Infeksi akibat bakteri yang menempel alat medis seperti kateter, ventilator, atau selang drainase merupakan tantangan serius di rumah sakit. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran besar di lingkungan rumah sakit karena bakteri tersebut faktanya dapat bertahan lama pada permukaan alat medis sehingga menimbulkan infeksi berulang, mempersulit proses sterilisasi dan terapi antibiotik, hingga meningkatkan risiko komplikasi penyakit. Penelitian yang dilakukan oleh Veronica Folliero et al (2021) menyoroti hubungan antara pembentukan biofilm dan resistensi antibiotik pada infeksi dari alat medis yang disebut dengan Device-Related Infections (DRIs). Hasil penelitian menegaskan bahwa biofilm (lapisan pelindung yang dihasilkan oleh koloni bakteri di permukaan alat medis) mampu melindungi mikroba dari paparan antibiotik dan memfasilitasi pertukaran gen resistensi antar bakteri.
Penelitian melibatkan 76 alat medis yang dikumpulkan dari rumah sakit universitas di Italia selama periode Oktober 2019 hingga September 2020, meliputi kateter vena sentral, kateter urin, dan selang drainase. Berdasarkan pengamatan, ditemukan 94 isolat mikroorganisme yang terdiri dari 42,7% bakteri Gram positif, 40,3% Gram negatif, dan 17% jamur Candida. Bakteri yang paling sering ditemukan meliputi Staphylococcus epidermidis, Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella pneumoniae, dan Escherichia coli. Semua bakteri tersebut dikenal mampu membentuk biofilm kuat. Menariknya, penelitian ini menemukan bahwa 56,4% dari semua isolat bakteri mampu membentuk biofilm yang sebagian besar tergolong multidrug resistant (MDR) atau kebal terhadap antibiotik. Selain itu, penelitian ini juga menemukan hubungan yang sangat kuat antara kemampuan membentuk biofilm dan resistensi antibiotik. Beberapa jenis bakteri seperti Acinetobacter baumannii, Proteus mirabilis, dan Klebsiella pneumoniae menunjukkan kapasitas pembentukan biofilm paling tinggi.
Temuan ini memberikan pesan penting bagi praktisi kesehatan dan manajemen rumah sakit. Biofilm tidak hanya menjadi masalah mikrobiologis tetapi juga persoalan manajemen klinis yang berdampak langsung pada keselamatan pasien. Dalam mengatasi masalah tersebut, rumah sakit disarankan perlu memperkuat penerapan kontrol infeksi, mengganti alat medis secara berkala, dan melakukan uji mikrobiologi rutin untuk mengenali pola resistansi yang berkembang di fasilitas masing-masing. Selain itu, penerapan program penggunaan antibiotik rasional (antibiotic stewardship) dan pengembangan inovasi pelapisan antimikroba pada alat medis perlu menjadi prioritas. Secara lebih lanjut, pengambilan kebijakan dalam meningkatkan kualitas layanan dan keselamatan pasien di rumah sakit terkait kontrol infeksi dan kebersihan alat medis dapat dipertimbangkan.
Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH (Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)
Selengkapnya: https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1155/2021/9033278
One in six laboratory-confirmed bacterial infections causing common infections in people worldwide in 2023 were resistant to antibiotic treatments, according to a new World Health Organization (WHO) report launched today. Between 2018 and 2023, antibiotic resistance rose in over 40% of the pathogen-antibiotic combinations monitored, with an average annual increase of 5–15%.
More than 120 people have fallen ill in Russia’s Siberian republic of Buryatia following a mass food poisoning outbreak linked to ready-made meals sold in a regional supermarket chain, local health officials told media.
The Indonesian government has suspended 112 nutrition fulfillment service units (SPPGs), or kitchens for the Free Nutritious Meals (MBG) program, for failing to meet safety standards set by the National Nutrition Agency (BGN).
Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, Ph.D. (PKMK FK-KMK UGM) membuka sesi dengan membuka diskusi terhadap praktik bedah. Beliau menyoroti bahwa variasi lama rawat Inap (LOS) yang lebar dalam prosedur seperti operasi kolon menunjukkan ruang perbaikan yang besar di Indonesia.
Eva Reinander dan dr. Winner, MARS, MMedSc.,MSc (Encare, ERAS® Society) menegaskan bahwa prinsip utama ERAS adalah menjadikan kualitas berbasis praktik terbaik (evidence-based best practice) sebagai motor efisiensi. ERAS merupakan langkah niat untuk membuat efisiensi dengan mengurangi tradisi yang tidak lagi menguntungkan pasien. Eva menjelaskan bahwa untuk mencapai efisiensi dan cost saving yang tinggi seperti yang telah terbukti di Amerika Selatan, Korea Selatan, dan Australia diperlukan sistem audit yang ketat (seperti EIAS) untuk memastikan kepatuhan yang konsisten. Kehadiran teknologi audit inilah yang mengatasi tantangan terbesar dalam implementasi: compliance decay atau penurunan kepatuhan seiring waktu.
Dr. dr. Birowo, SpAn(K) (Departemen Anestesiologi) membahas implementasi ERAS sebagai tantangan untuk mengubah budaya dan doktrin tradisional dalam pelayanan bedah. Beliau menjelaskan bahwa ERAS adalah usaha untuk memodifikasi respons stres fisiologis dan psikologis terhadap operasi besar melalui pendekatan multimodal. Protokol Anestesi ERAS yaitu:
Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQUA (Spesialis Mutu Pelayanan) menyoroti pentingnya ERAS dari sudut pandang mutu dan kebijakan. Terkait mutu dan biaya, Dr. Hanevi menekankan bahwa mutu yang baik tidak selalu harus mahal. ERAS membuktikan bahwa kualitas didasarkan pada praktik terbaik (best practice) yang terbukti ilmiah, yang secara otomatis membawa efisiensi. Kemudian soal tantangan kepatuhan terdapat hambatan terbesar dalam implementasi ERAS di Indonesia adalah budaya organisasi dan masalah kepatuhan yang tidak konsisten (compliance decay). Terakhir, kaitannya dengan strategi penguatan mutu, dalam rangka mengatasi hambatan budaya dan memastikan keberlanjutan mutu, manajemen harus menggunakan data audit yang transparan (misalnya dari sistem EIAS) sebagai alat umpan balik untuk membangun akuntabilitas dan kolaborasi lintas disiplin. ERAS adalah inisiatif yang sangat sejalan dengan tuntutan JKN menuju pelayanan kesehatan berbasis nilai (value-based healthcare).
Dr. dr. Darwito, SpB Onk (K) (Direktur RSA UGM) memaparkan bagaimana manajemen menerjemahkan ERAS sebagai alat untuk efisiensi dan kualitas:
The world is smoking less, but the tobacco epidemic is far from over. A new WHO global report shows the number of tobacco users has dropped from 1.38 billion in 2000 to 1.2 billion in 2024. Since 2010, the number of people using tobacco has dropped by 120 million – a 27% drop in relative terms. Yet, tobacco still hooks one in five adults worldwide, fuelling millions of preventable deaths every year.
Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap, sebanyak 6.457 orang terdampak keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) per 30 September 2025. BGN membagi 6.457 korban keracunan MBG itu ke dalam tiga wilayah, yakni Wilayah I yang mencakup Pulau Sumatera, Wilayah II di Pulau Jawa, dan Wilayah III mencakup wilayah Indonesia timur.