Mutu Hidup Penderita Kanker pada Anak

Mutu hidup penderita kanker pada anak perlu dinilai. Hal ini dilakukan untuk memantau kesinambungan hidup sehingga dapat menentukan intervensi. Penilaian dapat dilakukan melalui instrumen PedsQL 3.0 Cancer Module. Ada delapan sub skala penilaian dalam PedsQL 3.0 Cancer Module, yaitu nyeri dan sakit, mual, kecemasan prosedural, kecemasan pengobatan, khawatir, masalah kognitif, penampilan fisik yang dirasakan, serta komunikasi.

PedsQL 3.0 Cancer Module terbukti sebagai instrumen yang obyektif untuk menilai kualitas hidup anak penderita kanker dan keluarganya. Berikut beberapa hasil penelitian tentang penggunaan PedsQL 3.0 Cancer Module dalam menilai kualitas hidup penderita kanker pada anak:

  1. Sitaresmi (2008) bahwa anak-anak penderita kanker yang usianya lebih muda memiliki angka penilaian kualitas hidup yang lebih rendah dalam sub-skala kecemasan prosedural, kecemasan pengobatan, subskala komunikasi. Penelitian ini terbantahkan oleh Yaris (2001) bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna untuk usia pada pengukuran kualitas hidup anak penderita kanker.
  2. Ji et al (2011) bahwa anak mengalami ketakutan terhadap prosedural pengobatan yang dijalaninya sehingga mengakibatkan kualitas hidupnya menurun
  3. Sidabutar dkk (2012) bahwa anak kanker mengalami gangguan fungsi sekolah apabila dibandingkan dengan fungsi fisik, emosi, dan sosial. Anak tidak mampu berkonsentrasi sehingga tidak bisa mengerjakan tugas sekolah dan berakibat pada prestasi belajar menurun
  4. Sidabutar dkk (2012) bahwa setiap pasien kanker anak mengalami efek samping pengobatan berbeda. Bergantung pada kondisi tubuh mereka. Fungsi hidup mengalami gangguan pada fungsi fisik, emosi, sosial, psikologis, sekolah, dan kognitif. Anak memiliki keterbatasan untuk beraktivitas, bersosialisasi, mengontrol emosi, dan bersekolah.
  5. Nurhidayah I dkk (2016) bahwa anak kanker memiliki kualitas hidup buruk. Nilai terendah pada fungsi sekolah dan kekhawatiran anak dalam menghadapi pengobatan dan penyakit. Kualitas hidup yang buruk berpengaruh terhadap fungsi fisik, sosial, psikologis, emosi, sekolah, kognitif, dan tumbuh kembang.

Penyebab kanker pada anak belum diketahui secara pasti sehinggapencegahannyapun belum ada. Kemenkes telah melakukan pengendalian Kanker pada anak melalui program “pengendalian Kanker”. Ada buku pedoman penemuan dini kanker yang telah disusun bersama dengan profesi Kanker pada anak, dan telah disosialisasikan dibeberapa provinsi.

Ada enam Kanker yang diprioriaskan yaitu: leukemia, retinoblastoma, neuroblastoma, limfoma, osteosarkoma, dan karsinoma nasofaring. Penentuan prioritas ini berdasarkan atas dua kriteria, yaitu tingginya angka penyakit (prevalensi) dan kemudahan pengenalan gejala dan tanda serta diagnosis. Prioritas didasarkan pada prevalensi dan kemudahan pengenalan gejala, tanda, dan diagnosis. Pengendalian Kanker akan terus dikembangkan melalui peningkatan pengetahuan masyarkat dan kemampuan petugas kesehatan di Puskesmas dalam mengenali tanda Kanker. Harapannya, penemuan dini Kanker pada anak bisa dilaksanakan di Puskesmas

Ditulis Oleh Eva Tirtabayu Hasri S.Kep.,MPH dari berbagai sumber
Referensi: Irnawati M. (2002). Penilaian Kualitas Hidup Anak Penderita Kanker. Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUD Dr. Soetomo Universitas Airlangga
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Kendalikan Kanker pada Anak. Printed @ 30-01-2019 11:01.
Nurhidayah I. (2016). Kualitas Hidup pada Anak dengan Kanker. Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran. Volume 4 Nomor 1 April 2016.

{jcomments on}

Kualitas dalam Pelayanan Kanker: Eksplorasi dari Sisi Perspektif Pasien

Selama ini, mengukur kepuasan pasien merupakan hal yang lazim dilakukan manakala sarana pelayanan kesehatan ingin mendapatkan informasi dari pelayanan yang telah diberikan ke pasien. Perlu diketahui bahwa pandangan dari sisi pasien sama pentingnya dengan perawatan itu sendiri. Ekplorasi dari pengalaman pasien dapat mengungkapkan sisi mana yang menjadi kelemahan dari pelayanan yang kita diberikan. Tidak terkecuali untuk pelayanan pasien kanker, karena seorang pasien kanker tidak hanya menderita penyakitnya tetapi juga mengalami trauma mental, penderitaan, stres, ketidakpastian, dan kecemasan yang substansial.

Di era ini, ketika seseorang berbicara tentang inovasi dan kemajuan teknologi dalam ilmu kedokteran, dasar dari semua perkembangan yang memastikan bahwa setiap pasien mendapatkan perawatan sesuai dengan yang dibutuhkan oleh pasien. Sama pentingnya untuk menentukan apakah pasien puas atau tidak puas dengan perawatan yang diterimanya. Kepuasan pasien kanker merupakan pertimbangan penting karena sangat mempengaruhi kualitas hidup yang berkaitan dengan kesehatan fisik dan mental. Kepuasan pasien juga menunjukkan sejauh mana kebutuhan perawatan kesehatan klien terpenuhi dengan persyaratan pasien. Terlebih karena pasien membawa harapan tertentu sebelum kunjungan mereka ke rumah sakit sehingga kepuasan atau ketidakpuasan yang dihasilkan adalah hasil dari pengalaman mereka yang sebenarnya.

Mengenai perawatan kanker, berbeda dari perawatan penyakit lainnya. Lebih dari itu, karena, dalam beberapa kasus ada yang “perawatannya tidak dapat disembuhkan.” sehingga dalam memberikan layanan perawatan kesehatan kepuasan pasien tidak dapat diabaikan, seperti halnya kualitas perawatannya, bahkan penyembuhan penyakitnya. Terutama, ketika datang untuk melakukan perawatan kanker, kepuasan pasien harus diprioritaskan, karena pasien kanker tidak hanya berjuang dengan penyakitnya tetapi juga dengan penderitaan mental, trauma, kendala keuangan, ketidakpastian hidup, dan sejenisnya begitu banyak hal lainnya bahkan masalah kritis yang mempengaruhi kesejahteraan pasien kanker.

Sebuah penelitian mencoba mengeksplorasi kepuasan pasien kanker di rumah sakit khusus yang menyediakan layanan onkologi di Odisha-India, penelitian dilakukan dengan model transformasi triangulasi data cross-sectional dengan design mixed methode (Quant+Qual), data menunjukkan bahwa kepuasan umum pasien adalah 60%. Skor yang paling tinggi diperoleh untuk komunikasi dokter. Temuan kualitatif mengungkapkan bahwa perjalanan ke tempat yang jauh untuk penyakit ringan, masa tunggu, dan kurangnya layanan di fasilitas perawatan primer adalah alasan ketidakpuasan pasien.

Disadari atau tidak, bahwa ketrampilan komunikasi dokter ternyata berkontribusi pada tingkat kepuasan pasien, sehingga dapat memotivasi pasien untuk mematuhi prosedur perawatan. Masa tunggu terkait penjadwalan janji temu yang efisien dan manajemen yang baik dapat mengurangi waktu tunggu yang lebih lama. Penelitian ini menunjukkan Mayoritas responden melaporkan bahwa seorang dokter khusus ditunjuk, selama kunjungan tindak lanjut, dalam kasus ketidakhadiran dokter yang ditugaskan tidak dihadiri oleh dokter pengganti melainkan diminta untuk menunggu sampai dokter yang ditunjuk tersedia atau diminta untuk membuat janji lain. Sedangkan jarak dan lokasi sangat jauh.

Mengenai Jarak dan lokasi, menjadi faktor pendukung ketidakpuasan pasien karena mengalami kesulitan dalam perjalanan dari tempat tinggal menuju ke rumah sakit kanker. Bahkan ada yang mengalami kehilangan/pemotongan gaji di tempat kerja untuk menyelesaikan pemeriksaan lanjutan yang sudah disepakati dan biaya transportasi dan makanan yang tinggi. Kurangnya layanan di fasilitas perawatan primer juga merupakan alasan ketidakpuasan pasien, hal ini terlihat bahwa hampir semua pasien tidak mendapatkan layanan tindak lanjut di pusat perawatan primer karena dirujuk atau disarankan untuk mengunjungi rumah sakit kanker bahkan untuk penyakit ringan seperti batuk dan pilek.

Berdasarkan peneltian di atas bahwa penting untuk menilai kepuasan pasien agar dapat meningkatkan layanan kesehatan, serta dapat juga bertindak sebagai parameter untuk memahami apa yang berfungsi dan apa yang tidak. Sehingga kedepan berdasarkan hasil temuan yang ada dapat melakukan perubahan sehingga kualitas pelayanan kanker mengalami perubahan yang semakin baik dari waktu ke waktu.

Penulis: Andriani Yulianti, MPH
Referensi: Toomey et al. (2015). The Development of a Pediatric Inpatient Experience of Care Measure: Child HCAHPS. PEDIATRICS 2015:136;360, number 2. DOI: 10.1542/peds.2015-0966. http://pediatrics.aappublications.org/content/136/2/360 
Mahapatra et al. (2016). Quality of Care in Cancer: An Exploration of Patient Perspectives. J Family Med Prim Care. 2016 Apr-Jun; 5(2): 338–342. doi: 10.4103/2249-4863.192349 https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5084558/ 

{jcomments on}

Gizi Optimal Pada Anak: Cegah Stunting Sejak Dini

Tahun ini diawali dengan sajian berbagai artikel, baik berita maupun artikel ilmiah terkait dengan topik gizi pada anak. Mengapa topik gizi pada anak menjadi topik pilihan bulan ini? Karena bulan ini adalah bulan gizi, tepatnya merupakan peringatan Hari Gizi Nasional yang ‘jatuh’ pada 25 Januari.

Tahun ini peringatan Hari Gizi Nasional merupakan peringatan yang ke-59. Fokus peringatan tahun ini masih selaras dengan RPJMN, dimana pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2015-2019, salah satu prioritas pembangunan kesehatan Indonesia adalah perbaikan gizi khususnya stunting.

Stunting menjadi salah satu fokus upaya pembangunan kesehatan karena merupakan salah satu dampak gizi buruk yang diderita masyarakat (terutama anak-anak) selain dampak lainnya seperti pengaruh terhadap tingkat kecerdasan otak. Upaya optimalisasi gizi pada anak menjadi sangat penting, karena pada akhirnya, berbagai dampak gizi buruk tersebut akan berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia.

 

 

Reportase outlook 2019 kebijakan mutu pelayanan kesehatan

23janmutu

PKMK – Yogyakarta. PKMK menyelenggarakan outlook ketujuh mengenai Kebijakan Mutu Pelayanan Kesehatan pada 23 Januari 2019. Outlook kali ini dimoderatori oleh Nusky Syaukani, MPH. Sebagai pembicara dalam diskusi outlook yakni Prof. dr. Adi Utarini, MSc, MPH, PhD, dr. Hanevi Djasri, MARS FISQua dan drg. Puti Aulia Rahma, MPH, CFE.

Pemaparan pertama disampaikan oleh Prof. dr. Adi Utarini, MSc dengan memicu adrenalin peserta dengan pertanyaan, apakah peran regulasi mutu akan menguat? Apakah akreditasi tetap menjadi strategi utama dalam peningkatan mutu, apakah ke depannya akan tetap seperti itu, ataukah perlu mengembangkan strategi lainnya? Serta apakah Kebijakan dan Strategi Nasional Mutu Pelayanan Kesehatan dapat berjalan? Seperti yang kita ketahui bahwa saat ini kita masuk pada era, dimana jika regulasi tidak dipenuhi maka sanksinya dapat secara nyata dirasakan, hal ini bukan merupakan sesuatu yang dulunya dirasakan dan bahkan tidak ada ceritanya. Saat ini, sanksinya nyata bahkan hingga pemutusan kontrak kerjasama oleh lembaga pembiayaan.

Continue reading