Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436H

Minggu lalu baru saja kita merayakan ‘Hari Raya Idul fitri 1436H’. Setelah melewati libur panjang, kembali minggu ini website mutu akan menyajikan berbagai artikel, berita, informasi, dan pengetahuan terupdate seputar mutu pelayanan kesehatan. Melengkapi berbagai fitur yang telah tersaji di website mutu, kami berusaha memperkaya materi website dengan menghadirkan fitur ‘Community of Practice‘ serta rubrik ‘Ketika Menjadi Pasien’.

Community of Practice dapat menjadi media untuk memperkaya pengetahuan, pengalaman, berbagi informasi dan berdiskusi dengan anggota lain yang memiliki minat dan keahlian sesuai dengan fokus masing-masing Community of Practice. Sedangkan rubrik ‘Ketika Menjadi Pasien’ dapat menjadi media berbagi pengalaman maupun perspektif bagi para tenaga kesehatan (dokter, perawat, tenaga kesehatan lainnya) ketika menjadi pasien.

Minggu ini website mutu juga akan menyajikan artikel yang terkait dengan indikator mutu rumah sakit. Topik ini senantiasa menarik untuk dibahas dan diskusikan bersama, karena indikator mutu ini erat kaitannya dalam upaya untuk memahami mutu rumah sakit itu sendiri. Selain itu juga yang tidak kalah pentingnya adalah perlu adanya suatu wadah bagi provider pelayanan kesehatan untuk saling berbagi pengetahuan dan informasi terkini dibidang kesehatan yang memiliki tujuan untuk peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Salah satunya adalah penyelenggaraan forum mutu yang digagas oleh IHQN (Indonesian Healthcare Quality Network). Forum mutu ini diharapkan dapat menjadi media ‘bertemunya’ provider pelayanan kesehatan maupun pemerhati mutu pelayanan kesehatan di seluruh Indonesia, saling berbagi informasi dan berdiskusi dengan sesama provider maupun dengan narasumber ahli yang dihadirkan khusus untuk peserta Forum Mutu ini. Informasi lengkap penyelenggaraan Forum Mutu dapat diakses di Forum Mutu XI, Surabaya, 9-10 September 2015. (lei)

{module [152]}

Menyusun Indikator Mutu Rumah Sakit

Pendahuluan
Indikator, standar, dan mutu adalah tiga hal yang berbeda. Suatu pelayanan dikatakan bermutu dalam dimensi tertentu apabila indikator pelayanan mencapai atau melampaui suatu standar tertentu. Mutu, dengan demikian tidak akan tercapai tanpa suatu perencanaan dan wawasan yang terkait dengan mutu tersebut. Dengan kata lain, bila kita menginginkan pelayanan yang bermutu di rumah sakit, maka manajemen rumah sakit perlu memperluas wawasan mengenai mutu pelayanan tersebut dan merencanakan serangkaian aksi untuk mencapai suatu tingkat/standar tertentu. Pencapaian atas aksi-aksi tersebut diukur dengan indikator.

Indikator, dengan demikian, perlu dirancang bersama dengan serangkaian proses yang akan diambil dalam upaya peningkatan mutu. Memimpin serangkaian proses ini, termasuk menyusun indikator, menjadi sangat penting. Memimpin sistem mikro klinik dalam meningkatkan mutu sudah pernah saya bahas dalam tulisan ini. Maksud tulisan ini adalah membahas beberapa hal yang sering ditanyakan para pimpinan sistem mikro klinis dalam menyusun indikator mutu pelayanan. Sebagai tambahan yaitu gagasan untuk melakukan analisis lebih lanjut dengan bantuan ilmu statistika.

Indikator Mutu
Indikator mutu klinis adalah pengukuran manajemen klinis dan/atau luaran pelayanan (Collopy 2000) dan diwujudkan dalam angka (Takaki et al. 2013). Indikator mutu, dengan demikian, selalu merupakan pengukuran kuantitatif atau semi kuantitatif yang memiliki numerator (pembilang) dan denominator (penyebut / pembagi). Umumnya, denominator adalah populasi tertentu dan numerator adalah kelompok dalam populasi yang memiliki karakteristik tertentu.

Agency for Healthcare Research and Quality (AHRQ) di Amerika Serikat mempublikasikan empat kelompok indikator mutu, yaitu prevention quality indicator, inpatient quality indicator, patient safety indicator, dan pediatric quality indicator (dapat diakses di sini). Sementara itu, Joint Commission International juga menerbitkan International Hospital Inpatient Quality Measures yang terdiri dari sepuluh kelompok indikator klinis (dapat diunduh di sini). Contoh dari kedua sumber tersebut sering dipakai bergantian dalam ceramah mengenai akreditasi rumah sakit di Indonesia.

Di Indonesia, penetapan indikator dipandu Peraturan Menteri Kesehatan No. 129 Tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) Rumah Sakit. Dalam lampiran Permenkes tersebut, diatur 21 jenis pelayanan dan 107 indikator yang telah ditetapkan standar minimalnya dengan nilai tertentu. Kementrian Kesehatan menetapkan standar ini menjadi tolak ukur pelayanan rumah sakit badan layanan umum daerah.

Tabel 1. Dimensi mutu (World Health Organization 2006).

Dimensi Mutu

Maksud Dimensi Mutu

Efektif / Effective

Pelayanan kesehatan yang erat pada basis bukti dan berhasil dalam meningkatkan luaran kesehatan individu atau komunitas berdasarkan kebutuhan.

Efisiensi / Efficient

Pelayanan kesehatan yang memaksimalkan sumber daya dan menghindari pemborosan.

Mudah diakses / Accessible

Pelayanan kesehatan yang tepat waktu, wajar secara geografis, dan disediakan dalam kerangka yang tepat dari sisi keterampilan dan sumber daya untuk memeuhi kebutuhan.

Diterima / Accepted (Patient-centred)

Pelayanan kesehatan yang mempertimbangkan pilihan dan aspirasi individu pengguna layanan dan budaya komunitasnya.

Tidak berpihak / Equity

Pelayanan kesehatan yang tidak berbeda dalam kualitas karena karakteristik personal seperti gender, ras, etnis, lokasi geografis, dan status sosio ekonomi.

Aman / Safe

Pelayanan kesehatan yang meminimalisasi resiko dan harm.

Terlepas dari beberapa nilai standar dalam SPM tersebut yang tidak dapat dilampaui, acuan tersebut memberikan sistematika yang baik dalam membuat indikator. Setiap indikator dijelaskan dengan beberapa aspek seperti judul indikator, definisi operasional, tujuan, dimensi mutu, numerator, denominator, frekuensi pengukuran, sumber data, dan penanggung jawab pengumpulan data.

Pengukuran dapat dilakukan bila tahu apa yang diukur. Dengan demikian, judul dan definisi operasional indikator telah jelas. Definisi operasional yang dimaksud di sini termasuk definisi operasional numerator dan denominator. Dimensi mutu sesuai permenkes mengacu pada dimensi mutu World Health Organization (WHO), yaitu efektif, efisien, mudah diakses, diterima/berpusat pada pasien, tidak berpihak, dan aman (World Health Organization 2006). Maksud masing-masing dimensi mutu disajikan dalam tabel 1.

Merancang Pengumpulan Data Indikator
Mengumpulkan data adalah proses yang mungkin paling melelahkan dalam petualangan menguak mutu pelayanan lewat indikator mutu pelayanan. Salah satu penyebabnya adalah pengumpulan data kurang dipertimbangkan secara matang ketika indikator mutu disusun. Cara pengumpulan data berkaitan erat dengan tujuan indikator dan aspek-aspek lain dalam indikator. Mari kita ambil contoh indikator kejadian infeksi pascaoperasi pada standar pelayanan minimal rawat inap dalam permenkes di atas.

Dalam Permenkes disebut bahwa numerator adalah jumlah pasien yang mengalami infeksi dalam satu bulan. Selanjutnya, denominator dalam lampiran tersebut tidak jelas disebutkan namun kemungkinan adalah jumlah pasien yang dioperasi dalam satu bulan. Di sini jelas, bahwa angka yang dimaksud dalam permenkes ini adalah angka insidensi. Menilik keterangannya, muncul beberapa pertanyaan misalnya: Apakah ini dihitung untuk seluruh rumah sakit atau untuk satu bangsal tertentu? Data ini menunjukkan mutu pelayanan rawat inap atau menunjukkan mutu layanan sterilisasi atau menunjukkan mutu layanan pembedahan?

Infeksi pasca operasi saat ini lebih sering disebut sebagai infeksi daerah operasi (IDO) atau surgical site infection (SSI). Infeksi ini lebih sering didiagnosis setelah pasien pulang dan merupakan hasil kontaminasi pada daerah luka operasi pada akhir pembedahan (National Collaborating Centre for Women’s and Children’s Health 2008). Bila mengikuti panduan permenkes tersebut, rumah sakit perlu menyediakan dua sarana pengumpulan data, satu untuk mengumpulkan IDO yang baru ditemukan dan satu untuk mengumpulkan jumlah pasien yang menjalani operasi pada bulan tersebut.

Dalam kerangka berpikir, indikator mutu pelayanan rawat inap, pimpinan ruang rawat inap bedah dapat memodifikasi indikator ini untuk mendapatkan manfaat lebih. Mari kita simak tabel berikut.

Tabel 2. Contoh modifikasi indikator SPM.

 

Sesuai Permenkes

Modifikasi

Numerator

Jumlah pasien yang mengalami infeksi dalam satu bulan.

Jumlah hari rawat dengan IDO.

Denominator

Jumlah pasien yang dioperasi dalam satu bulan.

Jumlah hari rawat pasien pascaoperasi.

Dengan modifikasi ini, pimpinan ruang rawat inap bedah memudahkan tim untuk mengumpulkan data karena setiap hari cukup mendata ada berapa pasien pasca operasi yang dirawat dan ada berapa pasien yang mengalami IDO. Jumlah tersebut ditambahkan mulai tanggal satu sampai akhir bulan dan dimasukkan ke dalam rumus. Sekarang, rumah sakit tahu prevalensi IDO bulan tersebut dan sebagai bonus, pimpinan ruang rawat inap bedah bisa menghitung berapa banyak sumber daya yang dipakai untuk mengurus IDO dan apakah prevalensi ini menurun atau tidak dari bulan ke bulan (menunjukkan mutu layanan luka pascaoperasi di ruang rawat inap bedah).

Merancang Analisis Data Indikator
Analisis yang diminta dalam akreditasi versi lama maupun baru seringkali terbatas pada pembuatan grafik indikator berbanding waktu dan penjelasan mengenai analisis penyebab. Dengan kerangka berpikir seperti audit medis dan audit klinis, sebenarnya pimpinan sistem mikro klinis di rumah sakit dapat memanfaatkan uji beda dalam statistika untuk melihat peningkatan mutu di unitnya.

Statistika dapat membantu pimpinan rumah sakit untuk melihat apakah ada beda bermakna pada ruang perawatan satu dengan yang lain pada indikator yang sesuai. Selain itu, pimpinan rumah sakit dapat mengevaluasi juga apakah benar ada perubahan yang bermakna setelah intervensi perbaikan mutu dilakukan di suatu unit kerja. Pengujian dengan statistika lebih lanjut dapat juga mengungkap apakah benar suatu perlakukan meningkatkan mutu pelayanan tertentu.

Namun sebelum melakukan analisis tersebut, perlu dilakukan pemilihan uji statistik yang sesuai. Untuk itu pada saat merancang indikator mutu perlu dipikirkan mengenai uji statistik tersebut. Mulai dari apakah data yang dikumpulkan menggunakan sampel atau populasi. Populasi berarti semua dihitung. Contoh IDO di atas memanfaatkan data populasi. Semua pasien yang menjalani operasi dihitung sebagai denominator. Ada keuntungan dan kerugian masing-masing dalam memakai populasi atau sampel. Bila populasinya tidak banyak, menggunakan sampel tentu tidak bijaksana.

Persiapan lainnya adalah menentukan tipe data. Apakah data tersebut merupakan data nominal, ordinal, interval, atau rasio. Tipe data tertentu dapat memerlukan uji statistik yang berbeda dengan tipe data lainnya untuk melihat hal yang sama.

Dengan penghitungan indikator yang telah dirancang dengan hati-hati ditambah dengan uji statistik yang sesuai, pimpinan rumah sakit dan pimpinan unit kerja dapat menarik kesimpulan mengenai mutu pelayanan. Tentu penarikan kesimpulan ini perlu kehati-hatian. Penurunan secara signifikan waktu respon triase merah di instalasi gawat darurat tidak lantas disimpulkan bahwa ada perbaikan pelayanan gawat darurat. Hasil ini dapat saja murni merupakan hasil modifikasi akses masuk pasien saja dan tidak berhubungan sama sekali dengan mutu pelayanan instalasi gawat darurat secara umum.

Penutup
Indikator mutu rumah sakit adalah ukuran kuantitatif yang diukur untuk lebih memahami mutu pelayanan di rumah sakit. Indikator perlu dirancang dengan seksama dengan mempertimbangkan dimensi mutu yang ingin diukur, cara pengumpulan data, dan strategi analisisnya. Dengan hati-hati merancang indikator mutu pelayanan, sumber daya bisa dihemat, hasil lebih akurat, dan pengambilan keputusan di tingkat sistem mikro maupun sistem makro bisa lebih strategis.

Bahan Bacaan

Collopy, BT 2000, ‘Clinical indicators in accreditation: an effective stimulus to improve patient care’, International Journal for Quality in Health Care, vol 12, no. 3, pp. 211-216.
Takaki, O, Takeuki, I, Takahashi, K, Izumi, N, Murata, K, Ikeda, M & Hasida, K 2013, ‘Graphical representation of quality indicators based on medical service ontology’, Springer Plus, vol 2, no. 274, pp. 1-20.
World Health Organization 2006, Quality of care : a process for making strategic choices in health systems , World Health Organization, Geneve, Switzerland.
National Collaborating Centre for Women’s and Children’s Health 2008, Surgical site infection: prevention and treatment of surgical site infection, RCOG Press at the Royal College of Obstetricians and Gynaecologists, London.

Penulis
Artikel ini ditulis dr. Robertus Arian Datusanantyo, M.P.H., alumni pascasarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat dengan minat Manajemen Rumah Sakit Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Saat ini penulis sedang melanjutkan pendidikan dokter spesialis di Universitas Airlangga. Tulisan ini merupakan opini pribadi.

{module [150]}

Mengapa Kita Selalu Disoroti

kupangPOS-KUPANG.COM – Berbagai strategi dan kebijakan yang diambil oleh pemerintah untuk mengatasi persoalan kelaparan, gizi kurang dan kerawanan pangan sampai saat ini belum bisa teratasi dengan baik.

Continue reading

Ketika Dokter/Perawat Menjadi Pasien

Pengantar oleh: Prof. dr. Adi Utarini, MPH., PhD.

Pasien selalu menjadi pusat perhatian dalam pelayanan kesehatan dan menjadi tujuan utama setiap upaya perbaikan mutu. Aspirasi dari suara pasien merupakan informasi penting untuk diketahui oleh penyedia pelayanan, yang mencerminkan pengalaman nyata pasien ketika menerima pelayanan kesehatan.

Rubrik ini didedikasikan bagi tenaga kesehatan yang ingin menceritakan pengalamannya ketika menjadi pasien. Dokter, perawat atau tenaga kesehatan lain pun suatu saat dapat berubah peran sebagai pasien. Refleksi personal yang ditulis secara naratif ketika menjadi pasien menjadi tidak hanya penting bagi penyedia pelayanan, akan tetapi juga dapat meningkatkan mutu pelayanan yang diberikan, ketika kembali berperan sebagai dokter atau tenaga kesehatan lainnya.

Gaya bercerita naratif dengan mendongeng (story-teller) juga menyimpan kekuatan untuk bercerita apa adanya, sekaligus membangun refleksi dan mengusulkan berbagai saran perbaikan mutu. Agar menarik, silahkan mengirimkan foto (bebas) beserta cerita “Ketika Menjadi Pasien di……”, jka nama penyedia pelayanan atau fasilitasi kesehatan menjadi penghambat untuk bercerita, silakan menyamarkan nama tersebut atau meminta persetujuan untuk dimuat di website ini.

Tidak ada tujuan lain untuk memuat naratif bapak dan ibu kecuali untuk kepentingan peningkatan mutu dan pelayanan kesehatan kepada pasien yang lebih baik, jadi tidak sama sekali bukan untuk menjelek-jelekan fasilitas pelayanan kesehatan ataupun tenaga kesehatannya.

Beberapa contoh tulisan yang dapat dijadikan dasar ide dapat dibaca disini 

 

{jcomments on}

Monitoring dan Evaluasi Manual Rujukan Maternal Dan Neonatal di Kabupaten Jayapura

13jul-1

Jayapura, Senin dan Selasa, 15-16 Juni 2015

PKMK FK UGM bekerjasama Kementerian Kesehatan dengan bantuan danah hibah UNFA telah melakukan kunjungan lapangan untuk monitoring dan evaluasi pelaksanaan manual rujukan maternal dan neonatal di Puskesmas Genyam, Puskesmas Sentani, Rumah sakit Yowari dan Dinas Kabupaten Jayapura. Monitoring dan Evaluasi ini merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan yang selama ini telah dilaksanakan di kabupaten Jayapura, dimana sebelumnya telah disusun Manual Rujukan Maternal dan Neonatal berdasarkan lokal spesifik Kabupaten Jayapura dan telah dibentuk tim POKJA rujukan KIA yang bertugas untuk melakukan penyusunan Manual Rujukan MN dan telah disepakati bahwa Tim Pokja ini akan mendampingi atau mengawal pelaksanaan MR MN ini.

Continue reading

Healthcare Quality: How will Data Transparency Make a Difference?

oregon qualityQ Corp intends to release its second cost of care report this fall that looks at inpatient, outpatient and total cost for a clinic’s population.
Kathryn Thomsen

How does transparency of healthcare data information lead to improvements in quality and affordability of healthcare? How is healthcare data used and interpreted (and specifically comprehensive Medicare claims data recently made available by the Centers for Medicare & Medicaid Services – CMS)? Has healthcare in Oregon improved?

Continue reading

Genuine Caring: Sinergi Bidan-Pasien

Topik bahasan yang diangkat minggu ini masih seputar mutu pelayanan kebidanan. Seperti halnya tenaga kesehatan profesional lain, bidan memiliki peran penting dalam proses pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak. Peran tersebut tidak dapat dipungkiri semakin memiliki ‘porsi’ yang besar untuk daerah terpencil, dimana jumlah tenaga kesehatan sangat terbatas. Tuntutan untuk mempertahankan mutu dapat ‘terabaikan’ manakala rasio provider kesehatan yang tersedia dengan pengguna layanan kesehatan tidak sebanding. Namun tentu saja setiap upaya peningkatan mutu tetap harus dilakukan dan diusahakan oleh provider kesehatan, salah satunya adalah membekali tenaga kesehatan dengan pengetahuan dan ketrampilan yang memadai, serta tentu saja membangun relasi yang baik dengan pasien itu sendiri.

Minggu ini akan disajikan 2 artikel yang diharapkan dapat memberikan input positif. Artikel pertama akan menguraikan bagaimana penerapan genuine caring dapat meningkatkan mutu pelayanan bagi ibu hamil. Sedangkan artikel kedua akan memaparkan rekomendasi yang dapat dijadikan referensi untuk meningkatkan mutu pelayanan melalui bidan yang berkualitas. (lei)

 

Genuine Caring: Peningkatan Pelayanan Ibu Hamil Dalam Meningkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan

Proses persalinan membutuhkan perhatian dan perawatan optimal dan intensif terutama pada saat menangani ibu hamil yang mempunyai faktor risiko dan komplikasi tinggi. Perhatian dan perawatan optimal diberikan bukan hanya pada saat proses persalinan namun diberikan juga pada fase kehamilan, dan postpartum awal. Fase-fase ini sangat berisiko dan memerlukan penanganan optimal. Risiko tinggi akan terus meningkat jika wanita menjalani kehamilan tanpa ada perencanaan sehingga tidak bisa dikontrol sesuai prosedur layanan kesehatan.

Pada tahun 2001 WHO menyatakan proporsi kehamilan normal kurang dari 10% dari total ibu hamil di seluruh dunia dan berglund dan Lindmark tahun 2000 di Swiss menemukan hanya sebagian wanita saja memiliki kehamilan normal misalnya kehamilan tanpa nyeri sedangkan sebagian besarnya berisiko tinggi untuk terkena dan rentan terhadap penyakit karna secara emosional ibu hamil lebih cemas, takut, ambivalen terhadap kehamilan dan perasaan gagal melahirkan. Hal ini bisa dicegah dengan meningkatkan perhatian intensif pada masa kehamilan, mengurangi kecemasan ibu hamil akan hal-hal terkait proses persalinan dan pendampingan dari tenaga kesehatan untuk mendukung persiapan persalinan.

Perkembangan ilmu pengetahuan kesehatan membatasi ruang gerak bidan, bidan bertanggungjwab pada persalinan normal sedangkan dokter bertanggungjawab pada persalinan dengan risiko tinggi. Ini dapat menimbulkan rasa ketidakmiliki dan perhatian terhadap keamanan dan keselamatan pasien ketika dalam fase kehamilan, persalinan dan post partum awal.

Genuine caring dicapai dengan melakukan 3 hal antara lain:

  • Membangun protective relationship
    Komponen ini sangat penting bagi wanita hamil yang berisiko tinggi untuk melindungi martabat wanita dimana setiap wanita hamil diperlakukan secara baik sebagai pribadi yang unik, perlu hubungan mutualitas atau hubungan timbal balik dari bidan dan ibu hamil secara terbuka, memiliki hubungan saling membutuhkan dan saling percaya. 5 komponen untuk membangun protective relationship antara lain:
    • Mutuality
      Dibutuhkan saling pengertian antara bidan dan ibu hamil dan saling terbuka bukan hanya pada masalah proses persalinan namun sampai pada pembayaran. Hal ini mengurangi stress, mencegah ketidaknyamanan dan ketidakpuasan. Mutuality diperlukan hubungan yang simetris karena mempertemukan 2 orang yang siap ‘memberi dan menerima’
    • Trust
      Bidan harus percaya pada keluhan ibu hamil. Feeling, penafsiran kelahiran dan kemampuan layaknya seorang ibu mengasuh anaknya. Sebaliknya bidan membutuhkan kepercayaan akan profesional dan tugasnya dari ibu hamil
    • Ongoing dialog
      Membangun hubungan yang erat diperlukan komunikasi yang terus menerus, ini cara menunjukan respect ibu hamil dan tanggung jawab bidan mendampingi ibu hamil, komunikasi yang dibangun juga untuk mengetahui apa yang terjadi selanjutnya, dan ibu hamil siap menghadapi situasi itu
    • Shared responsibility
      Karena ibu hamil berisiko tinggi maka perlu share keadaan dan kondisi yang terjadi ke bidan yang mendampingi dan bidan yang mendampingi memberikan respon untuk keselamatan ibu dan janin yang ada dalam kandungan.
    • Presence
      Bidan perlu menemani ibu hamil, hal ini membutuhkan kedekatan secara emosional dan fisik. Membantu meminimalizir risiko tinggi yang kemungkinan terjadi pada saat kehamilan dan persalinan, hal ini membutuhkan waktu dan tenaga.

      art-11jul

      Model penanganan ibu hamil dengan risiko tinggi: Genuine caring in caring for the genuine

  • Update knowledge
    Genuine care kedua yang bisa diidentifikasi adalah update knowledge, penangangan ibu hamil perlu berfokus pada knowledge terintegrasi, selain itu ibu hamil dapat menjadi pelajaran buat bidan, satu ibu hamil satu pelajaran karena setiap ibu hamil memiliki kebutuhan dan keluhan yang bermacam-macam. Bidan mengintegrasikan dengan knowledge yang dimiliki sehingga meningkatkan kemampuan bidan menangani ibu hamil.
    Update knowledge terdiri dari dari 5 elemen antara lain
    • Genuineness towards oneself
      Ibu hamil menerima keadaannya untuk bersalin tanpa rasa takut, ketika emosi ibu hamil tidak stabil maka bidan mengobservasi dan mengukur tekanan darah.
    • Intuitive dan reflective knowledge
      Peran bidan memberikan security dan safety bagi ibu hamil, terutama risiko tinggi, membutuhkan praktik dan banyak pengalaman, perlu membagi dan sharing pengalaman antar sesama bidan dengan tujuan dapat saling mensupport dan mencari jalan keluar jika menemukan masalah yang sulit untuk diatasi sendiri.
    • Balancing natural dan medical perspective
      Menyeimbangkan alami dan modern meningkatkan sensitifitas kepedulian.
    • Supporting normalcy
      Ibu hamil berisiko mau diperlakukan secara normal, bidan menggunakan teknik dan skill untuk mempromosikan dan menangani persalinannya demi keselamatan ibu dan anak.
    • Exhibiting sensitivity for the genuine
      Genuine sensifitas meningkatkan proteksi dengan meningkatkan kepedulian yang lebih misalnya menganggap komplikasi bukan hanya komplikasi tapi lebih dari sekedar komplikasi, selain itu ibu hamil dengan penyakit tertentu mendapatkan perlakuan lebih misalnya ibu hamil dengan diabetes diperiksa level gula darahnya dll

Pendampingan ibu hamil bukan saja pada keadaan fisik namun pendampingan juga secara psikologis, perlu persiapan persalinan dan memperkuat emosi ibu serta memberikan konseling mempersiapkan diri menjadi parents. Penelitian terkait hubungan ibu hamil dan bidan perlu ditingkatkan supaya dipakai sebagai evaluasi perbaikan mutu pelayanan kesehatan ibu dan anak setiap saat. Hubungan yang dibangun bukan hubungan ibu hamil dan pasien namun hubungan yang lebih dari itu yakni hubungan rela “memberi dan menerima”.

Oleh : Dedison Asanab, S.KM (Peneliti Pusat Penelitian Kebijakan Kesehatan dan Kedokteran Undana)

Sumber: Marie Berg, 2005. A Midwifery Model Of Care For Childbearing Women At High Risk: Genuine Caring In Caring For The Genuine. The Journal of Perinatal Education | Winter 2005, Volume 14, Number 1.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1595225/pdf/JPE140009.pdf