Banyuwangi – Pemkab Banyuwangi dan GoJek Indonesia resmi meneken nota kesepahaman (MoU) untuk meningkatkan layanan kesehatan.
Mengenal Metode Prevensi Sekunder Kardiovaskular Berbasis Nurse-Coordinated Prevention Programmes
Di Belanda, resiko peningkatan pasien kardiovaskular berangsur berkurang sejak diterapkannya sistem pencegahan berbasis Nurse Coordinated Prevention Programmes (NCPPs). Kemajuan ini mendorong European Society of Cardiology (ESC) pada 2012, merekomendasikan agar NCPPs diintegrasikan ke dalam praktik klinis pada sistem perawatan kesehatan di negara-negara Eropa. Meskipun tentu saja harus diakui bahwa, sebagai salah satu bentuk pendekatan pencegahan tersistem, NCPPs bukanlah sebuah program sederhana yang dapat diduplikasi dengan mudah. Faktanya Untuk membuat NCPPs berjalan dengan baik diperlukan rangkaian persiapan matang yang meliputi penyiapan sumber daya manusia yang memadai dari segi kompetensi, keahlian dan wawasan penunjang tambahan. Oleh karenanya ESC menekankan pula perlunya riset guna mengetahui jenis kompetensi dan keahlian apa saja yang harus dimiliki serta tahapan pendidikan tambahan apa saja yang diperlukan untuk menjamin kesiapan kualitas sumber daya manusia agar NCPPs sebagai kegiatan pencegahan kardiovaskular tersistem dapat berjalan secara efektif.
Adapun gambaran umum NCPPs sendiri secara singkat merupakan serangkaian kegiatan prevensi resiko kardiovaskular yang terdiri dari konseling, motivasi, konsultasi, pemeriksaan fisik berkala, intervensi terhadap pola dan gaya hidup, wawancara tentang tingkat kepatuhan konsumsi obat sesuai resep dan jadwal, hingga rekomendasi rujuk jika diperlukan. Dalam implementasinya NCPPs dijalankan oleh perawat yang direkrut melalui proses seleksi tertentu serta diwajibkan menyelsaikan beberapa tahapan pelatihan dan kursus yang diselenggarakan oleh Departemen Psikologi Medis dan Academic Medical Center Universitas Amsterdam, Belanda.
Dalam NCPPs berbagai rangkaian kegiatan prevensi di lapangan dilakukan oleh perawat dengan merujuk pada panduan nasional dan pedoman tekhnis yang telah ditetapkan. Panduan nasional berfokus pada (1) gaya hidup sehat, (2) faktor resiko biometrik dan (3) kepatuhan konsumsi obat. Sementara pedoman teknis dirumuskan untuk memenuhi target tertentu seperti gaya hidup bebas rokok, pemilihan makanan sehat, olahraga teratur, pengendalian indeks massa tubuh 25Kg/m² atau kurang, kontrol diabetes, kontrol hipertensi dan dislipidaemia serta kepatuhan terhadap rangkaian proses pengobatan. Berikut contoh daftar singkat intervensi tekhnis yang dilakukan perawat pada program NCPPs;

Adopsi dan Integrasi NCPPs dengan Program Perkeskom dan Promkes di Puskesmas
Data Riset Kesehatan Dasar 2013 oleh Badan Litbangkes Kementrian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan jumlah pasien dengan gejala kardiovaskular berdasarkan diagnosa dokter mencapai angka 2.650.340 jiwa, dan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Fakta ini tentu bisa saja mengindikasikan banyak hal, mulai dari rendahnya kualitas pola dan gaya hidup dari segi kesehatan hingga belum efektifnya program dan kegiatan pencegahan peningkatan resiko kardiovaskular oleh berbagai lembaga, intansi dan penyedia layanan kesehatan. Sebuah kondisi yang tentunya laik dikhawatirkan mengingat hingga saat ini kardiovaskular/penyakit jantung koroner termasuk dalam daftar penyumbang angka kematian tertinggi di dunia.
Sejauh ini berbagai kalangan sepakat bahwa cara paling efektif dalam mencegah dan meminimalisir resiko kematian akibat kardiovaskular adalah melalui pola dan gaya hidup sehat. Namun sayangnya kesadaran dan pemahaman sebagaian besar masyarakat terutama kalangan menengah kebawah, masih sangat terbatas terkait pola dan gaya hidup sehat. Pada akhirnya pilihan paling rasional dalam menyikapi situasi semacam ini adalah dengan memaksimalkan kegiatan pencegahan melalui berbagai kegiatan promosi dan edukasi kesehatan secara langsung dan berkesinambungan kepada masyarakat.
Di Indonesia berbagai program yang terfokus dan berorientasi pada promosi dan edukasi kesehatan telah ada dan telah terselenggara cukup lama, hanya saja belum kunjung menunjukkan hasil yang signifikan terutama dalam kaitannya dengan upaya menekan angka penderita kardiovaskular. Di tingkat fasilitas kesehatan primer Sumber: Diolah berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar2013, Badan Litbangkes Kementerian (PUSKESMAS) misalnya, kita dapat menjumpai banyak program yang berkutat pada promosi kesehatan lingkungan, keluarga dan komunitas, dua diantaranya yakni Program Perawat Kesehatan Komunitas (PERKESKOM) dan Program Promosi Kesehatan (PROMKES) akan di bahas secara singkat dalam ulasan ini.
Dua program tersebut yakni PERKESKOM dan PROMKES sebenarnya memiliki potensi untuk dapat dimaksimalkan dan diandalkan dalam menekan angka resiko peningkatan kardiovaskular. Dikatakan demikian karena dua program tersebut memiliki beberapa syarat utama yang membuatnya mungkin menjadi instrument prevensi (pencegahan) yang efektif. Misalnya bahwa dua program tersebut memuat sejumlah aktivitas kongkrit seputar promosi dan edukasi kesehatan disamping memiliki intensitas pertemuan yang tinggi secara langsung dengan masyarakat, merupakan dua modal utama yang sangat mungkin dimaksimalkan.
Sementara beberapa faktor yang membuat dua program tersebut (PERKESKOM dan PROMKES) atau program lain yang sejenis belum mampu menunjukkan signifikansi pengaruhnya pada penurunan angka radiovaskular adalah karena tugas dan fungsinya yang terlampau umum dan luas. Dengan kata lain, tidak seperti program NCPPs di belanda yang memang sejak awal di desain untuk tujuan dan tugas yang sangat spesifik dibidang pencegahan dan penanganan kardiovaskular.
Kembali pada upaya memaksimalkan program PERKESKOM dan PROMKES, penulis melihat terdapat peluang dua program tersebut dapat mengadopsi dan mengintegrasikan pola dan strategi yang diterapkan di NCPPs. Meskipun adopsi/duplikasi ini bukanlah susatu yang sederhana dan mudah mengingat terbatasnya sumber daya medis yang kita memiliki, namun bukan berarti proses adopsi dan integrasi konsep program tersebut tidak mungkin dilakukan. Kita bisa misalnya memulai dengan proses adopsi dan integrasi bertahap. Sebagai contoh, PERKESKOM dan PROMKES yang sebelumnya memiliki tugas dan sasaran yang bersifat sangat umum dalam keseluruhan aktivitas dan kerjanya, perlahan dapat diarahkan untuk menyediakan sebagian ruang dan waktu khusus dalam rangkaian aktivitasnya guna menempatkan kegiatan promosi dan edukasi yang berkaitan dengan prevensi kardiovaskular sebagai salah satu agenda prioritas.
Selanjutnya proses adopsi dan integrasi NCPPs ke dalam PERKESKOM dan PROMKES tentu membutuhkan proses pra-kondisi yang cukup. Misalnya dengan mempersiapkan tenaga petugas lapangan melalui proses literasi dan studi banding terhadap NCPPs serta berbagai bentuk persiapan dan adaptasi lain yang diperlukan. Dengan demikian ke depan PREKESKOM dan PROMKES bukan tidak mungkin dapat diandalkan serta memberikan kontribusi signifikan dalam kaitannya dengan prevensi atau pencegahan kardiovaskular.
Oleh: Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep., MPH.
{jcomments on}
Akreditasi Pusat Kesehatan Masyarakat Malinau Kota Terpaksa Ditunda
Terkadang harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Itulah peribahasa yang tepat disematkan kepada Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) Malinau Kota (Malkot).
Sekda : Peningkatan Layanan Masyarakat Masih Terkendala Infrastruktur
Pontianak (Antara Kalbar) – Sekretaris Daerah Kalimantan Barat M Zeet Hamdy Assovie mengatakan upaya untuk meningkatkan layanan
Indonesia-Swedia Teken MoU Pendidikan
Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI (Ristekdikti), Mohamad Nasir dan Menristekdikti Swedia, Helene Hellmark Knutsson melakukan penandatanganan kerjasama (MoU),
Upaya Peningkatan Kualitas Kesehatan Melalui Pengembangan Self-Care Interventions Program Pada Pasien dengan Penyakit Kardiovaskular
Penyakit kardiovaskular adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia. Setelah usia 40 tahun, risiko sepanjang hidup terhadap penyakit kardiovaskular untuk laki-laki adalah 49% dan untuk wanita adalah 32%. Di Amerika Serikat, penyakit kardiovaskular menghabiskan biaya lebih dari 108 Milyar Dollar setiap tahunnya meliputi biaya pelayanan kesehatan, obat, dan hilangnya produktivitas.
Pada 2009, American Heart Association (AHA) menerbitkan penyataan ilmiah tentang self care sebagai bagian dari manajemen gagal jantung. Dalam literatur kardiovaskular, self care mengacu pada kepatuhan pasien terhadap rekomendasi pengobatan, respon sistem dan adopsi gaya hidup sehat seperti berhenti merokok dan manajemen berat badan. Menurut rencana strategi the National Institute of Nursing Research (NINR) yang juga menekankan self care terhadap penyakit kronis, tujuan utama dari program ini untuk meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup pasien dengan penyakit kronis. Self care interventions berjalan melalui: antar pasien dan penyedia layanan kesehatan; dalam suatu program edukasi grup penyakit tertentu; di fasilitas kesehatan ataupun di rumah; disampaikan oleh pemimpin grup sebaya (peer leaders) ataupun layanan kesehatan; dan melalui teknologi interaktif.
Dalam review penelitian oleh Dickson et al (2013) yang mengambil sampel studi nurse led self care interventions, dimana perawat yang merupakan penanggung jawab dalam program ini, intervensi dimulai saat pasien di rumah sakit dilanjutkan dengan follow up saat pasien di rumah. Pasien, dalam hal ini penderita gagal jantung, diberikan edukasi serta dukungan perilaku self care misalnya kepatuhan minum obat dan pengecekan tekanan darah secara mandiri. Studi oleh Suh et al (2010) yang memanfaatkan perkembangan teknologi untuk memonitor kesehatan pasien jantung di rumah adalah Weight and Activity with Blood Pressure Monitoring System (WANDA B System). WANDA B dikembangkan oleh para peneliti dari UCLA Wireless Health Institute dan UCLA School of Nursing. WANDA B menyediakan aplikasi pemantauan berbasis website, aplikasi di iphone serta SMS Reminder dan alert system bagi pasien. Hal ini memungkinkan dokter atau perawat memantau kondisi pasien yaitu denyut jantung, tekanan darah sistolik dan diastolik serta berat badan pasien kapanpun dan dimanapun secara berkesinambungan. Sistem ini juga dapat mencegah situasi bahaya pada pasien karena dokter atau perawat bisa segera menilai kondisi pasien yang emergensi dari data yang real time. Hasil dari pemantauan ketat berat badan pasien menghasilkan penurunan angka rawat inap, meningkatkan kualitas hidup pasien dan mengurangi beban dari penyakit kardiovaskular dalam sistem pelayanan kesehatan (Suh et al., 2010).
Ditinjau dari sistem mikro pada rantai mutu rumah sakit menurut konsep Berwick, solusi pemantauan pasien jarak jauh ini melibatkan peranan penting dari tenaga medis diantaranya dokter (baik dokter spesialis atau umum) dan perawat. Hasil data yang real time ini membutuhkan kecekatan oleh tenaga medis dalam membuat keputusan untuk penanganan terbaik bagi pasien yang masuk ke dalam kondisi emergensi. Tenaga medis yang terlibat harus mengerti tentang sistem yang diterapkan di tempat mereka bekerja, misalnya penggunaan website, aplikasi, SMS ataupun metode yang lainnya. Kunci dari program ini adalah edukasi oleh tenaga medis kepada pasien sehingga manajemen pengobatan terintegrasi berjalan baik dan pasien berperan aktif. Dilihat dari konteks organisasi yakni manajer atau kepala sarana layanan kesehatan, program ini sangat membutuhkan kesiapan dan komitmen manajemen RS ataupun puskesmas baik dari segi dana, SDM, dan hal-hal teknis lainnya yang mendukung. Ide self care atau self management untuk penyakit kardiovaskular sudah banyak dikembangkan oleh berbagai negara termasuk di Indonesia. Manfaat dari self management tentu saja dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas pasien kardiovaskular. Bukan saja pasien yang mendapat dampak positif, tetapi klaim biaya pengobatan di sarana layanan kesehatan bisa ditekan sehingga, keberhasilan program ini terutama di Indonesia, perlu ditinjau lebih jauh lagi dan diterapkan dengan baik pada era JKN saat ini.
Oleh : dr. Novika Handayani
Referensi
DICKSON, V. V., NOCELLA, J., YOON, H. W., HAMMER, M., MELKUS, G. D. & CHYUN, D. 2013. Cardiovascular disease self-care interventions. Nurs Res Pract, 2013, 407608.
SUH, M.-K., EVANGELISTA, L. S., CHEN, V., HONG, W.-S., MACBETH, J., NAHAPETIAN, A., FIGUERAS, F.-J. & SARRAFZADEH, M. 2010. WANDA B.: Weight and activity with blood pressure monitoring system for heart failure patients. 1-6.
Med students provide health care on medical missions
While the summer months are a time for many students to “get away,” not all who journey from campus are on vacation.
Reportase ISQua London 2017, Hari Ketiga
Oleh:
Hanevi Djasri1, Novi Zein Alfajri2 dan Sugiarsih2
1Mewakili Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM, Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS), Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (PERSI) dan Asosiasi Rumah Sakit Daerah (ARSADA), 2Mewakili RS Akademik UGM
What Works Best at What level from Government to Front Line Individuals?
Sesi plenary ini menjelaskan bagaimana kita dapat bekerjsa secara lebih cerdas, yaitu pendekatan kekuatan populasi. Disampaikan oleh Geraldine Strathdee, seorang clinical leader dari public health London, melalui studi kasus di kesehatan jiwa, dimana mereka menggunakan berbagai media sosial untuk memberikan informasi dan self management untuk pasien.
Geraldine menekankan betul “power of modern social media” untuk menggerakkan partisipasi masyarakat. Contoh ke “mental health intelligence network” membuat adanya kerjasama antar institusi untuk membangun sistem peningkatan mutu kesehatan, contoh lainnya dapat disimak di www.fingertips.phe.org.uk untuk melihat benchmark.
Melalui pendekatan tersebut, UK telah bersama-sama mengidentifikasi big quality isu untuk mental health (lihat foto) yang kemudian digunakan oleh semua stakeholder sebagai dasar perbaikan mutu.

Policy, Measurement & Activated Learning
Sesi ini disampaikan oleh Heitham Awadalla dari Sudan dan Ed Kelley serta Syams Syed dari WHO sebagai bagian dari sesi Triangulating for Quality Service Delivery, yaitu antara Policy-strategy, Measurment dan Learning.
Para pembicara memulai sesi dengan menyampaikan bahwa penyediaan layanan berkualitas memerlukan reformasi sektor kesehatan yang efektif, dimana upaya perbaikan dan pengukuran secara lokal (di suatu negara) memerlukan pembelajaran global sebagai masukan bagi penyusunan kebijakan dan strategi nasional.
Sesi ini berfokus pada tiga titik masuk utama dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan. Pertama, menggeser paradigma dari kebijakan top down menjadi bottom up untuk implementasi kebijakan dan strategi peningkatan mutu. Kedua, secara proaktif menerapkan pendekatan pengukuran untuk memaksimalkan dampak upaya peningkatan kualitas. Ketiga, pelajaran bertingkat terus – menerus di tingkat nasional dan global untuk memastikan pembelajaran aktif tentang upaya peningkatan mutu agar tercapai perubahan pada semua tingkat pemberian layanan kesehatan.
Delegasi Sudan memaparkan proses dan hasil dari penyusunan National Quality Policy and Strategy yang telah mereka kerjakan.
Pengalaman Sudan dalam membangun NQPS National Quality Policy and Strategy: Sudan telah mempunyai Direktorat Mutu sejak 2001 dengan kegiatan membuat SOP akreditasi, ps dan ppi, tapi masih tidak terintegrasi dan tidak sustain, kemudian Sudan membangun NQPS untuk: menyamakan persepsi tentang mutu; memperbaiki tata kelola dan kompetensi; memperbaiki SDM manajemen; serta membangun Health System.
Proses penyusunan NQPS sesuai yang disarankan oleh WHO (yang juga akan Indonesia kerjakan), yaitu: membuat task forces, didukung oleh WHO country office, konsultan dari WHO Pusat, analisis situasi saat ini, stakeholder meeting kemudian menyusun draft NQSP lalu melakukan proses advokasi.
Pembicara kemudian menyajikan hasil penyusunan dokumen NQSP yang terdiri dari: 1. visi dan misi; 2. dimensi dan definisi (dimensi mutu menggunakan 6 dimensi mutu WHO ditambah dimensi sustainability); 3. prioritas ada 4 (lihat foto); dan 4. Tata kelola yang dipimpin National health and sosial coordinator committee (NHSCC), semacam menteri koordinator kesehatan dan sosial.
Penulis dalam sesi tanya jawab menanyakan ada dimana metode perbaikan dan metode pembelajaran (sebagai bagian dari Triangulating for Quality Service Delivery) serta juga menanyakan apakah WHO akan menyusun daftar rekomendasi metode-metode tersebut yang telah memiliki bukti ilmiah terkait efektivitas metode tersebut dalam meningkatkan mutu dalam konteks negara-negara yang berbeda. Jawabannya, secara umum hal tersebut belum selesai disusun detail dan baru akan dipresentasikan pada pertemuan di Tokyo pada Desember tahun ini.

Gambar: Proses pengembangan NQPS yang disarankan oleh WHO

Gambar: Tampilan web WHO Global Learning Laboratory for Quality UHC (http://www.who.int/servicedeliverysafety/areas/qhc/gll/en/)
Catatan Delegasi Indonesia
{tab title=”Note 1″ class=”green” align=”justify”}
1. Working with the patient voice to improve their system
Halo sekedar sharing, setelah kita mendapatkan data dari patient voice, lalu bagaimana melakukan pengukurannya? Dari beberapa sesi perihal data driven, dan sesi patient voice, ditutup oleh sesi dari Health quality & safety commission new zealand, dengan judul: Working with the patient voice to improve their system. Melakukan pengukuran patient experienced untuk melakukan perbaikan sistem.
Aspek Patient experienced adalah hal yang penting saat ini. Rumah sakit harus bisa memberikannya secara konsisten, pada setiap individual, dan setiap waktu. Lantas setelah konsisten tentu harus diukur efektivitasnya.
Prinsipnya adalah: importance, evidently based, affordable, dan sustainable. Tools: survey; patient wall (semacam papan kaizen tapi untuk pasien); FGD (opsional)
Dari hasil survei ketidakpuasan pelanggan, justru kita fokuskan pada area dengan skor paling rendah. Mengapa? Karena disitulah akan terlihat minor issue yang sebenarnya sensitif. Dalam statistik, skor terbesar adalah angka hasil agregasi yang tidak bisa mendeteksi kedalaman masalah. Skor terkecil justru memberikan pengaruh korelasi terbesar terhadap variabel dependen. Survei dilakukan pada ruang ranap dewasa. Kemudian kita fokuskan kembali pada what matters to them, dari apa yang mereka utarakan.
Langkah peningkatannya: di ruang manakah hal tersebut terjadi?; hal apa yg akan ditingkatkan?; mengukur discharge complain, mengukur pulang paksa dan APS, lalu dihitung korelasinya; lantas membuat analisa bagaimana kita membangun proses komunikasi pada setiap kepulangan pasien, dari hasil korelasi tadi.
Challenge di Indonesia: menghubungkan hasil pengukuran ini dengan national measures, karena belum menjadi indikator standar mengenai seberapa baik rumah sakit melakukan improvement berdasarkan patient voice.
Ide improvement untuk RS kita: mengubah goal dari hasil pengukuran itu sendiri. Before: hasil survei kepuasan dan ketidakpuasan hanya melihat skor terbesar, After : melihat improvement yang dilakukan pada skor terkecil bertahap ke skor terbesar. Kemudian didokumentasikan sebagai tindakan korporasi dalam memberikan improvement dalam hal patient centeredness care. But… Always it is to be discussed further... ?
(catatan Haryo Gumilar, R&D RS Pelni)
{tab title=”Note 2″ class=”blue”}
2. Benchmark
Barangkali selama ini diantara kita (penggelut dunia kesehatan), selalu benchmark di lingkup yang sama, sama-sama rumah sakit misalnya baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Rupanya jika kita melebarkan mata dan menajamkan telinga, maka kita akan mendapatkan informasi lebih yang dapat dikloning dan dimanfaatkan untuk kelangsungan proses bisnis kita.
Telah terbukti beberapa yang bisa dikloning (walaupun tidak 100%), antara lain:
- Industri perbankan, untuk sistem antrian;
- Industri manufaktur (pabrik mobil misalnya), untuk “one piece flow & just in time“;
- Hotel untuk layanan hospitalisasi;
- dan lain-lain
Dari bisnis penerbangan, rumah sakit dan layanan kesehatan lainnya, bisa banyak belajar, mereka menerapkan:
- Standarisasi yang cukup ketat dan ter – update setiap saat.
- Otomatisasi.
- Manajemen risiko yang sangat rapi.
- Bertindak profesional.
- Bagaimana menjaga emosi.
- Sangat lihai untuk mengatasi kondisi darurat.
- Pantang bosan menyampaikan edukasi dan informasi kala bersua dengan customer setiap saat.
Demi Keselamatan. Mereka sangat mengutamakan Rekaman (baik oral maupun visual), daripada data yang didapatkan dari wawancara. Karena hal ini mempunyai akurasi yang lebih tinggi dan menjadi barang bukti yang sangat baik. Pelajaran demi pelajaran mereka dapatkan untuk senantiasa ditindaklanjuti dengan perbaikan standar.
(Catatan oleh Danti, RS Pelni)
{tab title=”Note 3″ class=”green”}
3. Beberapa catatan tentang uoaya peningkatan mutu dari berbagai negara
Pembicara pertama dari Denmark, tentang apakah quality improvement akan memperbaiki outcome? Mereka membuat literature review tentang PDCA sebagai tools quality. Hasilnya there is need improvement in quality improvement .
Di Cina, RS Bedah plastik tentang Aplicationof QC circle to develop a new postoperative flap observation srandard. Clinical obs: cheap, simple, non invasive. Tapi mereka developing new postop flap microcirculation observation. Identifikasi menjadi lebih cepat dari 26 jam menjadi 12 jam. Membuat luka lebih transparan, lalu menggunakan SBAR dan mengirim foto gunakan smartphone.
Hasil: flap salvage success rate 87 -jadi 100%
Lama rawat 18-jadi 15 hr, cost 7.3973-jadi 5.2970
Di Taiwan, RS yang merawat Kawasaki disease. Mengajak otang tua yang awam untuk mengenali gejala penyakit dengan cepat menggunakan karikatur yang menggambarkan tanda-tanda pada tubuh pasien. Hasilnya lebih cepat dikenali dan cepat ditangani.
Qatar, RS yang melakukan Chronic Peritoneal dialysis. CPD dilakukan dirumah (yang memenuhi syarat) banyak terjadi peritonitis.
Team harus utamakan standard protocols and procedure, pt safety and quality system, education training and supervision dan pt and family engagement.
Faktor yg berpengaruh: skills, surrounding, system, equipment and supply.
Hasilnya peritonitis turun sd 50% dlm 1 tahun.
(Catatan Dr. Jusuf Rachmat)
{tab title=”Note 4″ class=”red”}
4. Persiapan ISQua 2018 di Malaysia belum ada topik yang akan diangkat secara spesifik.
Topik masih pada topik yang sama namun cara bekerja untuk melakukan improvement harus berbeda baik dari segi
- Regulasi makro sistem yang menunjukkan atau komitmen kepada patien safety
- Kerja sama makro dan mikro dalam tim kolaborasi dalam Change management untuk improvement dalam pt safety
- Patient Voice yang dapat mendorong perbaikan regulasi dalam peningkatan dalam pt safety .Regulator adalah Pemerintah Kemenkes BPJS Menteri Keuangan Menteri pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak menteri Sosial dan Pemda Pengawasan pelayanan konsumen untuk mendorong patien centerness. Program dan proses Learning pt voice dan family voice yang dapat dilakukan oleh RS untuk meningkatkan pt safety
- Hubungan ekonomi strategic dan dan patient safety dari segi budgeting dan Cost
- Penggunaan Teknologi untuk meningkatkan pt safety
- standarisasi Nasional program pt safety
- Data collecting di level organisasi yang mendukung pt safety dari Regulator board service board Nursing board Profesional board dalam mencapai goals pt safety
- e poster memiliki kesempatan yang lebih baik untuk sempat di baca oleh peserta.
- Penggunaan safety program dari industri lain
(Catatan Fathema Djan)
{/tabs}
Video Delegasi Indonesia
KARS menerima International Accreditation Awards dari ISQua
Reportase ISQua London 2017, Hari Kedua
Oleh:
Hanevi Djasri1, Novi Zein Alfajri2 dan Sugiarsih2
1Mewakili Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM, Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS), Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (PERSI) dan Asosiasi Rumah Sakit Daerah (ARSADA), 2Mewakili RS Akademik UGM
New Paradigms and Practical Inspiration
Sesi ini dibawakan oleh Penny Pereira, Dominique Allwood, Helen Bevan dari UK. Panelis menjelaskan bahwa skala dan kompleksitas perbaikan yang dibutuhkan dalam pelayanan kesehatan menuntut adanya cara belajar yang baru dengan melibatkan lebih banyak orang menggunakan rancangan yang lebih baik untuk diterapkan.
Sesi ini dibawakan secara interaktif untuk memberi inspirasi praktis bagaimana cara belajar dengan metode yang baru dan melibatkan partisipasi banyak orang, sesi interaktif ini antara lain meminta para peserta selama 2 menit untuk berdiskusi dengan peserta di sebelah tempat duduknya mengenai apa yang mereka kerjakan dalam peningkatan mutu, setelah sesi diskusi ini banyak peserta merasa bahwa apa yang mereka kerjakan ada sangkut-pautnya dengan peserta lain meski berasal dari belahan dunia yang lain, itulah pentingnya melakukan networking.
Sesi diawali dengan pengantar tentang istilah Learning, Action, Change, dan Improvement dengan penekanan bahwa kemungkinan proses tunggal yang paling penting dalam perubahan efektif adalah proses “learning while doing”. Skala dan kompleksitas perbaikan yang dibutuhkan dalam pelayanan kesehatan menuntut adanya cara belajar yang baru dengan melibatkan lebih banyak orang menggunakan rancangan yang lebih baik untuk diterapkan. Sesi interaktif ini membahas teori mutakhir tentang bagaimana orang belajar, dengan fokus khusus pada peran jejaring untuk perubahan dan perbaikan dengan pendekatan siklus PDSA dan pembelajaran pada level sistem mikro hingga makro yang meliputi Culture of Continuous Improvement, Define Learning Structure, Supportive Leaders, dan Intuitive Knowledge Process.

Gambar: Siklus dalam perbaikan mutu di sistem makro
Peserta juga diminta melakukan self asessment singkat mengenai skala kompleksitas dari tantangan perbaikan yang dilakukan, dan mendorong peserta berpikir akan langkah-langkah solusinya. Peserta disadarkan kembali bahwa seringkali harapan dan realitas tidak sama. Perlu adanya desain, evidence, wawasan, dan evaluasi.
Pada sesi ini para pembicara memperkenalkan adanya komunitas mutu di United Kingdom, yang bekerja sama dalam upaya perbaikan mutu asuhan dan pelayanan kesehatan. Pembicara memberikan contoh pengalaman menarik dan inspiratif dari 2 anggota komunitas mutu tersebut (Frank dan Bethan) dalam upaya peningkatan mutu di lokasi mereka bertugas. Dalam upaya peningkatan mutu salah satunya adalah dengan mengadopsi sistem yang berhasil, akan tetapi hasilnya sering tidak sama atau tidak efektif. Dalam hal ini penting untuk menciptakan atau menyesuaikan konteks dan kecocokan dalam setting yang berbeda. Paradigma lama perlu ditinggalkan dan beralih ke paradigma baru yang lebih terbuka dalam membangun hubungan.

Sesi diakhiri dengan internalisasi poin-poin penting yang dikemas secara apik dengan cara peserta diminta mengambil kertas yang telah disediakan di bawah kursi masing-masing dan menuliskan poin pembelajaran yang mereka dapatkan dari sesi tersebut, kemudian meremas kertas tersebut dan melemparkannya ke peserta lain.
Closing the Gap Between Work-as-imagined and Work-as-done : Practical strategies for Implementing Resilient Health Care -45 minutes

Sesi ini dibawakan oleh Robyn Clay-Williams dan Jeffrey Braithwaite dari Australia. keduanya memaparkan mengenai konsep Ketahanan Pelayanan Kesehatan merupakan hal yang cepat mendapatkan daya tarik diantara peneliti, pemangku kebijakan, manajer dan profesional kesehatan akan tetapi masih sedikit informasi praktis tentang bagaimana gagasan itu dapat memberikan dampak. Kesenjangan antara kelompok Work as Done dan kelompok Work as Imagined memiliki klaim yang berbeda dan cukup menarik untuk dikaji di level praktik dalam sistem pelayanan kesehatan. Tantangannya adalah bagaimana mengurangi hal–hal yang tidak terduga (unpredictability) dan menurunkan kompleksitas (complexity) dalam sistem.

Pada sesi ini pembicara menguraikan pendekatan pemikiran sistemik/organisasi ke arah resilience. Bagaimana melakukan rekonsiliasi frontliner yang cenderung WAD dengan upliner yang cenderung WAI melalui pemahaman variabel-variabel terkait dan pendekatan tools yang dapat digunakan. Pelayanan kesehatan harus bergerak dari linear tools ke resilience area. Pentingnya memilih tools yang membuat orang menjadi mudah memahami sistem. Resilience dalam pelayanan kesehatan bisa jadi tidak perlu menerapkan terlalu banyak aturan yang justru membuat gap semakin besar. Aturan dan sistem harus mendorong orang untuk selalu terlibat dalam perubahan. Individual resilience mendorong group resilience, untuk menuju community/organizational resilience yang penting dalam peningkatan mutu dan keselamatan pasien. Di sisi lain, ada patient resilience yaitu adanya perspektif pasien dalam setiap proses.

Gambar: Salah satu internalisasi pemahaman dari peserta
Enhancing the Use of Patient Experience Data for Improving the Safety and Quality of Care

Pada topik The patient’s Voice dalam sesi ini disampaikan oleh Glenn Robert, Louise Locock, Laura Sheard, Caroline Sanders dari The Health Foundation, UK. Sesi disampaikan secara panel, menjadi sebuah perhatian reporter cara menyampaikan materi sangat simpel dan tidak banyak langkah, seperti misal pergantian penyaji dilakukan langsung dari penyaji satu ke penyaji selanjutnya tanpa dijeda oleh moderator. Ini sangat menghemat waktu.
Banyak hasil penelitian yang menunjukkan bahwa organisasi dalam hal ini rumah sakit yang menyelenggarakan asuhan berfokus pada pasien mempunyai outcome pelayanan yang lebih baik kualitasnya dan mendorong keselamatan pasien. Namun dianggap masih muncul banyak ketidakpastian dalam mendapatkan data tentang pengalaman pasien dan bagaimana cara menyajikan data untuk mengakomodir regulasi terkait pelayanan baik tingkat nasional maupun lokal.
Glenn Robert menyampaikan bukti penelitian menunjukkan bahwa banyak rumah sakit mendapatkan data tentang pengalaman pasien namun masih belum bisa memanfaatkannya untuk memperbaiki kualitas pelayanan kesehatan.
Hasil dari empat proyek penelitian di Inggris ini menunjukkan bahwa pengalaman pasien yang didapatkan dengan menggunakan Family and Friend Test (FFT) yang dikembangkan oleh NHS (Nationale Health Service) dan pengembangan Patient Experience Team (PALS) rumah sakit sangat membantu menyajikan data untuk pengembangan pelayanan di rumah sakit. Bukan hanya tim resmi ini namun provider juga dapat dijadikan media untuk mendapatkan data tentang pengalaman pasien, misalnya saja dokter atau perawat yang mendengarkan langsung keluhan pasien ketika mereka dirawat, atau dengan sengaja menanyakan bagaimana pengalaman dan cerita pasien tentang perawatan di rumah sakit tersebut. PALS tim ini salah satu fokusnya adalah pemecahan isu/masalah yang disampaikan pasien sebelum selanjutnya menjadi komplain.
Data tentang pengalaman pasien bisa didapatkan dengan berbagai metode:
- Kuantitatif dan kualitatif: bukan hanya pengalaman apa yang didapatkan namun juga mengapa pengalaman itu dikatakan kurang baik, apa yang menurutnya baik. Jadi pasien diminta manyampaikan ide perubahan
- Comment card (Not just complaint): mungkin ini lebih pada kotak saran, namun isinya bukan hanya komplain namun bisa juga hal positif atau usulan saran untuk pengembangan rumah sakit
- Wawancara mendalam: bersifat persuasif dan bentuk narasi
- Online comment: difasilitasi melalui sosial media dengan meminta pendapat tentang pelayanan di rumah sakit.
Berikut tahapan pengembangan pelayanan berdasarkan data pengalaman pasien:

Di Indonesia, data tentang pengalaman pasien belum terbiasa digali pihak rumah sakit, biasanya RS menggunakan data kepuasan pasien melalui survei dengan pertanyaan tertutup. Hal ini terkadang membatasi pernyataan pasien untuk diungkapkan terkait dengan pengalamannya mendapatkan perawatan di suatu rumah sakit. Metode penggalian pengalaman pasien akan lebih mengeksplorasi perasaan pasien dalam menyampaikan apa yang dialami selama dirawat. Dengan data yang lebih luas maka harapannya banyak data yang dapat digunakan untuk mendesain sebuah perkembangan pelayanan di rumah sakit sesuai dengan kebutuhan pelanggan.
Dari hasil penelitian tersebut, maka dapat direkomendasikan bahwa rumah sakit sebaiknya sudah mulai mengembangkan “Patient Voice” dengan menggunakan metode Patient Experience (PEx) bukan lagi survei kepuasan yang hanya mendapatkan data dari pertanyaan tertutup untuk pasien. Banyak sekali metode yang dapat digunakan untuk mendapatkan Patient Experience tersebut misalnya saja dengan Family and Friend Tes, Picker survey, NHS IP survey atau dengan sosial media. Salah satu contoh Rumah Sakit Universitas Gadjah Mada yang mengembangkan sosial media sebagai alat untuk mendapatkan masukan dari pasien dalam bentuk Instagram, Facebook, dan Website yang dikelola khusus oleh Instalasi Humas. Beberapa pengalaman, masukan, komplain dan saran diterima melalui media tersebut. Hal ini dipandang efektif untuk mendapatkan masukan dari pasien atau keluarga. Tambahan catatan dari reporter yang diambil dari Evidence Scan milik The Health Foundation in England yang diterbitkan pada 2013 tentang Measuring Patient Experience

The Impact of Regulation and Accreditation, on Healthcare Organisations
Terdiri dari 2 sesi, yaitu sesi dengan judul “Healthcare Regulation Policy and Practice – Making a Difference?” yang dibawakan oleh Kieran Walsh dari Inggris dan sesi dengan judul “How do Accreditation Agencies Design their Regulatory Regime/Inspection Model to Maximise Desired Impacts” yang dibawakan oleh Christine Dennis.
Walsh menjelaskan bagaimana regulator kesehatan mempertimbangkan dampak intervensi dari sebuah peraturan, dan mekanisme dimana dampak tersebut terjadi. Penjelasan Walsh diambil dari hasil penelitian empiris mengenai The Care Quality Commission di Inggris tentang bagaimana membuat regulasi menjadi lebih efektif menghasilkan dampak yang diinginkan.
Walsh menyebutkan bahwa regulasi yang memiliki fokus kepada peningkatan mutu harus: 1) benar-benar jelas akan maksud dan tujuan regulasi serta masalah mutu yang ingin diatasi. 2) benar-benar memetakan dampak yang ingin dicapai serta memaksimalkan efektivitas regulasi sekaligus juga meminimalkan dampak regulasi yang tidak diharapkan. 3) menyusun indikator untuk mengukur keberhasilan regulasi baik pencapaian mutunya maupun efektivitasnya. 4) mengukur secara berkala pencapaian serta mengadakan pertemuan berkala antara regulator dan yang diatur.
Implementasi dari apa yang Walsh katakan, dijelaskan oleh Dennis terkait dengan regulasi dan akreditasi di Australia, dan khususnya, siapa yang mengatur dan bertanggung jawab atas kualitas layanan kesehatan; apa peran dari standar dan akreditasi dan, serta yang terpenting menjelaskan mengenai peran kepemimpinan kesehatan dan budaya organisasi dalam memaksimalkan dampak yang diinginkan.
Dennis menjelaskan lebih lanjut bahwa ACHS (lembaga akreditasi Australia) telah cukup berhasil mencapai tujuan regulasi akreditasi, yaitu menciptakan pelayanan kesehatan yang aman dan bermutu tinggi, pelayanan yang memiliki budaya keselamatan pasien, keterlibatan staf dan staf yang senantiasa dapat mengajukan usulan-usulan perbaikan. Hal ini dibuktikan dengan ranking Australia yang menduduki urutan pertama untuk outcome pelayanan kesehatan di seluruh negara persemakmuran.

Gambar: Posisi Australia dibanding dengan negara-negara persemakmuran lain
Berdasarkan penjelasan para pembicara maka penulis mengusulkan agar Indonesia dapat menjabarkan dokumen regulasi akreditasi RS maupun FKTP dalam bentuk pedoman yang dapat digunakan untuk lebih menjelaskan maksud dan tujuan akreditasi serta indikator keberhasilan yang digunakan disamping dari jumlah fasyankes yang lulus akreditasi.

Gambar: e- Poster dari KARS sedang mendapatkan kunjungan dari Delegasi Taiwan
Berbagai catatan dari Delegasi Indonesia
{tab title=”Note 1″ class=”red” align=”justify”}
1. Peningkatan Patient Safety dan Patient and Family Voice
Menjadi topik besar dan framework ke depan yang selama ini belum banyak digali untuk proses perbaikan melalui Learning Action Change and Improvement. Metode ini diperbarui melalui new power dengan nilai-nilai baru yaitu kolaborasi sharing yang lebih terbuka walaupun berbeda pendapat serta membangun networking dan relationship “baik di level makro dan mikro. Konsep new power adalah saling belajar dan mengajar sehingga mulai dari level pembuat regulasi hingga rumah sakit merupakan networking dan pemanfaatan multi channel. bekerja sama menggunakan gabungan learning change dan improvement proses menjadi lebih cepat untuk perubahan yang diinginkan. Makro dan mikro sistem dalam satu tim dengan new power akan membuat implementasi dan peningkatan patient safety di Indonesia lebih cepat. Saya kaitkan dengan patient voice dan menyajikan data dari indikator yang diukur secara nasional (metric) dan mengukur outcome pasien yang direfleksikan untuk memperbaiki berbagai regulasi JKN kita. Coba lihat kasus yang terakhir di Indonesia dengan bayi D tidak sampai 1 minggu regulasi dapat berubah jika disajikan dengan cara yg cerdas dengan data analisa yg baik dan kerja kolaboratif level makro dan mikro saya yakin akan ada perubahan baik dari regulasi patient safety yang dipengaruji baik langsung maupun tidak langsung dengan tarif JKN (Catatan: Fathema Djan)

Gambar: Dr. Fathema dan delegasi RS Pelni diseberang gedung pertemuan ISQua 2017
{tab title=”Note 2″ class=”green”}
2. Mendekatkan Permasalahan dengan Pembuat Kebijakan.
Siapa dulu pembunuh terbesar Londoners? Bukan Jack the Ripper ….but kolera …Yup
pencemaran luar biasa pada sungai Thames menyebarkan aroma busuk hingga ke House of Parliament yang memaksa mereka menutup kantor dewannya dan kemudian pindah. Tetapi hal itulah yang membuat para politisi tersebut langsung memikirkan dana untuk membuat sistem irigasi luar biasa dan ketika membangun sistem tersebut mereka juga membuat 2 tube atau gorong-gorong raksasa yang kemudian menjadi dasar bagi London atau underground tube.
Message: dekatkan masalah dengan pembuat kebijakan dan berpikir jauh ke depan (catatan Vira Wardani dari Old Westminster Tour)
{tab title=”Note 3″ class=”blue”}
3. Cara Membuat Patient Stories.
Pada sesi breakfast session tentang Patient Voices, disampaikan tips membuat stories, yaitu: 1. Perhatikan AUDIENCE atau sasaran dari cerita tersebut, 2. Tentukan KEY MESSAGE yang akan disampaikan, 3. Pastikan cerita SHORT & SWEET, 4. sampaikan hal-hal yang MENARIK DAN MENGGUGAH (CAPTIVATE), 5. dan jangan lupa untuk SHARE.
Contoh hasil membuat patient stories bisa dilihat di sini https://youtu.be/NQFS8pWE6B4 dan disini https://youtu.be/LZ2t6Oy0n1g (catatan Hendra Firmansyah)
{tab title=”Note 4″ class=”orange”}
4. Dari Sesi Debat ISQua
Apakah kita memerlukan sedikit atau ratusan indikator untuk mutu pelayanan kesehatan? Pelayanan kesehatan sering disebut sebagai sistem nomor wahid paling kompleks di dunia sehingga tidak pernah mudah menggambarkan kompleksitas tersebut secara sederhana tanpa mengurangi kekayaan informasi yang diperlukan. Mengukur mutu tidak hanya ditujukan untuk mengetahui sampai dimana kita, tetapi juga proses yang terjadi sehingga kita melakukan proses perbaikan dengan tepat. Di sisi lain, kompleksitas pengukuran juga berisiko akan menyebabkan tenggelamnya kita pada data tanpa bisa mengambil makna selain faktor sumber daya yang diperlukan. Jadi kembali bagaimana kita bisa menetapkan, small but beautiful data. Passionate people are lowering down in the organization…their effort were not embrace and recognized. (Catatan Viera Wardani)
{/tabs}
Video Catatan dari Delegasi Indonesia
{tab title=”Video 1″ class=”red” align=”justify”}
Sutoto, Ketua KARS: Pertemuan ISQua ini menginspirasi KARS untuk memberikan dukungan untuk penelitian dalam bidang akreditasi RS
{tab title=”Video 2″ class=”green”}
Nico Lumenta, Komisioner KARS: Kita harus mendengarkan patient voices untuk dapat meningkatkan mutu asuhan yang DNA-nya terdiri dari: Safety, Mutu dan Budaya
{tab title=”Video 3″ class=”blue”}
Rita Zahara, Dokter Spesialis Jantung RS Jantung Harapan Kita: Pengalaman memakai “sepatu orang lain” untuk memahami berbagai perspektif yang berbeda
{/tabs}
{jcomments on}
Perbaikan di Tingkat Sistem Untuk Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan
Peningkatan mutu pelayanan kesehatan dengan pendekatan perbaikan di tingkat sistem fasilitas pelayanan kesehatan menjadi topik yang diangkat pada beberapa artikel di website mutu pelayanan kesehatan kali ini. Hal ini sejalan dengan topik yang diangkat pada pertemuan internasional ke-34 oleh The International Society for Quality in Health Care (ISQua), yakni “Learning at the System Level to Improve Healthcare Quality and Safety“.
Selain dua artikel yang akan memaparkan mengenai instrumen yang dapat dipergunakan menilai kepuasan pasien kardiovaskuler terhadap pelayanan kesehatan dan upaya intervensi oleh tenaga kesehatan dalam proses pemberian pelayanan kesehatan dengan menggunakan dukungan teknologi bagi pasien kardiovaskuler. Website mutu juga akan menyampaikan laporan lengkap pelaksanaan pertemuan internasional ISQua ke- 34 yang tahun ini di helat di London. Detil materi dapat pula diakses di website mutu dengan harapan seluruh pemerhati mutu yang belum berkesempatan hadir secara langsung pada perteuan tersebut dapat memperoleh tambahan informasi upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan terkini.
Simak reportase lebih lengkapnya pada link berikut