Online tool compares health care in provinces to OECD

cbcnewsObesity rate in Canada is higher than in most other OECD countries

An interactive tool allows people to compare provincial results on health indicators such as quality of care and patient safety to OECD averages.

The Canadian Institute for Health Information web tool visually compare provinces and the national average on five indicators versus 34 OECD countries, with an emphasis on countries that are most similar to Canada.

Continue reading

Transparansi Informasi Dalam Meningkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan: Review Indikator Kualitas General Practice Di Inggris

Pengembangan informasi tentang kualitas pelayanan kesehatan dapat membantu memperbaiki asuhan pelayanan, dimana harus ada information publicly available (transparan) yang kaya akan informasi dengan pengolahan dan analisis data informasi yang cermat serta bagaimana data digunakan dan dikembangkan untuk mutu pelayanan yang lebih baik.

Pemerintah Inggris menggunakan 2 short independent reviews untuk mengukur kuantitas dari kualititas health care antara lain review tertutup dilakukan oleh general practices dan review kualitas asuhan pelayanan yang berfokuskan pada hasil pelayanan. Oleh karena itu, pemerintah Inggris mengambil beberapa langkah penting untuk menumbuhkan general practice workface, memperbaiki infrakstruktur, meningkatkan akses, memperbaiki birokrasi untuk meningkatkan kualitas. Langkah-langkah tersebut antara lain:

  • Improved untuk meningkatkan asuhan pelayanan
  • Options and sound untuk memungkinkan pasien dan pengguna pelayanan memilih dan memberi masukan dalam perbaikan pelayanan
  • Accountability and performance management untuk menyediakan data yang responsible dan dapat diakses oleh public
  • Research dilakukan oleh pihak ketiga yang independen

Beberapa website sudah berisi asuhan pelayan general practice dengan peringkat yang dikeluarkan oleh the care quality commission’s (cqc) serta pemantauan kualitas general practice. Informasi yang tersedia antara lain kesehatan masyarakat Inggris, general practices profile, health and social care information, misalnya The Primary Care Web Tool developed oleh National Health System (NHS) berisi indikator setiap asuhan pelayan.

Banyak indikator serupa namun tidak identik, digunakan dan memberikan hasil yang berbeda hal ini disesuaikan dengan pengguna dengan profesi berbeda atau untuk umum dan apa tujuan penggunaanya. Mengingat angka penggunaan website tinggi maka survey tentang penggunaan penggunaan dan tujuan penggunaan valid dan reliable serta mencari cara menginformasikan asuhan pelayanan kesehatan yang berkualitas secara online.

Bagi tenaga kesehatan di general practice merasakan data di fasilitas kesehatan lebih berguna daripada data yang tersedia secara nasional namun secara keseluruhan data nasional digunakan oleh banyak fasilitas kesehatan karena update data tepat waktu dan cepat secara komputerisasi dari berbagai sumber data. Indikator gabungan peningkatan asuhan pelayanan dalam website dapat membantu public menemukan kualitas dari setiap general practice dan membantu mengidentifikasi prioritas yang digunakan untuk perbaikan, selain itu membantu bukan hanya memprioritaskan pada banyak pasien tapi pada kualitas pelayanan individu “see the wood from trees”. Indikator gabungan biasa digunakan untuk mengukur pelayanan kepada 5 kelompok antara lain usia +75, usia <75 dengan kondisi sakit, ibu bersalin, anak-anak dan health mental  namun hal ini tidak sewenang-wenang digunakan karena tidak bisa memastikan preferensi yang jelas, selain itu ada tumpang tindih antar kelima kelompok tersebut dan kesenjangan yang siginifikan, ada data yang tersedia tidak cukup kuat untuk mengembangkan credible composite score dalam lima kelompok yang diidentifikasi.

Dalam menggunakan indikator gabungan perlu mempertimbangkan scope memperbaiki proses dalam pengembangan indikator general practices di level nasional misalnya memastikan stakeholder dalam penggunaan data website secara komprehensif dan mengidentifikasi prioritas dengan melibatkan banyak kepentingan untuk mengembangkan indikator yang kredibel. Pengembangan indikator dilakukan oleh organisasi independen guna peningkatan kualitas pelayanan general practice. Pengembangan indikator perlu dianalisis biaya dan dampaknya dalam menemukan model baru asuhan pelayanan terpadu yang berkualitas serta menggunakan data dengan menyelaraskan data lokal dan data nasional. Setelah pengembangan indikator maka perlu ada publishing indikator, publishing indikator adalah salah satu elemen dan diperlukan untuk mendukung penggunaan secara terpadu oleh public, tentu sudah menginterpretasi sumber daya, tujuan penggunaan dan yang paling pentig adalah transparansi.

Oleh : Dedison Asanab, S.KM (Peneliti Pusat Penelitian Kebijakan Kesehatan dan Kedokteran Undana)
Sumber : Jennifer Dixon, Emma Spencelayh, Anna Howels, Abraham Mandel, Felix Gille. 2005. Indicators of quality of care in general practices in England. The Health Foundation.

{module [150]}

10 steps to mental health equality

guardianSo often we hear taht mental illness must be recognised as being as important as physical illness. Yet despite pledges by the UK government to increase funding for mental health, what we actually witness time an again si mental health bearing the brunt of cuts. 

The reality is that people are dying. Health professionals are out on the streets because they cannot carry on. And George Osborne’s precious economy is weakened to the tune of £100bn per annum because of a lack of sufficient mental health services.

Continue reading

Repeal the ‘Cadillac Tax’ to Protect Quality Health Benefits

the blogSince the Affordable Care Act became law in 2010, our nation has expanded health insurance coverage to millions of American families who previously lacked coverage.

As a member of Congress, I gladly supported the law, which banned the practice of denying coverage to people with pre-existing conditions, closed the prescription drug “donut hole” for seniors, and created subsidies for affordable coverage.

Continue reading

Implementasi Quality Improvement dalam Mendukung Peningkatan Angka Indikator Mutu Rumah Sakit

Peningkatan mutu pelayanan kesehatan harus dilakukan secara continue dan melibatkan semua unsur pelayanan yang ada di fasilitas kesehatan. Salah satu cara yang paling ampuh dengan menerapkan Quality Improvement (QI). Data menunjukan bahwa banyak pelayanan yang selama ini diberikan masih jauh dari bermutu, penelitian dari Brook, dkk menemukan bahwa sepertiga dari pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit justru tidak meningkatkan kesehatan pasien, peresepan obat yang tidak sesuai, hasil laboratorium yang tidak di-follow-up, dan sebagainya.

Banyak ahli berpendapat bahwa QI merupakan salah solusi strategi yang menjanjikan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. QI menitikberatkan pada pendekatan sistem dan implementasi secara berkelanjutan isu-isu atau masalah-masalah terkait pelayanan yang mana masalah tersebut akan diberikan skala prioritas oleh provider, mana yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Perencanaan dan implementasi QI nantinya akan dilakukan oleh tim yang berasal dari berbagai department atau bagian terkait dalam organisasi pelayanan kesehatan termasuk klinisi. Tujuan dari tim QI ini adalah menghasilkan keputusan yang inovatif terkait masalah yang ditentukan sebelumnya berdasarkan data statistikal dan problem solving tools. Walaupun QI merupakan solusi yang menjanjikan namun banyak rumah sakit yang telah melaksanakan QI masih mengalami kebingungan dalam implementasinya, terutama dalam mengadopsi ide-ide atau inovasi baru yang dihasilkan. Oleh karena itu, berhasil atau tidaknya QI bergantung pada individual dan organisasi tersebut serta membutuhkan leadership yang kuat, pelatihan dan support yang luas, pengukuran dan sistem pencatatan data yang relevan, dukungan insentif dan SDM, serta budaya kerja yang kuat untuk melakukan perubahan.

Hal lain yang menyebabkan QI gagal diimplementasikan adalah banyak rumah sakit yang melihat QI sebagai penghakiman atas kesalahan dari klinisi atau staf yang terlibat dalam pelayanan, padahal fokus dari QI adalah persamaan persepsi, kontrol dan peningkatan pelayanan. Oleh karena itu, QI memberikan kontribusi yang cukup besar dalam meningkatkan nilai indikator mutu rumah sakit. Misalnya dalam mendesain sistem pembayaran berbasis kinerja bisa menggunakan informasi yang diperoleh dari QI seperti kedisiplinan staf, kecepatan penanganan pasien, dan kepuasan pasien.

Salah satu studi yang membahas tentang kontribusi QI dalam peningkatan indikator mutu rumah sakit  dilakukan oleh Weiner, dkk pada 1.784 Community College Hospital di US yang melaksanakan program QI. Dari hasil analisis, Weiner, dkk menemukan ada hubungan yang signifikan antara implementasi QI dan angka indikator mutu rumah sakit. Rumah sakit yang melibatkan banyak staf dan senior manager dalam QI cenderung mempunyia angka indikator mutu rumah sakit yang tinggi. Salah satu yang menarik, Weiner, dkk menemukan bahwa keterlibatan dari unit-unit yang berbeda dalam QI justru menurunkan angka indikator mutu rumah sakit. Hal ini diduga terjadi karena dengan keterlibatan dari banyak unit membuat senior manager dan staf rumah sakit sulit untuk membagi perhatian pada beberapa program QI yang ada di tiap unit. Selain itu, dengan banyaknya unit yang terlibat mau tidak mau alokasi dana pun harus dibagi-bagi sehingga yang diterima oleh unit-unit tersebut bisa jadi tidak mencukupi untuk implementasi QI. Sementara di dalam implementasinya QI sangat membutuhkan keterlibatan dan keahlian dari para anggota tim serta dukungan finansial. Bisa jadi program QI yang kurang berhasil disebabkan karena kurangnya dukungan teknis dan finansial, serta lemahnya koordinasi dan penetapan skala prioritas.

Hal lain yang menarik dalam penelitian yang dilakukan oleh Weiner, dkk adalah mereka menemukan bahwa ternyata keterlibatan klinisi justru tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap angka indikator rumah sakit. Hal ini diduga terkait dengan peran dari klinisi dalam QI. Banyak ahli percaya bahwa keterlibatan klinisi yang rendah bisa menjadi salah satu hambatan dalam QI. Klinis mempunyai peran penting dalam perencanaan dan alokasi sumber daya khususnya sumber daya medis. Keterlibatan yang rendah dari klinisi tidak selamanya disebabkan oleh manajemen, bisa jadi merupakan sikap dari klinisi tersebut, biasanya karena ketidakpercayaan, kurangnya waktu karena sibuk dengan pelayanan, dan takut apabila perubahan yang disarankan tidak memenuhi kebutuhan pasien.

Beberapa penelitian terkait menyatakan bahwa keterlibatan masal dari klinisi dalm QI tidaklah terlalu penting, yang lebih penting adalah keterlibatan penuh dari staf manajemen dan senior manager. Namun begitu, bebrapa klinisi dengan ide-ide dan inovasi yang baik harus tetap dilibatkan dan rumah sakit harus menampung saran atau ide yang diberikan dari klinisi sesuai dengan kebutuhan. Berdasarkan penelitian terbut bisa disimpulkan bahwa QI bisa menjadi pendorong dalam peningkatan angka indikator mutu rumah sakit. Namun implementasi dari QI sendiri harus fokus dan memperoleh dukungan dari semua pihak, baik dukungan teknis maupun finansial. Selain itu, keterlibatan semua pihak mulai dari manajemen sampai dengan klinisi sangat mempengaruhi keberhasilan dari QI.

Oleh : Stevie Ardianto Nappoe, SKM-Pusat Penelitian Kebijakan Kesehatan dan Kedokteran-UNDANA

Sumber : Weiner J. Bryan, et all. 2006. Quality Improvement Implementation and Hospital Performance on Quality Indicators. HSR : Healt Service Research, 41:2.

{module [150]}