Jaminan Kesehatan dan Obat Murah

obat bpjsMetrotvnews.com, Jakarta: Semua orang memiliki impian yang sama tentang pelayanan kesehatan yang bermutu. Pelaksanaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang secara resmi mulai dijalankan pemerintah pada 1 Januari 2014, seakan telah membuka harapan masyarakat tentang penyediaan layanan kesehatan yang lebih baik di Indonesia.

Continue reading

LAPORAN KEGIATAN

LAPORAN KEGIATAN

Workshop
Analisis Sistem dan Persiapan Pengembangan Program Elektronik Clinical Pathway
Sebagai bagian dari kegiatan Pengembangan Sistem Pengingat
Dan Pendukung Pengambilan Keputusan Klinis pada Project Sustainable Hospital Delivery Managing System for TB and MDR-TB Care (HDMS TB/MDR-TB) Phase 2

Kerjasama antara:
PKMK FK UGM dengan RSUP Dr. Sardjito, RS Islam Jakarta Cempaka Putih dan
RS Bethesda Yogyakarta

Pendahuluan

Sistem pendukung pengambilan keputusan klinis (clinical decision support system) atau disingkat dengan CDSS adalah suatu sistem yang dibuat untuk membantu dokter dan perawat dalam memberikan perawatan yang berkualitas kepada pasien dan membantu memastikan bahwa intervensi klinis yang diberikan tepat terapi dan tepat waktu. Sistem ini dibuat dengan berbasis komputer yang berisi peraturan perawatan klinik primer, penggunaan obat, protokol perawatan preventif penyakit kronis dansistem teknologi informasi untuk memungkinkan dokter dan perawat lebih mudah melakukan penegakan diagnosis, penerapan terapi, dan memantau pengobatan pasien. Sistem pendukung pengambilan keputusan klinis ini menggabungkan komponen pengetahuan teknologi informasi yang inovatif dengan desain pengingat untuk dokter dan perawat. Kedua, database dan desain dari sistem pengingat klinis ini dapat memperluas kategori pencegahan perawatan penyakit kronis dengan mudah. Ketiga, pengguna sistem pendukung pengambilan keputusan klinis ini bisa tatap muka dengan sistem web yang memungkinkan dokter, staff klinik, administrator system untuk berinteraksi dengan sistem pengingat medis ini secata intuitif dan produktif dimanapun mereka berada. Sehingga pada akhirnya sistem pendukung pengambilan keputusan klinis ini bisa dibuat kedalam perangkat yang lebih praktis yang bias lebih fleksibel dibawa.

Dalam proses penyusunan sistem pendukung pengambilan keputusan klinis (clinical decision support system) ini, maka akan dilakukan workshop tahap pertama yaitu Analisis Sistem dan Persiapan Pengembangan Program Elektronik Clinical Pathway. Workshop ini dilakukan oleh Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta bekerjasama dengan Otsuka Foundation dan 3 rumah sakit di Indonesia (RSUP Dr. Sardjito, RS Islam Jakarta Cempaka Putih dan RS Bethesda Yogyakarta). Upaya intervensi program perbaikan kualitas dan efisiensi tatalaksana kasus TB/MDR-TB di rumah sakit tersebut lebih dikenal sebagai Sustainable Hospital Delivery Managing System (HDMS) for TB and TB/MDR TB project.

Tujuan kegiatan

  1. Membuat kesepakatan bersama mengenai sistem pendukung pengambilan keputusan klinis (clinical decision support system)
  2. Membuat rencana pengembangan program CDSS termasuk tahap kegiatan pengembangan, output dari setiap tahap serta jadwal pelaksanaannya.

Narasumberdan Fasilitator kegiatan

  1. Prof. dr. AdiUtarini, MSc, MPH, PhD (AU)
  2. dr. Ari Probandari, MPH, PhD (AP)
  3. dr. HaneviDjasri, MARS (HD)
  4. DR. dr. Rizaldy Pinzon, SpS, MKes (RP)
  5. dr. Guardian Y. Sanjaya, MhltInfo (GS)
  6. Hary Sanjoto, S.Sos, MPH (HS)

Waktu dan Tempat Kegiatan

Waktu : Selasa dan Rabu, 19 dan 20 Mei 2015
Tempat : Ruang Lab. Leadership Gedung IKM Lama Lantai 3 Sayap Timur
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Jadwal Pelaksanaan

Selasa, 19 Mei 2015

08.00 – 08.15

Regristrasi undangan

 

08.15 – 08.30

Pembukaan dan sambutan dari  FK UGM

AU

08.30 – 09.00

Pengantar : Peran CDSS dalam HDMS

Ari

09.00 – 09.30

Maksud dan Tujuan workshop: CDSS dan Elektronik Clinical Pathway

HD

09.30 – 09.45

Coffee break

PKMK

09.45 – 11.00

Konsep dan Pelaksanaan Desain Sistem serta pengembangan program (software) komputer dalam bidang kesehatan

GS

11.00 – 12.00

Konsep dan Pelaksanaan Disain Sistem serta pengembangan program (software) komputer dalam bidang kesehatan: Pengalaman RS Bethesda dalam pengembangan elektronik clinical pathway

PR

12.00 – 13.00

Lunch break

PKMK

13.00 – 14.00

Diskusi: Rencana Desain CDSS (clinical decision support system) yang meliputi,

  1. Data Menajemen
  2. Model Manajemen
  3. Eksternal Model
  4. Knowlarge-base Subsistence
  5. User Interface

HD

14.00 – 14.15

Coffee break

PKMK

 14.15 – 16.00

Pembahasan hasil diskusi

HD

16.00

Penutup

 

Rabu, 20 Mei 2015

09.00 – 09.15

Regristrasi

 

09.15 – 10.00

Langkah langkah pengembangan aplikasi software komputer dalam  pelayanan klinis di rumah sakit

GS

10.00 – 10.15

Coffee break

PKMK

10.15 – 11.00

Presentasi:

Rencana pengembangan elektronik clinical pathway di masing masing rumah sakit

Masing-masing RS

12.00 – 13.00

Lunch break

PKMK

13.00 – 15.00

Pembahasan Presentasi Rumah Sakit

HS

15.00 – 15.15

Diskusi Bentuk User Interface.

HD

15.15 – 15.30

Coffee break dan Penutup

PKMK

 

 

 

Peserta

  1. Direktur Medik dan Keperawatan (1 orang)
  2. Pimpinan IT atau programer rumah sakit (1 orang)

Output

  1. Desain Sistem Pendukung Pengambilan Keputusan Klinis Dalam Pelayanan TB dan TB/MDR di Rumah Sakit dalam bentuk elektronik clinical pathway yang sudah disepakati oleh rumah sakit.
  2. Rencana pengembangan software termasuk tahap kegiatan pengembangan, output serta jadwal pelaksanaannya.

Anggaran

Workshop ini dibiayai oleh Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Laporan Kegiatan

Workshop Analisis Sistem dan Persiapan Pengembangan Program Elektronik Clinical Pathway tgl 19 – 20 Mei 2015. Workshop dilakukan di Ruang Lab Lesdership Gedung IKM Lama lantai 3 sayap timur. Workshop ini mengundang 3 rumah sakit peserta kegiatan ini, yaitu RS Bethesda Yogyakarta, RS Islam Jakarta Cempaka Putih, dan RSUP Dr. Sardjito. Masing masing rumah sakit diundang 2 orang, yang terdiri dari Wadir Pelayanan Medik atau yang mewakilinya dan 1 orang programer di Bagian/Unit IT rumah sakit. Masing masing rumah sakit mengirimkan 1 orang dari Bagian Yanmed atau yang mewakili dan 1 orang programer. Dari Bagian Yanmed dari RS Islam Jakarta diwakili Pak Asep Sunandar, RS Bethesda diwakili oleh dr. Wikan, Sp.A (hari 1) dan dr. Iswanto, Sp.P, PFFC (hari2) dan dari RSUP Dr. Sardjito diwakili oleh dr. Heni Retno Wulan, Sp.PD. Kehadiran dokter spesialis pada hari kedua merupakan sebuah keuntungan dalam pelaksanaan elektronik clinical pathway ini. Hal ini dikarenakan beliau beliau ini yang nantinya akan menggunakan eCP ini. Sebagai contoh untuk CP TB/MDR yang dibuat oleh RSUP Dr. Sardjito. CP TB MDR ini masih memerlukan perbaikan-perbaikan. Disela sela workshop pada hari kedua, CP TB/MDR langsung diperbaiki dan harapannya ketika disusun dalam bentuk eCP akan tidak banyak mengalami perubahan atau lebih tepatnya eCP yang disusun lebih operasional. Workshop Analisis Sistem dan Persiapan Pengembangan Program Elektronik Clinical Pathway diawali dengan sambutan dari PKMK FK UGM dan PI HDMS Phase 2 dr. Ari Probandari, MPH, PHD yang dilakukanoleh dr. Trisasi Lestari, MPH. Materi ini berjudul “Peran Clinical Decision Support System dalam Projek HDMS”. Dalam materi ini disampaikan 3 hal, yaitu pertama, Kerangka kerja Projek Hospital Delivery Managing Systems for TB/MDR TB (HDMS Project); Kedua, E-Clinical Pathway sebagai Clinical Decision Support System.

Sebagai sebuah clinical desition support system, electronic CP dikembangkan agar dapat menjadi sistem pendukung bagi kualitas manajemen kasus TB/MDR TB termasuk keberlanjutan tata laksana kasus (continuity of care), dan E-CP diharapkan dapat mempermudah pekerjaan dokter dan perawat serta petugas kesehatan lainnya dalam menerapkan standar tata laksana kasus TB/MDR-TB; dan Ketiga, Peran Clinical Decision Support System dalam Projek HDMS.Narasumber yang mengawali workshop ini adalah oleh dr. Guardian Y. Sanjaya, MhltInfo. Narasumber merupakan salah satu dosen di Minat Utama SIMKES Program S2 IKM FK UGM. Materi yang disampaikan berjudul “Desain sistem serta pengembangan software komputer dalam bidang kesehatan”. Materi ini terdiri dari Sistem informasi berbasis elektronik, Level sistem informasi, Arsitektur sistem informasi (RS), Maturitas model SIM Rumah Sakit, dan Pengembangan sistem informasi elektronik. Akan tetapi mengawali desain sistem serta pengembangan software komputer dalam bidang kesehatan, narasumber memaparkan tentang Health Information System Cycles. Health information system cycles adalah sebuah rangkaian yang terdiri dari Collecting data, Process, Analyze, Present (menunjukkan data), Interpreting, dan Use (digunakan).

Narasumber selanjutnya adalah Dr. dr. Rizaldy Pinzon, SpS, MKes. Beliau adalah seorang praktisi di RS Bethesda yang sedang mengembangkan eCP Pelayanan Stroke di RS Bethesda Yogyakarta. Materi yang disampaikan berjudul ” Electronic Clinical Pathway: Studi kasus pengembangan dan uji coba untuk stroke”. Materi Dr. dr. Rizaldy Pinzon, SpS, MKes dalam kesempatan ini lebih pada menshare pengalaman beliau dalam menyusun electronic clinical pathway pelayanan stroke di RS Bethesda.

Biarpun eCP ini hingga workshop ini diadakan belum selesai dan masih proses penyempurnaan-penyempurnaan. Dalam materi ini juga ditampilkan display dari eCP Stroke yang telah disusun. Menurut narasumber display ini penting. Karena sangat mempengaruhi pengguna dari eCP ini dalam pelaksanaannya. Penyusunan display (dashbord) eCP ini harus intens dikomunikasikan dengan pengguna (klinisi). Dan yang tidak kalah pentingnya adalah data apa yang akan dimunculkan atau dibutuhkan dari proses ini atau lebih tepatnya output dari penyusunan eCP ini. Diakhir dari presentasinya narasumber menyimpulkan bahwa pertama, elektronik clinical pathway dikembangkan untuk menjawab tantangan dalam pengisian dan evaluasi paper based CP; Kedua eCP yang disusun masih dalam proses uji coba; Dan Ketiga, eCP ini akan dievaluasi berdasarkan hasil uji coba di lapangan.

Setelah makan siang acara dilanjutkan dengan meminta para programer rumah sakit untuk menyiapkan draft desain tampilan 1 buah eCP sesuai dengan kesepakatan di masing masing RS yang akan dipresentasikan pada hari ke 2. (hasil draft desain eCP terlampir).

Pada hari ke 2 dr. Guardian Y. Sanjaya, MhltInfo, menyampaikan materi ke 2 nya dengan judul “Merancang sistem informasi Electronic Clinical Pathway Tuberculosis”. Dalam penyampaian materinya, narasumber mengawali dengan definisi clinical pathway. CP is “…..a complex intervention for the mutual decision making and organization of predictable care for a well-defined group of patients during a well defined period”. Selain itu juga mencakup, a timeline, the categories of care or activities and their interventions, intermediate and long term outcome criteria, and the variance record (to allow deviations to be documented and analysed).

Lebih lanjut dijelaskannya tentang cakupan Fungsi eCP, pertama adalah sebagai Reminder. Reminder terhadap completeness checklist per blok dan final submission per kunjungan. Kedua, Clinical Decision Support dalam beberapa checklist. Jika ada efek samping, apakah obat diteruskan, dikurangi dosisnya ataukah dihentikan. Jika berat badan 33 à regimen terapinya disarankan. Ketiga, Clinical guideline algorithm, pernah terapi TB atau tidak –> jika Ya berapa lama terapi –> apa saja obatnya. Dan keempat adalah Semi-structured records. Short text records.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa pada tahap awal yang perlu dilakukan adalah penguatan sistem informasi organisasi. Proses penguatan ini diawali dengan analisa kondisi sistem informasi (Kondisi Umum, Infrastruktur, Sistem Informasi, Sumber Daya Manusia, dll) à system thinking. Dan terakhir disampaikan tentang langkah langkah pengembangan eCP, yang meliputi, pertama, Need Assessment; Kedua, System Development; Ketiga, Implementation; Dan keempat, Maintenance.

Pada hari kedua ini acara dilanjutkan dengan penyampaian draft desain eCP masing masing rumah sakit yang disampaikan oleh programer. (materi terlampir)
Dari hasil penyampaian draft desain eCP ini dilanjutkan dengan diskusi diskusi dan menghasilkan beberapa kesepakatan.
Hasil kesepakatan.

  1. Dari hasil diskusi dalam workshop ini sepakat untuk mulai menyiapkan sistem pragram eCP TB dan TB/MDR dengan catatan.
  2. PKMK akan mengirimkan hasil hasil pertemuan ke masing masing Direksi rumah sakit.
  3. Mengharapkan Direksi Rumah Sakit untuk memberikan disposisi ke Bagian/Unit IT untuk mengerjakan 1 buah program eCP TB dan TB/MDR yang diusulkan oleh masing masing rumah sakit.
  4. eCP diharapkan selesai dlm 2 minggu setelah workhop ini selesai.
  5. Akhir bulan Mei, PKMK memfollow up perkembangan pembuatan eCP ke masing masing RS.

Demikian Laporan Ringkas Workshop Analisis Sistem dan Persiapan Pengembangan Program Elektronik Clinical Pathway yang dilaksanakan pada tanggal 19-20 Mei 2015 di Ruang Lab. Leadership Gedung IKM Lama lantai 3 sayap timur FK UGM.

MATERI

  Desain Sistem serta pengembangan software

  e CP fracture. Sung et al. 2013

  Electronic CP 2015 (pinson)

  Merancang sistem informasi elektronik CP

  Peran CDSS dalam HDMS 18 Mei 2015

 

 

Hari Lansia Nasional: Pelayanan Bermutu Untuk Pasien Geriatri

Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional pada pada 29 Mei 2015, merupakan bentuk penghargaan dan rasa peduli bagi orang lanjut usia. Pencanangan peringatan Hari Lanjut Usia di Semarang pada 29 Mei 1996 tersebut, merupakan bentuk penghargaan terhadap Dr. KRT. Radjiman Wediodiningrat yang dalam usia lanjut masih memimpin sidang pertama Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Peringatan tersebut dapat pula menjadi mometum yang tepat di dunia kesehatan, khususnya untuk mengupas dan berbagi informasi mengenai seluk beluk pelayanan kesehatan yang bermutu bagi pasien lanjut usia atau pasien geriatri. Pasien geriatri sendiri adalah pasien lanjut usia dengan beberapa penyakit dan masalah biopsikososial. Berbagai gangguan fungsional dan nurisi, serta menurunnya fungsi organ merupakan beberapa hal yang menjadikan pelayanan kesehatan bagi pasien geriatri menuntut pendekatan secara holistik. Kompleksitas dalam pemberian pelayanan kesehatan bagi pasien lanjut usia, memicu banyak pihak untuk terus meningkatkan pengetahuan sehingga pelayanan kesehatan yang diberikan oleh provider dapat tepat sesuai kebutuhan.

Untuk memperkaya informasi pelayanan kesehatan bagi pasien geriatri, minggu ini dipaparkan dua artikel yang akan membahas mengenai metode yang dapat digunakan untuk mengurangi risiko medical error pada perawatan pasien lanjut usia serta paparan hasil studi yang dilakukan di London. Pada studi tersebut disampaikan hasil dari penggunaan suatu tool yakni, The Camberwell Assessment of Need for The Eldery untuk mengidentifikasi kebutuhan pasien, perawat, dan tenaga kesehatan profesional dalam pelayanan kesehatan bagi pasien lanjut usia. “Selamat Hari Lanjut Usia Nasional” (lei)

{module [152]}

Botswana: Collaboration Vital to Quality Health Care

dailynewsGaborone — Assistant Minister of Health, Dr Alfred Madigele, has urged the private sector to collaborate with government in ensuring that the ministry delivers quality health care services.

Dr Madigele said this on Tuesday (May 19), at the stakeholders’ briefing organised by Botswana Nurses Union (BONU) to lay the groundwork for the first ever Botswana International Nursing Conference (BINC), which will be held in Gaborone from November 4 to 6.

Continue reading

“Metode Terintegrasi” (Sebuah Pendekatan Holistik dalam Mengurangi Risiko “Medical Errors” Pada Pasien Usia Lanjut)

Terdapat beberapa kasus dalam dunia kesehatan yang memiliki tingkat kompleksitas persoalan di atas rata-rata dan biasanya disertai oleh kondisi-kondisi yang tergolong khas dan unik. Kasus dengan jenis ini tentu saja menjadi tantangan tersendiri karena selalu menuntut tersedianya pendekatan penanganan yang berbeda jika dibandingkan dengan kasus medis lainnya, tingkat kehati-hatian yang ekstra, prosedur dan metode klinis yang rumit, profesionalitas dan tingkat keahlian dengan kualifikasi tingkat tinggi, serta model penanganan yang harus holistik/menyeluruh. Salah satu diantara beberapa kasus tersebut adalah pasien dengan usia lanjut.

Berbagai fakta spesifik yang khas dari pasien usia lanjut seperti perbedaan substansial kondisi medis masing-masing individu sehingga sulit untuk digeneralisir, daya metabolisme yang mulai menurun, perilaku ketidakpatuhan terhadap resep atau rekomendasi terapis (akibat dari indikasi “memory disorder“) membuat proses penanganan medis menjadi lebih sulit. Bahkan kebanyakan dokter membutuhkan waktu yang sangat lama hanya untuk menentukan dosis dan kadar obat yang tepat bagi para pasien usia lanjut. Belum lagi masalah yang menyangkut potensi efek samping dari pola dosis polifasmasi. Oleh karena itu, persoalan yang menyangkut pasien usia lanjut perlu mendapat perhatian secara khusus.

Di Amerika Serikat (AS), persoalan yang berkaitan dengan pasien usia lanjut telah mendapat perhatian serius sejak beberapa tahun lalu. Bahkan pada tahun 1999, AS telah merekomendasikan kepada seluruh negara di dunia untuk mulai mempersiapkan dengan seksama kebijakan dan program jaminan kesehatan, kebijakan sosial hingga sistem ekonomi guna menghadapi perubahan komposisi demografis yang tengah terjadi saat ini dan masa depan. Faktanya, baik di negara maju maupun negara berkembang termasuk Indonesia, jumlah warga usia lanjut terus meningkat, dan banyak diantaranya mengalami gangguan kronis serta mengidap penyakit degeneratif.

Dalam kondisi demikian, peran para spesialis geriatri, farmakologi klinis dan farmasi klinis menjadi sesuatu yang penting dan sangat dibutuhkan. Namun jumlahnya yang sangat minim merupakan persoalan tersendiri yang sampai saat ini belum teratasi dengan baik. Keseluruhan permasalahan tersebut bermuara pada sering terjadinya “medical errors” yang tentunya merugikan banyak pihak terutama pasien. Masih banyak lagi persoalan seputar penanganan medis terhadap pasien usia dini, termasuk tentang rendahnya akurasi hasil diagnose, perubahan farmakologis yang berkaitan dengan usia, kurangnya indikasi/bukti utnuk menyimpulkan resep obat-obatan yang tepat dan lain sebagainya.

Selanjutnya, artikel ini meskipun tidak mungkin hadir untuk menyelesaikan seluruh persolan yang meliputi pasien usia lanjut. Namun artikel ini akan berupaya berpartisipasi dalam mengurangi tingkat resiko “medical errors” dengan mengenalkan/mempublikasikan kembali tentang pendekatan metode terintegrasi (integrated methods) dalam penanganan pasien usia lanjut. Metode ini mensyaratkan adanya integrasi antara apa yang disebut sebagai “implicit method” dan “explicit method” serta harus mengakomodasi perkembanganan hasil penelitian dan temuan terbaru dan persfektif yang lebih futuristik. Tujuaannya untuk mengurangi resiko “medical errors” yang dapat disebabkan oleh kelemahan metode tertentu yang diterapkan secara parsial/terpisah dengan metode lain. Atau dapat diartikan, metode ini merupakan pengembangan dan sintesis dari berbagai metode yang telah digunakan sebelumnya di negara-negara berkembang.

Integrating Both Of Implicit and Explicit Methods

Kompleksitas masalah klinis, kebutuhan akan berbagai macam terapi, serta kerentanan pasien usia lanjut terhadap “medical errors“, melahirkan kebutuhan akan tersedianya metode dan alat yang dapat membantu identifikasi penggunaan obat-obat bebahaya dalam proses pengobatan. Sejak tahun 1991 di AS telah dikembangkan oleh “Beers and Friends” seperangkat kriteria tentang bagaimana melakukan identifikasi terhadap obat-obatan yang tidak diperlukan atau yang memiliki manfaat berlebihan bagi para pasien usia lanjut.

Perangkat kriteria ini lebih dikenal dengan istilah beer’s criteria, termasuk dalam jenis “explicit methods“. Penentuan kriteria ini bekerja dengan pendekatan tingkat kesesuaian komposisi obat terhadap penyakit dan resiko efek samping, oleh penulis hal ini diistilahkan sebagai “medication approach“. Disebut demikian karena berbasis pada “medication approach” metode ini memiliki kelemahan tersendiri. Misalnya bahwa dalam pengaplikasiannya ia kurang memperhatikan kondisi pasien yang meliputi tingkat kepatuhan terhadap resep atau terapi atau kesediaan pasien dalam menerima risiko tertentu dari obat yang diresepkan. Kelamahan lainnya adalah mengabaikan perbedaan tingkat kerentanaan pasien terhadap potensi efek samping dari kandungan zat dalam obat tertentu. Meskipun dewasa ini beberapa kelemahan dalam metode eksplisit ini dapat diatasi dengan ditemukannya berbagai tekhnologi dan alat baru yang dapat membantu dokter dalam mengurangi risiko kesalahan resep atau “medical errors” seperti “screening tools” .

Selain pemanfaatan alat berteknologi tinggi, kelemahan dalam metode eksplisit dapat diatasi melalui pengintegrasian dengan metode implisit. Metode ini lebih menkankan pada kondisi pasien dibandingkan pada obat atau penyakit. Oleh karenanya, metode ini jadi sangat bergantung pada kualifikasi dokter dan profesionalitas tenaga medis. Sementara keunggulan dari metode ini adalah lebih fleksibel dan mempertimbangkan kondisi khusus yang mungkin berbeda antara pasien yang satu dengan pasien lainnya. Artinya jika metode eksplisit berfokus pada faktor-faktor eksternal pasien seperti obat dan resep, mempelajari karakter penyakit dan alat bantu, maka metode implisit berfokus pada kondisi internal pasien.

Berikut disertakan tabel yang dapat membantu anda memahami pengetian dan ciri dari kedua metode tersebut :

Metode Implisit

Metode Eksplisit

Keuntungan :

  • Memungkinkan fleksibilitas pada individu pasien
  • Tidak memerlukan masalah yang harus ditetapkan sebelumnya
  • Konsistensi pendekatan untuk kasus-kasus individual
  • Dapat disesuaikan dengan sistem komputerisasi
  • Dapat menggabungkan informasi dari literatur yang diterbitkan dan konsensus ahli
  • Dapat dengan mudah digunakan untuk tujuan pendidikan, ulasan pemanfaatan obat, dan studi epidemiologi

Kerugian :

  • Tergantung pada pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan tenaga medis profesional
  • Lebih sulit untuk digunakan secara konsisten
  • Lebih sulit untuk mengukur hasil dengan cara yang sah dan dapat diandalkan
  • Tidak memungkinkan fleksibilitas pada individu pasien
  • terabaikannya beberapa masalah yang hanya mungkin diketahui pada saat dilakukannya pemeriksaan penuh pada pasien
  • diperlukan penetapan masalah terlebih dahulu.

Kesimpulan

Dalam rangka mengurangi resiko terjadinya “medical errors” dalam penanganan medis untuk pasien usia lanjut, diperlukan sebuah metode yang holistik dengan menggabungkan berbagai pendekatan serta senantiasa mengakomodir perkembangan/kemajuan hasil penelitian dan teknologi baru.

Baik dalam metode implisit dan eksplisit, keduanya memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Namun apabila proses penanganan pasien usia lanjut dapat dilakukan dengan mensintesiskan kedua metode tersebut, maka dapat dipastikan risiko terjadinya “medical errors” dapat diminimalisir.

Uraian tersebut di atas, tentunya bukan satu-satunya solusi yang diperlukan dalam menangani masalah pasien usia lanjut. Apa yang pernah direkomendasikan oleh Amerika Serikat pada tahun 1999 untuk mempersiapkan berbagai aspek yang terkait adalah langkah rasional yang layak dijadikan sebagai agenda utama. Termasuk didalamnya memperbanyak jumlah ahli dan pakar di bidang geriatrik serta adopsi teknologi-teknologi termutakhir yang dapat menunjang kinerja para dokter dan tenaga medis professional.

Oleh : Eva Tirta Bayu Hasri
Sumber : Flavola D., Onder G. (2009) Medication errors in elderly people: contributing factors and future perspectives. British Journal of Clinical Pharmacology.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2723202/pdf/bcp0067-0641.pdf 

{module [150]}

Reportase Pertemuan Sosialisasi Pelaksanaan Sistem Mata Rantai Rujukan

22mei

Yogyakarta, 13 dan 15 Mei 2015

Penataan penyelenggaraan pelayanan kesehatan melalui penguatan sistem rujukan merupakan upaya peningkatan pelayanan kesehatan yang dilakukan secara berjenjang, berkesinambungan, efektif dan efisien. Pemerintah Daerah istimewa Yogyakarta telah menerbitkan sistem rujukan pelayanan kesehatan, dan telah menindaklanjuti dengan penyusunan Manual Rujukan Maternal Neonatal/KIA Kabupaten/Kota sejak tahun 2012, untuk lebih mengoptimalkan sistem rujukan di DIY maka Dinas Kesehatan DIY menyelenggarakan kegiatan pertemuan sosialisasi pelaksanaan sistem mata rantai rujukan yang diselenggarakan dua hari yaitu Rabu dan Jumat (13 dan 15 Mei 2015) bertempat di kantor balai pelatihan pendidikan teknik (BLPT) ruang Cendana (B.10) Yogyakarta.

Continue reading

Perkuat PONEK: Tinjauan Rekomendasi Tim Independen di 3 RSUD PONEK

Monitoring dan evaluasi program Sister hospital (SH) dan Performance Management and Leadership (PML) ke XI telah dilakukan oleh PKMK UGM bekerja sama dengan Dinas kesehatan provinsi NTT selama 2 minggu di 11 kabupaten provinsi Nusa tenggara timur (NTT). Kegiatan ini dibiayai oleh Australia Indonesia Partnership Maternal Neonatal Health (AIPMNH), tujuan monev kali ini adalah untuk mengetahui capaian program sister hospital dan pendampingan terhadap dinkes provinsi NTT serta POGI/IDAI Kupang dalam menjalankan fungsi monev RS PONEK 24 jam

Kegiatan monev XI yang berlangsung selama 10 hari dari tanggal 20- 29 April 2015 merupakan kegiatan rutin 3 bulanan program sister hospital sejak tahun 2010. Tim monev dibagi menjadi 3 grup antara lain grup A (Belu, TTU, TTS dan Flores timur) grup B (Maumere, Ende, Bajawa dan Ruteng) dan grup C (Sumba barat, Sumba timur dan Lewoleba), masing-masing tim terdiri dari aspek klinis maternal, klinis neonatal, manajemen, PML dan kualitatif. Monev XI dilakukan masing-masing 2 hari disetiap RSUD, hari 1 dilakukan interview dan observasi sedangkan hari 2 dilakukan presentase terhadap temuan-temuan sementara kepada para stakeholder kabupaten, manajemen dan tim klinis RSUD.

Continue reading

Monitoring dan Evaluasi sebagai Pengukur Mutu Layanan PONEK di RSUD (Sebuah Pengalaman dari Program Sister Hospital Provinsi NTT 2010-2015)

Program Sister Hospital (SH) dan Performance Management Leadership (PML) merupakan kerjasama antara pemerintah Australia dan Indonesia dalam bidang kesehatan terutama kesehatan ibu dan anak di Nusa Tenggara Timur (NTT). Project ini menitikberatkan pada peningkatan kapasitas 11 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) demi menjamin pelayanan PONEK 24 jam dengan pemenuhan dokter spesialis, capacity building, monitoring evaluasi dan exit strategy. Didalam implementasi program ini, setiap 3 bulan sekali diadakan monitoring evaluasi pencapaian program, namun karena berbagai pertimbangan sejak 2013 kegiatan ini dilakukan 6 bulan sekali. Di dalam monitoring evaluasi tersebut, ada 4 aspek yang menjadi kriteria penilaian yakni aspek klinis, aspek manajemen, aspek kualitatif, dan aspek PML.

Evaluator dalam kegiatan monitoring evaluasi ini berasal dari berbagai pihak yang professional dalam bidangnya seperti organisasi profesi (HOGSI, POGI, IDAI), peneliti dan konsultan (PKMK UGM, P2K3 Undana) serta melibatkan Dinas Kesehatan Provinsi NTT sebagai pemilik program ini sekaligus yang akan melanjutkannya apabila bantuan dari AIP sudah berkurang atau terhenti. Proses monitoring ini tidak hanya sebatas penilaian saja namun juga pemaparan hasil temuan sementara di RSUD yang menjadi lokasi monitoring dan evaluasi serta diseminasi besar yang melibatkan seluruh stakeholder dan pemerintah daerah dari 11 RSUD peserta program.

Continue reading