. Risk Management & ESG

Reportase ini berfokus kepada sesi Patient Experience and Staf Experience dengan mengambil intisari konsep dan penerapan dari para pembicara multi nasional.

btn hma1

btn hma1

btn hma1

 

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesediaan Orang Tua Anak yang Dirawat di Rumah Sakit untuk Terlibat dalam Keselamatan Pasien: Sebuah Studi Potong Lintang

Setiap tanggal 17 September diperingati sebagai Hari Keselamatan Pasien Sedunia atau World Patient Safety Day. Tahun ini, peringatan difokuskan pada upaya memastikan perawatan yang aman bagi bayi baru lahir dan anak-anak, kelompok yang paling rentan terhadap risiko kesehatan. Tema yang diangkat WHO pada 2025 adalah “Safe care for every newborn and every child” atau “Perawatan aman bagi setiap bayi baru lahir dan setiap anak”. Slogannya, “Patient safety from the start!”, menekankan pentingnya mencegah risiko sejak anak dilahirkan hingga usia 9 tahun.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Kim dan Chang (2025) meneliti faktor-faktor yang memengaruhi kesediaan orang tua anak yang pernah dirawat di rumah sakit untuk berpartisipasi dalam keselamatan pasien. Dengan studi cross-sectional di Korea, melibatkan 210 orang tua yang anaknya berusia 3-18 tahun dan dirawat di rumah sakit dalam satu tahun terakhir. Responden disurvei menggunakan kuesioner tertutup yang mengukur beberapa variabel: pengetahuan keselamatan pasien (patient safety knowledge), literasi keselamatan pasien (patient safety literacy), pengalaman rawat inap anak (children’s hospitalization experience), serta keinginan orang tua untuk ikut andil dalam keselamatan pasien. Analisis data mencakup statistik deskriptif, korelasi, hingga regresi hierarkis.

Hasil menunjukkan bahwa rata-rata skor keinginan untuk terlibat dalam keselamatan pasien adalah 62,96 dari skala 19-76, menandakan tingkat yang relatif moderat. Rata-rata skor pengetahuan keselamatan pasien adalah sekitar 34,89 dari 50 sedangkan literasi keselamatan pasien sekitar 3,01 dari 4. Variabel pengalaman rawat inap anak, khususnya komunikasi antara petugas dengan orang tua & anak, perhatian terhadap keselamatan dan kenyamanan selama rawat inap, dan lingkungan rumah sakit juga diukur.

Analisis korelasi memperlihatkan bahwa ada korelasi positif kuat antara keinginan orang tua untuk berpartisipasi dengan pengetahuan keselamatan pasien (r = 0,36, p < 0,001), literasi keselamatan pasien (r = 0,24, p < 0,001), komunikasi dengan orang tua (r = 0,27, p < 0,001), komunikasi dengan anak (r = 0,14, p = 0,035), serta perhatian terhadap keselamatan dan kenyamanan anak ketika dirawat (r = 0,25, p < 0,001). Namun korelasi tidak signifikan ditemukan antara keinginan partisipasi dan variabel seperti penilaian keseluruhan rumah sakit (global rating) serta lingkungan rumah sakit dalam beberapa aspek.

Dalam analisis regresi hierarkis, beberapa faktor muncul sebagai prediktor yang signifikan terhadap keinginan orang tua untuk ikut memastikan keselamatan pasien anaknya. Faktor-faktor tersebut antara lain: kelahiran anak yang dirawat (anak sulung lebih cenderung membuat orang tua berpartisipasi dibanding anak ketiga), pengetahuan keselamatan pasien yang lebih tinggi, komunikasi dengan anak selama rawat inap (uniknya, semakin besar komunikasi dengan anak justru berkorelasi negatif terhadap keinginan orang tua), dan perhatian terhadap keselamatan & kenyamanan selama rawat inap.

Penelitian juga menemukan bahwa beberapa karakteristik demografis seperti usia orang tua, jenis kelamin, dan usia anak secara keseluruhan kurang berpengaruh setelah variabel-variabel lain diperhitungkan, meskipun pada analisis awal terlihat bahwa orang tua yang berusia muda (19-39 tahun) dan laki-laki memiliki skor keinginan yang lebih tinggi dibanding kelompok lainnya. Tetapi setelah memasukkan faktor-pengetahuan dan pengalaman rawat inap, pengaruh usia dan jenis kelamin menjadi tidak signifikan.

Dalam diskusi, para penulis menyoroti bahwa keinginan partisipasi orang tua dalam keselamatan pasien anak tidak hanya dipengaruhi oleh atribut demografis, tetapi lebih oleh pengalaman konkret selama rawat inap dan pemahaman mereka terhadap keselamatan pasien. Mereka mencatat bahwa perhatian terhadap detail-detail seperti verifikasi identitas pasien, penanganan nyeri, kenyamanan, serta interaksi komunikasi yang baik antara staf medis dengan pasien anak dan orang tua dapat meningkatkan kesediaan orang tua untuk aktif.

Sebagai kesimpulan, penelitian ini menegaskan perlunya pengembangan program edukasi keselamatan pasien yang ditujukan kepada orang tua anak-anak yang dirawat di rumah sakit, dengan memperhatikan faktor-faktor seperti siapa anak yang dirawat (apakah anak sulung atau bukan), bagaimana rumah sakit memastikan kenyamanan & keamanan, serta bagaimana komunikasi dijalankan — termasuk komunikasi dengan anak. Institusi kesehatan dan pembuat kebijakan disarankan untuk merancang intervensi dan kampanye agar partisipasi orang tua dalam keselamatan pasien anak menjadi lebih aktif dan efektif.

Lebih lanjut dapat dilihat pada link berikut: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39802345/ 

 

Hari Palang Merah Indonesia

Hari Palang Merah Indonesia (PMI) yang diperingati setiap 17 September merupakan peringatan untuk menghargai dedikasi para relawan dalam terbentuknya organisasi PMI. Palang Merah Indonesia (PMI) adalah organisasi kemanusiaan nasional yang berdiri pada 17 September 1945 di bawah kepemimpinan Drs. Mohammad Hatta. PMI bekerja dengan prinsip kemanusiaan, kesetaraan, netralitas, kemandirian, kesukarelaan, kesatuan, dan kesemestaan. PMI juga menjadi bagian dari Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah. Sejak awal berdiri, PMI memiliki peran aktif dalam memberikan bantuan bagi korban pasca perang di Indonesia. Saat ini, PMI terus hadir dalam layanan kemanusiaan mulai dari penanggulangan bencana, layanan kesehatan, dan transfusi darah. Melalui jaringan yang tersebar di seluruh Indonesia, PMI juga mendorong partisipasi masyarakat melalui kegiatan donor darah dan pelatihan relawan kesehatan. Kegiatan ini tidak hanya berperan untuk menyelamatkan nyawa tetapi juga menumbuhkan solidaritas kemanusiaan.

Hari PMI sejatinya juga dapat menjadi pengingat bahwa setiap orang dapat berkontribusi dalam aksi kemanusiaan. Misalnya bagi tenaga kesehatan, Hari PMI dapat menjadi pengingat untuk terus memberikan edukasi kepada masyarakat tentang manfaat donor darah serta membangun kepercayaan melalui pelayanan yang ramah dan profesional. Sementara itu bagi masyarakat umum, peringatan ini adalah ajakan untuk terus berpartisipasi aktif dalam aksi kemanusiaan sederhana yang berdampak besar bagi sesama. Mari, rayakan Hari PMI dengan ikut terlibat, mendukung, dan menyebarkan semangat kemanusiaan!

Selengkapnya: https://www.pmi.or.id/ 

 

Kemenkes Dorong Rumah Sakit Ramah Disabilitas, Pelaporan Wajib melalui RS Online

Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes, Sunarto, menekankan pentingnya kesetaraan akses layanan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Rumah sakit harus mampu melayani semua generasi dan kondisi, termasuk penyandang disabilitas.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menegaskan komitmennya menghadirkan layanan kesehatan yang inklusif bagi penyandang disabilitas.

Continue reading

Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional

Setiap tanggal 12 September, Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional diperingati untuk meningkatkan kepedulian masyarakat Indonesia terhadap pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Momentum ini juga menjadi sarana untuk meningkatkan kesadaran, membangun kebiasaan hidup sehat, dan mendukung program kesehatan gigi di masyarakat. Penting dipahami bahwa menjaga kesehatan gigi dan mulut tidak hanya berkaitan dengan penampilan tetapi juga kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Masalah seperti gigi berlubang, radang gusi, dan penyakit periodontal (peradangan atau infeksi gusi dan tulang penyangga gigi) dapat memengaruhi kualitas hidup. Contoh pengaruh masalah gigi dan mulut terhadap kualitas hidup adalah timbulnya nyeri berulang yang dapat mengganggu tidur hingga konsentrasi terhadap aktivitas tertentu. Selain itu, penyakit periodontal yang parah dapat menimbulkan bekurangnya kekokohan gigi sehingga menjadi goyang kemudian tanggal. Kondisi ini menimbulkan kesulitan mengunyah sehingga memengaruhi asupan gizi serta kesehatan tubuh secara umum.

Masalah gigi dan mulut sejatinya dapat dihindari dengan memulai langkah sederhana seperti menggosok gigi dua kali sehari dengan pasta gigi berfluoride, mengurangi konsumsi gula, rutin memeriksakan gigi setiap enam bulan sekali, serta menjaga pola makan sehat dan kebutuhan cairan tubuh. Langkah ini cukup mudah dilakukan dan harus dipertahankan dengan konsisten. Oleh karena itu, mari kita senantiasa menjaga kesehatan gigi dan mulut untuk mewujudkan hidup sehat dan produktif!

Selengkapnya: https://ayosehat.kemkes.go.id/

 

Disparitas dalam Akses Layanan Kesehatan Hepatitis B di Populasi Miskin yang Termarginalisasi

Pekan Peduli Hepatitis B berlangsung mulai tanggal 4 hingga 12 September 2025. Kegiatan ini bertujuan untuk mendukung upaya pencegahan dan penanganan Hepatitis B, yang menjadi salah satu penyakit menular serius di Indonesia. Tema tahun 2025 “Hepatitis: Let’s Break It Down” mengajak tindakan segera untuk menghilangkan hambatan finansial, sosial, dan sistemik guna memberantas hepatitis. Dalam praktiknya, masyarakat miskin dan marjinal menghadapi tantangan besar dalam mengakses layanan kesehatan hepatitis B, mulai dari skrining, vaksinasi, pengobatan hingga tindak lanjut klinis, yang menyebabkan kesenjangan sehat yang signifikan di banyak negara.

Penelitian yang dilakukan oleh LI et al. (2024) membahas kesenjangan akses layanan hepatitis B di kalangan masyarakat miskin dan marjinal, seperti migran tidak resmi, tunawisma, pekerja seks, serta kelompok dengan status sosial ekonomi rendah. Studi ini merupakan tinjauan sistematis metode campuran (mixed-method) dari 21 penelitian yang melibatkan lebih dari 13 ribu orang. Hasilnya menunjukkan cakupan vaksinasi hepatitis B minimal satu dosis hanya sekitar 37%, sedangkan angka skrining, pengobatan, dan keterhubungan dengan layanan perawatan (linkage-to-care) bahkan lebih rendah, yakni di bawah 30%. Hal ini menegaskan bahwa kelompok paling rentan justru masih jauh tertinggal dalam upaya pencegahan dan penanganan hepatitis B.

Analisis mendalam mengidentifikasi 51 faktor yang memengaruhi akses layanan, yang dikategorikan dalam beberapa domain: biologis, lingkungan fisik, perilaku, sosial-budaya, dan sistem layanan kesehatan. Faktor biologis mencakup riwayat penyakit menular lain seperti HIV atau sifilis yang mendorong individu untuk lebih waspada sehingga cenderung mencari vaksinasi atau pengobatan. Sementara itu, faktor lingkungan fisik antara lain mobilitas kerja musiman, kondisi tempat tinggal yang tidak menetap, serta keterbatasan fasilitas kesehatan di daerah terpencil yang menghambat kesinambungan layanan.

Dalam domain perilaku, pengalaman pribadi dengan skrining penyakit menular sebelumnya serta keyakinan akan risiko terinfeksi terbukti meningkatkan motivasi untuk mengakses layanan hepatitis B. Sebaliknya, strategi koping negatif seperti sikap tidak percaya pada sistem kesehatan atau keyakinan bahwa kondisi tanpa gejala tidak memerlukan perawatan justru menghambat penyelesaian vaksinasi maupun pengobatan. Persepsi yang keliru, seperti anggapan penggunaan kondom sudah cukup melindungi, juga memperlemah partisipasi dalam layanan.

Faktor sosial-budaya memainkan peran besar dalam memperparah hambatan. Status imigrasi, riwayat pemenjaraan, stigma terhadap hepatitis B, diskriminasi, dan rendahnya tingkat pendidikan menjadi kendala utama. Populasi dengan status hukum tidak jelas sering takut mengakses layanan karena khawatir dilaporkan ke otoritas, sementara stigma dari masyarakat bahkan tenaga kesehatan membuat penderita enggan menjalani skrining atau terapi. Ketidaksetaraan gender pun berperan, misalnya perempuan pekerja seks dengan pengalaman kerja singkat cenderung menyelesaikan vaksinasi lebih rendah dibandingkan yang lebih lama bekerja.

Pada level sistem kesehatan, tantangan yang ditemukan antara lain rendahnya literasi tentang hepatitis B, biaya langsung maupun tidak langsung, kurangnya layanan yang ramah bagi kelompok marjinal, jadwal layanan yang kaku, serta minimnya rekomendasi aktif dari tenaga medis. Hambatan biaya seringkali membuat pasien tidak mampu melanjutkan pengobatan, sementara keterbatasan pengetahuan menyebabkan banyak orang tidak menyadari pentingnya vaksinasi atau lokasi layanan yang tersedia.

Sebagai kesimpulan, studi ini menekankan bahwa kesenjangan layanan hepatitis B bagi populasi miskin dan marjinal masih sangat besar, padahal mereka merupakan kelompok berisiko tinggi. Untuk menutup jurang ini, diperlukan intervensi terintegrasi seperti penyediaan layanan mobile di komunitas, penyuluhan yang sesuai konteks budaya, penghapusan hambatan biaya, serta kebijakan berbasis hak asasi agar status hukum maupun kondisi sosial tidak menjadi penghalang. Upaya semacam ini tidak hanya akan meningkatkan cakupan skrining dan vaksinasi, tetapi juga memperkuat retensi dalam pengobatan hepatitis B di kelompok yang paling membutuhkan.

sumber: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/40709345/

 

Bijak Gunakan AI untuk Akses Informasi Kesehatan

Penggunaan teknologi Artificial Intelligence (AI) seperti Chat GPT dan chatbot AI semakin diminati, terutama dalam pencarian informasi kesehatan. Tren ini menunjukkan kemudahan masyarakat dalam mendapatkan informasi secara cepat terkait berbagai pertanyaan umum tentang kesehatan.

Continue reading

Peluang dan Tantangan Chat GPT dalam Layanan Kesehatan

Kecerdasan buatan kini semakin dekat dan banyak digunakan dalam dunia medis. Penerapan kecerdasan buatan yang telah masif digunakan salah satunya melalui Chat GPT, sebuah platform dari OpenAI yang mampu menghasilkan jawaban menyerupai manusia. Studi terbaru oleh Javaid, Haleem, dan Singh (2023) menegaskan bahwa teknologi Chat GPT menawarkan peluang besar dalam perkembangan transformasi layanan kesehatan. Chat GPT dapat dimanfaatkan mulai dari edukasi pasien, pendukung keputusan klinis, dan otomatisasi administrasi yang selama ini menyita banyak waktu tenaga medis. Chat GPT juga dapat membantu pasien memahami penyakit, obat, atau prosedur medis melalui penjelasan sederhana. Apabila dilihat dari sisi keselamatan, sistem ChatGPT mampu menurunkan risiko kesalahan medis karena dapat menyediakan informasi berbasis bukti dengan cepat.

ChatGPT dapat berperan sebagai jembatan akses layanan dan sumber informasi medis awal sehingga berpotensi memperkecil kesenjangan pelayanan kesehatan. Dalam praktek praktisi kesehatan, dokter dapat menggunakan Chat GPT untuk membantu menyusun laporan medis, meringkas rekam medis, dan melakukan transkripsi dengan cepat dan akurat. Teknologi ini secara lebih lanjut dapat mendukung penelitian klinis dengan menganalisis data uji coba maupun literatur medis secara efisien. Chat GPT juga berpotensi menjadi asisten digital dokter untuk mengingatkan jadwal kontrol, menyusun rencana diet untuk pasien diabetes, atau memberikan rekomendasi awal berdasarkan riwayat medis. Selain manfaat tersebut, Chat GPT dapat mengurangi beban kerja administratif kesehatan. Melalui Chat GPT, beban kerja administratif dapat dikurangi sehingga tenaga medis memiliki lebih banyak waktu untuk berinteraksi langsung dengan pasien.

Meskipun memiliki banyak manfaat dalam mempermudah akses dan sumber informasi kesehatan, penelitian ini menegaskan bahwa ChatGPT memiliki keterbatasan. Chat GPT dapat menghasilkan informasi yang keliru atau bias jika data medisnya tidak diperbarui. Isu privasi dan etika medis juga perlu diwaspadai karena data pasien sangat sensitif. Selain itu, Chat GPT tidak bisa menggantikan tenaga medis. Keputusan klinis tetap membutuhkan penilaian, empati, serta pertimbangan etis yang hanya bisa dilakukan oleh manusia.

Penting digarisbawahi bahwa implikasi Chat GPT bagi praktisi kesehatan adalah memanfaatkan penggunaannya sebagai alat bantu bukan pengganti. Penggunaannya perlu dilengkapi dengan regulasi, standar etik, dan pembaruan data medis yang berkelanjutan. Jika dikelola dengan tepat, Chat GPT dapat menjadi mitra strategis dalam meningkatkan mutu layanan, memperluas akses, serta mendorong inovasi di dunia kesehatan

Dirangkum oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya:

https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2772485923000224?via%3Dihub 

 

Bimbingan Teknis (Bimtek) Online Strategi Kesiapan Rumah Sakit dalam Pemenuhan Program PMKP (Peningkatan Mutu Keselamatan Pasien) dan Manajemen Risiko sesuai Standar Akreditasi Rumah Sakit

Latar Belakang

Peningkatan mutu pelayanan kesehatan merupakan suatu pendekatan sistematis dan berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan kepada pasien. Intisari dari berbagai macam upaya peningkatan mutu dan keselamatan pasien adalah untuk menggerakkan kepemimpinan menuju perubahan budaya organisasi; proaktif mengidentifikasi dan menurunkan risiko dan penyimpangan; fokus pada isu prioritas berdasarkan data; dan mencari cara perbaikan yang bersifat langgeng (JCI, 2012).

Berdasarkan hal tersebut maka upaya peningkatan mutu, keselamatan pasien (PMKP) dan manajemen risiko di rumah sakit harus dilakukan secara komprehensif, yang secara umum meliputi pengelolaan kegiatan peningkatan mutu, keselamatan pasien, dan manajemen risiko, pemilihan dan pengumpulan data indikator mutu, analisis dan validasi data indikator mutu, pencapaian dan upaya mempertahankan perbaikan mutu, sistem pelaporan dan pembelajaran keselamatan pasien rumah sakit, dan penetapan manajemen risiko (Kemkes, 2024)

Dalam rangka mendukung upaya peningkatan mutu pelayanan dan keselamatan pasien di fasilitas pelayanan kesehatan, diperlukan pemahaman yang komprehensif mengenai penyusunan program, pelaksanaan, serta evaluasi kegiatan Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP), termasuk pengelolaan manajemen risiko secara sistematis.

Kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Online ini dapat menjadi wadah pembelajaran dan penguatan kapasitas bagi tenaga kesehatan, manajemen rumah sakit, dan pemangku kepentingan lainnya. Kegiatan ini bertujuan memberikan panduan praktis dan strategis dalam merancang serta melaksanakan program PMKP, sekaligus mengidentifikasi, menganalisis, dan mengelola risiko yang dapat berdampak pada mutu pelayanan dan keselamatan pasien.

Tujuan

Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan strategi pimpinan dan pengelola rumah sakit dalam menyusun, menerapkan dan mengevaluasi program peningkatan mutu dan keselamatan pasien (PMKP) dan manajemen risiko

Peserta

Pelatihan ini secara umum perlu diikuti oleh pimpinan, manajer, staf RS, ketua dan anggota Tim PMKP, serta staf RS yang terkait dengan pengumpulan, validasi, pengolahan dan analisa data program peningkatan mutu, keselamatan pasien dan manajemen risiko

Materi

Pelatihan ini terdiri dari pokok-pokok materi, diantaranya:

  1. Pengelolaan kegiatan PMKP dan manajemen risiko
  2. Pemilihan dan pengumpulan data indikator mutu
  3. Analisis dan validasi data indikator mutu
  4. Mencapai dan mempertahankan perbaikan mutu
  5. Sistem pelaporan dan pembelajaran keselamatan pasien RS
  6. Penerapan manajemen risiko
Narasumber / Fasilitator

Dr. Hanevi Djasri, dr, MARS, FISQua

  • Lulus FK-UI 1994, lulus MARS-UI 1997, lulus program Doktor IKM-UGM 2019
  • Fellow of International Society for Quality in Healthcare (ISQua)
  • Berpengalaman mengelola grup RS swasta (1.000 TT) di Jakarta 1997-2003
  • Konsultan Pusat Kebijakan & Manajemen Kesehatan (PKMPK) FK-UGM sejak 2003
  • Dosen Magister Manajemen Rumah Sakit (MMR) UGM sejak 2003
  • Koodinator Indonesian Healthcare Quality Network (IHQN) sejak 2005
  • Pengurus Pusat PERSI dari 2009-sekarang, Pengurus Pusat Arsada dari 2016-sekarang
  • Pengurus Pusat Persatuan Dokter Manajemen Medik (PDMMI)-IDI dari 2009-sekarang
  • Anggota KNKP sejak 2020- sekarang
Persiapan Peserta
  1. Menyediakan data kinerja mutu RS atau bagian/bidang/unit masing-masing selama
    periode tahun 2025
  2. Menyediakan 1 (satu) SPO/SOP medis atau SPO/SOP manajemen
  3. Menyediakan 1 (satu) deskripsi kasus sentinel atau KTD/KNC yang pernah terjadi
  4. Menyediakan 1 (satu) contoh laporan perbaikan mutu seperti laporan GKM, PDCA,
    Kaizen, dsb
Waktu & tempat

Kegiatan ini akan dilaksanakan pada:

Hari/Tanggal : Selasa-Rabu, 28-29 April 2026
Waktu : 09.00–12.00 WIB
Tempat : Online melalui zoom meeting

Agenda Kegiatan
Waktu Kegiatan Narasumber/Fasilitator
Hari ke-1 
09.00 – 09.15 Pembukaan: Pengantar kegiatan, perkenalan, pembacaan tata tertib kegiatan, pre-test, dan mengunduh materi pelatihan Andriani Yulianti, MPH
09.15- 09.30 Sesi 1 : Konsep Penyusunan, Penerapan, dan Evaluasi Program Peningkatan Mutu Keselamatan Pasien & Manajemen Risiko Dr. Hanevi Djasri, dr, MARS, FISQua

09:30-10:30

Sesi 2: Pengelolaan Kegiatan Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien

  1. Pembentukan Komite/Tim Mutu RS
  2. Penyusunan Program Pelatihan PMKP
Dr. Hanevi Djasri, dr, MARS, FISQua
10.30-11.30 Sesi 3: Pemilihan dan Pengumpulan data Indikator

  1. Pemilihan indikator mutu prioritas baik di tingkat rumah sakit maupun tingkat unit layanan.
  2. Pengumpulan data indikator nasional mutu, indikator mutu prioritas RS, indikator mutu prioritas unit.
  3. Membuat profil Indikator
Dr. Hanevi Djasri, dr, MARS, FISQua
11.30-12.00 Sesi 4: Analisis dan validasi data indikator mutu

  1. Agregasi dan Analisa data menggunakan metode dan teknik statistik terhadap semua indikator mutu
  2. Pembelajaran dari database eksternal untuk tujuan perbandingan internal
  3. Analisa efisiensi berdasarkan biaya dan jenis sumber daya yang digunakan (kendali mutu dan kendali biaya) terhadap satu proyek prioritas perbaikan yang dipilih setiap tahun.
  4. Validasi data berbasis bukti

Andriani Yulianti, MPH

Tri Yatmi, MNSc

Hari ke-2 
09.00– 10.00 Sesi 5: Pencapaian dan upaya Mempertahankan Perbaikan mutu

  1. Menyusun Dokumentasi/Laporan dengan Model PDCA/PDSA
Andriani Yulianti, MPH
10.00– 11.00 Sesi 6: Sistem pelaporan dan pembelajaran keselamatan pasien RS

  1. Sistem Pelaporan dan Pembelajaran Keselamatan Pasien Rumah Sakit (SP2KP RS) dan Analisa RCA untuk Sentinel, KTD, KNC, KTC, KPCS.
  2. Pengukuran Budaya Keselamatan Pasien
Dr. Hanevi Djasri, dr, MARS, FISQua
11.00-11.45 Sesi 7: Penerapan Manajemen Risiko

  1. Prinsip Manajemen Risiko
  2. Program Manajemen Risiko Rumah Sakit
  3. Menyusun Risk Registry
  4. Profil risiko dan rencana penanganan
  5. Menyusun FMEA
Dr. Hanevi Djasri, dr, MARS, FISQua
11.45–12.00 Penutup: diskusi akhir, penyusunan rencana tindak lanjut, post-test, pengisian lembar reaksi, foto bersama Andriani Yulianti, MPH

link pendaftaran

Informasi & Pendaftaran:

PJ Konten: Andriani Yulianti, MPH (081328003119)