Penerapan kebersihan tangan di fasilitas layanan kesehatan

Hari Cuci Tangan Sedunia pada tanggal 15 Oktober 2024 bertema “Why are clean hands still important?”. menjadi pengingat akan pentingnya cuci tangan sebagai langkah awal pencegahan transmisi penyakit untuk memutus rantai penularan penyakit yang menjadi pemicu munculnya wabah dan pandemi. Cuci tangan dinilai lebih efektif bila dilakukan dengan baik dan benar, terlebih jika dilakukan secara rutin di setiap kegiatan yang akan dimulai maupun setelah selesai dilakukan baik di rumah sakit atau di tempat umum lainnya.

Health-care-associated infections (HAIs) mempengaruhi kualitas layanan kesehatan, membahayakan keselamatan pasien, dan meningkatkan biaya layanan kesehatan. Sebanyak 2,6 juta HAI yang terjadi setiap tahun di Uni Eropa mengakibatkan lebih dari 91.000 kematian. Demikian halnya dengan, di Amerika Serikat, 1,7 juta HAIs (sekitar 520 per 100.000 penduduk) dilaporkan terjadi setiap tahunnya, mengakibatkan sekitar 99.000 kematian. Wilayah negara berpendapatan rendah dan menengah yang lebih banyak, memiliki lebih sedikit data, namun terdapat bukti yang menunjukkan bahwa kejadian HAI lebih tinggi, dengan tingkat kesehatan dan konsekuensi ekonomi yang lebih buruk.

Peningkatan kepatuhan kebersihan tangan telah disorot sebagai langkah paling efektif untuk mengurangi penularan mikroorganisme patogen di layanan kesehatan dan menurunkan kejadian HAI di fasilitas layanan kesehatan. Oleh karena itu, kepatuhan kebersihan tangan telah menjadi salah satu indikator kinerja utama keselamatan pasien, dan kualitas layanan kesehatan di dunia. Sayangnya, secara keseluruhan, kepatuhan kebersihan tangan masih belum memadai, dan tingkat kepatuhan layanan kesehatan dilaporkan hanya sebesar 9% di fasilitas kesehatan dari negara-negara berpendapatan rendah. Meskipun tingkat di negara-negara berpendapatan tinggi umumnya lebih tinggi, angka tersebut jarang melebihi 70%.

Menyikapi hal ini, WHO sangat menekankan peningkatan praktik kebersihan tangan secara global. Pada tahun 2009, WHO meluncurkan Multimodal Hand Hygiene Improvement Strategy (MMIS) bersama dengan Implementation Toolkit, yang mencakup Hand Hygiene Self-Assessment Framework (HHSAF) untuk mengevaluasi tingkat implementasi program kebersihan tangan dan menilai perbaikannya. waktu. Penelitian sebelumnya menunjukkan validitas alat HHSAF dan efektivitas penerapan MMIS dan evaluasi HHSAF untuk meningkatkan kepatuhan kebersihan tangan di fasilitas layanan kesehatan di berbagai tempat. Selain itu, dua survei global menggunakan HHSAF, pada tahun 2011 dan 2015 , menunjukkan adanya variabilitas yang besar dalam penerapan kebersihan tangan antar fasilitas layanan kesehatan. Sayangnya, survei ini tidak dapat mengidentifikasi penyebab utama, dan keterwakilannya terbatas, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah.

Sebanyak 3982 tanggapan survei HHSAF dari 109 negara dalam penelitian ini memiliki proporsi negara yang berpartisipasi paling tinggi pada kategori berpendapatan menengah ke atas (31 [57%] dari 54) dan kategori berpendapatan tinggi (34 [55%] dari 62). Partisipasi negara adalah delapan (28%) dari 29 negara untuk kategori berpendapatan rendah dan 17 (35%) dari 49 untuk kategori berpendapatan menengah ke bawah. Analisis regresi multivariat menunjukkan hubungan positif dan signifikan antara total skor HHSAF dan tingkat pendapatan negara, dengan perbedaan sebesar −137·9 poin (95% CI −79·9 hingga −195·9) antara fasilitas layanan kesehatan dari negara dengan tingkat pendapatan rendah terhadap negara berpendapatan tinggi. Untuk fasilitas layanan kesehatan dari negara-negara berpendapatan menengah ke bawah, perbedaan ini lebih kecil (−75·7 poin [–134·6 hingga −16·7]), dan tidak ada perbedaan signifikan yang ditemukan antara fasilitas layanan kesehatan dari negara-negara berpendapatan menengah ke atas dengan negara-negara berpendapatan menengah atau berpendapatan tinggi. Fasilitas layanan kesehatan swasta juga mendapat skor yang jauh lebih tinggi dibandingkan fasilitas layanan kesehatan pemerintah (79·6 poin [44·0–115·1];).

Survei ini memberikan gambaran tingkat penerapan kebersihan tangan di 3206 fasilitas layanan kesehatan di 90 negara. Menurut survei, lebih dari separuh fasilitas layanan kesehatan telah mencapai tingkat kebersihan tangan sedang (median 350 poin [IQR 248–430]), meskipun angka ini sangat bervariasi tergantung pada tingkat pendapatan negara dan struktur pendanaan fasilitas layanan kesehatan (swasta). vs publik). Sekitar seperempat fasilitas layanan kesehatan, terutama di negara-negara berpendapatan rendah, melaporkan tingkat penerapan kebersihan tangan yang masih dasar atau tidak memadai. Elemen HHSAF dengan skor terendah adalah Institutional Safety Climate, yang mana ditemukan kurangnya keterlibatan pasien dan tidak adanya pemimpin kebersihan tangan. Untuk negara-negara berpendapatan rendah, Evaluasi dan Umpan Balik memiliki skor terendah karena jarangnya umpan balik langsung dan sistematis mengenai kinerja kebersihan tangan, dan tingkat konsumsi alcohol-based hand rub (ABHR) yang rendah atau tidak diketahui.

Berdasarkan survei, tingkat penerapan kebersihan tangan tampaknya sangat bergantung pada sumber daya yang tersedia. Terdapat skor yang lebih rendah di semua elemen diamati untuk fasilitas layanan kesehatan dari negara-negara berpendapatan rendah versus negara-negara berpendapatan tinggi, namun juga dari fasilitas layanan kesehatan pemerintah versus swasta. Hal ini mencakup skor untuk indikator yang dapat mewakili ketersediaan sumber daya, seperti anggaran khusus untuk ABHR, atau ketersediaan perlengkapan kebersihan tangan yang berkelanjutan. Kurangnya anggaran khusus Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) di fasilitas layanan kesehatan meningkatkan risiko HAI. Data dari program pengawasan International Nosocomial Control Consortium (INICC) juga menunjukkan bahwa tingkat infeksi terkait perangkat sangat terkait dengan tingkat sosial ekonomi negara-negara yang berpartisipasi. Pada saat yang sama, pencegahan HAI sebenarnya dapat menghemat biaya karena hal ini berhubungan dengan lama rawat inap di rumah sakit, pengobatan antimikroba yang lebih mahal, dan meningkatnya angka resistensi. Oleh karena itu, terdapat kebutuhan yang jelas untuk investasi pada PPI, terutama di rangkaian yang paling terbatas sumber dayanya. Kebutuhan ini semakin ditegaskan oleh hasil survei global water, sanitation, and hygiene (WASH) tahun 2020, yang melaporkan bahwa, secara global, satu dari tiga fasilitas layanan kesehatan tidak memiliki fasilitas yang memadai untuk melakukan kebersihan tangan di tempat pelayanan, dan setengah dari fasilitas layanan kesehatan di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah tidak memiliki layanan kebersihan dasar.

Peningkatan dana saja tidak akan cukup untuk meningkatkan penerapan kebersihan tangan. Elemen HHSAF dengan skor keseluruhan terendah adalah Institutional Safety Climate, dimana indikator-indikator seperti pemimpin kebersihan tangan dan panutan, serta keterlibatan pasien sering kali tidak terpenuhi, terutama di negara-negara berpendapatan rendah. Bagi negara-negara ini, umpan balik sistematis terhadap kepemimpinan, dalam elemen Evaluasi dan Umpan Balik, juga mendapat nilai rendah. Meskipun sebagian temuan ini mungkin terkait dengan sumber daya, temuan ini juga menunjukkan bahwa keterlibatan kepemimpinan dan dukungan organisasi merupakan elemen penting yang dapat lebih meningkatkan penerapan kebersihan tangan. INICC mengidentifikasi adanya hubungan antara pendapatan rendah dan kurangnya peraturan PPI yang dapat ditegakkan secara hukum dan tidak adanya akreditasi rumah sakit. Sejalan dengan temuan kami, lembaga-lembaga swasta, misalnya, memiliki sistem akreditasi yang lebih kuat, termasuk pendanaan untuk program-program PPI. Collignon et al. juga mengamati adanya hubungan positif antara korupsi, kurangnya supremasi hukum dan resistensi antimikroba, yang merupakan kualitas lain dari indeks perawatan, menekankan pentingnya kepemimpinan yang dapat diandalkan untuk pemberian layanan kesehatan yang memadai. Temuan-temuan ini menggarisbawahi pentingnya memperluas dan mengintensifkan inisiatif untuk meningkatkan kesadaran di kalangan pembuat kebijakan dan pimpinan fasilitas mengenai pentingnya kebersihan tangan dan peran mereka dalam implementasi yang memadai dan berkelanjutan. Selain itu, pembangunan ekonomi yang lebih luas di wilayah yang miskin sumber daya juga dapat mempunyai dampak penting terhadap penerapan PPI.

Elemen Evaluasi dan Umpan Balik untuk fasilitas layanan kesehatan dari negara-negara berpendapatan rendah memiliki skor spesifik elemen dan strata terendah. Demikian pula, laporan lain menunjukkan rendahnya tingkat pengawasan dan pemantauan indikator terkait PPI di negara-negara berpenghasilan rendah, termasuk kepatuhan kebersihan tangan dan konsumsi ABHR. Kurangnya keahlian teknis (pengamat kebersihan tangan yang tervalidasi) untuk sistem dan proses pemantauan, serta kurangnya akses terhadap perlengkapan kebersihan tangan yang berkelanjutan dapat menjadi pemicu potensial, sehingga perlunya lebih banyak pelatihan, sumber daya layanan kesehatan, dan infrastruktur. Pemantauan kebersihan tangan dengan umpan balik direkomendasikan sebagai indikator kinerja utama, dan merupakan bagian dari komponen inti enam pedoman WHO untuk program PPI yang efektif. Temuan kami menyoroti perlunya dukungan yang lebih baik bagi fasilitas layanan kesehatan dengan sumberdaya terbatas agar dapat melaksanakan program PPI.

Selengkapnya dapat diakses melalui:
https://www.thelancet.com/journals/laninf/article/PIIS1473-3099(21)00618-6/fulltext 

 

 

Menilai dan Meningkatkan Mutu Layanan Kesehatan Jiwa

Hari Kesehatan Mental Sedunia pada tanggal 10 Oktober 2024 dengan tema kesehatan mental di tempat kerja menyoroti pentingnya menangani kesehatan mental dan kesejahteraan di tempat kerja, demi kepentingan individu, organisasi, dan masyarakat. Lingkungan kerja yang sehat dan suportif dapat mendukung terbentuknya mental yang sehat. Kemajuan kinerja individu juga tidak lepas dari regulasi jiwa yang baik.

Beban penyakit akibat gangguan kesehatan mental sejauh ini merupakan yang tertinggi dari semua masalah kesehatan di seluruh dunia, yaitu sebesar 13% dari total beban penyakit dari seluruh penyakit. Lebih khusus lagi, penyakit mental menyumbang 32,4% years lost due to mental illness or disability (YLDs) dan 13% dari disability-adjusted life years (DALYs), yang merupakan ukuran pasti dari beban penyakit. DALY yang sesuai dengan beban penyakit mental adalah jumlah YLD bersama dengan years lost akibat kematian dini akibat penyakit mental (YLL). Di tingkat Negara Anggota Uni Eropa, kerugian akibat gangguan mental diperkirakan mencapai 3–4% PDB, terutama disebabkan oleh hilangnya produktivitas. Memberikan perawatan psikiatri berkualitas tinggi kepada pasien gangguan jiwa, khususnya dalam konteks Uni Eropa, merupakan kewajiban negara kesejahteraan, kewajiban profesional kesehatan mental, dan hak pasien.

Kebutuhan yang belum terpenuhi akan layanan kesehatan mental yang berkualitas dan mampu menjawab kebutuhan pasien dan menghormati hak warga negara atas kesehatan mental dapat dicapai seiring berjalannya waktu melalui perencanaan strategis, evaluasi tahunan, dan peningkatan kualitas layanan kesehatan mental yang ditargetkan. Selain itu, diperlukan evaluasi kualitatif dan kuantitatif dengan indikator kualitas layanan kesehatan jiwa, guna mengidentifikasi dan mengungkapkan kebutuhan kelompok sosial yang kurang beruntung, untuk memfasilitasi intervensi negara secara politik untuk menjamin akses layanan yang universal dan setara bagi masyarakat.

Studi yang mengevaluasi kualitas intervensi menunjukkan bahwa praktik klinis sehari-hari selalu berada di bawah tingkat yang ditetapkan oleh pedoman nasional dan internasional. Oleh karena itu, perbedaan dalam kepatuhan terhadap pedoman dijelaskan serta indikator kualitasnya. Berfokus pada evaluasi dan peningkatan kualitas dapat mengurangi heterogenitas keputusan klinis dan mengoptimalkan hasil dari kasus yang ditangani, sampai batas tertentu, tanpa mengabaikan fakta bahwa kedokteran klinis bukan hanya sebuah ilmu tetapi juga seni, seperti yang dijelaskan dalam Sumpah Hipokrates.

Untuk penilaian kualitas dalam sistem kesehatan, ada beberapa alat generik tertimbang yang berguna yang pada awalnya dapat membantu, seperti WHO Assessment Instrument for Mental Health Systems (WHO-AIMS) dan WHO – Quality Rights, meskipun ini tidak tersedia dalam bahasa Yunani atau bahasa lainnya. Keduanya dapat memberikan penilaian deskriptif umum terhadap kualitas sektor kesehatan mental dalam sistem kesehatan.

Dimensi atau kriteria penilaian kesehatan mental yakni:

  1. Kesesuaian layanan yang diberikan
  2. Aksesibilitas pasien terhadap layanan yang diberikan
  3. Penerimaan layanan dari pasien
  4. Kompetensi penyedia layanan kesehatan mental
  5. Efektivitas profesional kesehatan mental
  6. Kesinambungan terapeutik dalam sistem kesehatan mental
  7. Efisiensi tenaga kesehatan
  8. Keselamatan pasien dan penyedia layanan kesehatan.

Indikator masing-masing dimensi dapat dicirikan sebagai indikator struktur, indikator proses, dan indikator hasil, seperti yang dikemukakan oleh peneliti lain dalam evaluasi kualitas layanan kesehatan jiwa.

Kriteria Kesesuaian, atau Dimensi Kesesuaian. Indikator Kesesuaian Pelayanan Kesehatan Jiwa

1. Jumlah Pasien Kronis yang Rawat Inap di Rumah Sakit Jiwa Daripada Rehabilitasi Rawat Jalan

Poin ini merupakan indikator struktural sistem kesehatan mental, yang menunjukkan kecukupan atau kekurangan struktur psikiatri rawat jalan yang dibuat bersamaan dengan deinstitusionalisasi. Selama periode deinstitusionalisasi yang panjang, sebagian besar pasien dengan gangguan mental kronis dipulangkan dari rumah sakit jiwa yang telah dirawat selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun dan dirujuk untuk mendapatkan perawatan psikiatri ke unit kesehatan mental masyarakat sebagai pasien rawat jalan. Definisi penyakit kronis adalah penyakit yang berlangsung selama tiga bulan atau lebih, menurut definisi United States National Center for Health Statistics. Seorang pasien harus dirawat di rumah sakit setidaknya selama tiga bulan agar dapat dipertimbangkan untuk rawat inap kronis.

Target kinerjanya adalah mengurangi secara bertahap, dari tahun ke tahun, pasien yang dirawat di rumah sakit secara permanen saat dipindahkan ke layanan masyarakat. Oleh karena itu, indikator ini dapat digunakan untuk mengevaluasi kemajuan suatu rumah sakit dari tahun ke tahun, asalkan indikator tersebut dihitung secara tahunan.

2. Jumlah Kasus yang Dapat Menghindari Masuk Rumah Sakit dengan Intervensi Eksternal yang Tepat

Poin ini merupakan indikator struktural yang berfokus pada penilaian kecukupan struktur kesehatan mental rawat jalan yang sesuai. Dalam sistem kesehatan jiwa, terdapat sejumlah pasien yang dirawat di rumah sakit (≥ 1) per tahun karena kurangnya ketersediaan layanan rawat jalan yang sesuai. Pendaftaran dan rawat inap yang tidak diperlukan di rumah sakit merugikan sistem dan belum tentu bermanfaat bagi pasien karena pasien tidak menerima perawatan yang tepat.

Target kinerjanya adalah persentase menjadi semakin kecil setiap tahunnya. Semakin besar fraksinya, semakin besar pula ketidakcukupan struktur rawat jalan (misalnya, psikiatri komunitas, keperawatan komunitas). Pada tingkat sistem, indikator ini dapat digunakan untuk membandingkan kecukupan layanan kesehatan mental rawat jalan di antara Negara-negara Anggota UE.

3. Jumlah Kasus yang Ditangani Tanpa Indikasi

Poin ini merupakan indikator yang menilai struktur Layanan Kesehatan Jiwa dan merupakan indikasi ketersediaan struktur tertentu. Secara khusus, penilaian ini menilai apakah pasien dirawat di lingkungan yang sesuai (rawat inap atau rawat jalan), yaitu apakah pasien menerima perawatan yang sesuai dan sesuai kebutuhan. Dalam psikiatri, sangat penting bahwa pengobatan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan bio-psikososial individu setiap pasien. Oleh karena itu, konteks psikososial selalu diperhitungkan. Perawatan yang tidak tepat dapat disebabkan oleh kurangnya struktur (misalnya, kurangnya bagian tentang gangguan makan) atau kelengkapan struktur (misalnya, pasien dirawat di rumah sakit jiwa karena penuhnya bangsal psikiatri di rumah sakit umum. ) atau karena kurangnya spesialisasi serta peran yang tidak jelas antar departemen (misalnya, pasien dengan depresi dan ketergantungan alkohol mungkin dirawat di rumah sakit (1) di klinik rehabilitasi dan ketergantungan alkohol khusus, atau (2) klinik psikiatri rumah sakit umum, atau (3 ) di rumah sakit jiwa, atau (4) di bangsal penyakit dalam rumah sakit umum).

Tujuan kinerjanya adalah agar semua pasien mendapat pengobatan yang tepat. Indikator tersebut harus dihitung setiap tahun untuk menunjukkan kemajuan sistem kesehatan dari waktu ke waktu, misalnya dengan membandingkan skor tahun ini dengan skor tahun lalu. Hal ini juga dapat digunakan pada tingkat klinik individual, yang menunjukkan sejauh mana klinik tersebut menangani kasus-kasus yang bukan merupakan spesialisasinya (misalnya, pasien non-psikotik yang secara sukarela dirawat di rumah sakit jiwa karena kekurangan tempat tidur. di klinik psikiatri rumah sakit umum atau klinik psikiatri). Indikator ini juga dapat digunakan untuk membandingkan sistem kesehatan di antara negara-negara tersebut, misalnya antara negara-negara anggota Uni Eropa.

Selengkapnya dapat diakses melalui:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6982221/ 

 

 

Pemanfaatan AI untuk Atasi Kekurangan Nakes

Digital Health, a subsidiary of Dialog Axiata PLC, Sri Lanka’s #1 connectivity provider, has introduced Sri Lanka’s first AI-powered health scan, revolutionising how consumers manage their wellbeing.

This innovative feature enables users to monitor vital health indicators such as blood pressure, heart rate, heart rate variability, and stress levels directly from their smartphones or devices.

Continue reading

‘Nurses’ Adherence to Patient Safety Principles

World Health Organization (WHO) mendefinisikan keselamatan pasien sebagai tidak adanya bahaya yang dapat dicegah terhadap pasien dan pencegahan bahaya yang tidak perlu oleh tenaga kesehatan profesional. Perawatan yang tidak aman menyebabkan hilangnya 64 juta tahun disability-adjusted life years setiap tahunnya di dunia. Kerugian yang dialami pasien selama pemberian layanan kesehatan diakui sebagai salah satu dari 10 penyebab kecacatan dan kematian di dunia. Analisis retrospektif kerugian rawat inap berdasarkan data yang dikumpulkan dari 24 rumah sakit di Amerika Serikat menunjukkan bahwa strategi harm-reduction dapat mengurangi total biaya layanan kesehatan sebesar $108 juta dan menghasilkan penghematan sebesar 60.000 hari perawatan rawat inap. Selain itu, hilangnya pendapatan dan produktivitas karena biaya lainnya yang merugikan pasien diperkirakan mencapai triliunan dolar setiap tahunnya. Beban kesalahan praktik pada pasien, anggota keluarga mereka, dan sistem layanan kesehatan dapat dikurangi melalui penerapan prinsip keselamatan pasien berdasarkan strategi pencegahan dan peningkatan mutu. Prinsip keselamatan pasien adalah metode untuk mencapai sistem layanan kesehatan yang andal yang meminimalkan tingkat kejadian dan dampak kejadian buruk serta memaksimalkan pemulihan dari kejadian tersebut. Prinsip-prinsip ini dapat dikategorikan sebagai manajemen risiko, pengendalian infeksi, manajemen obat-obatan, lingkungan dan peralatan yang aman, pendidikan pasien dan partisipasi dalam perawatan sendiri, pencegahan luka tekan, peningkatan nutrisi, kepemimpinan, kerja sama tim, pengembangan pengetahuan melalui penelitian, perasaan tanggung jawab dan akuntabilitas, dan melaporkan kesalahan praktik.

Perawat berperan dalam menjaga keselamatan pasien dan mencegah bahaya selama pemberian perawatan, baik dalam rangkaian perawatan jangka pendek, maupun jangka panjang. Perawat diharapkan dapat mematuhi strategi institusi untuk mengidentifikasi bahaya dan risiko melalui penilaian pasien, perencanaan perawatan, kegiatan pemantauan dan pengawasan, pemeriksaan ulang, menawarkan bantuan, dan berkomunikasi dengan penyedia layanan kesehatan lainnya. Selain kebijakan yang jelas, kepemimpinan, inisiatif keselamatan yang didorong oleh penelitian, pelatihan staf layanan kesehatan, dan partisipasi pasien, kepatuhan perawat terhadap prinsip-prinsip keselamatan pasien, diperlukan untuk keberhasilan intervensi yang menargetkan pencegahan kesalahan praktik dan untuk mencapai sistem layanan kesehatan yang berkelanjutan dan lebih aman.

Faktor sistemik institusional yang mempengaruhi kepatuhan dan kepatuhan perawat terhadap prinsip-prinsip keselamatan pasien adalah budaya keselamatan pasien di institusi, beban kerja, tekanan waktu, dorongan dari pimpinan dan rekan kerja, tingkat kinerja, pemberian pendidikan untuk peningkatan pengetahuan dan keterampilan, prosedur atau protokol kelembagaan, dan juga komunikasi antara staf layanan kesehatan dan pasien. Selain itu, motivasi pribadi, penolakan terhadap perubahan, perasaan otonomi, sikap terhadap inovasi, dan pemberdayaan merupakan faktor pribadi yang berdampak pada kepatuhan perawat terhadap prinsip keselamatan pasien.

Kerangka teoritis untuk menganalisis risiko dan keselamatan dalam praktik layanan kesehatan telah dirancang oleh Vincent et al. (1998), berdasarkan model organizational accidents Reason. Pendekatan ini menggabungkan pendekatan ‘person centered‘, yang berfokus pada tanggung jawab individu untuk menjaga keselamatan pasien dan mencegah bahaya yang menimpa mereka, dan pendekatan ‘system centered’, yang mempertimbangkan faktor organisasi sebagai pemicu yang membahayakan keselamatan pasien. Menurut kerangka teoritis ini, inisiatif yang bertujuan untuk meningkat.

Pada tinjauan sistematik yang dilakukan oleh Mojtaba et al. (2020) pada 382 abstrak dengan menggunakan domain kerangka Vincent untuk menganalisis risiko dan keamanan dalam praktik klinis menggunakan kata kunci ‘pasien’, ‘penyedia layanan kesehatan’, ‘tugas’, ‘lingkungan kerja’, serta ‘organisasi dan manajemen’ sebagai dasar pencarian terkait prinsip keselamatan pasien.

8okt

Pasien

Kategori ini membahas tentang peran pasien dan bagaimana peran tersebut dapat berdampak pada kepatuhan perawat terhadap prinsip keselamatan pasien. Penyimpangan yang mempunyai kemungkinan besar membahayakan keselamatan pasien terjadi ketika orang tua pasien atau pendampingnya tidak diawasi dan diawasi oleh perawat dalam pemberian obat kepada pasien. Pemberian tanpa pengawasan atau tanpa pengawasan bertentangan dengan prinsip pengelolaan obat yang memerlukan pengawasan langsung perawat; pertimbangan penting untuk pencegahan penyalahgunaan dan penghindaran pasien dalam meminum obat sesuai resep. Penyimpangan ini dapat menghambat keterlibatan aktif pasien dalam perawatan mereka yang aman. Selain itu, satu-satunya jalur komunikasi antara pasien dan perawat adalah bel panggilan, dan perawat jarang menanyakan pasien tentang rasa sakit atau kenyamanan mereka.

Penyedia Layanan Kesehatan

Kategori ini menggambarkan bagaimana pengetahuan dan sikap perawat dikaitkan dengan kepatuhan mereka terhadap prinsip keselamatan pasien. Variasi dalam kepatuhan perawat terhadap prinsip keselamatan pasien dapat disebabkan oleh beragamnya tingkat pengetahuan dan sikap mereka. Contohnya termasuk ketidakpatuhan perawat terhadap prinsip-prinsip pengendalian infeksi, yang mencakup pemeriksaan harian pada lokasi kateter vena perifer, menggosok tangan saat operasi, disinfeksi tangan, dan penggunaan sarung tangan dan celemek sekali pakai saat terkena ekskresi pasien. Contoh lain terkait dengan prinsip pengelolaan obat: kecepatan bolus intravena yang tidak tepat, penyiapan obat yang salah, pemberian obat pada waktu yang salah, pelabelan jarum suntik yang bermasalah, pemberian antibiotik intravena tanpa pembilasan, pasien tidak menerima dosis lengkap obat, dan pencampuran obat dengan pengencer yang salah. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan mengenai standar pemantauan dan surveilans jantung juga terlihat jelas, dengan penempatan elektroda jantung dan/atau persiapan kulit yang salah sebelum prosedur menyebabkan pemantauan tidak konsisten, yang dapat membahayakan keselamatan pasien.

Tugas

Dalam kategori ini, hubungan antara identitas dan jenis tugas keperawatan, serta kepatuhan perawat terhadap prinsip keselamatan pasien dipertimbangkan. Tingkat kepatuhan terendah terlihat pada tugas pengelolaan obat ‘independen’ seperti penghitungan dosis, kecepatan pemberian obat bolus intravena, dan pelabelan alat suntik. Di sisi lain, tingkat kepatuhan yang lebih tinggi dilaporkan untuk tugas-tugas ‘kooperatif’ dengan tingkat kompleksitas yang lebih tinggi, seperti pengecekan ulang obat untuk pemberian obat yang sebenarnya kepada pasien. Demikian pula, semakin banyak perawat yang bekerja dan berkolaborasi di bangsal dikaitkan dengan tingkat kepatuhan yang lebih tinggi terhadap tindakan pencegahan pengendalian infeksi, termasuk memasukkan benda tajam ke dalam kotak yang sesuai, menutup mulut dan hidung, dan melakukan desinfeksi tangan setelah melepas sarung tangan.

Lingkungan Kerja

Ketersediaan peralatan dan sumber daya elektronik serta digitalisasi meningkatkan kemungkinan kepatuhan terhadap prinsip keselamatan pasien terkait dengan manajemen obat, perawatan kateter vena perifer, serta pemantauan dan pengawasan jantung. Sumber daya elektronik dan digitalisasi membantu mengingatkan pemeriksaan harian dan berbagi informasi antar perawat mengenai lokasi pemasangan kateter vena perifer. Keberadaan ruang lingkungan untuk penyiapan obat tanpa interupsi membantu perawat lebih mematuhi instruksi penyiapan dan pemberian obat pada akhir pekan, dibandingkan dengan hari kerja.

Organisasi dan Manajemen

Kategori ini berfokus pada kolaborasi antara perawat dan peran kepemimpinan dalam memotivasi kepatuhan perawat terhadap prinsip keselamatan pasien. Sebagai contoh, kepatuhan terhadap prinsip menggosok tangan saat bedah, termasuk mengeringkan tangan dengan benar setelah menggosok tangan dengan alkohol dan mencuci dengan air dan sabun, dan menggosok tangan dengan alkohol hingga siku, ditingkatkan setelah pemberian umpan balik oleh pimpinan perawat. Proses umpan balik praktis yang teratur, peluang interaksi dan observasi rekan kerja dan kolega senior, dan kepemimpinan memotivasi kepatuhan perawat untuk melakukan inspeksi harian pada lokasi pemasangan kateter vena perifer dan penggunaan sarung tangan sekali pakai saat menangani lokasi pemasangan kateter vena perifer. Kepatuhan terhadap prinsip-prinsip keselamatan pasien oleh perawat jantung ditingkatkan melalui pemberian umpan balik dan memberi informasi kepada perawat di ICU tentang jenis intervensi keperawatan yang dilakukan dalam kasus disritmia serius dan hasilnya. Selain itu, standarisasi proses hand-over membantu kelangsungan rencana perawatan dengan memformalkan diskusi antar perawat dan membantu menghilangkan segala ambiguitas, sehingga meningkatkan kesadaran akan risiko terhadap keselamatan pasien.

Selengkapnya dapat diakses di: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7142993/ 

 

 

Memperingati Hari Lanjut: Usia Pola Tidur pada Lanjut Usia

image: https://www.mattressclarity.com/wp-content/uploads/2018/11/elderly_man_sleeping.jpg 

Seorang bapak lanjut usia, minta kepada keluarganya mengantarkan dirinya untuk bertemu dokter di Poliklinik. Bapak tersebut menyampaikan kepada keluarganya, pola tidurnya menjadi berubah dibandingkan sebelumnya. Akhir-akhir ini ia tidak dapat tidur seperti dulu. Dahulu saat sudah tertidur, ia dapat tidur hingga bangun di pagi hari, tanpa terputus (utuh). Belakangan ini, terjadi perubahan pola tidur, dimana tidurnya pasti ada periode terbangun di malam hari, terputus-putus, kemudian terkadang masih dapat melanjutkan tidur dan lain waktu tidak dapat lagi melanjutkan tidur.

Tidur sangat berhubungan dengan kondisi fisik dan psikis sehingga tidur merupakan salah satu indikator yang sering dievaluasi berbagai praktisi kesehatan untuk mengetahui kondisi kesehatan seseorang apakah terdapat penyakit tertentu atau sudah ada perbaikan dalam proses pemulihannya. Banyak gangguan kesehatan justru terdeteksi dari munculnya gangguan tidur yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Di sisi lain, hasil evaluasi tidurnya yang sudah mulai teratur mengindikasikan keadaan kesehatan seseorang yang dalam proses pemulihan telah mengalami kemajuan.

Sampai saat ini belum ada literatur yang menjelaskan secara komprehensif mengenai pemahaman manusia tentang tidur. Padahal semua manusia membutuhkan tidur. Walaupun demikian, penelitian demi penelitian tentang tidur terus dilanjutkan dari waktu ke waktu, guna memahaminya secara mendalam. Para ahli mempunyai kesepakatan umum bahwa tidur sangat berhubungan erat dengan proses fisiologis dan psikologis. Selain itu, para ahli juga memiliki pendapat yang relatif sama tentang kemungkinan-kemungkinan fungsi dari tidur, yaitu: tidur berperan saat perbaikan dan pemulihan fisik dan psikis, konsolidasi memori, konservasi energi, dan juga ikut berperan dalam pertumbuhan dan perbaikan sel-sel saraf dan mengatur ulang keadaan emosi. Hal ini menggambarkan betapa manusia membutuhkan tidur dikarenakan tidur terkait erat dengan kualitas hidup seseorang. Tidur yang terganggu dapat hampir mempengaruhi semua aspek pada diri seseorang.

Studi dari berbagai literatur menunjukkan proses tidur yang sama pada semua golongan usia. Keadaan tidur yang normal terbagi menjadi dua, yaitu rapid eye movement (REM) dan non-rapid eye movement (Non-REM). Tidur Non-REM terdiri dari 4 tahap.

  • Tahap 1, sebanyak 5% dari jumlah total tidur, merupakan tahapan tidur paling ringan dengan karakteristik tampak sangat tenang, nafas dan denyut nadi melambat, tekanan darah menurun dan kadang masih ada episode pergerakan badan.
  • Tahap 2, merupakan persentase paling besar dari jumlah total tidur dengan kondisi tidur masih mirip dengan tahap satu.
  • Tahap 3 dan 4, 25% dari jumlah total tidur, pada tahap ini terjadi tidur yang paling dalam dan rileks. Gangguan tidur seperti mimpi buruk, berjalan sambil tidur dan mengompol terjadi pada tahap ini. Tahap 3 dan 4, persentasenya akan menurun seiring bertambahnya usia. Tidur REM ditandai dengan tidak adanya lagi gerakan tubuh, meningkatnya denyut nadi, pernapasan juga tekanan darah, mimpi, ereksi alat kelamin. Tidur REM yang mengisi 25% dari total proses tidur, juga akan menurun persentasenya seiring bertambahnya usia.

Siklus transisi tidur Non-REM dan REM dalam satu malam terdiri dari empat sampai lima kali. Jam tidur total normal pada orang dewasa adalah lima sampai sembilan jam. Dari beberapa catatan di atas terlihat dalam proses tidurnya sama, terdapat beberapa tahapan dari proses tidur normal yang terlihat penurunan persentasenya seiring bertambahnya usia. Hal ini mengakibatkan berkurangnya masing-masing siklus tidurnya. Siklus yang berkurang ini menyebabkan satu siklus ke siklus berikutnya tidak berkesinambungan lagi secara utuh, sehingga seseorang yang mengalami pengurangan siklus akan sering terbangun malam hari, dengan kata lain siklus tidurnya terfragmentasi. Kondisi tidur yang terfragmentasi ini tentu akan mengurangi jumlah total tidur pada lanjut usia. Literatur menyatakan kondisi penurunan jumlah total tidur ini berhubungan dengan lanjut usia, dengan perkiraan jumlah waktu satu sampai dua jam. Fenomena ini menyebabkan efisiensi tidur akan berkurang walaupun seseorang lebih lama berada di tempat tidur dalam kondisi waktu siklus tidurnya berkurang.

Bagaimana dengan skenario kasus lanjut usia pada awal tulisan ini? Apakah kondisi tersebut merupakan kondisi alami yang ada di lanjut usia? Dalam kasus tersebut, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut. Salah satu aspek yang harus ditelusuri di saat lanjut usia adalah nyeri. Nyeri adalah keluhan paling umum yang ditemukan dan sangat berhubungan dengan kualitas tidur. Sering buang air kecil juga salah satu yang umum terjadi yang mengakibatkan sering terbangun di malam hari. Keadaan psikologis juga dapat mempengaruhi tidur dan gangguan tidur dapat mempengaruhi kondisi psikologis.

Langkah-langkah yang dapat dipertimbangkan jika mengalami gangguan tidur pada lanjut usia.

  1. Menerima bahwa pola tidur memang sudah berubah saat lanjut usia dan perubahan yang terjadi dipastikan bukan karena adanya gangguan psikologis dan kelainan fisik.
  2. Menghindari makan berlebihan, terutama makanan yang meningkatkan dorongan buang air kecil seperti kopi dan teh, menjelang tidur.
  3. Membuat jadwal waktu tidur dan bangun yang teratur, walaupun sulit masuk tidur, tetap harus diusahakan bangun dan berangkat tidur pada jam sama setiap harinya.
  4. Jika sudah di tempat tidur selama 20 menit dan tidak dapat tidur, sebaiknya bangkit dari tempat tidur dan melakukan kegiatan fisik sesuai kemampuan serta kembali ke tempat tidur ketika sudah mengantuk.
  5. Kamar tidur sebaiknya hanya untuk tidur. Kegiatan lain seperti membaca, menonton televisi dan menggunakan alat elektronik lainnya disarankan dilakukan di luar kamar tidur.
  6. Menghindari waktu tidur siang yang lama dan tidak olahraga yang berlebihan di malam hari.
  7. Tidur dalam kondisi gelap. Suasana kamar yang gelap akan merangsang keluarnya hormon melatonin yang mengatur sistem sirkadian untuk mengatur jam tidur.
  8. Lingkungan kamar tidur diusahakan tenang dan nyaman.
  9. Menggunakan teknik relaksasi.
  10. Sangat tidak dianjurkan menggunakan obat apapun terkait masalah tidur tanpa pengawasan dokter.

Perubahan pola tidur memang terjadi pada lanjut usia. Sehingga pada lanjut usia ketika terjadi perubahan pola tidur, harus dicoba observasi terlebih dahulu, untuk membedakan apakah ini sebagai proses alamiah karena semakin bertambahnya usia atau gangguan tidur lainnya yang perlu berkonsultasi dengan profesi kesehatan.

Penulis:

Sabar P Siregar,
Praktisi Psikiater Dokdiknis
RS Soerojo Magelang

 

 

Pet owners can proactively limit rabies through vaccinations

Rabies is one of the most ancient diseases in the world, and yet it continues to pose a serious risk to both animals and humans, particularly in developing countries.

World Rabies Day on 28 September shines a spotlight on the realities of rabies and why it is so important for pet owners to vaccinate their fur babies.

Continue reading

8 Strategi Pemerintah Menanggulangi Ancaman Rabies

RABIES adalah penyakit mematikan yang menyerang sistem saraf pusat dan dapat berakibat fatal hingga 100% jika gejala klinis muncul. Penyakit ini menjadi perhatian serius di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, di mana jumlah kasus rabies cukup mengkhawatirkan. Hingga April 2023, tercatat 31.113 kasus dengan 11 kematian akibat rabies di Indonesia.

Continue reading

Inovasi Kesehatan Digital untuk Meningkatkan Layanan Penyakit Kardiovaskular

Tanggal 29 September 2024 yang diperingati sebagai Hari Jantung Sedunia, merupakan peringatan untuk meningkatkan kesadaran dan mengedukasi masyarakat secara lebih lanjut mengenai penyakit kardiovaskular. Peringatan Hari Jantung Sedunia kali ini mengusung tema internasional “Use Heart for Action”, sedangkan tema nasional yang dibawakan yakni Ayo Bergerak untuk Sehatkan Jantungmu. Sebagai penyakit yang menyumbang kematian paling tinggi di tingkat global dengan prevalensi berkisar di angka 470 juta pada 2016, dengan peningkatan persentase kematian akibat penyakit kardiovaskular sebanyak 15% dari tahun 2006 hingga 2016, penyakit kardiovaskular patut menjadi perhatian utama dalam sasaran peningkatan mutu layanan. Penyakit kardiovaskular mencakup penyakit jantung iskemik, penyakit serebrovaskular, penyakit jantung hipertensi, penyakit vaskular perifer, penyakit jantung rematik, kardiomiopati, hingga aritmia. Teknologi kesehatan digital dapat digunakan untuk transformasi layanan kesehatan dengan menyediakan layanan pencegahan penyakit, juga diagnosis dan manajemen, yang dapat memperkuat pasien dan tenaga kesehatan profesional untuk memperoleh luaran kesehatan yang lebih baik.

Kesehatan Digital didefinisikan sebagai penggunaan teknologi digital, mobile, dan nirkabel untuk mendukung pencapaian tujuan kesehatan. Sekarang kesehatan digital digunakan untuk mendeskripsikan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk kesehatan, meliputi intervensi kesehatan, seperti yang terdapat di bidang baru, yakni analisis big data, kecerdasan buatan, dan machine learning.

Kesehatan digital merupakan bidang yang dinamis dan selalu berkembang yang membutuhkan pendekatan baru untuk meninjau efikasi dan efektivitas teknologi terbarunya. Untuk memenuhi kebutuhan ini, World Health Organization (WHO) mengeluarkan pedoman untuk memonitor dan mengevaluasi teknologi kesehatan digital. Pada pedoman ini, terdapat beberapa rekomendasi, seperti cara memilih desain studi dan indikator untuk mengevaluasi intervensi kesehatan digital, komponen kunci dan tools untuk memonitor kesehatan digital, pendekatan yang berbeda pada asesmen kualitas data, dan pedoman untuk melaporkan temuan, contohnya dengan menggunakan daftar mHealth Evidence Reporting and Assessment (mERA).

Meski kesehatan digital memiliki potensi yang besar dalam meningkatkan layanan dan pencegahan penyakit kardiovaskular, terdapat beberapa bukti ilmiah yang terbatas untuk mendukung penggunaan teknologi kesehatan digital. Intervensi kesehatan digital yang akan dibahas yakni: (i) program pesan singkat, (ii) aplikasi ponsel, (iii) perangkat yang digunakan.

Program Pesan Singkat

Kepatuhan pengobatan merupakan landasan dari manajemen penyakit kardiovaskular, seperti perilaku hidup sehat, beberapa studi mengevaluasi program pengiriman pesan singkat dalam meningkatkan kepatuhan. Peninjauan sistematik Cochrane (2017) menunjukkan adanya peningkatan kepatuhan sebagai efek positif dari program pengiriman pesan singkat pada pasien dengan penyakit kardiovaskular. Yang perlu digaris bawahi dari intervensi ini adalah hampir seluruh program pengiriman pesan singkat hanya mengevaluasi dampaknya terhadap satu perilaku kesehatan. Meski meningkatkan perilaku kesehatan secara spesifik dapat bermanfaat bagi orang dengan penyakit kardiovaskular, peningkatan pada beberapa perilaku secara simultan dapat lebih berdampak signifikan pada kesehatan secara signifikan.

Aplikasi Ponsel

Intervensi lewat ponsel pintar dan tablet dalam aplikasi dapat mengedukasi pasien lewat informasi tertulis dan visual, serta monitor dan manajemen kondisi kesehatan melalui harian dan pengingat otomatis. Meski ada potensi besar dari aplikasi kesehatan, terdapat satu aspek yang harus dipertimbangkan, yakni pengembang dari aplikasi kesehatan dengan latar belakang tenaga kesehatan profesional yang sedikit hingga tidak sama sekali dan pengembangannya tidak berdasarkan bukti ilmiah. Penting untuk membangun aplikasi yang berfokus pada perilaku individu. Studi yang dilakukan oleh Santo et. al pada 2019 dengan randomized control trial terhadap aplikasi pengingat pengobatan dalam meningkatkan kepatuhan pengobatan, menunjukkan adanya peningkatan kepatuhan pengobatan yang dilaporkan pengguna (self-report) yang tidak diikuti oleh peningkatan signifikan dari luaran klinis pengguna aplikasi jika dibandingkan dengan layanan manual tanpa aplikasi. Evaluasi ini juga menemukan mayoritas pasien yang menerima intervensi aplikasi menemukan kegunaan aplikasi dalam pencatatan nama dan dosis obat yang dikonsumsi sehingga pengingat pengobatan dapat meminum obat dengan benar.

Perangkat yang Digunakan

Perangkat yang dapat digunakan merupakan alat elektronik yang dapat digunakan dan memiliki kemampuan untuk menangkap informasi, memproses data, dan menyediakan luaran informasi yang relevan lewat koneksi dengan perangkat lain, seperti aplikasi ponsel pintar. Dalam konteks layanan dan manajemen penyakit kardiovaskular, faktor gaya hidup menjadi target utama dari perangkat pintar adalah aktivitas fisik. Pencatat aktivitas menyediakan informasi langkah harian, jarak jalan, energi yang dihabiskan , dan detak jantung. Tinjauan sistematik yang dipublikasikan pada 2019 mengenai investigasi dampak intervensi yang menggunakan pencatat aktivitas berbasis pengguna perangkat dibandingkan dengan pengguna yang tidak memakai perangkat pencatat aktivitas dan perilaku sedenter dengan 3646 partisipan, menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam jumlah langkah harian dengan peningkatan mencapai 627 langkah per hari. Studi meta analisis secara spesifik pada pasien dengan penyakit kardiovaskular dengan total pada 4528 pasien, menunjukkan peningkatan signifikan dengan rerata 2592.33 langkah per hari dengan penggunaan perangkat pintar. Sedangkan, bagi perangkat pintar terbaru, seperti smartwatch, dapat digunakan sebagai tool untuk monitor ritme jantung dan mendeteksi aritmia.

Selengkapnya dapat diakses di:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7532121/

 

 

Laporan dari IHF-Rio 47th World Hospital Congress 2024

Laporan dari IHF-Rio 47th World Hospital Congress 2024

Rio de Janerio, Brazil, 10-12 September 2024

Disusun oleh: Hanevi Djasri
Kompartemen Mutu dan Tatakelola Klinis PP PERSI
Magister Manajemen Rumahsakit, HPM UGM


  Pengantar

Pada tanggal 10-12 September 2024, International Hospital Federation (IHF) menyelenggarakan World Hospital Congress (WHC) ke 47 di Rio de Janeiro, Brazil. Hanevi Djasri menjadi anggota IHF-Rio Scientific Committee perwakilan resmi dari Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) dan turut menghadiri konggres tersebut. WHC sendiri merupakan forum global yang menghubungkan para pemimpin dan pengambil keputusan di rumah sakit dan fasilitas layanan kesehatan lainnya, untuk berbagi pengetahuan dan praktik terbaik, bertukar ide dan inovasi baru, serta membangun jaringan dengan para eksekutif senior dari seluruh komunitas pelayanan kesehatan internasional.

Berikut ini laporan baik sebagai scientific committee maupun peserta konggres.

  Scientific Committee

Scientific committee WHC 2024 terdiri dari 40 orang, yaitu:

Scientific Committee Co-chairs

  1. Dr. Graccho Alvim Neto: VP, Associação de Hospitais do Estado do Rio de Janeiro, Brazil
  2. Ms Gilvane Lolato: Operational Manager, Organização Nacional de Acreditação, Brazil

Scientific Committee Members

  1. Prof. Arnon Afek: Associate Director General and Acting Director of General Hospital, Sheba Medical Center, Israel
  2. Ms Zulaikha Al Hosani: Chief Nursing Officer, Sheikh Shakhbout Medical City, UAE
  3. Dr Noor Al Mheiri: Head of Medical Services Unit, Hospitals Department, Emirates Health Services, UAE
  4. Dr Hatem Alameri: Director, Healthcare Workforce Monitoring Division, Department of Health, UAE
  5. Dr Lama Aldakhil: Executive Director of Continuous Professional Development, Saudi Commission for Health Specialties, Saudi Arabia
  6. Dr Abdulateef Saad Alokifi: General Director for Organizational Excellence, Ministry of Health, Saudi Arabia
  7. Dr Ernesto Báscolo: Unit Chief of the Primary Health Care and Integrated Service Delivery, Pan American Health Organization under the World Health Organization, USA
  8. Ms Sylvia Basterrechea: Programme Lead, Geneva Sustainability Centre, Switzerland
  9. Ms Linda Clark: Director of Professional Development, International Hospital Federation, UAE
  10. Dr Hanevi Djasri: Quality Division Head of Indonesian Hospital Association (PERSI), and Consultant of Centre for Health Policy and Management (CHPM), Gadjah Mada University, Indonesia
  11. Mr Alan Dubovsky: VP and Chief Patient Experience Officer, Cedars-Sinai, USA
  12. Dr Amir ElTelwany: Executive Director and CEO, Egypt Healthcare Authority, Egypt
  13. Dr Emad Estemalik: Chair for International Business Development and Section Head for Headache Medicine, Cleveland Clinic, USA
  14. Prof. Dr Jaroslaw J. Fedorowski: President and CEO, Polish Hospital Federation, Poland
  15. Dr Juan Maria Ferrer: Director of Quality, Education and Research, Fundació Sanitària de Mollet, Mollet del Vallés, Spain
  16. Dr Mohamed Hablas: Regional Director, Egypt and North Africa, Saudi German Hospitals, Egypt
  17. Ms Michelle Hood: EVP and COO, American Hospital Association, USA
  18. Dr Sarah Jarmain: Chief of Staff and EVP for Medical and Academic Affairs, St. Joseph’s Healthcare Hamilton, Canada
  19. Ms Barbara Walczyk Joers: President and CEO, Gillette Children’s Specialty Healthcare, USA
  20. Ms Pritindira Kaur: Regional Quality Head, Apollo Hospitals Group, India
  21. Dr Suhail Javed Khan: Physician, Medical Adviser and Health Manager, MEDIKER Healthcare, Kazakhstan
  22. Dr Gladys Kwan: Chief Manager (Medical Grade), Cluster Services Division, Hospital Authority Head Office, Hong Kong
  23. Mr Ronald Lavater: CEO, International Hospital Federation, Switzerland
  24. Ms Kyung Eun Lee: Chairman and CEO, Keyo Medical Foundation, South Korea
  25. Dr Wui-Chiang Lee: Vice Superintendent, Taipei Veterans General Hospital, Taiwan
  26. Dr Adolfo Llinás: Chief Medical Officer, Fundación Santa Fe de Bogotá, Colombia
  27. Professor Alexandre Lourenço: CEO and Chairman, Coimbra’s Healthcare Integrated Delivery System, Portugal
  28. Ms Thaira Madi: Director of Accreditation Department, Health Care Accreditation Council, Jordan
  29. Prof. Dr Fadi Abdul Kader Ghazi Mirza: Medical Director and Director of Obstetrics Department, Latifa Women and Children Hospital; Chair of Obstetrics, Gynecology, and Women’s Health, Dubai Health, UAE
  30. Ms Aika Albert Felicia Mongi: Director of Nursing Services, Aga Khan Health Services, Tanzania
  31. Dr Simon Onsongo: Consultant Clinical Pathologist and Head of Department, Aga Khan Hospital Kisumu and Cluster, Kenya
  32. Ms Giulia Petrarulo: International Relations Coordinator and Communications Project Manager, Unicancer, France
  33. Dr Dana Gelb Safran: President and CEO, National Quality Forum; Chief Scientific Officer, The Joint Commission, USA
  34. Mr Richard Stubbs: CEO, Health Innovation Yorkshire and Humber; Chair, Health Innovation Network, UK
  35. Mr Artur Vaz: Administrator, Member of the Executive Board and Chief Risk Officer, Luz Saúde, Portugal
  36. Mr Walt Vernon: CEO, Mazzetti; Sextant Foundation, USA
  37. Mrs Vera Vertessen: Director of Patient Care, Universitair Ziekenhuis Brussel, Belgium
  38. Mr Daniel Yaross: President-Elect, International Association for Healthcare Security and Safety, USA

rio 1

Tugas scientific committee adalah turut mengembangkan program dan agenda WHC yang dimulai sejak awal Bulan Januari 2024. Diawali dengan menyebarluaskan call for abstract, melakukan penilaian abstract, memilih abstract yang masuk sebagai presentasi poster maupun sebagai presentasi oral dalam sesi pararel, serta menentukan narasumber yang perlu diundang untuk sesi pleno serta narasumber untuk melengkapi sesi pararel. Disamping itu committee juga bertugas untuk mengusulkan kandidat pemenang “IHF Awards” ataupun pemenang “i-to-i Innovation Hub” yang tahun ini disponsori oleh Standford Medicine.

Terdapat 5 tract dalam WHC 2024, yang dibahas baik dalam sesi pleno maupun sesi pararel (jadwal lengkap disini https://worldhospitalcongress.org), yaitu:

  • Contemporary leadership
  • Workforce
  • Clinical models enhancing quality
  • Innovation in care and hospital operations
  • Sustainability

Committee mengadakan pertemuan evaluasi saat konggres hari pertama, salah satunya untuk membahas mengenai pembagian tract, beberapa anggota mengusulkan pada konggres tahun depan dapat memperbanyak jumlah tract supaya lebih mendetail, namun beberapa anggota yang lain justru mengusulkan untuk lebih memastikan adanya keterkaitan antara satu tract dengan tract lainnya.

Tahun ini membanggakan Indonesia, dari IHF Award terdapat RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita yang mendapatkan “American College of Healthcare Executives Excellence Award for Leadership and Management”, dari Inovation Hub terdapat RSUD dr. Zainoel Abidin yang terpilih sebagai salah inovator IHF 2024 dengan inovasinya untuk “Non-Surgical Innovation for Diagnostic and Therapeutic of Thyroid Nodules (TAGTO), serta dari sesi presentasi oral terdapat RSUD Sekarwangi Sukabumi yang menyampaikan presentasinya dalam sesi “Integrating AI into everday decisions and processes”, dan dari sesi YEL (Young Executive Leaders) terdapat perwakilan dari Silaom Hospital Group.

  Kontingen Indonesia

Panjangnya perjalanan dari Indonesia ke Brazil (Jakarta – Amsterdam 13 jam + Amsterdam – Rio de Janeiro 11 jam) yang mungkin menyebabkan tidak banyaknya peserta dari Indonesia dibanding IHF tahun lalu di Portugal. IHF-Rio dihadiri 12 peserta dari Indonesia yaitu:

  1. dr. Rachmat Mulyana Memet, Sp.Rad: Wakil Ketua II PERSI
  2. dr. Tri Hesty Widyastoeti, SpM, MPH: Seketaris Umum PERSI
  3. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQUA: Ketua Kompartemen Mutu dan Tatakelola Klinis PERSI
  4. Dr. dr. Iwan Dakota SpJP(K), MARS, FIHA, FESC,FACC, FSCAI: Direktur Utama RS Jantung Harapan Kita
  5. dr. Muhadi, SpPD-KKV, M.Epid, FINASIM: Direktur Medik dan Keperawatan RS Jantung Harapan Kita
  6. Tri Hartono Rianto, SE, M.Bus, Ak: Direktur Keuangan dan BMN RS Jantung Harapan Kita
  7. Ghotama Airlangga, SKM, MKM, QRMA, CFrA, CPRM, CGRCP: Direktur Layanan Operasional RS Jantung Harapan Kita
  8. dr. Endah Citraresmi, Sp.A(K), MARS: Direktur Medis dan Keperawatan RSAB Harapan Kita
  9. dr. Gatot Sugiharto, SpB: Direktur Utama RSUD Sekarwangi, Sukabumi
  10. drg. Iing Ichsan Hanafi, MARS, MH: Direktur Regional RS Hermina Grup
  11. dr. Hendra Zulfry, Sp.PD, K-EMD, FINASIM: SMF Penyakit Dalam, RSUD Zainal Abidin, Banda Aceh
  12. Benny Wijaya: Ancillary Product Management, Siloam Hospitals Group.

rio 2

Delegasi PERSI IHF-Rio 2025

  Reportase Singkat Beberapa Isu Menarik

Secara keseluruhan isu-isu yang diangkat sangat menarik, hampir semua sesi diawali dengan pemaparan konsep dasar dari berbagai perkembangan pengetahuan dan ide terkini serta didetailkan dengan berbagai contoh penerapan dan inovasi dilapangan. Dengan adanya mekanisme seleksi abstrak yang baik, maka seluruh paparan penerapan dan inovasi disajikan dengan menjelaskan latar belakang, tujuan, metode, hasil inovasi, dan pembahasan, serta kesimpulan. Persyaratan ini yang mungkin tidak terpenuhi, dan membuat hanya sedikit makalah inovasi RS di Indonesia yang tembus untuk disajikan dalam konggres IHF 2024.

Sesi pembukaan diberikan oleh Dr Muna A. Tahlak, Presiden IHF, dan Dr Adelvânio F. Morato, Presiden Federasi Rumah Sakit Brasil, serta oleh Dr Jarbas Barbosa da Silva Jr., Direktur Organisasi Kesehatan Pan Amerika, yang menyampaikan pidato secara virtual kepada para delegasi. Salah satu yang disampaikan adalah Sistem kesehatan di Brasil yang memiliki beberapa keunggulan dan juga tantangan yang perlu diperhatikan, dan dapat menjadi pembelajaran tingkat internasional. Beberapa keunggulan sistem kesehatan rumah sakit di Brasil adalah:

  1. UHC: Brasil memiliki sistem jaminan kesehatan yang disebut Sistema Único de Saúde (SUS). Sistem ini menjamin akses layanan kesehatan dasar bagi semua warga negara, tanpa memandang kemampuan membayar.
  2. Jaringan rumah sakit luas: Brasil memiliki lebih dari 8.000 RS, baik milik pemerintah maupun swasta. Hal ini memungkinkan masyarakat memiliki pilihan yang lebih banyak dalam mengakses layanan kesehatan.
  3. Penelitian medis yang maju: Brasil memiliki komunitas medis yang aktif dalam melakukan berbagai penelitian medis penting, terutama di bidang penyakit tropis dan kesehatan masyarakat.
  4. Program kesehatan masyarakat yang komprehensif: Brasil telah menjalankan berbagai program kesehatan masyarakat yang sukses, seperti imunisasi, pengendalian penyakit menular, dan promosi kesehatan reproduksi.

Brazil juga telah menjadi pusat rujukan ilmu dan teknologi terkait dengan: Penyakit Tropis seperti malaria, demam kuning, dan penyakit Chagas; Program transplantasi organ di Brasil telah berkembang pesat dan merupakan salah satu yang terbesar di dunia; Kesehatan reproduksi yang komprehensif, termasuk akses ke kontrasepsi dan layanan kesehatan ibu dan anak.

Dari ke lima tract pada IHF-Rio, tract yang selalu dipadati para peserta adalah:

  1. Clinical models enhancing quality, terutama terkait dengan “Patient Experience”
  2. Innovation in care and hospital operations, terutama penggunaan “Artificial Intellegence”
  3. Hospital Sustainability, terutama tentang berbagai inovasi RS dalam memberikan pelayanan bermutu tinggi namun dengan dampak minimal ke lingkungan hidup

Berikut beberapa catatan dari beberapa sesi tersebut:

{tab title=”PATIENT EXPERIENCE” class=”green” align=”justify”}

PATIENT EXPERIENCE

  Barbara Walczyk Joers (Gillette Children’s Specialty Healthcare, AS), “Patient Experience pada Pasien Anak”

Barbara Walczyk Joers adalah Presiden dan Chief Executive Officer di Gillette Children’s Specialty Healthcare di Minnesota, AS sejak 2013. Gillette Children’s merupakan rumah sakit pertama di Amerika Serikat yang didanai publik dan didedikasikan untuk melayani anak-anak penyandang disabilitas, termasuk kini menjadi organisasi independen yang menyediakan perawatan subspesialisasi bagi anak-anak yang memiliki kondisi kompleks, langka, atau traumatis yang memengaruhi kinerja sistem muskuloskeletal dan neurologis.

Barbara menyampaikan bahwa Gillette Children’s Specialty Healthcare telah mengembangkan berbagai program dan inisiatif untuk memastikan bahwa setiap pasien dan keluarga mereka memiliki pengalaman yang positif dan mendukung selama perawatan. Berikut adalah beberapa hal yang dilakukan untuk meningkatkan pengalaman pasien:

Pendekatan yang Sentris pada Pasien dan Keluarga, terdiri dari: Kolaborasi antara dokter, perawat, terapis, dan keluarga pasien untuk memastikan bahwa rencana perawatan disesuaikan dengan kebutuhan individu setiap anak; Menyediakan sumber daya pendidikan yang komprehensif bagi keluarga, termasuk informasi tentang kondisi medis anak, pilihan perawatan, dan cara mengelola gejala; Dukungan emosional kepada pasien dan keluarga mereka melalui konseling, kelompok dukungan, dan program relaksasi.

Fasilitas yang Ramah Anak, terdiri dari: Desain yang menyenangkan untuk ruang tunggu, kamar pasien, dan area bermain yang dirancang dengan cermat untuk menciptakan lingkungan yang menyenangkan dan mengurangi kecemasan anak-anak; Penggunakan teknologi terbaru untuk diagnosis dan perawatan, namun tetap memastikan bahwa teknologi tersebut mudah digunakan dan tidak menakutkan bagi anak-anak.

Program Khusus, terdiri dari: Menyediakan rehabilitasi komprehensif untuk membantu anak-anak mencapai potensi penuh mereka, termasuk terapi fisik, okupasi, dan wicara; Menyediakan Pendidikan khusus bekerja sama dengan sekolah untuk memastikan bahwa anak-anak dengan kebutuhan khusus dapat terus belajar selama menjalani perawatan.

Kualitas Hidup, terdiri dari: Pengelolaan nyeri dengan menggunakan berbagai teknik untuk mengelola nyeri pada anak-anak, termasuk obat-obatan, terapi fisik, dan teknik relaksasi; Asuhan gizi bekerja sama dengan keluarga untuk memastikan bahwa anak-anak menerima nutrisi yang tepat untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan mereka.

  Point-point penting:
  1. Tujuan utama Gillette Children’s Specialty Healthcare adalah untuk memberikan perawatan yang berkualitas tinggi dan pengalaman yang positif bagi setiap pasien dan keluarga mereka.
  2. Dengan fokus pada pendekatan yang sentris pada pasien, fasilitas yang ramah anak, dan program khusus, Gillette telah menjadi pemimpin dalam perawatan anak-anak dengan kondisi medis kompleks.

 

  Emmanuelle Hoche (Unicancer, Prancis), “Patient Experience pada Pasien Kanker”

Emmanuelle Hoche memiliki gelar Magister Bisnis Internasional dan juga Psikologi Klinis serta Psikopatologi. Sebelumnya dia adalah Pendiri dan Direktur dari sebuah firma konsultan sumber daya manusia selama 15 tahun, namun setelah menderita kanker payudara, Emmanuelle mengarahkan kariernya untuk meningkatkan pengalaman pasien dalam onkologi. Saat ini sebagai mantan pasien dan juga mantan pemberi pelayanan onkologi, dia bekerja sebagai Manajer Proyek Patient Experience di UNICANCER di Paris yang terdiri dari 18 pusat kanker komprehensif (CCC = Comprehensive Cancer Centers), yang semuanya didedikasikan untuk perawatan pasien, penelitian, dan pelatihan terkait onkologi. Kemitraan pasien merupakan aspek utama dari filosofi mereka, dengan fokus pada pengalaman dan keterlibatan pasien dalam pengambilan keputusan.

Strategi UNICANCER terdiri dari 3 prioritas:

  • Pasien sebagai “co-pilot” pelayanan kesehatan: memfokuskan kepada pengalaman pasien dan penilaian hasil oleh pasien; mempromosikan akses yang setara untuk pelayanan kesehatan; menyediakan dukungan jangka panjang dan cakupan wilayah yang lebih baik.
  • CCC sebagai garda terdepan dalam memerangi kanker: berupaya dalam aspek mutu, e-health, inovasi, dan kerjasama
  • Membangun jejaring kerjasama dengan fokus regional: memperbesar pelayanan, membangun jejaring “town-hospital”, dan berperan dalam inisiatif pencegahan.

Secara praktis UNICANCER mendorong dan mendukung semua CCC untuk: Memperkuat upaya patient partnership; Mengembangkan communities of practices; Menyusun pedoman tematik dan melakukan analisa keberhasian berbagai inisiatif; Mengembangkan peluang kerjasama antara CCC; Menyusun tools yang dapat digunakan untuk proses pengambilan keputusan dan struktur dari patient partenership; dan Mereplikasi upaya yang telah dicoba dan berhasil di CCC yang lain (misalnya patient-partnership dalam kemoterapi pathways); serta Meningkatkan respon sesuai kebutuhan keluarga pasien yang memberikan pelayanan kesehatan di rumah (family caregiver), seperti pedoman bantuan sosial dan finansial, dukungan psikologi, dan perawatan akhir hayat.

  Point penting:
  1. Kemitraan pasien di Prancis saat ini telah didasarkan pada kerangka legislatif dan peraturan yang telah terbit dari tahun 2002. Dimana Kemitraan dan pengalaman pasien didasarkan pada empat nilai: keunggulan, solidaritas, inovasi, dan manusia di atas segalanya.
  2. UNICANCER memiliki tiga misi bersama: Pelayanan, Penelitian, dan Pelatihan.
  3. UNICANCER memiliki strategi dengan tiga prioritas: Pasien sebagai pendamping perawatan; Mempromosikan akses yang sama ke layanan kesehatan; serta Dukungan jangka panjang dan cakupan teritorial yang lebih baik. Secara teknis mereka telah menyusun berbagai rekomendasi pedoman pelayanan, seperti pedoman bantuan sosial dan finansial, dukungan psikologis, rasa hormat, dan kepedulian bagi pasien kanker.
  4. UNICANCER juga bertujuan untuk menciptakan peluang kolaborasi baik di Prancis dan luar negeri, mengembangkan panduan perekrutan di pusat-pusat, dan berbagi model tindakan khusus yang diterapkan di pusat-pusat tersebut.

Sesi selanjutnya: ARTIFICIAL INTELLEGENCE

 

{tab title=”ARTIFICIAL INTELLEGENCE” class=”red”}

ARTIFICIAL INTELLEGENCE

  Prof. Aymeric Lim (CEO, National University Hospital, Singapura) “AI di Singapore”

Aymeric memimpin RS tersier terkemuka yang memadukan pendidikan, penelitian, dan inovasi untuk mengatasi tantangan perawatan kesehatan saat ini dan masa depan dengan 1.200 tempat tidur dan merupakan rumah sakit pendidikan utama dari School of Medicine dan Fakultas Kedokteran Gigi dari National University of Singapore. Aymeric juga seorang dokter bedah tangan yang masih praktek dengan sub-spesialisasi bedah saraf tepi.

Rumah sakit ini mengadopsi strategi digital first. Rumah sakit ini merupakan bagian dari klaster perawatan kesehatan publik pertama yang terintegrasi sepenuhnya pada NGEMR. Keberhasilannya dalam memadukan AI dalam perawatan pasien meliputi penggunaan kemampuan neuro imaging berbasis AI untuk mempercepat identifikasi pasien stroke; dan jaringan dasbor data yang menyediakan data medis pasien “langsung”, yang memungkinkan pelacakan waktu tunggu dan prediksi jumlah pasien yang datang setiap hari, sehingga memungkinkan keputusan yang lebih tepat tentang cara terbaik untuk mengalokasikan sumber daya. Alat lain memberi tanda hiperkalsemia kepada dokter secara langsung, yang mendorong tindakan lebih cepat bagi pasien. Rumah sakit telah menetapkan tujuan ambisius untuk menjadi organisasi yang melek AI dengan menanamkan inovasi sebagai cara kerja dan kehidupan untuk meningkatkan efisiensi, dan menjadi kreatif dalam pemberian layanan kesehatan.

Aymeric, membahas penerapan inisiatif AI dari perspektif RS secara lebih luas. Dengan latar belakang bahwa RS menghadapi tantangan seperti populasi yang menua, hambatan ekonomi, kekurangan tenaga kerja, kenaikan biaya, dan ekspektasi pasien, maka teknologi AI diharapkan dapat berperan mengatasi tantangan ini dengan mengurangi kekurangan tenaga kerja, meningkatkan alokasi sumber daya, dan meningkatkan akses melalui telemedicine dan basis data informasi. Contoh aplikasi AI yang diterapkan meliputi chatbot untuk dokter dan administrator, dasbor prediktif untuk IGD, model untuk memperkiraan LOS, sistem chatbot penyakit kronis, dan aplikasi NUHS untuk akses pasien. AI juga membantu mengurangi biaya pelayanan kesehatan melalui berbagai tools efisiensi administratif dan memperbaikin jalur perawatan pasien yang dioptimalkan. Dalam hal mutu, AI membantu dalam tatalaksana cancer.

Rumah sakit juga menyadari adanya risiko AI dalam pelayanan kesehatan, terutama untuk keselamatan klinis, dan telah menyusun prosedur tata kelola (catatan Hanevi: hal juga telah disampaikan oleh pembicara JCI yang terkait dengan akreditasi penggunaan AI dalam pelayanan kesehatan, silahkan pelajari standar akreditasi JCI tentang ini) Profesor Aymeric menekankan pentingnya infrastruktur data, komitmen dan kepercayaan organisasi, serta tata kelola proaktif dalam penerapan AI.

  Poin-poin penting
  1. AI mengatasi tantangan akses: mengurangi kekurangan tenaga kerja, mengalokasikan sumber daya, telemedicine, basis data informasi.
  2. Contoh penerapan AI di NUHS:
    • Russell GPT (catatan Hanevi: baca lebih detail https://nuhsplus.edu.sg/article/ai-healthcare-in-nuhs-receives-boost-from-supercomputer), untuk NLM para dokter (Large Language Model/LLM adalah model komputasi yang mampu menghasilkan bahasa atau tugas pemrosesan bahasa alami lainnya), aplikasi suara ke teks, dan rekam medis.
    • Dasbor prediktif unit gawat darurat, model estimasi lama rawat inap, model prediksi penerimaan kembali 30 hari, sistem chatbot penyakit kronis.
    • Aplikasi NUHS: aplikasi utama untuk pasien, mencakup keseluruhan akses pasien dan operasi rumah sakit.
  3. AI membantu mengurangi biaya pelayanan kesehatan: aplikasi NUHS, LLM administratif, aplikasi pengurangan pesanan duplikat, perencanaan rute perawatan komunitas.
  4. AI dalam peningkatan kualitas: bot papan tumor kanker, aplikasi pendidikan.
  5. Risiko AI dalam pelayanan kesehatan, terutama untuk keselamatan klinis.
  6. Pendekatan terstruktur NUHS untuk penerapan AI: gudang data, Discovery AI, Endeavor, prinsip tata kelola, langkah-langkah tata kelola proaktif.
  7. Tantangan dalam implementasi AI: masalah penerapan dan penggunaan.
  8. Pelajaran yang dipetik: fondasi infrastruktur data, kepercayaan organisasi, pengawasan manusia yang konstan.
  9. Masa depan AI dalam pelayanan kesehatan: potensi transformatif, adaptasi masyarakat, penerapan yang seimbang dengan tata kelola proaktif.

 

  Dr. Rohini Sridhar (Chief of Medical, Apollo Hospitals, India), “AI di Apollo Hopital”

Rumah Sakit Apollo, salah satu ekosistem layanan kesehatan terbesar di India, terdiri dari 73 rumah sakit dan sekitar 11.000 tempat tidur, menghadapi tantangan dalam menyediakan perawatan berkelanjutan bagi pasien yang menempuh jarak jauh untuk berobat. Untuk mengatasi hal ini, Apollo meluncurkan aplikasi Apollo 24/7 pada tahun 2020, yang menawarkan berbagai layanan seperti konsultasi daring, pengiriman obat, pengambilan sampel darah, dan akses ke catatan kesehatan.

Aplikasi tersebut memperoleh popularitas luar biasa, mengumpulkan 33 juta pengguna dan 0,7 juta transaksi harian dalam waktu lima tahun. Menyadari potensi aplikasi tersebut, Apollo berupaya memanfaatkan kemampuan digitalnya untuk meningkatkan hasil pasien. Salah satu inisiatif tersebut adalah program ProHealth, yang berfokus pada kesehatan preventif. Melalui diagnostik yang dipersonalisasi, analisis prediktif berbasis AI, dan jalur kesehatan terpandu. ProHealth bertujuan untuk memberdayakan individu masyarakat dalam mengendalikan kesehatan mereka. Dengan menganalisis 200.000 pemeriksaan ProHealth, Apollo mengidentifikasi 168.000 individu yang memerlukan tindak lanjut.

Lebih lanjut intervensi berbasis dorongan (push intervention), termasuk pesan teks, WhatsApp, dan panggilan telepon, digunakan untuk melibatkan pasien-pasien secara proaktif. Hasilnya, peningkatan signifikan dari berbagai parameter kesehatan seperti kadar HbA1c, penurunan berat badan, dan tekanan darah terkontrol. Meskipun ada tantangan dalam menjangkau semua pasien, dampak positif pada 16.000 orang menunjukkan potensi intervensi digital dalam meningkatkan perawatan pasien.

  Poin-poin penting
  1. Pasien menempuh jarak yang cukup jauh untuk mengakses perawatan Apollo yang telah terkenal karena reputasinya.
  2. Apollo memiliki jaringan besar yang terdiri dari 6.000 apotek, 500 klinik, dan 300 pusat diagnostik di luar rumah sakitnya.
  3. Tantangannya adalah menyatukan semua ini menjadi satu sistem yang menawarkan manfaat ekosistem Apollo secara menyeluruh kepada pasien.
  4. Aplikasi Apollo 24/7 diluncurkan pada tahun 2020 dan telah berkembang hingga mencapai 33 juta pengguna dengan 0,7 juta transaksi per hari.
  5. Aplikasi ini menyediakan konsultasi, pengiriman obat, pengambilan sampel darah, dan hasil tes dalam jangka waktu tertentu.

 

  Dr. Rafael Correia Barao (Portugal) “Glucoma and AI”

Salah satu penerapan AI dalam clinical care di presentasikan oleh dr. Rafael, seorang dokter mata. Diawali dengan informasi dari Rafael yang menyoroti dampak signifikan kebutaan di Eropa, yaitu 10 juta orang terkena dampak dan biaya tahunan sekitar 50 miliar euro. Ia menekankan pentingnya deteksi dini dan pencegahan, khususnya untuk glaukoma dan retinopati diabetik, yang merupakan penyebab utama kebutaan ireversibel. Rafael membahas tantangan dalam mendiagnosis glaukoma, termasuk perlunya pengujian ekstensif dan tingginya prevalensi kasus yang tidak terdiagnosis.

Dr. Rafael mengusulkan penggunaan AI sebagai alat skrining untuk mengidentifikasi individu yang berisiko, memanfaatkan kemampuannya untuk menganalisis gambar yang diambil dengan kamera biasa. Dengan menerapkan skrining berbasis AI dalam pengaturan perawatan primer, Rafael memproyeksikan peningkatan tiga kali lipat dalam jumlah pasien yang diskrining, pengurangan 90% dalam kunjungan rumah sakit untuk glaukoma, dan penurunan substansial dalam biaya pelayanan kesehatan terkait glaukoma dalam waktu 15 tahun. Ia menyajikan hasil sementara dari studi percontohan yang dilakukan di Lisbon, yang menunjukkan tingkat respons dua pertiga dan identifikasi sejumlah besar pasien dengan glaukoma atau tersangka glaukoma. Rafael menyimpulkan bahwa model skrining berbasis AI memiliki presisi yang baik, dapat mendeteksi beberapa penyakit dalam satu pemindaian, dan berpotensi untuk ditingkatkan dan diintegrasikan ke dalam pengaturan perawatan primer, menawarkan manfaat yang signifikan dalam hal pemanfaatan sumber daya pelayanan kesehatan, efektivitas biaya, dan dampak sosial.

  Poin-poin penting:
  1. Glaukoma dan retinopati diabetik merupakan penyebab utama kebutaan ireversibel di seluruh dunia.
  2. Lebih dari separuh pasien glaukoma tidak terdiagnosis dan sepertiga dari mereka yang datang ke klinik sudah dalam tahap lanjut.
  3. Hambatan untuk skrining yang efektif meliputi waktu, biaya, dan kurangnya kesadaran.
  4. AI belum memiliki tempat dalam penerapan klinis saat ini di bidang oftalmologi, meskipun penelitiannya ekstensif.
  5. AI dapat digunakan untuk skrining glaukoma dan retinopati diabetik menggunakan kamera biasa.
  6. Algoritme AI dapat mendeteksi beberapa penyakit dalam satu pemindaian dan dapat diintegrasikan ke dalam pengaturan perawatan primer.
  7. Proyek dimana dr. Rafael terlibat bertujuan untuk menyaring tiga kali lebih banyak pasien, mengurangi kunjungan klinis hingga 90%, dan mengurangi biaya pelayanan kesehatan hingga 10 kali lipat dalam waktu 15 tahun.
  8. Analisis efektivitas biaya memproyeksikan BEP dalam waktu tiga hingga delapan tahun di sebagian besar negara maju.
  9. Deteksi dan perawatan dini dapat mengurangi risiko kebutaan akibat glaukoma hingga setengahnya dalam waktu 15 tahun.
  10. Proyek ini menargetkan 150 juta orang di Eropa yang berusia di atas 15 tahun dan diharapkan dapat mendiagnosis hampir 10.000 pasien dan mencegah 1.500 pasien menjadi buta.
  11. Hasil sementara dari studi percontohan menunjukkan tingkat respons dua pertiga, dengan 82 pasien diidentifikasi positif glaukoma atau diduga glaukoma.

Sesi selanjutnya: SUSTAINABILITY

 

{tab title=”SUSTAINABILITY” class=”blue”}

SUSTAINABILITY

  Dr. Penelope Dash (Ketua, NHS North West London, UK), “Efisiensi = Sustainability”

Penny adalah Ketua North West London Integrated Care System (ICS), yang bertanggung jawab untuk meningkatkan kesehatan sekitar 2,5 juta orang, mengurangi kesenjangan dalam kesehatan, dan memastikan layanan berkualitas tinggi dan efisien dengan anggaran sekitar £6 miliar. ICS mencakup semua penyedia layanan kesehatan dan perawatan di area tersebut (layanan perawatan primer, layanan sosial, layanan kesehatan mental dan komunitas, rumah sakit akut) serta pemerintah daerah dan Universitas.

ICS memiliki empat tujuan utama: meningkatkan output kesehatan masyarakat, mengatasi ketidaksetaraan dalam akses pelayanan kesehatan, meningkatkan produktivitas dan efisiensi dana (value money), dan mendukung pembangunan ekonomi dan infrastruktur sosial yang lebih luas. Untuk mencapai tujuan-tujuan ini, ICS telah menerapkan berbagai strategi, termasuk melibatkan individu dalam mengambil tanggung jawab atas kesehatan mereka sendiri, mempromosikan pencegahan dan pendidikan, meningkatkan produktivitas dan efisiensi, dan mendukung pembangunan ekonomi dan infrastruktur sosial yang lebih luas. Meskipun ada kemajuan yang telah dibuat, tantangan tetap ada, seperti menemukan cara untuk meningkatkan perawatan di luar rumah sakit, mengintegrasikan pelayanan kesehatan, dan meminta pertanggungjawaban orang untuk kesehatan diri mereka sendiri.

Presentasi diakhiri dengan kutipan dari George Griffiths dan Albert Einstein yang menekankan pentingnya perubahan dan kemampuan beradaptasi.

  Poin-poin penting
  1. NHS di London Barat Laut mengalami defisit 400 juta pound dan hasil kesehatan yang buruk tiga tahun lalu.
  2. Sejak itu, mereka secara sistematis memperbarui di mana dan bagaimana mereka membelanjakan uang, dengan berfokus pada nilai investasi dan melembagakan perubahan organisasi untuk meningkatkan kualitas, akses ke perawatan, dan mengatasi ketidakadilan kesehatan.
  3. Rumus sederhana untuk nilai adalah hasil di atas biaya, yang dapat dicapai dengan meningkatkan hasil atau mengurangi biaya.
  4. Pengeluaran pelayanan kesehatan meningkat lebih cepat daripada inflasi, didorong oleh faktor-faktor seperti peningkatan permintaan, pertumbuhan populasi, dan kemajuan teknologi.
  5. Pelayanan kesehatan tertinggal dari industri lain dalam mengadopsi teknologi baru, yang mengakibatkan produktivitas dan manfaat yang lebih rendah.
  6. Penolakan terhadap perubahan merupakan tantangan signifikan dalam pelayanan kesehatan, yang datang dari berbagai pemangku kepentingan seperti profesional, politisi, masyarakat, dan bisnis.
  7. Perubahan sistemik diperlukan untuk meningkatkan layanan kesehatan, termasuk melibatkan individu dalam kesehatan mereka sendiri, manajemen penyakit kronis yang lebih baik, mengalihkan perawatan ke tempat yang tepat, dan mengintegrasikan perawatan di luar rumah sakit.
  8. Sistem perawatan terpadu di London Barat Laut bertujuan untuk meningkatkan hasil kesehatan masyarakat, mengatasi kesenjangan, meningkatkan produktivitas dan nilai uang, serta mendukung pembangunan ekonomi dan infrastruktur sosial yang lebih luas.
  9. Keberhasilan mencakup peningkatan produktivitas, identifikasi inefisiensi sistem, eksplorasi teknologi baru, dan penjangkauan yang ditargetkan ke masyarakat yang kurang terlayani.
  10. Tantangan tetap ada dalam menemukan perawatan, meningkatkan perawatan di luar rumah sakit, mengintegrasikan layanan, dan memastikan akuntabilitas.
  11. Faktor kunci untuk perubahan yang berhasil mencakup visi bersama, kepemimpinan yang kuat, akses ke informasi yang tepat, manajemen kinerja dan akuntabilitas, insentif yang tepat, dan model organisasi yang mendukung reformasi.

 

  Vital Ribeiro (Healthy Hospitals Project, Brasil), “Data untuk Hospital Sustainability”

Ribeiro adalah Presiden Dewan organisasi nonpemerintah Brasil yang disebut Projeto Hospitais Saudáveis atau Healthy Hospitals Project, yang menyatukan lebih dari 450 organisasi pelayanan kesehatan di Brasil dan merupakan pusat dari organisasi internasional “Health Care Without Harm” dan “Global Green and Healthy Hospitals Network”

Vital telah bekerja selama 35 tahun dalam pengelolaan limbah padat dan lingkungan serta selama 15 tahun terakhir dalam perubahan iklim, energi, dan pengadaan berkelanjutan di sektor kesehatan. Ia adalah seorang Arsitek dan Perencana Kota serta Administrator Rumah Sakit dan Sistem Kesehatan. Sejak 1987, bekerja di Departemen Kesehatan Lingkungan Sekretariat Kesehatan Negara Bagian São Paulo – mengoordinasikan Program Pengelolaan Limbah Layanan Kesehatan dan melaksanakan Kebijakan Perubahan Iklim Negara Bagian untuk sektor kesehatan.

Ribeiro menyampaikan tinjauan umum dari projectnya yang mempromosikan keberlanjutan lingkungan dalam pelayanan kesehatan, dengan meluncurkan kampanye global yang membahas perubahan iklim dan dampaknya pada sistem kesehatan. Pendekatan mereka melibatkan dukungan bagi para profesional pelayanan kesehatan, melibatkan masyarakat, dan membantu rumah sakit dalam menerapkan praktik berkelanjutan. Mereka memiliki lebih dari 1.800 anggota dan 350 rumah sakit yang melaporkan data tentang tantangan iklim, limbah, energi, dan pengadaan berkelanjutan. Riveiro menekankan pentingnya pengumpulan dan pengukuran data untuk manajemen lingkungan yang efektif dan menyoroti perlunya dekarbonisasi dan kolaborasi lintas sektor

  Poin-poin penting
  1. Data sangat penting untuk “inisiatif keberlanjutan dalam pelayanan kesehatan”
  2. Limbah, energi, dan pengadaan berkelanjutan juga merupakan aspek penting dari pengelolaan perubahan klim.
  3. Pengumpulan data di tingkat fasilitas kesehatan penting untuk memahami dampak lingkungan dari organisasi pelayanan kesehatan.
  4. Dekarbonisasi penting, meski di negara-negara berkembang secara bersama menghadapi isu kualitas, cakupan, dan akses pelayanan kesehatan.
  5. Pelayanan kesehatan rendah karbon dapat dicapai dengan meningkatkan kinerja dan efisiensi.
  6. Banyak rumah sakit telah menghentikan penggunaan nitrogen oksida dan telah mengurangi 20% dari total emisi rumah sakit.
  7. Mengorganisasikan proses dalam organisasi dan memiliki tim sangat penting untuk program “sustainbility RS”

 

  Dr. Zeenat Khan (Aga Khan Health Services, Afrika Timur, Kenya)

Dr Khan adalah Kepala Eksekutif Regional yang mengawasi Aga Khan Health Services, Afrika Timur yang terdiri dari 5 rumah sakit dan 50 fasyaneks primer, terlibat dalam Aga Khan Development Network (AKHN), termasuk dalam penerapan Hospital Sustainbility terkait perubahan iklim.

Meski awalnya skeptis, namun para pengelola RS di Afrika Timur mulai bersama-sama mengembangkan alat untuk mengukur dampak lingkungan dari RS, mereka dan menerapkan berbagai langkah untuk menghemat biaya seperti panel surya dan desain bangunan hemat energi, yang menghasilkan pengurangan biaya operasional. Dr. Khan menekankan pentingnya komitmen kepemimpinan, kolaborasi antar departemen yang berbeda, dan mengeksplorasi berbagai sumber pendanaan, termasuk anggaran internal, pinjaman, dan hibah. Mereka menyimpulkan bahwa inisiatif hijau tidak hanya baik untuk lingkungan tetapi juga masuk akal secara bisnis, serta mendesak rekan-rekan pengelola RS untuk ikut bertanggung jawab dan melibatkan semua orang dalam upaya tersebut.

Beberapa kontribusi spesifik AKHN dalam konteks tersebut antara lain: 1. Infrastruktur RS yang tangguh iklim dengan memastikan desain bangunan yang tahan bencana: AKDN memastikan bahwa rumah sakit yang dibangunnya didesain dengan mempertimbangkan risiko bencana seperti banjir, gempa bumi, dan badai. Hal ini meliputi penggunaan material yang kuat, sistem drainase yang efektif, dan tata letak bangunan yang aman; 2. Energi terbarukan: AKDN mengintegrasikan sumber energi terbarukan seperti panel surya dan turbin angin ke dalam infrastruktur rumah sakit. Hal ini tidak hanya mengurangi emisi gas rumah kaca tetapi juga memastikan pasokan listrik yang stabil saat terjadi bencana; 3. Pengelolaan limbah medis yang aman: AKHN menerapkan praktik pengelolaan limbah medis yang aman dan berkelanjutan, mengurangi risiko kontaminasi lingkungan dan meningkatkan kesehatan masyarakat.

  Poin-poin penting
  1. AKHN mengembangkan alat untuk mengukur kerentanan iklim di komunitas dan lembaga mereka.
  2. AKHN tersebut mengumpulkan data di setiap tingkatan untuk memahami dampak iklim mereka.
  3. Penekanan pada tanggung jawab administrator, CEO, dan badan pemerintahan untuk mengatasi perubahan iklim.
  4. “Aksi iklim” baik untuk bisnis dan menguntungkan klinik kecil dan rumah sakit besar.

 

  Carrie Owen Plietz (Kaiser Permanente, AS), “Efisiensi Energi = Hemat Biaya Operasional”

Owen adalah presiden Kaiser Permanente California Utara, yang mengawasi semua pelayanan kesehatan Kaiser Permanente di California Utara untuk lebih dari 4,6 juta anggota melalui 21 rumah sakit dan 264 klinik.

Kaiser Permanente memiliki misi untuk menyediakan layanan kesehatan yang terjangkau dan berkualitas tinggi serta meningkatkan kesehatan masyarakat. Mereka menekankan pentingnya menangani keberlanjutan lingkungan dan mencapai netralitas karbon, dengan berbagi perjalanan yang dimulai pada tahun 2016 dan menjadi sistem layanan kesehatan pertama di Amerika Serikat yang mencapai netralitas karbon pada tahun 2020. Pencapaian tersebut dilakukan dengan mengurangi emisi, memproduksi dan membeli energi terbarukan, dan mengompensasi kompensasi karbon. Mereka menekankan bahwa berinvestasi dalam sistem layanan kesehatan yang berkelanjutan tidak hanya sejalan dengan misi mereka dan memberikan manfaat bagi kesehatan dan kesejahteraan, tetapi juga mendatangkan keuntungan finansial, karena peningkatan efisiensi penggunaan energi hingga 7% menghasilkan penghematan biaya organisasi secara signifikan.

  Poin-poin penting
  1. Misi Kaiser Permanente: menyediakan layanan kesehatan yang terjangkau dan berkualitas tinggi serta meningkatkan kesehatan masyarakat.
  2. Masyarakat yang sehat memerlukan lingkungan yang sehat, termasuk faktor-faktor seperti kerawanan pangan, kualitas udara, dan air.
  3. Kaiser Permanente memiliki komitmen untuk terlibat dalam netralitas karbon pada tahun 2016 dan mencapainya pada tahun 2020, menjadi sistem layanan kesehatan pertama di AS yang melakukannya.
  4. Mencapai netralitas karbon melalui pengurangan emisi, produksi dan pembelian energi terbarukan, serta kompensasi karbon.

Sesi selanjutnya: PENUTUP

 

{tab title=”PENUTUP” class=”orange”}

PENUTUP

Tujuan utama pertemuan IHF-Rio adalah untuk mempromosikan kegiatan “Pembelajaran global, aksi lokal”. Terdapat berbagai usulan aksi yang dapat dilakukan di Indonesia, baik ditingkat RS maupun di tingkat Global, antara lain:

  1. Membangun budaya menulis makalah ilmiah berdasarkan berbagai inoviasi yang telah dikerjakan di RS. Hampir seluruh presentasi yang disajikan di IHF-Rio berdasarkan pengalaman nyata dalam penerapan inovasi di berbagai RS yang ditulis secara runtut sejak awal penyusunan proposal hingga evaluasi hasil. Membangun budaya menulis ini dapat didukung secara internal di RS antara lain dengan mengembangkan Clinical Research Unit (CRU) yang tidak saja melakukan penelitian teknis medis atau hingga biomolukuler, namun juga bisa ke penelitian manajemen klinis.
  2. Sejak Picker/Commonwealth Programme for Patient Centred Care menerbitkan buku “Through the Patient’s Eyes” pada tahun 1993, patient experience menjadi fokus perhatian para pengelola RS, berbagai RS interenasional sudah sangat dalam dan spesifik dalam mengembangan upaya meningkatkan pelayanan pasien seperti untuk pasien kanker dan pasien anak dengan kondisi medis kompleks. RS di Indonesia juga perlu melakukan hal tersebut, bukan hanya karena mengikuti “trend” internasional, tapi memang sudah menjadi kebutuhan dan tututan sebagian masyarakat yang kedepan akan semakin banyak. Perlu ada pedoman pelaksanaan “patient centered care/PCC” dan atau “patient experience”.
  3. Evolusi penggunaan komputer di RS mulai dari “electronic data procesing”, “digitalasi”, hingga “artificial intellegence” sangat cepat dan masif. RS Intenasional sudah mulai banyak menerapkan AI untuk pelayanan klinis, sementara banyak RS di Indonesia masih terjebak dalam sekedar digitalitasi rekam medis tanpa mengarah menjadi smart hospital, bahkan beberapa RS masih kesulitan mencari-cari “vendor” yang tepat. Pembelajaran dari tiga pembicaa utama dalam sesi AI di IHF-Rio, dimana ada integrasi dan keselarasan antara pengembangan di tingkat nasional, di tingkat RS, dan di tingkat unit pelayanan klinis, maka perlu adanya cetak biru pengembangan smart hopital ataupun penerapan AI di RS untuk Indonesia, sehingga baik pengembangan, pengguna, dan pengelola aplikasi dapat lebih efektif dan efisien dalam kerjasamana mengembangan ekosistem AI di RS.
  4. Sejak lebih dari 10 tahun lalu, gerakan “green hospital” telah dilakukan diberbagai RS di Indonesia, namun pada beberapa pertemuan RS internasional terakhir, semakin kuat dorongan agar RS lebih berperan serta dalam menjaga keberlanjutan (sustainablity), yang secara umum berarti turut berperan dalam menjaga sistem biologis dunia agar tetap mampu menghidupi keanekaragaman hayati dan produktivitas tanpa batas. Pengalaman internasional menunjukan bahwa RS Indonesia perlu mengembangkan berbagai inisiatif keberlanjutan yang sangat membutuhkan kerjasama lintas batas: batas institusi, batas keilmuan, batas negara, hingga batas-batas pembiayaan. Hal itu semua dimulai dengan membangun kesadaran pentingnya kebersamaan dalam menjaga keberlanjutan.

Keempat usulan tersebut diatas merupakan “project besar” yang perlu peran serta bersama, perencanaan detail, serta pelaksanaan yang konsisten disertai dengan mekanisme efektif dalam monitoring dan evaluasi. Kementerian Kesehatan, PERSI, dan akademisi juga dapat memfasilitasi upaya ini.

 

{/tabs}

 

Penulis:

Hanevi Djasri
Schiphol, Amsterdam, 16 September 2024, 18:00