Improved access to health care impacting positively on quality of life

Screen Shot 2016-06-27 at 11.55.37 PM

ACCESS to comprehensive, quality health care services is essential for the attainment of health equity and for increasing the quality of a healthy life for everyone.

Disparities in access to health services affect individuals and society. Limited access to health care impacts people’s ability to reach their full potential, impacting negatively on their quality of life.

Continue reading

RSUD A‎ndi Makkasau Bakal Tingkatkan Mutu Pelayan untuk Kepuasan Pasien

Screen Shot 2016-06-27 at 11.49.47 PMPLT Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) tipe B Andi Makkasau, kota Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel) dr Muh Yamin Yasin, mengemukakan, rumah sakit yang merupakan salah satu dari beberapa fasilitas umum yang memberikan jasa pelayanan dalam aspek kesehatan bagi masyarakat, wajib memberikan pelayanan yang baik dan memuaskan bagi masyarakat terutama pasien.

Continue reading

Changing healthcare means changing organizational culture: 3 health system leaders weigh in

Screen Shot 2016-06-23 at 7.07.29 PMA culture of engagement and accountability is essential for health systems to succeed in an era of population health management and accountable care. Strong organizational cultures enable and nurture the new behaviors, actions and investments required to navigate the many changes affecting the healthcare industry, particularly the transition to value-based care. But driving cultural improvement is not easy, and it does not happen overnight.

Continue reading

Anggota DPRA Desak Bupati Evaluasi Pelayanan Kesehatan

Screen Shot 2016-06-21 at 7.03.29 PMAnggota DPRA, Iskandar Usman Al-Farlaky, mendesak Bupati Aceh Utara mengevaluasi pelayanan kesehatan di daerah tersebut. Desakan itu disampaikan Iskandar terkait pemberitaan tidak ada dokter dan tidak ada obat di Puskesmas Seunuddon, sehingga pasien harus dibawa ke rumah sakit di Lhokseumawe, seperti dilansir Serambi, Minggu (19/6).

Continue reading

Nurse practitioners provide quality health care with positive outcomes

Screen Shot 2016-06-17 at 8.06.43 PMAs a nurse practitioner on the front lines, there is one thing I know: We need more trained health care professionals providing quality health care. Senate Bill 323 would allow the almost 20,000 nurse practitioners practicing across California to help in solving this problem by granting nurse practitioners full practice authority.

Basically, this would allow California nurse practitioners to do what we do every day – providing patients with quality care.

Nurse practitioners are advanced practice registered nurses. We hold a master’s or doctorate degree, and many nurse practitioners also pursue specialty training in areas like pediatrics or women’s health.

Continue reading

Kemristekdikti & Kemenkes Buka Prodi Dokter Baru

Screen Shot 2016-06-17 at 7.51.33 PMJAKARTA – Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membuka Program Studi (Prodi) baru di dunia kedokteran yakni Prodi Dokter Layanan Primer. Prodi ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan dan kompetensi para dokter yang ada di Puskesmas.

Continue reading

Hubungan Kontrol Asma dengan Kualitas Hidup Terkait Kesehatan Dan Kesejahteraan

Asma adalah masalah kesehatan global yang serius dengan dampak sosial dan ekonomi yang signifikan (Global Initiative for Asthma – GINA, 2012) karena dapat meningkatkan biaya pada saat perawatan kesehatan. Asma perlu mendapat perhatian karena penyakit asma dapat menurunkan produktivitas dan meningkatkan beban ekonomi. Pengetahuan tentang penyakit asma perlu diketahui masyarakat umum, sehingga ikut membantu dalam meminimalisasi faktor pencetus asma bagi penderitanya. Orang yang mengidap asma seringkali tidak bisa menjalani hidup normal dan produktif. Kemajuan terbaru dalam ilmu kesehatan memungkinkan seseorang untuk mengendalikan gejala-gejala yang dapat melumpuhkannya, karena hampir semua orang yang mengidap asma bisa menjalani hidup normal. Hal ini hanya dimungkinkan jika penderita mendapatkan perawatan yang teratur dan juga melakukan perawatan mandiri dalam mengatasi asma tersebut. Terapi pencegahan yang teratur adalah kunci untuk mengontrol asma.

Keberhasilan mengontrol penyakit asma butuh komitmen dari petugas kesehatan dan pasien itu sendiri untuk membuat rencana manajemen asma berkelanjutan yang meliputi diagnosa dan memilih obat yang tepat, mengidentifikasi dan menghindari pemicu serangan asma, mengedukasi pasien mengenai manajemen asma diri sendiri, serta memantau dan memodifikasi perawatan asma. Bila upaya yang dilakukan untuk menghindari faktor pencetus asma berhasil, maka gangguan asma pada penderita bisa dikendalikan. Kriteria klinis asma yang terkontrol, terlihat bila penderita bebas gejala asma, aktivitas sehari-harinya tidak terganggu asma, tidak lagi mengalami gangguan ketika tidur, tidak lagi menggunakan obat pelega lagi dan hasil pemeriksaan faal parunya normal.

Pengetahuan dan sikap penderita tentang perawatan asma rata-rata masih rendah. Hal ini ditandai dengan: penderita kurang memahami tentang penyakit asma, pengertian, faktor yang mempengaruhi timbulnya asma, hal-hal yang harus dilakukan untuk perawatan penyakit asma. Kurangnya kesadaran pada penderita untuk melakukan pola hidup sehat, olahraga, menjaga kebersihan lingkungan rumah sehingga banyak debu, tidak ada ventilasi dan kecenderungan untuk menutupi penyakitnya.

Dalam mengendalikan Asma sebagian besar pasien menggunakan obat pencegahan; yang mana mayoritas tidak terkontrol penggunaannya. Hanya sekitar 3,2% dari pasien melakukan pemantauan diri rutin di rumah pada aliran ekspirasi puncak dan 38% dari pasien melaporkan bahwa meskipun mereka memiliki peak flow meter, mereka tidak menggunakannya secara teratur. Untuk obat pencegahan sebanyak 55,7% dari pasien asma menggunakan inhaler dengan benar sedangkan 44,3% lainnya diperlukan pendidikan karena teknik inhalasi masih dirasa buruk.

Dalam sebuah penelitian yang ditemukan oleh Elena Gurkova et all (2015) dengan membedakan antara kontrol asma pada pasien dewasa yang dikontrol selama 6 bulan dan 12 bulan. Hasilnya menunjukkan perbedaan yang signifikan yakni ada tingkat signifikan lebih tinggi dari kontrol asma pada pasien setelah 12 bulan dikontrol dibandingkan dengan orang-orang dalam 6 bulan masa tes. Beberapa studi telah meneliti hubungan antara kontrol asma dan kualitas hidup pada orang dewasa dengan asma, penelitian yang ada berfokus pada evaluasi pembangunan satu tahun kontrol asma dan dua pendekatan yang saling melengkapi untuk menilai kualitas hidup menggunakan health-related quality of life (HRQOL) dan subjective well-being (SWB). Kontrol asma hanya menyumbang 13% dari varians dalam SWB dan 64% di HRQOL, Hal ini menunjukkan bahwa dampak asma lebih besar pada komponen fungsi fisik HRQOL (gejala dan keterbatasan aktivitas) dari pada komponen mental atau emosional HRQOL (National Heart Lung dan Blood Institute, 2007) atau domain SWB. Dalam penetian yang ditemukan oleh Correira de Sousa et al. (2013) juga ditemukan bahwa ada hubungan yang kuat antara kontrol asma dan kualitas hidup dari pasien asma yang dirawat di praktek umum.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kontrol asma, pada gilirannya mempengaruhi kualitas hidup yang terkait kesehatan. Faktor-faktor seperti harapan pasien yang rendah terhadap pengobatan, pentingnya gejala dan kurangnya kesadaran kontrol diidentifikasi sebagai penentu terkait pasien pada kontrol asma. Oleh karena itu, adanya kebutuhan untuk meningkatkan harapan pasien dengan meningkatkan kesadaran kualitas hidup yang dapat dicapai. Dari data yang ada dapat dilihat bahwa selama 12 bulan ada perubahan signifikan dalam domain fisik kualitas hidup (persepsi gejala dan tingkat aktivitas fisik). Perubahan dalam domain emosional kualitas hidup dan kepuasan hidup secara keseluruhan tidak signifikan. Temuan ini menekankan peran pemantauan rutin pada pasien yang dikontrol asma. Hal ini dapat menyebabkan partisipasi yang lebih aktif dari pasien dan meningkatkan harapan hidup mereka daripada hanya hasil terapi.

Oleh: Andriani Yulianti, MPH
Sumber: Gurkova E., et al. Relationship Between Asthma Control, Health-Related Quality Of Life And Subjective Well-Being In Czech Adults With Asthma. Cent Eur J Nurs Midw 2015;6(3):274–282 Doi: 10.15452/CEJNM.2015.06.0016
http://periodika.osu.cz/

{module [150]}

Harapan Hidup Meningkat-Kesenjangan Kesehatan ‘Bertahan’

Harapan hidup sejak tahun 2000 terus mengalami peningkatan namun kesenjangan kesehatan tetap ‘berlangsung’. Hal ini seperti dipaparkan pada laman Blog of The PAHO/WHO Equity List & Knowledge Network. Berdasarkan World Health Statistic 2016: Monitoring Kesehatan untuk SDG’s.

Pada laman tersebut disampaikan bahwa pencapaian harapan hidup telah diperoleh sepanjang tahun 2000 secara global namun kesenjangan kesehatan tetap berlangsung di beberapa negara. Harapan hidup ini meningkat 5 tahun antara tahun 2000–2015 yang merupakan peningkatan tercepat sejak tahun 1960-an. Peningkatan terbesar berada di wilayah Afrika, dimana harapan hidup meningkat 9,4 tahun sampai 60 tahun. Lebih rinci diuraikan bahwa faktor yang mendorong peningkatan harapan hidup ini disebabkan terutama adalah karena adanya perbaikan dalam kelangsungan hidup anak, kemajuan pengendalian malaria dan upaya memperluas akses antiretrovirals (pengobatan HIV).

Pencapaian yang merata telah diperoleh, namun demikian negara-negara pendukung diharapkan untuk bergerak menuju Universal Health Coverage yang berdasarkan pada pelayanan primer yang kuat. Hal ini menurut Dr. Margaret Chan ( Direktur Jenderal WHO) merupakan hal terbaik yang dapat dilakukan untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. (lei)

(Disarikan/ sumber dari Blog of The PAHO/WHO Equity List & Knowledge Network
http://equity.bvsalud.org/