Workshop III: Penyusunan Program Nasional Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan

Kerangka Acuan
Penyusunan Kebijakan dan Strategi Nasional Mutu Pelayanan Kesehatan Indonesia:

Workshop III: Penyusunan Program Nasional Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan

Kerja sama antara Kementerian Kesehatan RI dengan
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FKKMK UGM dan WHO Indonesia

Jakarta, 10 Oktober 2018

Laporan Workshop     Workshop Report (English)

LatarBelakang

Mutu pelayanan kesehatan telah menjadi isu nasional dan global. Peningkatan mutu secara global dalam pelayanan kesehatan memiliki sejarah panjang dimulai pada tahun 1900-an sedangkan Indonesia telah memulai perjalanannya sejak lebih dari 30 tahun yang lalu. Masalah mutu pelayanan kesehatan berlanjut menjadi strategi dalam mencapai Universal HealthCoverage (UHC) yang merupakan komponen penting dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Sebagaimana dinyatakan, SDGs memiliki target khusus untuk UHC, yaitu “Mencapai UHC, termasuk perlindungan risiko keuangan, akses ke layanan kesehatan esensial yang berkualitas dan akses ke obat-obatan dan vaksin yang aman, efektif, berkualitas, dan terjangkau untuk semua” (WHO, 2015).

Mempertimbangkan kebutuhan untuk meningkatan mutu pelayanan kesehatan dalam mencapai UHC dan SDGs, upaya peningkatan tersebut harus didukung oleh Kebijakan dan Strategi Mutu Nasional Mutu Pelayanan Kesehatan/National Quality Policy and Strategy (NQPS). WHO telah meluncurkan buku pedoman NQPS yangdapat digunakan sebagai referensi setiap negara yang ingin mengembangkan NQPS, menyesuaikan dengan situasi dan prioritas masing-masing negara. Dengan dibentuknya Direktorat Mutu dan Akreditasi Pelayanan Kesehatan di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2016 membuka sebuah kesempatan emas untuk mendokumentasikan kebijakan dan strategi mutu pelayanan di Indonesia sebagai langkah awal dalam penyusunan NQPS.

Pada tahun 2017, Kementerian Kesehatan bersama dengan PKMK FKKMK UGM serta didukung WHO Indonesia, telah mengembangkan analisis situasi untuk delapan komponenproses NQPS yang direkomendasikan oleh WHO. Analisis situasi disusun berdasarkan temuan dari berbagai dokumen terkait dan diskusi melalui kegiatan lokakarya dengan pemangku kepentingan terkait.

Pada tahun 2018ini, proses penyusunan NQPS berlanjut untuk menentukan seluruh komponen proses NQPSIndonesia (gambar 1) melalui konsensus dan diskusi yang lebih luas dengan pemangku kepentingan dan pembuat kebijakan, sampai dengan penyusunan dokumen final NQPS Indonesia.

Tujuan

Workshop ini bertujuan untuk mengidentifikasi program dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan sesuai dengan strategi yang telah diidentifikasi.

Peserta

Akan terdiri dari perwakilan dari:

  1. Kementerian Kesehatan RI (Direktorat Mutu dan Akreditasi Pelayanan Kesehatan, Direktorat Yankes Rujukan, Direktorat Yankes Dasar, Direktorat Fasilitas Pelayanan Kesehatan, Direktorat Pelayanan Kesehatan Tradisional, Direktorat P2MPL, Balitbangkes, BPPSDM)
  2. Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta
  3. Organisasi profesi (IDI, PDGI, PPNI, IBI, Permapkin, PDMMI, PAFI)
  4. Asosiasi Fasilitas Kesehatan (PERSI, ADINKES, Asosiasi Klinik Indonesia, Perhimpunan Klinik dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer Indonesia)
  5. Asosiasi Rumahsakit (ARSADA, ARSSI)
  6. Lembaga Akreditasi Fasyankes (KARS dan Komisi Akreditasi FKTP)
  7. BPJS (Kantor Pusat, perwakilan Kantor Regional, perwakilan Kantor Cabang)
  8. NGO kesehatan (Yayasan Orang tua Peduli, Komunitas Peduli Skizofrenia, Komunitas Share To Care)

Fasilitator

  1. Prof. dr. Adi Utarini,M.Sc, MPH, Ph.D
  2. dr. Hanevi Djasri, MARS
  3. dr. Novika Handayani

Metode

Peserta akan dibagi dalam kelompok untuk berdiskusi tentang isu strategis dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan Indonesia. Hasil diskusi perkelompok akan dibahas lebih lanjut dengan tim fasilitator dan menjadi acuan dalam identifikasi strategi umum dan strategi fungsional. Selanjutnya, kelompok akan kembali berdiskusi untuk menetapkan hasil identifikasi strategi untuk peningkatan mutu pelayanan kesehatan Indonesia melalui konsensus.

Setiap peserta sebelumnya akan menerima draf yang telah dibuat oleh tim fasilitator sebagai bahan diskusi untuk menyepakati bersama hal-hal yang ingin ditetapkan dalam workshop ini.

Tanggal dan Tempat Acara

Hari / tanggal  : Rabu, 10 Oktober 
Pukul  : 08.00 – 16.00 Wib
Tempat : Hotel The Park Lane, Jakarta

Jadwal Acara

Waktu Kegiatan Fasilitator/Narasumber
Hari I    
08.00-08.30 Program Nasional Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan Indonesia: Kegiatan, Pengorganisasian dan Tatakelola dr. Hanevi Djasri, MARS
08.15-08.45 Pengantar dan Metode Workshop dr. Hanevi Djasri, MARS
08.45-09.00 Diskusi dr. Novika Handayani
09.00-09.15 Coffee break
09.15-12.00

Diskusi kelompok 1: Identifikasi program untuk strategi umum dan fungsional

  • Diskusi kelompok
  • Pemaparan masing-masing kelompok
  • Pengambilan konsensus
Tim
12.00-13.00 Lunch Break
13.00-15.00

Diskusi Kelompok 2: Pengorganisasian dan tatakelola

  • Diskusi kelompok
  • Pemaparan masing-masing kelompok
  • Pengambilan konsensus

Tim                                 

15.00-15.45 Review hasil identifikasi program, pengorganisasian dan tatakelola untuk peningkatan mutu pelayanan kesehatan Indonesia dr. Hanevi Djasri, MARS
15.45-16.00 Penutupan dr. Hanevi Djasri, MARS

Biaya penyelenggaraan kegiatan ini berasal dari Kementerian Kesehatan RI dan WHO Indonesia

 

Reportase ISQua Hari Keempat

{tab title=”Laporan” class=”red” align=”justify”}

Laporan Pertemuan PKMK UGM, Dit. Mutu dan Akreditasi Kemenkes, dan WHO
(Rabu, 26 September 2018)

  1. Saran langkah penyusunan NQPS dari Dr.Shams (WHO): Menetapkan strategi untuk peningkatan mutu untuk jangka waktu tertentu (5 tahun), diikuti dengan membuat operational planning (cara untuk mencapai strategi) serta program teknisnya termasuk program costs dan financial planning.
    Tanggapan dari PKMK : Untuk kedua langkah tambahan (operational planning dan integration of technical programme dapat dibuat pada dokumen terpisah menjadi Rencana Aksi Program/RAP tahunan)

    isq 4okt 5

  2. WHO menyarankan untuk membuat task force untuk mutu pelayanan kesehatan di tingkat nasional, meliputi stakeholders inti dari institusi yang berperan dalam mutu pelayanan kesehatan, termasuk pemegang program prioritas kesehatan di Kementerian Kesehatan
  3. Paparan progress penyusunan NQPS Indonesia terhadap WHO masih minimal, walaupun WHO mengatakan sudah membaca hasil analisis situasi NQPS yang sudah ter-upload di GLL (Global Learning Laboratory)
  4. WHO menyarankan untuk mengundang stakeholders perwakilan dari daerah saat workshop.
  5. WHO menyarankan untuk strategi disusun berdasarkan prioritas kesehatan nasional. Tanggapan Kemenkes dan PKMK: perlu kejelasan dalam pemilihan prioritas. Program prioritas kesehatan mana yang dimaksud, apakah Renstra Kemenkes yang berkaitan dengan akses dan mutu pelayanan kesehatan, atau prioritas masalah kesehatan Kemenkes saat ini seperti TBC, stunting dan imunisasi.
    Dr.Shams menyinggung indikator seperti maternal mortality rates, yang menggambarkan mutu pelayanan kesehatan di suatu negara. MNCH menjadi prioritas di berbagai negara dan dimasukkan juga dalam strategi pada NQPS di negara-negara lain.
  6. WHO sangat mendukung proses penyusunan NQPS Indonesia dan Dr.Shams bersedia untuk me-review hasil akhir dokumen NQPS
  7. Kemenkes mengusulkan Dr.Shams jadi pembicara saat workshop. Tanggapan dari PKMK: mengusulkan Dr.Shams menjadi pembicara saat sesi sosialisasi NQPS.
  8. Dr.Shams mengusulkan ada mailist yang beranggotakan tim NQPS WHO Geneva, WHO Indonesia, Kemenkes dan PKMK untuk memudahkan komunikasi
  9. Dr. Shams memberi referensi untuk membaca buku ini http://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/272465/9789241513906-eng.pdf?ua=1  yang memuat contoh quality interventions dan NQPS negara lain.

isq 4okt 4

Penulis: Novika Handayani

 

{tab title=”Referensi” class=”orange”}

 

 

{/tabs}

 

 

Reportase ISQua Hari Ketiga

WHO: Compassion – The Heart of Quality People-Centred Health Services

isq 3 1

Compassion (perasaan belas kasih/kasih sayang) merupakan bagian sentral dalam dari pelayanan kesehatan yang berkualitas di negara-negara berpenghasilan rendah, menengah dan tinggi. Compassion memiliki keterkaitan dengan seluruh tingkat sistem kesehatan dan semua tahapan kesinambungan pelayanan (continuum of care). Compassion memiliki peran penting dalam meningkatkan kinerja sistem kesehatan dalam meraih Universal Health Coverage (UHC). Tidak adanya compassion dapat menyebabkan kesalahan klinis, tingginya angka ketidakhadiran petugas medis dan kelelahan tenaga medis, serta pengalaman pasien yang buruk.

Apakah hubungan antara compassion dan arahan nasional untuk mutu pelayanan kesehatan (national direction on quality) menurut WHO?

  1. Menempatkan pasien sebagai yang utama
  2. Akuntabilitas kepada masyarakat terhadap prioritas kesehatan
  3. Berbagi dan belajar mengenai compassion dari berbagai upaya peningkatan mutu
  4. Compassion dilibatkan dalam seluruh kebijakan sektor kesehatan dan dalam national direction on quality

isq 3 2

Pengalaman dari Malawi:

  1. Kepuasan pasien adalah tujuan dari sistem kesehatan
  2. Kepuasan pasien dimulai dengan memuaskan diri sendiri
  3. Tidak akan tercipta kepuasan pasien tanpa mementingkan kebutuhan pasien
  4. Cintai orang lain (pasien) seperti mencintai dirimu sendiri
  5. Personal centred care adalah memanajemen pasien sebagai individu, bukan dilihat dari penyakitnya
  6. Utamakan equity (keadilan)
  7. Jangan jadikan sistem kesehatan untuk mencari keuntungan

Kesimpulan:

  • Kolaborasi dan belajar secara terus menerus mengenai compassion untuk menjadikan sistem kesehatan yang berfokus pada individu.
  • Hasil kesehatan (health outcomes) yang baik berawal dari compassion, saling menghargai dan pelayanan yang bermartabat
  • Jadikan organisasi menjadi organisasi pembelajar (learning organization)
  • Berikan pelayanan yang terintegrasi

Penulis: Novika Handayani

Bimbingan Teknis Optimalisasi Fungsi Audit Mutu Internal dan Tinjauan Manajemen dalam Upaya Peningkatan Mutu di Puskesmas

Yogyakarta,
26 – 27 Februari 2020   |   8 – 9 April 2020   |    17 – 18 Juni 2020

  Topik ini membahas masalah apa?

Bagaimana cara untuk mengukur efektifitas penerapan sistem manajemen mutu di suatu organisasi, baik dari sisi kekuatan, kelemahan dan perbaikan yang diperlukan dalam penerapan sistem manajemen mutu. Hal ini agar terbentuk konsistensi dalam penerapan sistem manajemen mutu melalui pendekatan Plan, Do, Check, Action (PDCA) dapat ditetapkan, direncanakan dan dipelihara. Memastikan bahwa kegiatan audit menjadi suatu proses yang berkesinambungan dalam rangkaian penerapan sistem manajemen mutu berdasarkan standar akreditasi puskesmas (Kriteria 3.1.4, EP 2-4). Selain itu juga akan membahas mengenai cara mensimulasikan rapat tinjauan manajemen sesuai persyaratan standar akreditasi puskesmas

  Manfaat apa yang anda dapatkan?

  1. Peserta memahami dan mampu menjalankan peran sebagai auditor mutu internal dalam pemeliharaan dan peningkatan sistem manajemen mutu.
  2. Peserta memahami dan mampu menerapkan Sistem manajemen mutu dengan pendekatan proses Plan Do Check Action (PDCA)
  3. Peserta memahami dan mampu menyusun Program Audit meliputi perencanaan, persiapan dan pelaksanaan audit internal serta menyusun laporan audit mutu internal.


  Apa saja yang dibahas?

  1. Pemahaman tentang pentingnya pelaksanaan audit mutu internal
  2. Keterampilan dalam menilai kegiatan sistem manajemen mutu dan semua aktivitas yang terkait dengan mutu apakah telah dilaksanakan secara efektif dan memenuhi persyaratan sesuai standar Akreditasi Puskesmas.
  3. Keterampilan dalam menilai adanya ketidak-sesuaian atau penyimpangan dan mampu memberikan saran-saran konstruktif & positif dalam melakukan perbaikan dan mencegah agar hal tersebut tidak terulang kembali.
  4. Keterampilan dalam melakukan rapat tinjauan manajemen dengan membahas keseluruh agenda yang dipersyaratkan.


  Sasaran Peserta

Peserta pelatihan merupakan calon maupun tim auditor mutu internal yang telah ditetapkan oleh pimpinan puskesmas.

Narasumber

Tim Konsultan Manajemen Mutu Pusat Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM yang berkualifikasi TOT Pendamping Standar Akreditasi Puskesmas dari Kementerian Kesehatan

Fasilitas

Fasilitas yang akan Anda dapatkan dalam Bimtek ini adalah:

  1. Seminar kit.
  2. Materi pelatihan dalam bentuk soft file.
  3. Sertifikat kepesertaan dalam bentuk cetak.

Kami mendukung kehidupan bumi yang lebih hijau dan sehat sehingga kami mengurangi pencetakan berbagai dokumen. Semua materi akan kami kirim ke email Anda. Pastikan email Anda aktif dan storage email Anda cukup.

  Biaya

  1. Regular Rp. 3.500.000/ orang
  2. Khusus*: Potongan Rp. 500.000/ orang, untuk:

Peserta yang melakukan pembayaran 1 (satu) minggu sebelum acara, ATAU
Peserta yang mendaftar berkelompok (minimal 5 orang) dari 1 institusi, 
Biaya di atas belum termasuk transportasi dan akomodasi peserta.

Biaya pendaftaran dapat ditransfer melalui:
Bank BNI UGM Yogyakarta No. Rekening 9888807172010997 atas nama UGM FKU PKMK Dana Kerjasama Penelitian Umum

  Kontak

Silakan hubungi kami bila Anda membutuhkan informasi lebih lanjut
Andriani Yulianti | 081328003119
Email ndiani_86@yahoo.com 

 

 

 

Bimbingan Teknis Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien di FKTP

Yogyakarta, 29-30 Oktober 2018

  Topik ini membahas masalah apa?

Berbagai macam kebutuhan Anda mengenai Aspek peningkatan mutu dan keselamatan pasien (PMKP) kesehatan tingkat pertama (FKTP). Dimulai dari penetapan Kebijakan tentang mutu dan keselamatan pasien dan dokumen turunan dari kebijakan tersebut, Juga mengenai pengetahuan dalam menyusun kerangka implementasi mulai dari menyusun kebijakan, menetapkan individu yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan kegiatan, menyusun pedoman dan program mutu, penetapan dan pengukuran indikator, serta bagaimana memonitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan.


  Manfaat apa yang anda dapatkan?

Dalam bimtek ini anda akan mendapatkan :

  1. Pemahaman mengenai pengelolaan kegiatan mutu dan keselamatan pasien.
  2. Pemahaman mengenai proses penyusunan dokumen kegiatan mutu dan keselamatan pasien
  3. Pemahaman mengenai tahapan pelaksanaan kegiatan mutu dan keselamatan pasien


  Apa saja yang dibahas?

  1. Mengidentifikasi dan menyusun Dokumen Regulasi yang dibutuhkan terkait upaya peningkatan mutu dan keselamatan pasien di FKTP
  2. Cara menyusun, mengukur, menganalisa indikator-indikator Keselamatan Pasien
  3. Cara menyusun dan mempraktekkan Tools Risk Management meliputi: Severity Assessment, risk Register, Root Cause Analysis (RCA)


  Sasaran Peserta?

Peserta yang diharapkan hadir pada Bimtek ini adalah:

  1. Pimpinan maupun Pengelola FKTP
  2. Penanggung jawab kegiatan mutu atau Ketua Tim Mutu
  3. Anggota tim mutu dan keselamatan pasien FKTP
  4. Serta seluruh karyawan yang peduli tentang mutu dan keselamatan pasien di FKTP.


  Narasumber

Narasumber utama dalam kegiatan ini adalah:

Hanevi Djasri, dr., MARS
Kepala Divisi Manajemen Mutu – PKMK FKKMK UGM sejak 2003. Narasumber terlibat dalam penelitian dan konsultasi bidang peningkatan mutu dan keselamatan pasien di berbagai fasilitas kesehatan serta aktif dalam kegiatan pelaksanaan manajemen mutu lembaga kesehatan secara nasional, antara lain melalui IHQN (Indonesian Health care Quality Network) dan bekerja sama dengan lembaga internasional seperti ISQua (International Society for Quality in health care). Sejak 2017, terlibat dalam penyusunan Kebijakan dan Strategi Nasional Mutu Pelayanan Kesehatan di Indonesia, bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan dan WHO.

Fasilitator utama dalam kegiatan ini adalah:

Nusky Syaukani, S.Sos, MPH
Konsultan dan Peneliti di Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan, FKKMK UGM. Membidangi Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan, banyak terlibat dalam pengembangan sistem manajemen mutu melalui Akreditasi di Fasilitasi Kesehatan Tingkat pertama (FKTP) dan RS.

Asisten Fasilitator dalam kegiatan ini adalah:

  1. Andriani Yulianti, SE, MPH
  2. dr.Novika Handayani
  3. Lucia Evi Indriani, S.E, MPH
  4. Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH


  Fasilitas

Fasilitas yang akan Anda dapatkan dalam Bimtek ini adalah:

  1. Seminar kit.
  2. Materi pelatihan dalam bentuk soft file.
  3. Template Program Peningkatan mutu dan keselamatan pasien & formulir pencatatan kejadian terkait mutu dan keselamatan pasien.
  4. Sertifikat kepesertaan dalam bentuk cetak.

Kami mendukung kehidupan bumi yang lebih hijau dan sehat sehingga kami mengurangi pencetakan berbagai dokumen. Semua materi akan kami kirim ke email Anda. Pastikan email Anda aktif dan storage email Anda cukup.

Persiapan Peserta

Hal-hal berikut perlu Anda siapkan dan lakukan sebelum Anda mengikuti Bimtek:

  1. Notebook/ laptop untuk praktikum.
  2. Download semua materi yang kami kirim via email. Bila Anda sempat, pelajari sekilas materi tersebut.


  Biaya

  1. Regular Rp. 3.500.000/ orang
  2. Khusus* Rp. 3.000.000/ orang, untuk:

Peserta yang melakukan pembayaran 1 (satu) minggu sebelum acara, ATAU
Peserta yang mendaftar berkelompok (minimal 5 orang) dari 1 institusi, ATAU
Peserta yang berasal dari institusi yang mengirimkan minimal 2 peserta untuk 2 bimtek berbeda (syarat ini hanya berlaku untuk 2 bimtek yang diselenggarakan dalam minggu yang sama).

*Syarat biaya khusus satu dan lainnya tidak dapat digabungkan.


  Kontak

Silakan hubungi kami bila Anda membutuhkan informasi lebih lanjut
Andriani Yulianti | 081328003119
ndiani_86@yahoo.com 

 

 

Reportase hari kedua

{tab title=”Part 1″ align=”justify” class=”red”}

Morning Plenary
Patient-Reported Outcome Measurement (PROM): Past, Present, and Future – A Personal Account

Patient-Reported Outcome Measurement (PROM) adalah alat pengukuran yang digunakan untuk menilai patient-reported outcome (PRO). PROM memungkinkan baik pasien dan dokter untuk berkomunikasi dan menelusuri pencapaian tujuan dan hasil dari pelayanan kesehatan. Menggunakan PROM melalui instrumen survei, wawancara dan atau pengukuran indikator output kesehatan tidak hanya memungkinkan penyedia layanan kesehatan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang pelayanan mereka, tetapi juga memungkinkan pasien untuk lebih memperhatikan kebutuhan khusus mereka dan mengkomunikasikan hal tersebut kepada penyedia layanan mereka sebelum mereka melakukan kunjungan ke fasyankes (Baca lebih lanjut di https://www.hal-health.org)

1okt2 1

1okt2 2

1okt2 3

Penggunaan PROM untuk apa?

  1. Health system : Performance assessment, value for money
  2. Healthcare provider organization: benchmarking, quality improvement
  3. Clinical trials: screening, treatment outcomes
  4. Clinical practice: diagnosis, monitoring progress
  5. Information for patients or clinicians: choice of provider, choice of treatment

1okt2 4

Royal Address

Dalam pidato yang disampaikan oleh His Royal Highness Sultan Nazrin Muizzuddin Shah Ibni Almarhum Sultan Azlan Muhibbuddin Shah Al-Maghfur-Lah, dibahas mengenai Artificial Intelligent (AI). Artificial Intelligent membawa keuntungan dan kemudahan dalam pelayanan tetapi tetap diutamakan hubungan interpersonal antara tenaga medis dan pasien.

1okt2 5

Penulis: Hanevi Djasri dan Novika Handayani

 

{tab title=”Part 2″ class=”green”} 

Who Needs QI (Quality Improvement) Education?

  1. Quality improvement berpengaruh kepada:
    • Individual : staff
    • Pelayanan dan fasilitas
    • Organisasi
  2. Dalam melakukan QI kolaborasi sangat penting
  3. Setiap orang butuh QI education terutama praktisi klinis dalam penyampaian hal-hal klinis
  4. Cara menjelaskan kompleksitas kepada staff untuk mencapai kinerja yang lebih baik akan membantu staff dalam melakukan perubahan
  5. E-learning tidak bisa dianggap remeh termasuk untuk pasien karena bisa di akses dimana saja dan oleh siapa saja

Panel debat ini tentunya sepakat semua perlu mendapatkan pelatihan QI, namun yg diperdebatkan adalah seberapa dalam materi pelatihan dan bagaimana cara melatihnya?

Penulis: Dewi Fankhuningdyah dan Hanevi Djasri

Data For Improvement

Materi 1. Positive Deviance to Improve Patient Safety: Learning from Four Studies in the UK
Good practice to scalling up the improvement -> Dilakukan dengan terlebih dahulu mengidentifikasi unit atau layanan yang akan menjadi prioritas, secara konsisten melakukan pengumpulan data baik yang sedang ditingkatkan maupun temuan-temuan baru dari tracer. Hal ini dilakukan dengan konsep bradley fourstep (routine collect, identify, explore, analisa kuantitatif, diseminasi) dilakukan praktek pada 4 unit yaitu eldelry medical ward, hip and knee surgery untuk surgical pathway, general practice, dan transition of care.
Untuk melakukan improvement secara konsisten diperlukan team multidisiplin yang secara aktif berintegrasi di area yang berbeda.

Materi 2: Measured for Safety – The Apollo Quality Program
Quality dashboard untuk meningkatkan konsistensi improvement dimulai secara konsisten dengan melakukan berbagai audit di berbagai macam aspek dari keselamatan pasien. Semua temuan tersebut langsung di ekskalasi di top management dan kemudian di turunkan ke masing-masing manager dan unit. Masing-masing unit kemudian melakukan Root Cause Analysis (RCA) dan menindaklanjuti dengan solusi yang sesuai. Berbagai macam temuan serta solusi tersebut memiliki timeline yang divisualisasikan pada dashboard tersebut. Karena Apollo juga mengalami turnover pegawai yang tinggi, salah satu solusi yang mereka lakukan adalah dengan menstandarisasi dengan baik dan detail berbagai macam prosedur yang sudah terbukti dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Materi 3. A Clinical Practice Improvement Project to Reduce the Rate of Central Line Associated Bacteraemia in Haemodialysis Catheters (CLABSI)
Penurunan infeksi ini dilakukan dengan melakukan bundle pencegahan yang diantaranya adalah menggunakan Personal Protective Equipment (PPE), antibacterial disc, removal bungs, transparant dressing dan edukasi pasien (agar pasien tahu tanda-tanda infeksi dan melaporkan dengan segera). Another highlights : RS dapat melakukan audit pada pasien-pasien dengan diagnosa sepsis untuk mengetahui apakah memang RS sudah merespon dengan cepat pasien dengan tanda-tanda sepsis.

Penulis: Dewi Fankhuningdyah (RS Pelni)

A National Approach to Sustainable Quality Improvement, The Experience from Ireland

Belajar dari Irlandia yang saat ini juga sedang menyusun NQPS seperti Indonesia. Mereka menetapkan framework yg terdiri dari:

  1. Metode Improvement
  2. Keterlibatan staf
  3. Keterlibatan pasien dan keluarga
  4. Kepemimpinan mutu
  5. Tatakelola manajemen mutu
  6. Pengukuran mutu

Catatan untuk Indonesia: framework ini sepertinya bisa digunakan untuk level fasyankes atau daerah atau nasional. Lebih lanjut dapat dibaca di www.qualityimprovement.ie 

Penulis: Hanevi Djasri

Hospitals accreditation in Different Countries and Context

Akreditasi rumah sakit merupakan kebijakan dengan mekanisme yang kompleks dan banyak diadopsi untuk memastikan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Meskipun banyak pertanyaan tentang dampaknya, mempertimbangkan kompleksitas mekanisme, jauh lebih penting kita melakukan:

  1. Pembelajaran dari apa yang berhasil dalam sistem ini (bukan lagi mempertanyakan apakah bermanfaat)
  2. paya berkelanjutan untuk update standar dan memperbaiki metode penilaian
  3. Mempertimbangkan keragaman satu standard tidak mungkin cocok untuk semua kondisi
  4. Mengurangi beban yg ditimbulkan dalam progtam akreditasi utk semua stakeholders

Pembelajaran dari Qatar: Integrasi antara lisensi dan akreditasi sebagai satu mekanisme berkelanjutan dengan framework yang sama. Lisensi fokus pada persyaratan mendasar, aspek struktur seperti fasilitas, tekhnologi, dan lingkungan. Sedangkan akreditasi berfokus pada kemampuan meningkatkan mutu berkelanjutan.

Pembelajaran dari Taiwan : Terdapat empat strategi yaitu: 1) Memastikan standar update melalui kajian, menurunkan jumlah item pada jumlah yang optimim antara beban dan kemampuan pembeda, termasuk menurunkan frekuensi document check, dan pelibatan pasien; 2) standarisasi surveyor sebagai upaya mengendalikan variasi; 3) memaksimalkan penggunaan teknologi informasi dalam proses, dokumentasi, merapatkan jarak pelaporan (setiap minggu…untuk memastikan berkelanjutan) sekaligus mendorong pemanfaatan data; 4) program monitoring dan peningkatan mutu berkelanjutan : upaya benchmarking rumah sakit berdasarkan indikator mutu yang disepakati

Pembelajaran dari Australia: Berbeda dengan dua negara lain, akreditasi bukan regulatory, dan voluntary. Berdasarkan kerangka mutu dan keselamatan pasien nasional sebagai acuan standar dan strategi. Updating standar di lakukan dengan memberikan penguatan pada aspek clinical governance untuk meningkatkan physician engagement pada mutu, disamping clinical governance adalah backbone bagi mutu dan keselamatan pasien

Pertanyaan dan tantangan ke depan

  1. Standarisasi assessor and surveyor
  2. Apakah menjamin mutu dan keselamatan pasien 100%
  3. Motif yang mendasari, kewajiban atau kebutuhan
  4. Berapa biaya mutu, apakah bermakna

Refleksi untuk Indonesia: Apakah kita Indonesia berada dalam track yang tepat? What can we do to improve? Studi menggunakan data, evidence based policy dengan keterbukaan data akan membantu kita menemukan bright spot, belajar dan berbagi dari keberhasilan dan tidak berfokus pada kelemahan…

Penulis: Viera Wardhani

Primary and Community Based Care

Materi 1. The Health Care Home and The Quadruple Aim

Quadruple aim terdiri dari:

  • Patient experience
  • Cost
  • Staff engagement
  • Clinical indicator

Dalam rangka mencapai quadruple aim salah satunya adalah dengan mengembangkan layanan homecare yang berfokus pada pasien

Materi 2. Children and Young People’s Contacts in Primary Care Within 3 days of an Admission to Hospital with Meningitis
Pemaparan mengenai hasil riset pasien meningitis usia < 25 tahun pada tahun 2001 sampai 2013. Kesimpulan yang didapat adalah 59% tidak ada catatan lanjutan dari DPJP karena dokter kesulitan membedakan penyakit meningitis dengan penyakit pada umumnya dan 31% yang sudah terdiagnosa meningitis dirujuk dari luar rumah sakit biasanya berobat

Materi 3. Better communication with eConsult
Latar belakang pembuatan eConsult adalah sulitnya mengakses dokter spesialis di Kanada. Penggunaan eConsult menggunakan modul berbasis website yang tersebar di 8 negara bagian di Kanada. Metode eConsult seperti modul email yaitu mengisi form registrasi yang berisisi identitas, keluhan dan dokter spesialis yang diinginkan. Dalam beberapa hari berikutnya akan ada jawaban dari dokter spesialis terkait yang berisikan diagnosa dan resep.

Penulis: Dewi Fankhuningdyah

Applying Structured Quality Improvement Methods to Reduce HIV-Related Stigma and Discrimination in Healthcare Facilities: Implementation of the Southeast Asia Stigma Reduction Learning Network

Stigma dalam pelayanan dapat memunculkan adanya diskriminasi pada gender, suku, status sosial dan ekonomi. Namun yang menjadi perhatian adalah stigma dan diskriminasi dapat memunculkan konsekuensi yang berat. Bahwa seseorang dgn HIV/AIDS yang seharusnya mendapat pelayanan atau pengobatan dalam penyembuhan penyakit tetapi justru menolak untuk mendapatkan pengobatan sehingga meningkatkan infeksi pada penderita HIV/AIDS serta meningkatkan kematian.

Tujuan

  1. Mendukung Kementerian Kesehatan untuk mengimplementasikan quality improvement melalui networking untuk menurunkan stigma dalam pelayanan kesehatan dengan melakukan perubahan dalam pemeriksaan, pemeriksaan rutin dan membina kelompok dengan penderita HIV/AIDS
  2. Mengimplementasikan kebijakan yang mengajak secara aktif penurunan stigma dalam aktivitas pelayanan kesehatan
  3. Mendukung patient support group agar berperan aktif dalam pengambilan keputusan pelayanan kesehatan di tingkat fasilitas, regional dan level nasional
  4. Saling bertukar pengetahuan yang meningkatkan pengetahuan tentang bagaimana sebuah stigma dapat diturunkan dalam fasilitas pelayanan kesehatan, yang akan mengubah kehidupan orang dengan HIV/AIDS di Asia Tenggara dan dunia

Proses perbaikan outcome:

  1. Clinical performance data
  2. Survey pelayanan kesehatan
  3. Feedback pasien

Ketiganya menghasilkan hasil yang baik

Intervensi yang dilakukan:

  1. Sosialisasi informasi
  2. Mengubah alur pelayanan klinik
  3. Konseling dan support
  4. Melakukan analisis terhadap gap antar komuniti
  5. Rutin melakukan assesment terhadap staff dan pasien terkait stigma didalam pelayanan kesehatan
  6. Membuat strategi untuk meningkatkan frekuensi interaksi pasien dan pelayan kesehatan

Kesuksesan implementasi:

  1. Koordinasi dan kerjasama antara kementerian kesehatan, masyarakat dan organisasi sosial
  2. Integrasi antara data dari pasien dan pelayanan kesehatan dalam pelayanan rutin untuk meningkatkan aktivitas QI
  3. Meningkatkan level pemahaman dalam menilai stigma dan diskriminasi serta mengaplikasikan QI dalam proses menurunkan stigma tersebut
  4. Mengadopsi secara bertahap dan memahami bagaimana menggunakan data tersebut untuk aktivitas QI
  5. Mengembangkan sebuah konsensus tentang stigma terkait HIV dan diskriminasi dapat dilakukan dan diturunkan

Penulis: Dewi Fankhuningdyah

Innovations and Improvement in Low and Middle-Income Countries (LMIC)

Beban Pelayanan di LMIC salah satunya adalah perawatan yang berkualitas buruk dengan jumlah kematian sebesar 5,74 sampai dengan 8,47 juta atau diatas 15% dari kematian tahunan WHO. Angka kematian tertinggi dari total kematian diantaranya adalah trauma, diakibatkan oleh tidak adanya penilaian kualitas layanan.

Maka dari itu di buatlah National Quality Policy dan Strategy (NQPS)

Mengapa harus di buat NQPS?

  1. Menciptakan budaya yang mendukung penyedia layanan untuk memberikan dan menuntut pelayanan yang berkualitas
  2. Menyatukan berbagai intervensi mutu yg sistematis dan terorganisir untuk meningkatkan kualitas pelayanan
  3. Menciptakan komitmen tingkat tinggi terhadap mutu melalui keterlibatan para pemangku kepentingan dan pembangunan konsensus untuk mewujudkan tujuan kesehatan nasional
  4. Memperjelas struktur untuk akuntabilitas pemerintah dan pemantauan upaya mutu nasional

Global Learning Laboratory (GLL) WHO for Quality in UHC

Tujuan:

  1. Untuk mengeksplorasi pembelajaran global yang melibatkan mutu dalam konteks UHC
  2. Untuk memberikan contoh pembelajaran negara dalam kebijakan dan strategi mutu pelayanan kesehatan nasional
  3. Untuk menguji penerapan kemitraan antara lembaga lain untuk peningkatan pelayanan kesehatan di tingkat fasilitas

Transformasi pembelajaran

  1. Hasil sebelumnya di implementasikan
  2. Fokus pada masalah dibalik peningkatan mutu pelayanan kesehatan
  3. Apa, Siapa, Bagaimana, Kapan, Mengapa
  4. Fokus ke kesehatan global yang digerakkan secara lokal
  5. Pelajari lebih lanjut tentang perubahan kunci yang dapat mengubah layanan-layanan di semua tingkat sistem kesehatan dan seterusnya

Cara Menangkap pengetahuan?

  1. Pengetahuan: ide, konsep atau teori dari anggota GLL untuk meningkatkan pemahaman dan menginformasikan implementasi dalam bidang subjek tertentu
  2. Ringkasan Tindakan: Intervensi atau tindakan lokal dari pekerjaan negara GLL yang dapat diadaptasi untuk diterapkan di negara lain
  3. Snapshot: Infografis yang membantu mengomunikasikan pesan utama pada tautan antara mutu, UHC, dan bidang subjek tertentu.
  4. Ubah Peringatan: terobosan praktis Succint yang meningkatkan mutu pelayanan yang membutuhkan diseminasi cepat melalui GLL

Pembelajaran dari Malaysia

Di Malaysia, Quality Assurance Program dikembangkan pada tahun 1985 dengan tujuan untuk menetapkan mekanisme untuk memantau mutu layanan, mendeteksi kekurangan dalam mutu, untuk menyelidiki secara sistematis dan melembagakan langkah-langkah perbaikan dalam peningkatan mutu.
Kementerian Kesehatan Malaysia telah merencana aksi kesehatan malaysia untuk tahun 2016 sampai dengan 2020 melalui berbagai macam strategi.

Contoh intervensi di Malaysia untuk peningkatan mutu:

  1. Melibatkan individu, keluarga, dan masyarakat
  2. Mengunjungi rumah setelah melahirkan
  3. Survei kepuasan pelanggan
  4. Survei pengalaman pasien
  5. Keselamatan Pasien

Kesimpulan: Malaysia akan terus beradaptasi dengan konteks saat ini dan masa depan serta mengatasi berbagai tantangan terhadap sistem pelayanan kesehatan. Perlu didefinisikan dengan pemikiran baru dan pendekatan baru agar tetap relevan, penting dan “menarik” serta memastikan bahwa pasien dan keluarga mereka mendapat pelayanan yang aman, efektif, dan berpusat pada pasien.

Penulis: Dewi Fankhuningdyah

 

{tab title=”Part 3″ class=”orange”}

Using the patient’s voice to improve outcomes

Tujuan dari menggunakan “suara” pasien adalah untuk meningkatkan:

  1. Outcome untuk diri mereka sendiri
  2. Outcome pasien lain
  3. Memperbaiki desain mikrosistem
  4. Memperbaiki desain makrosistem

isq 3

Di USA, IORA Primary care mengembangkan sebuah sistem dimana dokter pada fasilitas pelayanan kesehatan primer memiliki peran sebagai health coach. Health coach berperan dalam membantu pasien mencapai tujuan kesehatannya, baik dalam penanganan suatu penyakit atau perubahan gaya hidup yang lebih baik, contohnya pada pasien yang ingin berhenti merokok. Satu health coach akan bertanggung jawab untuk tiga pasien. Health coach akan membantu pasien mencapai tujuan yang diinginkan, memastikan pasien mengerti akan diagnosis dan pengobatan yang akan diterima dan menjadi jembatan antara pasien dan dokter penanggung jawab pasien di rumah sakit. Sehingga, fungsi dari health coach adalah “mendengarkan” pasien. Selain itu, pasien diberi semangat untuk membentuk perkumpulan dengan pasien lain agar saling menyemangati dan belajar satu sama lain untuk mencapai tujuan masing-masing. Contohnya adalah diabetes club dan woman’s club. Selain itu juga dibentuk patient and family advisory board, dimana survei pasien (tentang kesehatan, pelayanan yang diterimanya dan tujuan yang ingin dicapai pasien) dilakukan setiap hari untuk setiap pasien. Dengan mengajak perwakilan pasien dan meminta mereka untuk berpendapat, membuktikan proses advokasi untuk perubahan kebijakan menjadi lebih kuat.

Patient-Centered Care

Hubungan pasien dan pemberi layanan kesehatan (provider)

isq 4

 

Planetree, sebuah organisasi yang fokus di bidang perspektif pasien, mengatakan bahwa mendapatkan feedback dari pasien adalah hal yang penting. Planetree mengembangkan sebelas kriteria/dimensi inti pelayanan yang berpusat pada pasien (patient-centered care), yaitu:

  1. Struktur yang diperlukan untuk perubahan budaya (menjadi budaya patient-centered care)
  2. Fungsi yang diperlukan untuk perubahan budaya (menjadi budaya patient-centered care)
  3. Interaksi manusia
  4. Edukasi pasien
  5. Pilihan
  6. Tanggung jawab (dari pilihan yang diambil)
  7. Keterlibatan keluarga
  8. Makanan dan nutrisi
  9. Lingkungan yang mendukung penyembuhan
  10. Komunitas yang sehat
  11. Pengukuran

Kriteria berfokus pada pengalaman pasien, pengalaman anggota keluarga, staf medis, tim kepemimpinan, penasehat pasien dan keluarga, dan anggota dewan. (Lengkapnya dapat di klik di https://planetree.org/designation-2/)

Penulis: Novika Handayani

 

{tab title=”Part 4″ class=”grey”} 

GOVERNANCE, LEADERSHIP AND HEALTH POLICY

Title : Succession of Physician Leadership and Talent Management in Public, Private and Military Hospital
Speaker : Arifatul Khorida
Chair : Bruno Lucet

Kepemimpinan di RS merupakan hal yang penting bagi kualitas pelayanan pasien maupun kualitas RS. Sesuai peraturan yang berlaku di Indonesia, direktur RS harus seorang dokter. Keharusan ini membutuhkan adanya pengembangan kepemimpinan dari para dokter, atau jika tidak ada pengembangan kepemimpinan dokter maka akan terjadi kekurangan kandidat yang memiliki kualifikasi kepemimpinan. Sehubungan dengan itu, hal yang menantang untuk diketahui dan dipersiapkan adalah: bagaimana kesiapan dokter dan RS? Bagaimana peran jenis kepemilikan RS? Bagaimana mempersiapkan dokter menjadi pemimpin?

Studi dilakukan untuk mengukur keinginan, kebutuhan dan kapasitas kepemimpinan dokter, mengukur dan mengeksplorasi kesiapan dokter dan RS, mengeksplorasi suksesi kepemimpinan dokter di RS pemerintah, swasta dan militer untuk mengembangkan strategi talent management. Dengan metode penelitian kuantitatif dan kualitatif (mixed method), studi dilakukan di 5 RS (2 RSUD, 2 RS Swasta dan 1 RS Militer), melibatkan 67 dokter, 5 pemilik RS, 5 direktur utama RS, 5 direktur medik/wadir pelayanan medik, 5 dokter pejabat struktural, 5 dokter fungsional dan 5 kasubag kepegawaian/SDM RS.

isq 4okt

Semua dokter di seluruh kepemilikan rumah sakit merasakan kebutuhan pengembangan kepemimpinan yang sama, memiliki kapasitas kepemimpinan positif yang sama, tetapi lebih banyak dokter militer menyatakan keinginan untuk menjadi pemimpin dan merasakan kesiapan TM di rumah sakit mereka.

isq 4okt 1

isq 4okt 2

isq 4okt 3

Beberapa poin penting:

  • Ada kekurangan dokter yang siap karena tidak disiapkan sebagai pemimpin
  • Talent Management diperlukan untuk mengembangkan kepemimpinan dokter
  • Kesiapan TM di rumah sakit umum dan swasta berbanding terbalik dengan keinginan dan kebutuhan pengembangan kepemimpinan dari para dokter
  • Rumah sakit militer memiliki kesiapan TM yang lebih baik dan suksesi kepemimpinan dokter yang lebih baik dibandingkan dengan RS pemerintah maupun RS swasta.
  • Rumah Sakit dapat mengadopsi strategi TM untuk mempersiapkan dokter dan suksesi kepemimpinan

Pertanyaan:

  1. Delegasi Irlandia:
    1. Mengapa direktur RS harus dokter?
    2. Jika harus dokter, sedangkan dokter terbatas atau tidak mampu, apakah akan dilatih atau anda akan menyarankan profesi lain untuk menjadi direktur (di Irlandia, Nurse lebih concern dengan manajemen RS)
  2. Delegasi Malaysia:
    Jika di Irlandia tidak wajib dokter, di Malaysia sama dengan di Indonesia. Jika tidak ada dokter yang siap menjadi Direktur Utama, minimal Direktur Pelayanan Medik harus seorang dokter.

Tanggapan:

Untuk delegasi dari Irlandia:

  1. Sesuai dengan amanat undang-undang rumah sakit yang berlaku di Indonesia
  2. Kami menyarankan agar dikembangkan talent management untuk mempersiapkan suksesi kepemimpinan dokter. Pengembangan TM sangat memungkinkan dilaksanakan di RS jika pemilik RS dan manajemen RS mendukung pelaksanaan TM ini.

dr. Arifatul Khorida, MPH

 

{tab title=”Part 5″ class=”blue”}

Laporan Presentasi Poster dan Presentasi Oral

gb9 1 

Tim Penyusun National Quality Policy and Strategy Indonesia yang terdiri dari PKMK FKKMK UGM dan Direktorat Mutu dan Akreditasi Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan mempresentasikan poster terkait Analisis Situasi Mutu Pelayanan Indonesia sebagai tahapan awal penyusunan NQPS. Poster berjudul :

  1. A Situational Analysis of The Indonesian National Quality Policy and Strategy: A Review of Regulatory Documents Related to Health Care Quality in Indonesia
  2. A Situational Analysis of The Indonesian National Quality Policy and Strategy: A Review of Methods and Interventions in Health Care Quality Improvement 

gb9 2

Kedua poster ini menjelaskan tentang tahapan penyusunan NQPS, hasil tinjauan literatur terhadap dokumen regulasi terkait mutu pelayanan kesehatan dan hasil identifikasi metode dan intervensi peningkatan mutu yang telah dilakukan di Indonesia.

gb9 3

dr. Dhimas Hari Sakti, Sp.M perwakilan Departemen Ilmu Kesehatan Mata FKKMK UGM-RSUP Dr.Sardjito mempresentasikan poster hasil penelitian berjudul “Quality of Eye Care Services in Outpatient Clinic: an Evaluation for Improvement Through Patient’s Perspective”. Penelitian ini ingin mengetahui aspek-aspek kepuasan pasien melalui tool PSQ-18. Hasil yang dianggap pasien masih kurang adalah waktu antara dokter-pasien.

gb9 4

dr. Arifatul Khorida, MPH, perwakilan dari RS Jiwa Aceh mendapat kesempatan presentasi oral selama 15 menit, membawakan hasil penelitiannya yang berjudul “Succession of Physician Leadership and Talent Management in Public,  Private and Military Hospital”. Studi dilakukan untuk mengukur keinginan, kebutuhan dan kapasitas kepemimpinan dokter, mengukur dan mengeksplorasi kesiapan dokter dan RS, mengeksplorasi suksesi kepemimpinan dokter di RS pemerintah, swasta dan militer untuk mengembangkan strategi Talent Management (TM). Beberapa hasilnya adalah:

  • Talent Management diperlukan untuk mengembangkan kepemimpinan dokter
  • Kesiapan TM di rumah sakit umum dan swasta berbanding terbalik dengan keinginan dan kebutuhan pengembangan kepemimpinan dari para dokter
  • Rumah sakit militer memiliki kesiapan TM yang lebih baik dan suksesi kepemimpinan dokter yang lebih baik dibandingkan dengan RS pemerintah maupun RS swasta.
  • Rumah Sakit dapat mengadopsi strategi TM untuk mempersiapkan dokter dan suksesi kepemimpinan

gb9 5Rr. Tutik Sri Hariyati, perwakilan dari Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, mempresentasikan hasil penelitiannya yang berjudul “Implementation of The Nurse Corner Comptency to Improve Critical Thinking and Satisfaction”. Studi ini dilakukan untuk meningkatkan profesionalisme perawat, mempromosikan pembelajara berkelanjutan dan meningkatkan kepuasan perawat sehingga akan meningkatkan kualitas pelayanan, keselamatan pasien dan mengurangi kejadian pergantian perawat. 

gb9 6dr. Viera Wardhani, M.Kes perwakilan dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya mempresentasikan poster penelitian yang berjudul “Hospital Acrreditation Status in Indonesia: Factors Explaining its Sustainability”. Evaluasi keberlanjutan akreditasi rumah sakit berdasarkan data prospektif penting untuk menilai budaya peningkatan mutu yang berkelanjutan. Studi ini bertujuan untuk mengetahui keberlanjutan akreditasi RS dan hubungannya dengan karakteristik RS serta kesenjangan geografis. 

 

 

{/tabs}

 {jcomments on}