Seri Webinar Nasional: Menjadi Bidan Unggul dan Profesional dalam Penguatan Pelayanan Kebidanan

Seri Webinar Nasional:

Menjadi Bidan Unggul dan Profesional dalam Penguatan Pelayanan Kebidanan

“Achieving Excellence in Health Services”

  Latar Belakang

Dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan kebidanan untuk mengembangkan dan meningkatkan kompetensi manajerial dan klinis. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kemampuan manajemen kinerja klinis sehingga dapat memberikan layanan yang efisien dan efektif sesuai dengan standar mutu yang berlaku. Mutu pelayanan kesehatan oleh berbagai hal yang saling berkaitan, termasuk pengelolaan sumber daya manusia, penggunaan teknologi informasi, manajemen administrasi dan keuangan, serta penerapan standar kualitas dalam layanan kesehatan.

Sumber daya manusia kesehatan (SDMK) menjadi kunci dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Beberapa permasalahan terkait SDMK dalam pengembangan manajemen kinerja yang masih banyak dihadapi fasyankes adalah sebagai berikut:

  1. Sumber daya manusia kesehatan (SDMK) belum pernah mengikuti pelatihan manajemen kinerja klinis
  2. Sumber daya manusia kesehatan (SDMK) memiliki pemahaman yang berbeda terkait standar kualitas pelayanan kesehatan
  3. Kurang adanya pembinaan sumber daya manusia kesehatan (SDMK)
  4. Belum dikembangkan sistem monitoring dan evaluasi kinerja bagi sumber daya manusia kesehatan (SDMK) di fasyankes

Peningkatan dan pengembangan kapasitas SDMK (quality of care) dan penyediaan sarana dan prasarana yang menunjang pelaksanaan tugas (quality of services) berperan penting dalam menentukan mutu layanan kesehatan. Perlu adanya upaya peningkatan kinerja pelayanan SDMK sebagai upaya menjamin mutu layanan kesehatan. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) UGM menyelenggarakan Seri Webinar Nasional: Menjadi Bidan Unggul dan Profesional dalam Penguatan Pelayanan Kebidanan sebagai solusi strategis untuk menjawab tantangan dan kebutuhan yang ada.

  Tujuan

Tujuan umum dari kegiatan adalah untuk meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan yang diberikan oleh bidan melalui peningkatan kemampuan manajemen kinerja, kompetensi, dan kapasitas bidan.
Tujuan khusus dari kegiatan ini adalah sebagai berikut:

  1. Menerapkan standar operasional prosedur (SOP) dalam praktik pelayanan kebidanan.
  2. Meningkatkan kualitas manajemen kebidanan klinik (praktik klinik).
  3. Mengembangkan sistem monitoring dan evaluasi kinerja kebidanan klinik dalam pelayanan kebidanan.

  Sasaran Peserta

Sasaran dari pelatihan ini adalah:

  1. Bidan profesi
  2. Bidan vokasi

Indikator Pelatihan

Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta diharapkan mampu:

  1. Menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) secara efektif dalam praktik kebidanan
  2. Mengidentifikasi dan mengelola risiko terkait dengan pelayanan kebidanan
  3. Melakukan evaluasi dan pemantauan kinerja secara rutin menggunakan indikator kinerja yang telah ditetapkan
  4. Menerapkan prinsip-prinsip etika profesi dalam semua aspek pelayanan kebidanan.
  5. Berpartisipasi aktif dalam diskusi kasus dan refleksi praktik

  Materi Pelatihan

Kegiatan ini akan diselenggarakan terbagi menjadi 3 (tiga) sesi dengan materi yang berbeda dan berkesinambungan.

Webinar 1: Peran Manajemen Kinerja dan Standar Kompetensi dalam Pelayanan Kebidanan

Rabu, 9 Juli 2025  |  13.00 – 16.00 WIB

No.

Judul Materi

Narasumber

Ruang lingkup materi

1

Pengantar Konsep Manajemen Kinerja

dr. Tridjoko Hadianto, DTH&M., M.Kes

Pemahaman dasar tentang definisi, prinsip, dan pentingnya manajemen kinerja dalam meningkatkan mutu pelayanan kebidanan

 2

Visi, Tantangan dan Peluang dalam Masa Depan Pelayanan Kebidanan

Dr. Yudhia Fratidhina, SKM, M.Kes

Perkembangan pelayanan kebidanan nasional hingga global, serta bagaimana bidan harus beradaptasi untuk tetap relevan dan kompeten 

 3

Standar Kompetensi dan Standar Profesi Kebidanan

Gita Nirmala Sari, SST, M.Keb, PhD 

Penjelasan tentang standar kompetensi dan standar profesi kebidanan yang berlaku saat ini dan menjadi acuan praktik profesional bidan di Indonesia 

 4

Implementasi Standar Operasional Prosedur (SOP) sesuai Standar Profesi untuk Peningkatan Mutu Layanan Kebidanan

Dr. Indra Supradewi, SKM, MKM

Penerapan SOP dalam praktik nyata untuk menjamin kesetaraan dan keseragaman pelayanan kebidanan yang berkualitas 

 5

Memahami Standar Etika Profesi Kebidanan

Prof. Dr. Mufdlillah, S.Pd., S.SiT., M.Sc 

Prinsip etika dalam praktik kebidanan untuk melindungi hak pasien dan menjaga integritas profesi. 

 

Reportase Kegiatan

Seri 1: Peran Manajemen Kinerja dan Standar Kompetensi dalam Pelayanan Kebidanan

seri1 2

Dalam upaya memperkuat pelayanan kebidanan yang unggul dan profesional, Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM bekerja sama dengan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) menyelenggarakan Webinar Nasional Seri 1 bertajuk “Peran Manajemen Kinerja dan Standar Kompetensi dalam Pelayanan Kebidanan” pada Rabu (9/7/2025). Kegiatan yang digelar secara daring ini menjadi wadah penting untuk memperbarui wawasan dan meningkatkan kapasitas para bidan dalam menjawab tantangan pelayanan kesehatan ibu dan anak.

Dalam sambutannya, Dr. Ade Jubaedah, SSiT, MM selaku Ketua Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia (IBI) menyampaikan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kualitas layanan kebidanan. Bidan adalah garda depan kesehatan perempuan dan anak. Peningkatan kapasitas bidan dapat berdampak langsung pada kesehatan masyarakat. Hal ini selaras dengan pengantar dr. Muhammad Hardhantyo, MPH, Ph.D selaku ketua Divisi Manajemen Mutu PKMK yang menyampaikan bahwa RPJMN 2025–2029 menargetkan penurunan angka kematian ibu dan anak serta peningkatan gizi yang menempatkan peran bidan pada posisi krusial dalam sistem kesehatan nasional.

Materi pertama disampaikan oleh dr. Tridjoko Hadianto, DTH&M., M.Kes yang membahas pentingnya manajemen kinerja kebidanan dalam meningkatkan mutu layanan bidan. Ia memaparkan bahwa manajemen kinerja bukan sekadar evaluasi administratif, tetapi mencakup standar operasional prosedur (SOP), uraian tugas, indikator kinerja klinis, diskusi refleksi kasus, serta monitoring dan evaluasi berkelanjutan. Melalui pendekatan ini, bidan tidak hanya berfokus pada hasil akhir tetapi juga proses kerja yang berkualitas dan kolaboratif.

Selanjutnya materi dilanjutkan oleh Dr. Yudhia Fratidhina, SKM, M.Kes dengan materi tantangan dan peluang masa depan profesi kebidanan. Saat ini, profesi bidan dihadapkan pada kebutuhan untuk terus beradaptasi di tengah era digitalisasi dan perubahan demografi. Bidan harus mampu bekerja secara inklusif, profesional, dan memanfaatkan teknologi—termasuk media sosial—untuk menjangkau masyarakat. Ia menekankan pentingnya transformasi menuju bidan profesional yang tidak hanya bekerja sesuai standar tetapi juga memiliki semangat belajar sepanjang hayat.

Materi ketiga oleh Gita Nirmala Sari, SST, M.Keb, PhD mengupas aspek hukum dan standar profesi dalam praktik kebidanan yang mengacu pada UU Nomor 17 Tahun 2023 dan PMK Nomor 320 Tahun 2020. Bidan memiliki peran yang spesifik dan strategis, terutama dalam pelayanan kesehatan perempuan. Standar kompetensi yang tengah direvisi akan semakin menyesuaikan dengan kerangka kerja internasional. Bidan tidak hanya sebagai pelaksana klinis, tetapi juga pendidik dan advokat dalam sistem kesehatan.

Sementara itu, Prof. Dr. Mufdilah, S.Pd., S.SiT., M.Sc membahas etika profesi sebagai pilar kepercayaan dan kualitas layanan. Bidan unggul harus memiliki kompetensi, empati, integritas, serta kemampuan kolaborasi lintas profesi. Etika menjadi pondasi dalam menghadapi berbagai tantangan seperti dokumentasi, legalitas praktik, dan tekanan sosial budaya. Beliau menegaskan bahwa profesionalisme harus dijaga melalui pendidikan berkelanjutan, refleksi diri, dan keterlibatan dalam pengembangan ilmu.

Materi terakhir oleh Dr. Indra Supradewi, SKM, MKM membahas implementasi SOP sebagai alat penting dalam menjaga mutu pelayanan kebidanan. SOP tidak hanya berfungsi sebagai dokumen formal tetapi juga panduan teknis yang wajib dipahami dan dilaksanakan secara konsisten. Pelaksanaan SOP yang baik harus dilandasi kedisiplinan, kesadaran, dan evaluasi berkala. Dalam konteks praktik, SOP juga menjadi pegangan penting dalam menghadapi kondisi darurat dan penanganan rujukan.

Lima materi yang disampaikan dalam webinar ini saling melengkapi dan membentuk benang merah yang kuat. Semua bermuara pada satu tujuan utama, yakni memperkuat profesionalisme bidan dalam menjalankan pelayanan yang bermutu tinggi. Webinar ini tidak hanya sebagai sarana transfer ilmu tetapi juga refleksi kolektif untuk menumbuhkan semangat belajar dan beradaptasi di tengah perubahan sistem kesehatan. Seri webinar ini akan berlanjut pada sesi 2 dan 3. Bidan di Indonesia diharapkan semakin mampu dalam memperkuat identitas profesionalisme, menjaga mutu pelayanan, dan tetap setia pada panggilan mulia profesinya.

Reporter:
Nikita Widya Permata Sari, S.Gz (PKMK UGM)

Webinar 2: Peningkatan Kualitas Pelayanan Kebidanan

Kamis, 7 Agustus 2025   |   13.00 – 16.00 WIB

No.

Judul Materi

Narasumber

Ruang lingkup materi

1

Penerapan Indikator Kinerja (Performance Indicator) dalam Praktik Kebidanan

Juli Oktalia, SST, MA – Kolegium Kebidanan

Prinsip dasar hingga praktik penggunaan indikator untuk evaluasi kinerja bidan dan layanan yang diberikan

 2

Pengenalan dan Praktik Diskusi Refleksi Kasus (DRK): Kasus Umum dalam Pelayanan Kebidanan

dr. Arida Oetami, MKes

Pendekatan reflektif dengan DRK berbasis kasus nyata untuk melatih kemampuan analisis dan pengambilan keputusan

 3

Sistem Monitoring dan Evaluasi (MONEV) Kinerja dalam Praktik Kebidanan

Prof. Dr. Mufdlillah, S.Pd.,S.SiT., M.Sc

Teknik penyusunan, implementasi, dan pelaporan MONEV untuk mendukung perbaikan berkelanjutan dalam praktik kebidanan

 4

Model Pelayanan Bidan Berkualitas melalui “Bidan Delima”

Endang Sundari, SST., MKM

Studi model praktik kebidanan berbasis mutu, standar layanan, dan citra profesionalisme yang telah diakui secara nasional

 

Reportase Kegiatan

Seri Webinar Nasional kembali digelar oleh Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM. Pada seri kedua ini, tema yang diangkat adalah “Peningkatan Kualitas Pelayanan Kebidanan” dengan menghadirkan empat narasumber dari institusi akademik dan organisasi profesi kebidanan. Monita Destiwi, SKM, M.A., berperan sebagai moderator dalam webinar kali ini, membuka dan memandu jalannya webinar, serta menekankan urgensi peningkatan kualitas pelayanan kebidanan sejalan dengan standar profesi, kebutuhan masyarakat, dan penguatan mutu layanan kesehatan ibu dan anak.

Narasumber pertama yaitu Juli Oktalia, SST, MA, Ketua Bidang Pengembangan Kompetensi Kolegium Kebidanan, yang menyampaikan materi berjudul Penerapan Indikator Kinerja dalam Praktik Kebidanan. Juli menekankan pentingnya indikator kinerja sebagai bentuk akuntabilitas praktik kebidanan. Indikator dapat bersifat kualitatif maupun kuantitatif, dengan tujuan memastikan akurasi intervensi dan mutu layanan. Tantangan utama penerapan indikator kinerja dalam praktik kebidanan adalah beban dokumentasi dan kurangnya umpan balik. Narasumber menekankan pentingnya penyusunan indikator yang sederhana, relevan dengan praktik, dan mencontohkan penggunaan prinsip SMART–Specific (Spesifik), Measurable (Terukur), Achievable (Dapat Dicapai), Relevant (Relevan), dan Time-bound (Batas Waktu).

Materi kedua, Pengenalan dan Praktik Diskusi Refleksi Kasus (DRK) dalam Pelayanan Kebidanan, disampaikan oleh dr. Arida Oetami, MKes, Kepala Divisi Pelatihan PKMK FK-KMK UGM. Arida memaparkan peran metode Diskusi Refleksi Kasus (DRK) sebagai sarana pembelajaran kolektif antar bidan. DRK memungkinkan bidan untuk merefleksikan pengalaman praktik, baik yang berhasil maupun yang belum optimal, melalui diskusi kelompok kecil (5-7 orang). Langkah-langkah DRK mencakup identifikasi kasus, analisis faktor penyebab, serta refleksi terhadap standar yang ada. DRK diyakini efektif untuk meningkatkan mutu layanan secara berkelanjutan.

Prof. Dr. Mufdlilah, S.Pd.,S.SiT., MSc, Guru Besar Ilmu Kebidanan UNISA Yogyakarta, menyampaikan materi ketiga yang membahas Sistem Monitoring dan Evaluasi (MONEV) Kinerja dalam Praktik Kebidanan. Mufdlilah menjelaskan peran monitoring dan evaluasi (monev) sebagai instrumen utama untuk menjamin kualitas, efektivitas, efisiensi, dan keberlanjutan pelayanan kebidanan. Tujuan utama dari monev adalah memastikan pencapaian indikator KIA, mengidentifikasi kendala, serta memberikan rekomendasi perbaikan untuk meningkatkan mutu layanan dan penguatan layanan. Pihaknya menegaskan bahwa monev perlu diposisikan sebagai forum refleksi kinerja, bukan sekedar pengawasan, sehingga menciptakan budaya belajar di kalangan bidan.

Materi terakhir disampaikan oleh Endang Sundari, SST, MKM, selaku General Manager Bidan Delima Pusat. Bu Endang memaparkan materi dengan topik Model Pelayanan Bidan Berkualitas melalui “Bidan Delima”. Bu Endang memperkenalkan Bidan Delima sebagai program unggulan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) untuk memastikan pelayanan kebidanan bermutu dan sesuai standar. Program ini mengintegrasikan peningkatan kompetensi bidan, sistem monitoring, serta branding praktik mandiri bidan. Selain itu, aplikasi Odelia diluncurkan dengan modul Tele-Bidan, Tele-Konsul, dan Tele-Delima untuk mendukung digitalisasi praktik kebidanan. Hingga kini terdapat sekitar 9.000 tempat praktik mandiri bidan (TPMB) yang sudah terdaftar dalam sistem Odelia.

Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan beragam pertanyaan peserta untuk semua narasumber, di antaranya terkait strategi agar indikator kinerja tidak menjadi beban administrasi semata, upaya mengatasi hambatan dalam pelaksanaan DRK, mekanisme monitoring dan evaluasi, dan bagaimana membangun budaya reflektif agar Monev tidak hanya dianggap sebagai pengawasan. Webinar ditutup dengan kesimpulan bahwa peningkatan kualitas pelayanan kebidanan membutuhkan sinergi indikator kinerja, refleksi praktik, monitoring-evaluasi, dan program berbasis standar seperti Bidan Delima. Bidan yang unggul bukan hanya terampil secara teknis, tetapi juga peduli, reflektif, dan terus belajar.

Reporter: dr. Aulia Shafira, MPH (Divisi Manajemen Mutu, PKMK UGM)

Webinar 3: Keselamatan Pasien dan Manajemen Risiko dalam Praktik Kebidanan

Kamis, 21 Agustus 2025   |   13.00 – 16.00 WIB

No.

Judul Materi

Narasumber

Ruang lingkup materi

1

Sistem Rujukan dalam Pelayanan Kesehatan di Indonesia

Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan (dalam konfirmasi)

Mekanisme, prinsip, tantangan, dan batasan dalam rujukan pelayanan kebidanan

 2

Manajemen Risiko dan Keselamatan Pasien dalam Pelayanan Kebidanan

Dr. Heni Puji Wahyuningsih, S.SiT., M.Keb

Strategi mengidentifikasi, menganalisis, dan mengelola risiko klinis untuk mencegah insiden keselamatan pasien

 3

Peningkatan Daya Saing
Profesi Bidan

dr. M. Hardhantyo P.W., MPH., PhD

Penguatan kompetensi dan inovasi untuk menjawab tantangan dalam konteks profesi bidan

 4

Peningkatan Komunikasi Efektif dan Kolaborasi Multidisiplin dalam Tim Kesehatan

Sri Nenggih Wahyuni, S.IP., MA

Teknik membangun kemampuan komunikasi efektif dan koordinasi efektif
antarprofesi untuk meningkatkan kualitas layanan

 5

Strategi Penanganan
Komplain dalam Praktik
Kebidanan

Nunik Endang Sunarsih, S.ST,. SH,.MS.c

Cara efektif dan profesional dalam merespon dan menangani keluhan pasien untuk menjaga reputasi layanan

 

Reportase Kegiatan

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM menyelenggarakan webinar bertajuk “Keselamatan Pasien dan Manajemen Risiko dalam Praktik Kebidanan” pada Kamis (21/08/2025). Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom dan diikuti oleh bidan, akademisi, serta mahasiswa. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan melalui penguatan kemampuan manajemen kinerja, kompetensi, serta kapasitas bidan dalam memberikan layanan yang aman dan bermutu.

21ags 1Sesi pertama menghadirkan Arida Oetami, M.Kes yang membahas sistem rujukan pelayanan kesehatan perseorangan. Dengan moderator Tri Yatmi, diskusi menyoroti perbedaan sistem rujukan lama tahun 2012 dengan regulasi baru melalui PMK Nomor 16 Tahun 2024. Sistem ini menekankan pentingnya rujukan berbasis kebutuhan medis pasien, kemampuan fasilitas kesehatan, jarak dan waktu tempuh, serta keselamatan, bukan lagi pertimbangan biaya. Arida menjelaskan bahwa rujukan kini menggunakan sistem elektronik terintegrasi yang memuat identitas pasien, fasilitas asal dan tujuan, rekam medis, serta alasan rujukan. Pihaknya menambahkan bahwa pemerintah pusat dan daerah memiliki tanggung jawab dalam pembinaan, pengawasan, dan evaluasi pelaksanaan sistem rujukan. Dengan diterapkannya PMK Nomor 16 Tahun 2024, diharapkan pelayanan kesehatan menjadi lebih efisien, tepat sasaran, dan aman bagi pasien.

21ags 2Materi berikutnya disampaikan oleh Dr. Heni Puji Wahyuningsih, S.SiT., M.Keb, Ketua PD IBI Yogyakarta, yang menekankan pentingnya manajemen risiko dan keselamatan pasien dalam praktik kebidanan. Ia menjelaskan bahwa setiap fasilitas kesehatan, baik rumah sakit, puskesmas, klinik, maupun praktik mandiri, memiliki potensi risiko yang harus diidentifikasi, dianalisis, dan dimitigasi. Manajemen risiko, menurut Heni, tidak hanya melindungi pasien, tetapi juga tenaga kesehatan dan institusi. Ia menyoroti hubungan erat manajemen risiko dengan keselamatan pasien, khususnya dalam mencegah kesalahan medis, mengurangi biaya akibat insiden, serta meningkatkan kualitas layanan. Mengutip data WHO, Heni menegaskan bahwa kesalahan pelayanan kesehatan masih menjadi faktor signifikan kematian pasien, sehingga manajemen risiko harus diinternalisasi sebagai budaya kerja sehari-hari di fasilitas kesehatan.

21ags 3Paparan ketiga disampaikan oleh dr. M. Hardhantyo P.W., MPH., Ph.D., Kepala Divisi Manajemen Mutu PKMK FK-KMK UGM, yang menguraikan penerapan Total Quality Management (TQM) dalam praktik kebidanan. Ia menjelaskan bahwa pelayanan kebidanan harus unggul, aman, responsif, dan berbasis data. Delapan prinsip TQM, seperti mendengarkan suara konsumen, keterlibatan tim, perbaikan berkelanjutan, hingga pengambilan keputusan berbasis data, dapat menjadi pedoman untuk meningkatkan mutu. Hardhantyo mencontohkan inovasi pelayanan, seperti tele-laktasi untuk mendampingi ibu menyusui atau sistem pengingat berbasis WhatsApp untuk perawatan pasca operasi. Menurutnya, refleksi kasus juga perlu dilakukan sebagai pembelajaran bersama, bukan untuk mencari kesalahan individu, melainkan memperbaiki proses pelayanan secara konsisten.

21ags 4Selanjutnya, Sri Nenggih Wahyuni, S.IP., MA menyampaikan materi tentang pentingnya komunikasi efektif dalam pelayanan kesehatan. Ia menegaskan bahwa komunikasi adalah kunci membangun kepercayaan antara tenaga kesehatan dengan pasien maupun antar profesi di fasilitas layanan. Komunikasi yang efektif harus bersifat dua arah, disertai empati, keterbukaan, serta sikap suportif. Nenggih juga menekankan pentingnya memperhatikan aspek nonverbal seperti sikap tubuh, ekspresi wajah, dan penampilan yang dapat mempengaruhi kesan pasien. Ia mengingatkan bahwa komunikasi kolaboratif antar profesi sangat penting untuk menghindari ego sektoral dan memastikan koordinasi yang baik.

21ags 5Nunik Endang Sunarsih, S.ST., S.H., M.Sc, Ketua I PP IBI, yang menjadi pembicara terakhir membawakan materi tentang “Strategi Penanganan Komplain dalam Praktik Kebidanan”. Ia menegaskan bahwa bidan harus bekerja sesuai aturan hukum, termasuk Undang-Undang Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023 dan PP Nomor 28 Tahun 2024. Nunik menyampaikan bahwa komplain pasien seringkali berakar pada kegagalan komunikasi, sehingga metode standar seperti SBAR dan closed-loop communication perlu diterapkan. Ia menjelaskan strategi penanganan komplain yang meliputi mendengarkan dengan empati, menyampaikan terima kasih, meminta maaf, menawarkan solusi, hingga menindaklanjuti hasilnya. Menurutnya, komplain bukan hambatan, melainkan peluang untuk memperbaiki mutu layanan kebidanan.

Webinar ini menegaskan bahwa keselamatan pasien, manajemen risiko, mutu layanan, komunikasi efektif, dan penanganan komplain merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam praktik kebidanan. Melalui penguatan kompetensi bidan di berbagai aspek tersebut, diharapkan pelayanan kebidanan di Indonesia dapat semakin berkualitas, aman, dan berorientasi pada kepuasan pasien.

Reporter: Indra Komala R.N. M.P.H.

Biaya Kepesertaan

  • 1 webinar Rp 100.000/peserta
  • 3 webinar Rp 250.000/peserta

Kesetaraan Kesehatan Perempuan, Hak Dasar yang Masih Sulit Dipenuhi

Perempuan telah menorehkan banyak prestasi di berbagai bidang, mulai dari politik, sains, olahraga, hingga dunia bisnis, menunjukkan bahwa mereka memiliki kapasitas dan kontribusi besar bagi masyarakat. Namun, di balik pencapaian tersebut, masih ada kesenjangan kesetaraan yang nyata di berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam akses terhadap hak-hak dasar kesehatan.

Continue reading

Tinjauan Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pengalaman Kenyamanan Pasien di Rumah Sakit

Kenyamanan pasien mengacu pada rasa bahagia, rileks, dan puas yang dialami pasien selama menjalani perawatan medis. Hal ini sangat penting dalam perawatan kesehatan karena sangat mempengaruhi kesejahteraan pasien dan persepsi mereka terhadap keseluruhan proses, yang mengarah pada pemulihan yang lebih cepat dan hasil kesehatan yang lebih baik. Kualitas udara dalam ruangan (IAQ), aliran udara, dan sistem ventilasi merupakan faktor yang berdampak signifikan pada lingkungan fisik rumah sakit, sehingga memengaruhi kenyamanan pasien. Selain itu, lingkungan sosial dan humanistik rumah sakit sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti perawatan dan pola makan, privasi, dan komunikasi. Dengan menciptakan lingkungan yang rileks dan menyenangkan, kekhawatiran dan kecemasan dapat dikurangi serta pengalaman yang positif dan nyaman dapat diberikan.

Menghormati privasi pasien dan memastikan ruang pribadi yang memadai sangat penting untuk kenyamanan mereka. Komunikasi yang jelas dan empatik dari profesional perawatan kesehatan, termasuk penjelasan yang transparan tentang prosedur medis, diagnosis, dan pilihan pengobatan, membantu pasien merasa lebih nyaman dan memegang kendali atas perjalanan perawatan kesehatan mereka. Mendorong interaksi sosial yang positif di antara pasien dan dengan staf perawatan kesehatan dapat menciptakan rasa kebersamaan dan mengurangi perasaan terisolasi. Selain itu, menyediakan perawatan berkualitas tinggi dapat memenuhi kebutuhan emosional dan psikologis pasien, yang perlu difokuskan pada pengalaman kenyamanan pasien dan mengambil tindakan untuk mengatasi masalah atau isu apa pun. Lebih jauh lagi, tempat duduk yang tepat, toilet yang bersih, dan makanan bergizi sangat penting untuk kenyamanan pasien. Memastikan kebutuhan mendasar ini membantu pasien merasa diperhatikan dan meningkatkan kesejahteraan umum mereka. Dengan menganalisis literatur yang relevan, penelitian ini akan mengidentifikasi faktor-faktor utama yang berkontribusi atau menghambat kenyamanan pasien.

Memenuhi kebutuhan kenyamanan pasien dapat membantu mengurangi kecemasan dan stres pasien, sehingga mempercepat pemulihan pasien. Selain itu, suasana yang santai di rumah sakit membantu pasien merasa tenang, mengurangi kecemasan dan stres, mencegah reaksi fisiologis, dan memenuhi persyaratan serta harapan keluarga pasien dan pengunjung rumah sakit, yang pada akhirnya meningkatkan kenyamanan pasien.

Studi yang dilakukan oleh Tian, Yu (2023), menganalisis 913 artikel dengan topik kenyamanan pasien dari tahun 1977 hingga 2023. Faktor yang mempengaruhi kenyamanan pasien di rumah sakit, yakni:

Faktor lingkungan fisik

  1. Kualitas udara ruangan
    Kualitas udara di bangsal rumah sakit dapat terpengaruh secara negatif oleh berbagai polutan umum. Penggunaan gas, penanganan peralatan, dan pemotongan jaringan selama operasi pembedahan dapat menghasilkan partikel. Selain itu, risiko infeksi pasien dapat dipengaruhi oleh produksi bioaerosol oleh personel bedah dan penempatan komponen yang tidak tepat dalam sistem ventilasi. Perlu dicatat bahwa bakteri atau virus yang menempel pada permukaan partikel dapat menurunkan kualitas udara, yang selanjutnya menyebabkan partikel tersebut menjadi infeksius.

    Keberadaan partikel di udara dapat mempengaruhi kesehatan pernapasan pasien secara signifikan. Angka kejadian dan kematian penyakit jantung meningkat saat orang terpapar partikel. Pasien yang mengalami asma atau gejala alergi pernapasan lebih terpengaruh oleh hubungan ini. Partikel di udara, seperti debu, serbuk sari, atau alergen lainnya, dapat mengiritasi saluran pernapasan, menyebabkan ketidaknyamanan, batuk, atau kesulitan bernapas. Penggunaan disinfektan yang berlebihan seperti alkohol, hidrogen peroksida, atau pemutih menunjukkan hubungan dengan kerusakan saluran pernapasan dan peningkatan risiko terkena dan mengobati asma.

    Kontaminasi biologis di bangsal rumah sakit mencakup berbagai mikroorganisme, seperti virus, bakteri, jamur, dan patogen lainnya, yang dapat hidup di udara. Risiko infeksi meningkat secara signifikan di bangsal rumah sakit tertentu tempat mikroorganisme ini tersebar luas, khususnya di bangsal hematologi/onkologi, bangsal ortopedi, bangsal bedah, unit perawatan intensif neonatal (NICU), dan unit perawatan intensif lainnya. Mikroorganisme dapat menyebabkan infeksi rumah sakit, yang dapat bertahan hidup pada pasien, pengunjung, atau profesional perawatan kesehatan dan menimbulkan risiko infeksi yang tinggi pada pasien yang rentan. Selain itu, peralatan medis, bahan pembersih, dan sumber lainnya dapat melepaskan polutan kimia seperti patogen di udara atau bahan kimia beracun lainnya.

Faktor lingkungan sosial

  1. Perawatan dan diet
    Manajemen nyeri yang efektif dapat membantu meringankan ketidaknyamanan ini dan meningkatkan pengembangan diri serta pengalaman tidur pasien. Selain itu, kualitas perawatan yang diterima pasien di rumah sakit juga dapat memengaruhi pengalaman kenyamanan mereka. Dalam hal pola makan, rejimen pengobatan dan pantangan makanan memengaruhi kehidupan pasien, pola makan pasien memainkan peran penting dalam kenyamanan dan kepuasan mereka secara keseluruhan terkait makanan dan nutrisi.
  2. Privasi dan komunikasi
    Pasien mungkin merasa rentan secara internal selama dirawat di rumah sakit, jadi memastikan privasi dan kerahasiaan mereka dihormati sangatlah penting. Saleem dkk. melakukan wawancara terstruktur dengan 571 pasien di ruang gawat darurat. Studi tersebut menemukan bahwa 10% pasien akan menolak pemeriksaan fisik karena masalah privasi, terutama di lingkungan akut dengan tingkat kejadian dan kematian yang tinggi yang sangat penting untuk diperhatikan. Menutup tirai dan pintu selama pemeriksaan atau operasi dapat membuat pasien merasa lebih nyaman.

    Dalam aspek komunikasi, pasien dapat memperoleh dukungan emosional melalui layanan konsultasi atau metode komunikasi lainnya, yang dapat membantu mencapai pengalaman yang sangat nyaman. Dengan memanfaatkan umpan balik pasien dan memenuhi preferensi mereka sebagai strategi manajemen lingkungan, rumah sakit dapat menciptakan pengalaman yang nyaman bagi pasien.

Selengkapnya dapat diakses di:

https://jhpn.biomedcentral.com/articles/10.1186/s41043-023-00465-4#ref-CR54

 

 

Reportase Pelatihan Optimalisasi Tim Casemix & Tim Kendali Mutu Kendali Biaya Teknis Rumah Sakit untuk Peningkatan Mutu Klaim dan Klinis

eva25Penyebab kematian terbanyak bukan karena akses, namun karena pelayanan yang tidak bermutu. Pelayanan yang tidak bermutu dapat disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya pembiayaan. Sejak 2014, muncul kurang baiknya implementasi JKN. Isu yang tidak pernah lepas dibahas hingga saat ini tentang klaim pending atau BPJS Kesehatan yang tidak membayar klaim rumah sakit dengan berbagai alasan seperti tidak lengkapnya dokumen administrasi. Permasalahan ini menyebabkan timbulnya revisi pada regulasi yang ada yaitu UU Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023, disebutkan bahwa tenaga medis dan tenaga kesehatan wajib menyelenggarakan kendali mutu dan kendali biaya dengan cara audit pelayanan kesehatan. Sehingga, kinerja Tim Kendali Mutu Kendali Biaya (TKMKB) teknis yang berhubungan erat dengan tim casemix memerlukan pelatihan khusus agar mutu klaim dan klinis dapat meningkat.

Pada Kamis dan Jumat (10 – 11 Maret 2025) Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan workshop dengan topik “Optimalisasi Tim Casemix & Tim Kendali Mutu Kendali Biaya Teknis Rumah Sakit untuk Peningkatan Mutu Klaim dan Klinis” yang diisi oleh narasumber dr. Endang Suparniati, M. Kes yang pernah menjabat sebagai Kepala Instalasi Penjaminan di RSUP Dr. Sardjito dan Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep., MPH, CPCC yang merupakan peneliti di Divisi Manajemen Mutu Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (PKMK FK-KMK) UGM. Workshop ini dipandu oleh moderator yaitu dr. Opi Sritanjung ini diikuti peserta melalui Zoom dan live streaming Youtube.

Materi hari pertama yaitu “Koding ICD-9 dan ICD-10” yang memaparkan tentang teknik menentukan ICD-9 dan ICD-10 berdasarkan diagnosis, intervensi medis yang dilakukan, perjalanan suatu penyakit, dan cara penulisan koding yang baik dan benar agar mudah diidentifikasi. dr. Endang menjelaskan bahwa kesalahan dari koding yang tampak tidak berdampak besar dapat menimbulkan selisih klaim yang cukup signifikan. Contoh penulisan koding dan cara mencari koding dengan spesifik yakni dengan identifikasi tipe pertanyaan, menentukan lead term, mencari kata di volume 3 dari buku ICD-10, membaca tiap catatan, mengikuti petunjuk rujukan silang, cek ketepatan koding di volume 1, membaca inclusion atau exclusion, dan terakhir menentukan kode.

Hari kedua diisi dengan materi bersubjudul “Cara Melakukan Kendali Mutu dan Kendali Biaya oleh TKMKB Teknis”. Materi pertama mengenalkan klaim pending yang disebabkan oleh berbagai hal, seperti ketidaktepatan coding dan resume medis tidak lengkap. Audit klinis dengan penerapan Panduan Praktik Klinis yang dilakukan melalui alur klinis (clinical pathways) juga dibahas secara rinci. Sesi ini membahas mengenai audit klinis dengan menerapkan clinical pathway di tiap rumah sakit. Alur klinis dapat digunakan sebagai standar pelayanan yang bermanfaat untuk menurunkan lama rawat inap, meningkatkan luaran klinis, menurunkan biaya perawatan dan manfaat lainnya.

Peserta sangat antusias di setiap sesi diskusi. Peserta juga banyak memberikan pertanyaan terkait clinical pathway dan juga mengenai cara koding yang baik dan benar dalam beberapa kasus diagnosis. Peserta membagikan pengalamannya juga mengenai pembuatan clinical pathways baru, pembentukan tim audit, hingga proses koding yang terkadang masih dianggap salah, sehingga dikoreksi bersama saat diskusi. dr. Endang dan Eva menekankan kerjasama dan koordinasi tim untuk memaksimalkan luaran dari klaim dan audit.

Reporter:
dr. Opi Sritanjung (Divisi Manajemen Mutu, PKMK UGM)

 

 

Keamanan Pangan: Prioritas Kesehatan Masyarakat

Makanan yang aman dan bergizi dalam jumlah yang cukup sangat penting untuk mendukung kehidupan dan meningkatkan kesehatan. Namun, makanan juga bisa menjadi tempat berkembang biaknya mikroba, dan jika terkontaminasi, dapat menyebarkan bakteri, virus, parasit, serta prion yang menyebabkan keracunan makanan. Selain itu, makanan sering kali tercemar bahan kimia beracun yang ada secara alami atau terkontaminasi secara tidak sengaja atau sengaja, yang juga dapat membahayakan.

Makanan yang tidak aman yang mengandung mikroorganisme patogen dan bahan kimia beracun dapat menyebabkan lebih dari 200 jenis penyakit, mulai dari diare hingga kanker. Penyakit diare yang ditularkan melalui makanan dan air menyebabkan sekitar 2 juta kematian setiap tahunnya di seluruh dunia, termasuk banyak anak-anak. Jika penyakit yang ditularkan melalui makanan bisa dikurangi sebesar 10%, diperkirakan 5 juta jiwa dapat diselamatkan. Hampir semua jenis makanan dapat menjadi sumber penyebaran penyakit. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mencatat 1.565 wabah yang disebabkan oleh satu jenis komoditas makanan antara 2003 dan 2008.

Kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap risiko kesehatan akibat makanan adalah mereka yang berada dalam kondisi miskin. Selain berdampak buruk pada kesehatan masyarakat, penyakit yang ditularkan melalui makanan juga memberikan dampak negatif pada ekonomi individu, keluarga, komunitas, dan negara.
Wabah penyakit yang disebabkan oleh makanan telah terjadi di seluruh dunia dalam dekade terakhir, menunjukkan betapa pentingnya masalah ini dalam kesehatan masyarakat. Meskipun penyakit bawaan makanan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sangat luas, hanya sekitar 10%, atau bahkan kadang-kadang hanya 1%, dari kejadian penyakit bawaan makanan yang sebenarnya tercatat dan dilaporkan.Faktor-faktor yang memainkan peran penting dalam epidemiologi penyakit bawaan makanan yang muncul meliputi yang berikut ini:

  1. Perubahan patogen: Adaptasi mikroba melalui seleksi alam;
  2. Pengembangan: Pengenalan makanan baru melalui rantai makanan yang lebih panjang dan lebih kompleks, meningkatkan peluang kontaminasi;
  3. Kemiskinan dan polusi: Kurangnya fasilitas persiapan makanan yang aman;
  4. Kebiasaan makan: Praktik diet untuk makanan mentah atau berbahaya;
  5. Perjalanan dan migrasi: Pelancong dapat dengan cepat menyebarkan penyakit ke lingkungan yang baru dan jauh; Perdagangan makanan, pakan ternak, dan hewan: Pergerakan cepat makanan yang berasal dari tumbuhan dan hewan berkontribusi terhadap penyebaran penyakit bawaan makanan ke daerah-daerah baru;
  6. Kendaraan penularan makanan baru: Perhatian yang semakin meningkat difokuskan pada buah-buahan dan sayuran.

Deteksi organisme patogen membutuhkan fasilitas laboratorium dan tenaga ahli yang terlatih. Namun, banyak bahan kimia berbahaya yang sering ditemukan sebagai kontaminan dalam makanan dapat dideteksi menggunakan metode sederhana, bahkan dengan alat uji tertentu. Banyak zat kimia (pengotor) yang dilarang ditambahkan dalam makanan sengaja digunakan oleh pedagang yang tidak jujur untuk meraih keuntungan cepat, meskipun terkadang zat-zat ini juga bisa tercampur secara tidak sengaja. Makanan yang sering terkontaminasi meliputi susu dan produk olahannya, tepung, minyak nabati, sereal, bumbu, kacang, kopi, teh, permen, baking powder, minuman nonalkohol, cuka, tepung gram, kari, sayuran, dan ikan.

Namun, hal terpenting adalah memastikan makanan yang aman bagi konsumen. Untuk mencapai hal tersebut, perlu ada kolaborasi yang kuat antara sektor kesehatan masyarakat dengan sektor terkait lainnya, khususnya pertanian dan kesehatan hewan, guna memastikan kerjasama yang efektif. Berbagai langkah telah diambil untuk melindungi konsumen dari makanan yang tidak aman. Salah satunya adalah ISO 22000, standar yang dikembangkan oleh Organisasi Internasional untuk Standardisasi (ISO) yang fokus pada keamanan pangan. Standar internasional ini menetapkan persyaratan untuk sistem manajemen keamanan pangan yang meliputi komunikasi interaktif, manajemen sistem, program prasyarat, dan prinsip-prinsip Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP).

Penggunaan bahan kimia pengotor dalam makanan tidak hanya merugikan konsumen, tetapi juga berpotensi membahayakan kesehatan. Namun, bahan kimia ini seringkali sulit dideteksi hanya dengan inspeksi visual. Untuk mengatasi masalah ini dan meningkatkan kesadaran, Otoritas Keamanan dan Standar Pangan India telah mengembangkan manual berjudul “Uji Cepat untuk Beberapa Bahan Kimia Pengotor dalam Makanan” untuk melindungi rumah tangga, industri kecil, dan masyarakat umum dari pemalsuan makanan.

Namun, untuk memberikan dampak yang lebih besar, WHO pada tahun 2010 telah memulai rencana strategis untuk mengambil tindakan terhadap isu-isu prioritas di bidang keamanan pangan dan zoonosis bawaan makanan untuk periode 2013-2022. Cakupan rencana tersebut meliputi keamanan pangan dalam semua percabangannya, yang meliputi pendekatan pertanian-ke-meja dan penyakit zoonosis bawaan makanan. Rencana tersebut dikembangkan melalui kerja sama dengan para ahli keamanan pangan di tingkat global, regional, dan negara (WHO). Komponen utama dari rencana strategis tersebut adalah:

  1. Pengambilan keputusan berbasis sains yang menyediakan dasar ilmiah untuk langkah-langkah di sepanjang seluruh rantai pangan untuk mengurangi risiko kesehatan bawaan makanan,
  2. Kolaborasi lintas sektoral dengan tujuan untuk meningkatkan kolaborasi lintas sektoral internasional dan nasional serta peningkatan komunikasi dan advokasi, dan
  3. Kepemimpinan dan bantuan teknis untuk menyediakan kepemimpinan dan membantu dalam pengembangan dan penguatan sistem nasional terintegrasi berbasis risiko untuk keamanan pangan.

Selengkapnya dapat diakses melalui:
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9850283/

 

 

Antibiotik dan ancaman krisis kesehatan global

MASIH banyak yang ber pikir bahwa antibiotik bisa menyembuhkan beberapa penyakit. Masih banyak pula yang mengira bahwa jika sudah sembuh, antibiotik tidak perlu dihabiskan. Pemahaman-pemahaman itu dipastikan tidak tepat dan bisa menimbulkan dampak serius.

Continue reading

Kecerdasan Buatan dalam Diagnosis dan Pengobatan Penyakit Langka

Hari Penyakit Langka Sedunia (World Rare Disease Day) diperingati pada tanggal 28 Februari 2025. Hari ini diperingati setiap tahun pada tanggal 28 Februari (atau 29 Februari pada tahun kabisat), yakni hari paling langka dalam setahun. Hari Penyakit Langka Sedunia adalah gerakan global untuk penyakit langka. Hari ini bertujuan mewujudkan kesetaraan dalam kesempatan sosial, perawatan kesehatan, serta akses terhadap diagnosis dan terapi bagi orang-orang yang hidup dengan penyakit langka.

Hari Penyakit Langka memberikan energi dan titik fokus yang memungkinkan kerja advokasi penyakit langka berkembang di tingkat lokal, nasional, dan internasional.Gerakan ini punya tujuan untuk mewujudkan kesetaraan dalam peluang sosial, layanan kesehatan, dan akses terhadap diagnosis dan terapi bagi orang yang hidup dengan penyakit langka. Selain itu, tujuan diperingati Hari Penyakit Langka Sedunia yakni meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penyakit langka, serta mendorong para peneliti dan pembuat keputusan membahas tentang apa yang dibutuhkan orang-orang yang mengidap penyakit langka.

Layanan kesehatan adalah salah satu dari beberapa industri yang mengalami revolusi melalui teknologi yang berkembang pesat yang dikenal sebagai kecerdasan buatan/artificial intelligence (AI) dan pembelajaran mesin/machine learning (ML). AI adalah kapasitas mesin untuk melakukan operasi yang biasanya membutuhkan kecerdasan manusia, seperti pembelajaran, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan. Kemampuan mesin untuk belajar dari pengalaman dan meningkatkan kinerjanya tanpa diprogram secara eksplisit disediakan oleh ML, yang merupakan bagian dari AI. Kemajuan teknologi ini mampu menganalisis informasi dalam jumlah besar, mengidentifikasi tren, dan mengambil keputusan dengan kecepatan dan ketepatan yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya dengan meniru kecerdasan manusia. AI dan ML saat ini digunakan dalam industri perawatan kesehatan untuk meningkatkan pemrosesan citra medis, prediksi dan pencegahan penyakit, serta operasional rumah sakit. Dengan memanfaatkan teknologi ini, penyedia layanan kesehatan dapat mendiagnosis dan merawat pasien dengan lebih akurat dan efisien.

Individu dengan penyakit langka menghadapi banyak tantangan, termasuk keterlambatan diagnosis dan kesalahan diagnosis, respons terhadap terapi yang tidak tepat atau tidak ada, dan kurangnya alat pemantauan yang akurat. Kesalahan diagnosis penyakit langka merupakan kendala besar yang dapat memperburuk gejala dan berkembangnya masalah kesehatan lainnya, yang pada akhirnya berdampak pada menurunnya kesejahteraan pasien. Selain itu, pasien dengan penyakit langka sering kali dirawat di rumah sakit dan menderita komplikasi jangka panjang karena terapi yang diberikan tidak memberikan respons yang tepat atau hanya memiliki efek parsial yang berkurang seiring berjalannya waktu.

AI bekerja sebagai kaki tangan dalam mengintegrasikan dan memeriksa data yang terdiversifikasi. Sistem pendukung keputusan diagnostik secara efektif membantu praktisi medis dengan menyediakan daftar diagnosis banding yang relevan. Sistem ini sebelumnya telah digunakan secara efektif untuk berbagai kasus penggunaan yang terkenal. Baru-baru ini, teknologi ini telah dimanfaatkan untuk deteksi dini dan diagnosis penyakit virus corona 2019 (COVID-19) melalui pemantauan karakteristik demografi, klinis, dan epidemiologis pasien. Sistem ini juga berguna untuk implementasi penyakit langka/ rare disease (RD). Penyakit labgka dapat memperoleh manfaat dari diagnosis yang lebih cepat dan efisien. Algoritma telah dirancang dan sudah digunakan untuk mengumpulkan jaringan dan mencatat informasi melalui pasien mengenai penyakit langka untuk mengidentifikasi kasus baru.

Algoritma AI yang berbeda memiliki manfaat yang cukup besar dalam membantu diagnosis RD dan non-RD. ML membantu dalam diagnosis melalui tiga jenis algoritma:

  1. tanpa pengawasan yang bekerja dengan mengidentifikasi pola,
  2. diawasi yang mengklasifikasikan atau memperkirakan keputusan berdasarkan contoh-contoh sebelumnya, dan
  3. pembelajaran penguatan yang menggunakan proses penghargaan dan hukuman untuk membentuk cetak biru untuk beroperasi dalam hambatan tertentu.

Sehubungan dengan analisis fenotipik dan genetik, beberapa sistem AI telah menunjukkan efektivitasnya dalam menganalisis data untuk memberikan diagnosis yang akurat. Karena hampir 80% RD bersifat genetik, AI memiliki potensi besar di bidang ini.

Perbaikan alat terapeutik dan pemantauan di RD sangat penting. Perhitungan yang dilakukan AI dapat menyesuaikan rencana pengobatan terhadap perubahan kondisi pasien, penyakit lain yang terjadi bersamaan, obat-obatan, dan komponen lain yang berdampak pada kesejahteraan pasien dan/atau respons terhadap pengobatan. Sistem ini membantu pasien dalam tiga tingkatan: mengingatkan pasien mengenai dosis dan waktu pemberian serta menggabungkan terapi non-farmakologis, seperti fisioterapi.

AI juga dapat digunakan sebagai pengendalian sintetik, berdasarkan data perkiraan perkembangan penyakit, untuk mengatasi tantangan dengan jumlah pasien yang terdaftar mencukupi. Selain itu, biomarker yang andal membantu dalam mengidentifikasi proses patogenik dan penilaian respons terhadap terapi atau intervensi lain, yang keduanya penting untuk pengembangan terapi yang efektif. Penting untuk dicatat bahwa mendapatkan persetujuan peraturan untuk biomarker yang teridentifikasi seringkali merupakan proses yang rumit dan panjang yang juga harus ditangani. Secara keseluruhan, AI berpotensi berperan dalam pengembangan pengobatan RD, memungkinkan pendekatan yang berpusat pada pasien dan disesuaikan dengan kebutuhan spesifik setiap individu.

Selengkapnya dapat diakses melalui:
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10651639/