Tracks Patient Safety & Quality Improvement

{tab title=”Bagian 1″ class=”red” align=”justify”}

Patient Safety: a Journey through Collaboration, Leadership and Partnership

isq 3

Mike Durkin merupakan seorang Penasihat Senior Kebijakan dan Kepemimpinan Keselamatan Pasien dari Institut of Global Health Innovation (Senior Advisor on Patient Safety Policy and Leadership Institute of Global Health Innovation). Beliau adalah Pakar yang ditunjuk oleh ISQua, dianugerahi Fellowship of the Royal College of Physicians of London atas jasanya dalam Keselamatan Pasien serta sebagai Dewan Penasihat penelitian, kebijakan, dan keselamatan pasien nasional dan internasional. Pada sesi Plenary tentang Patient Safety: a Journey through Collaboration, Leadership and Partnership Durkin memberikan materi dengan topic “Time to move to a cultural era in patient safety of values, ethics and leadership at every level“. Penyampaian materi dimoderatori oleh Dr. Ezequiel Garcia Elorrio yang merupakan presiden ISQUA 2024 dan menjadi salah satu pendiri dan anggota dewan Institute for Clinical Effectiveness and Health Policy (IECS) di Buenos Aires – Argentina.

Durkin memulai penyampaian materi dengan menggarisbawahi pentingnya evaluasi jangka panjang atas perawatan pasien di rumah sakit, dengan fokus pada analisis hasil pengobatan dan upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan untuk menghindari kegagalan di masa depan serta menyoroti bahwa pemimpin yang efektif tidak hanya fokus pada mencari kesalahan, tetapi juga pada mengidentifikasi dan mengatasi akar masalah, agar staf dapat bekerja lebih efisien, serta menekankan pentingnya bukti ilmiah dan data dalam pengambilan keputusan.

Beberapa contoh dikemukakan bagaimana NHS (National Health Service) melakukan peninjauan dan menyelidiki kematian pasien agar tidak terulang di masa depan, menurut Durkin tentu saja ini menitikberatkan sebuah budaya yang dibangun untuk terus melakukan analisis dari kematian yang terjadi sehingga dapat meningkatkan kualitas perawatan kesehatan dan mencegah masalah serupa di masa depan. Durkin juga menekankan pentingnya mempertimbangkan nilai (value) dan nilai-nilai (values) dalam sistem kesehatan selain mutu. Bahwa kualitas tidak hanya tentang efisiensi dan keamanan, tetapi juga tentang memperhatikan apa yang benar-benar dihargai oleh pasien dan masyarakat. Namun saat ini kita dihadapkan pada hambatan terbesar dalam pencegahan kesalahan di industri pelayanan kesehatan yakni adanya budaya punishment. Budaya punishment di sistem kesehatan malah akan menjadi penghalang untuk pencegahan kesalahan. Dengan memberikan hukuman, para pelaku di industri kesehatan mungkin enggan untuk melaporkan kesalahan atau belajar dari kesalahan tersebut, sehingga memperlambat upaya untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan kolaboratif.

Durkin juga menekankan pentingnya pemantauan kejadian yang tidak diinginkan dalam sistem kesehatan. Data yang diperoleh dari pemantauan yang dilakukan dapat digunakan untuk mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan dan untuk mengevaluasi efektivitas intervensi yang bertujuan untuk meningkatkan keselamatan pasien. Dan yang paling esensial dalam topik keselamatan pasien yang dilakukan oleh NHS bahwa kepemimpinan yang kuat diperlukan untuk mendorong dan mengimplementasikan inisiatif keselamatan pasien dalam setiap area yang telah diidentifikasi, serta pentingnya mengukur hasil dari upaya peningkatan keselamatan pasien. Dengan mengukur hasil, kita dapat mengetahui seberapa efektif upaya yang telah dilakukan dan mengidentifikasi area yang masih perlu ditingkatkan.

Dalam hasil survei yang disampaikan oleh Durkin menunjukkan bahwa masih ada celah dalam memberikan perawatan yang aman dan berkualitas bagi pasien yakni pentingnya perspektif pasien, hal ini menunjukkan betapa pentingnya mendengarkan pendapat pasien untuk mengetahui apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Perlunya penambahan staf bahwa Rumah sakit perlu merekrut lebih banyak perawat untuk memastikan bahwa setiap pasien mendapatkan perawatan yang memadai. Pentingnya komunikasi antara petugas medis dan pasien, serta antara rumah sakit dan pasien setelah pasien pulang serta perlunya pasien mendapatkan dukungan yang lebih baik, baik selama di rumah sakit maupun setelah pulang, untuk membantu mereka pulih dan mengelola kondisi mereka.

Dalam presentasinya Durkin juga menyoroti pentingnya kerja sama internasional dalam meningkatkan keselamatan pasien. Dengan membandingkan praktik-praktik terbaik di berbagai negara, kita dapat belajar dan menerapkannya untuk meningkatkan kualitas perawatan kesehatan di seluruh dunia. Karena sebuah penelitian dapat membantu dalam mengembangkan standar global untuk keselamatan pasien. Pertukaran Pengetahuan dapat mendorong terjadinya pertukaran pengetahuan dan pengalaman antar negara serta peningkatan kualitas perawatan dengan mengadopsi praktik terbaik, sehingga kita dapat mengurangi risiko terjadinya kesalahan medis dan meningkatkan kualitas perawatan pasien.

Menurut Durkin di masa depan, ada beberapa pertanyaan yang perlu di jawab di masa depan dan pentingnya melihat masalah keselamatan pasien secara lebih holistik dan melibatkan pasien secara aktif dalam proses peningkatan kualitas, diantaranya:

  1. Apakah data dapat menunjukkan tingkat keamanan perawatan saat ini dan di masa depan, bukan hanya di masa lalu? Hal ini terkait dengan memastikan apakah upaya peningkatan keselamatan pasien efektif.
  2. Apakah data dapat mencakup seluruh perjalanan pasien, tidak hanya saat mereka di rumah sakit? Terkait dengan pengalaman pasien sebelum, selama, dan setelah perawatan di rumah sakit.
  3. Apakah data dapat mencakup pengalaman pasien saat menunggu perawatan, bukan hanya saat mereka menerima perawatan? Terkait dengan waktu tunggu yang lama karena dapat meningkatkan kecemasan pasien dan berpotensi mempengaruhi hasil perawatan.
  4. Apakah data dapat mengukur persepsi pasien tentang keamanan pelayanan, bukan hanya aspek klinisnya? Hal ini terkait dengan kepuasan pasien dan kesediaan mereka untuk mencari perawatan medis.
  5. Apakah data dapat menunjukkan perbedaan pengalaman pasien berdasarkan latar belakang sosial ekonomi dan etnis?hal ini terkait karena seringkali kelompok minoritas dan masyarakat yang kurang beruntung/minim akses seringkali mengalami ketidaksetaraan dalam akses dan kualitas perawatan kesehatan.

Sebagai penutup, Durkin mengingatkan bahwa meskipun sistem dan teknologi sangat penting dalam pelayanan kesehatan, namun pada akhirnya kualitas pelayanan ditentukan oleh manusia yang menjalankannya. Dimensi etika merupakan faktor kunci yang tidak dapat diabaikan dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan serta pentingnya melakukan evaluasi terhadap setiap pasien yang dirawat di rumah sakit karena evaluasi ini tidak hanya sebatas melihat apakah pengobatan berhasil atau tidak, tetapi juga menggali lebih dalam untuk mencari tahu mengapa suatu pengobatan gagal dan bagaimana mencegah kegagalan serupa di masa depan.

Poin-poin utama:

  1. Pentingnya gaya kepemimpinan yang berempati karena dapat meningkatkan motivasi staf, mendorong inovasi, dan menciptakan budaya kerja yang positif.
  2. Pimpinan sebaiknya dapat menciptakan keamanan psikologis yakni menciptakan lingkungan kerja yang positif dan produktif. Dimana setiap orang di organisasi merasa aman untuk menjadi diri sendiri dan berbagi ide, merasa bebas untuk mencoba hal-hal baru dan mengembangkan solusi yang kreatif, lebih fokus pada pekerjaan karena tidak terbebani oleh rasa takut atau khawatir, dan Lebih bahagia yang akan membuat lebih puas dengan pekerjaan mereka dan memiliki hubungan yang lebih baik dengan rekan kerja.
  3. Meningkatkan kinerja tim karena kerjasama tim yang lebih baik akan meningkatkan kinerja keseluruhan organisasi.
  4. Perlunya komitmen bersama mulai dari level atas hingga bawah, harus memiliki komitmen yang kuat terhadap keselamatan. Berikan pemahaman bahwa setiap individu memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang aman.
  5. Organisasi perlu memiliki sistem yang efektif untuk mengidentifikasi potensi masalah atau bahaya sebelum terjadi insiden. Sistem ini dapat berupa laporan insiden, survei, atau mekanisme pelaporan lainnya.
  6. Tenaga Kesehatan harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas mereka dengan aman. Ini dapat dicapai melalui pelatihan formal maupun pembelajaran informal.
  7. Pentingnya kerjasama yang baik antar untuk menciptakan budaya keselamatan. Setiap anggota tim harus saling mendukung dan menghormati.
  8. Organisasi harus secara aktif mendorong perilaku yang aman, etis, dan saling menghormati. Hal ini dapat dilakukan melalui pelatihan, penguatan positif, dan contoh yang baik dari pimpinan.
  9. Semua sistem dan proses dalam organisasi harus dirancang dengan mempertimbangkan aspek keselamatan dengan standar yg jelas. Sistem-sistem ini harus secara berkala ditinjau dan ditingkatkan.
  10. Pentingnya komunikasi dalam konteks keselamatan pasien

Penulis: Andriani Yulianti, SE MPH

 

{tab title=”Bagian 2″ class=”orange”}

Demystifying Quality Improvement

isq 7

Peter Lachman M.D. MPH. M.B.B.Ch., FRCPCH, FCP (SA), FRCPI menceritakan tentang upaya peningkatan mutu dan keselamatan pasien yang telah ada sejak 25 tahun lalu. Begitu banyak teori, namun pelaksanaan tidak konsisten. Perbaikan mutu adalah perjalanan, sampai saat ini telah ada tahap upaya peningkatan mutu yaitu quality 01, quality 02, dan quality 03.

Quality 01 diperkenalkan oleh Ernest Amory Codman: awal pengenalan tentang mutu. Pada tahap ini, organisasi mulai mengadopsi standar, evaluasi, sertifikasi, pedoman.

Quality 02 (peningkatkan proses pelayanan Kesehatan) diperkenalkan oleh Shewhart, Deming, Juran, Ishekawa, Crosby, Berwick, dan lainnya: Tahap ini telah focus pada system dan keterampilan teknis seperti perfoma manajemen, mengelola variasi, mengendalikan proses. Organisasi memperlajari berbagai alat seperti PDCA, lean, six sigma, diagram Ishikawa. Tahap ini telah berhasil di beberapa tempat, namun sering kali gagal mencapai tingkat perbaikan yang tinggi karena hambatan seperti jargon, kurangnya bukti yang jelas, dan skeptisisme dari tenaga kesehatan.

Quality 03 (coproduction of health) diperkenalkan oleh Batalden, Neslon, Foster, Andersson: Tahap ini berfokus ke KoProduksi seperti kekerabatan, integrasi. Tahap ini menggabungkan pengetahuan dari tenaga kesehatan dan pasien untuk bekerja bersama dalam meningkatkan kesehatan, dengan mempertimbangkan hasil klinis dan faktor penentu kesehatan lain, seperti sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Poin-poin utama:

  1. Q3 berfokus pada Ko produksi melalui perbaikan layanan Kesehatan antara tenaga Kesehatan, pasien, dan keluarga pasien; ilmu implementasi melalui penelitian; menangani isu-isu penting seprti keadilan dalam pelayanan Kesehatan, iklim, pelayanan berkelanjutan
  2. Model Perbaikan Kualitas dari Peter Lachman (QI 1.0, 2.0, dan 3.0) menunjukkan bahwa perbaikan kualitas bukan hanya tentang alat teknis, tetapi juga tentang menciptakan budaya kualitas. Ia menekankan bahwa dengan menggunakan ketiga level tersebut secara bersamaan, kita bisa mencapai perbaikan yang lebih holistik dan berkelanjutan dalam layanan kesehatan.
  3. Alat peningkatan mutu harus praktis, dapat disesuaikan, dan relevan.
  4. Perbaikan kualitas adalah proses yang terus-menerus dan berkelanjutan
  5. Peningkatan mutu yang efektif harus melibatkan semua pemangku kepentingan, pemimpin, pasien, tenaga kesehatan, dan komunitas yang lebih luas. Kolaborasi sangat penting untuk keberhasilan.
  6. Tujuan utama peningkatan mutu adalah untuk meningkatkan outcome kesehatan dengan berfokus pada patient centre care.

Penulis : Eva Tirtabayu Hasri S.Kep.,MPH

 

{tab title=”Bagian 3″ class=”green”}

Innovative systems-based and consumer-focused methods to investigate serious adverse events

isq 4Ribuan investigasi terhadap insiden pasien telah dilakukan di seluruh dunia setiap tahunnya. Tentunya kegiatan ini menghabiskan banyak waktu dan sumber daya. Namun, nilainya dipertanyakan karena insiden serius terus saja berulang dan sering kali tidak memenuhi kebutuhan pesien. Pada sesi ini 3 pemateri yakni Jeffrey Braithwaite selaku Foundation Director Australian Institute of Health Innovation, Siri Wiig selaku Professor of Quality and Safety in Health care Systems University of Stavanger, Norway dan Peter Hibbert yang merupakan Stream Lead in Appropriate Care and Patient Safety Macquarie University’s Australian Institute of Health Innovation (AIHI). Semua pemateri menyajikan berbagai pendekatan yang dilakukan secara nasional dalam melakukan investigasi, kemudian memaparkan model sistem yang inovatif dalam konteks investigasi terkait cara melibatkan konsumen atau masyarakat dalam proses investigasi.

Disampaikan bahwa sebagian besar studi mengandalkan metode RCA (Root Cause Analysis/RCA) dalam proses investigasi, yang jika di evaluasi efektifitasnya hasilnya tidak selalu menunjukkan peningkatan nyata dalam kualitas perawatan pasien. Yang terpenting bahwa hasil dari investigasi sangat tergantung pada banyak faktor sistemik, tidak hanya pada metode investigasi yang digunakan. Pelaksanaan RCA juga tidak lepas dari beberapa tantangan diantaranya pentingnya; memiliki kompetensi yang cukup dalam melakukan investigasi untuk memastikan hasil yang akurat dan relevan; kebutuhan untuk menjaga independensi dalam proses investigasi, agar hasilnya tidak bias atau dipengaruhi oleh pihak tertentu; melibatkan pasien dan pengguna layanan kesehatan dalam proses investigasi; serta memastikan investigasi yang komprehensif dan bermanfaat bagi pihak-pihak yang terdampak; membangun dan menjaga kepercayaan dalam sistem investigasi, baik dari sisi profesional medis maupun pasien dan pemahaman terkait sistem yang sedang ditinjau diperlukan untuk memastikan hasil investigasi yang efektif dan berdampak nyata.

Terdapat 4 prinsip utama dalam melakukan investigasi yakni 1) Mandiri: Investigasi harus dilakukan secara independen, tidak menjadi bagian dari sistem yang sedang diinvestigasi, hal Ini memastikan objektivitas dan keadilan dalam investigasi. 2) Menyeluruh pada Sistem: Investigasi harus mencakup seluruh elemen dalam sistem agar semua aktor dalam sistem kesehatan perlu diperiksa, dan rekomendasi dapat diberikan kepada pihak yang relevan. 3) Berfokus pada Pembelajaran, tujuan utama dari investigasi adalah untuk meningkatkan keselamatan pasien, bukan mencari kesalahan atau menyalahkan individu. Sehingga fokusnya adalah pada pembelajaran untuk mencegah kejadian serupa di masa depan. 4) Multidisiplin: Investigasi harus melibatkan berbagai disiplin ilmu, keterampilan, dan perspektif, hal Ini akan memperkaya proses investigasi dan memastikan analisis yang lebih komprehensif.

Berikut ini strategi yang perlu diketahui untuk melibatkan pasien dalam investigasi di antaranya:

  • Mengetahui Kebutuhan konsumen/pasien dari sebuah investigasi, penting memastikan beberapa hal yakni: a) Pastikan bahwa apakah pasien, keluarga, atau pengasuh telah berkontribusi dalam tinjauan ini karena seringkali pasien memiliki informasi penting yang dapat membantu mengungkap akar masalah. b) Apakah umpan balik dari mereka telah dimasukkan dalam tinjauan. Ini mamastikan bahwa suara pasien tidak hanya didengar, tetapi juga dipertimbangkan secara serius dalam proses analisis dan penarikan kesimpulan. c) Apakah umpan balik tersebut berkontribusi pada peristiwa, temuan, atau pelajaran yang dipetik Untuk memastikan bahwa perspektif pasien telah membantu mengidentifikasi aspek-aspek penting dari kejadian yang mungkin terlewatkan jika hanya dilihat dari sudut pandang tenaga kesehatan.
  • Bagaimana caranya agar pasien memberikan informasi yang berharga
  • Pentingnya menunjuk seorang kontak keluarga untuk menjadi penghubung antara keluarga pasien dengan tim investigasi, tujuannya adalah untuk memastikan bahwa keluarga pasien merasa didukung, diinformasikan, dan dilibatkan dalam proses tinjauan. Dengan kontak keluarga tersebut, diharapkan keluarga akan merasa lebih percaya pada sistem kesehatan dan lebih puas dengan penanganan yang mereka terima.
  • Melibatkan perwakilan pasien/konsumen dalam proses investigasi keselamatan pasien: keterlibatan langsung perwakilan konsumen dalam tim investigasi dapat membantu memastikan bahwa perspektif pasien terwakili dalam seluruh proses investigasi.

Poin-poin utama:

  • Organisasi perlu memahami kejadian yang tidak diharapkan dengan berfokus pada mengapa orang tidak mengikuti prosedur, dan mengasumsikan bahwa kejadian tersebut tidak akan terjadi jika prosedur diikuti.
  • Organisasi perlu memperhatikan apakah investigasi mungkin terlalu fokus pada penyebab langsung atau mengabaikan faktor yang lebih luas.
  • Memastikan yang di undang dalam investigasi adalah pihak terkait yang mungkin dilibatkan karena bisa mempengaruhi kualitas hasil. Serta pastikan peran institusi atau dalam memperbaiki sistem dan meningkatkan keselamatan.
  • Perlu mencurahkan waktu yang cukup untuk intervensi proaktif yang berbasis bukti, mengidentifikasi pola atau tema umum yang menyebabkan terjadinya insiden tersebut, serta memahami bagaimana berbagai komponen dalam sistem ini berinteraksi.
  • Pentingnya perwakilan konsumen untuk memastikan bahwa tinjauan terhadap KTD dilakukan secara menyeluruh dan objektif, serta mempertimbangkan perspektif pasien. Dengan melibatkan perwakilan konsumen
  • Untuk menghasilkan investigasi yang berkualitas maka perlu penilaian agar investigasi yang dilakukan berkualitas dengan cara melibatkan pasien/ orang yang terkena dampak insiden untuk ikut terlibat dalam investigasi dan hindari menyalahkan dan fokus pada perbaikan dengan mencari solusi untuk mencegah insiden serupa, dan buat laporan yang jelas yang mudah dipahami oleh semua pihak.

Reporter: Andriani Yulianti SE, MPH

 

{tab title=”Bagian 4″ class=”blue”} 

Patient Safety: a Journey through Collaboration, Leadership and Partnership

Presentasi ini menekankan pentingnya kolaborasi, kepemimpinan, dan kemitraan dalam perjalanan menuju keselamatan pasien. Mike Durkin, Ketua Patient Safety Movement Foundation, menyampaikan pandangannya tentang bagaimana nilai-nilai, etika, dan kepemimpinan perlu diterapkan di setiap level untuk mencapai perubahan budaya dalam keselamatan pasien. Presentasi ini mencakup berbagai upaya global yang melibatkan pemangku kepentingan utama dalam meningkatkan keselamatan pasien melalui penguatan kepemimpinan, penelitian, dan pengembangan kapasitas.

Poin-poin utama:

  1. Kepemimpinan dan Tanggung Jawab:
    • Menurut Durkin, keselamatan pasien harus berfokus pada pembelajaran dari setiap kasus, termasuk memeriksa penyebab kegagalan untuk mencegah pengulangan di masa depan. Ini memerlukan perubahan dari sekadar mencatat kesalahan menuju tindakan proaktif dalam pencegahan kesalahan.
    • Kepemimpinan yang efektif harus berupaya tidak hanya menemukan kesalahan, tetapi juga memberdayakan orang untuk bekerja lebih baik dengan usaha yang lebih sedikit, sesuai prinsip W. Edwards Deming.
  2. Nilai dan Kualitas dalam Keselamatan Pasien:
    • Selain aspek teknis, kesadaran dan cinta terhadap profesi, sebagaimana dinyatakan oleh Avedis Donabedian, adalah kunci sukses sistem kesehatan. Durkin juga menyebutkan bahwa mengintegrasikan nilai-nilai dalam kualitas pelayanan kesehatan sangat penting.
  3. Perubahan Global dan Kolaborasi Internasional:
    • Keselamatan pasien adalah masalah global yang membutuhkan kolaborasi lintas batas negara. WHO dan berbagai lembaga internasional telah menetapkan inisiatif untuk memperkuat keselamatan pasien, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah (LMICs).
  4. Pelajaran dari Pandemi:
    • Pandemi COVID-19 meningkatkan tekanan pada tenaga kerja kesehatan yang telah ada sebelumnya, menyebabkan lebih banyak burnout dan stres. Hal ini berdampak langsung pada keselamatan pasien dan menunjukkan bahwa keamanan staf berhubungan erat dengan keamanan pasien.
  5. Inisiatif Keselamatan Pasien:
    • Perkembangan penting telah dicapai melalui kebijakan nasional, termasuk penurunan signifikan dalam infeksi terkait layanan kesehatan (HAIs) seperti C. difficile dan MRSA di Inggris. Namun, ini memerlukan kewaspadaan terus-menerus.
  6. Budaya Keselamatan:
    • Laporan insiden dan manajemen yang efektif adalah indikator kuat dari budaya keselamatan yang positif. Namun, kekhawatiran tetap ada, terutama dengan adanya persepsi bahwa staf seringkali tidak diperlakukan adil saat insiden terjadi.

 Penulis: dr. Eka Viora, SpKJ, FISQua

 

{tab title=”Bagian 5″ class=”grey”} 

Short Orals- Patient Safety and Quality Improvement

isq 5Sesi short orals- patient safety and quality improvement dimoderatori oleh Dr Ahmed Abdel Hamid Taha, yang saat ini menjabat sebagai Chairman of the Egyptian General Authority for Healthcare Accreditation and Regulation, GAHAR (Ketua Otoritas Umum Mesir untuk Akreditasi dan Regulasi Layanan Kesehatan, GAHAR). Sesi Short oral disampaikan oleh lima presenter yakni Anjuman Begum, Carol R. Horowitz, Gang Chen, Methodius Okouzi dan Nurshaim Tilenbaeva.

Anjuman Begum seorang Public Health Professional Management Sciences for Health membawakan hasil penelitiannya yang berjudul Improving the quality of antenatal care (ANC) and postnatal care (PNC) services by strengthening supportive supervision of service providers at private health facilities in urban slums of Bangladesh. Beliau pernah bekerja dengan proyek MaMoni MNCSP USAID di bawah Save the Children International selama 4 tahun untuk meningkatkan kualitas layanan ibu dan bayi baru lahir dengan memberikan dukungan teknis untuk implementasi program.

Disampaikan oleh Anjuman bahwa di Bangladesh, ibu hamil di daerah kumuh perkotaan memiliki akses dan pengetahuan terhadap pelayanan kesehatan yang bermutu sehingga tercetus sebuah Proyek Healthy Women, Healthy Families (HWHF). HWHF bertujuan untuk meningkatkan akses ke pelayanan kesehatan ibu & bayi baru lahir dan keluarga berencana (MNH/FP) yang bermutu bagi pasangan muda yang baru pertama kali memiliki anak di daerah kumuh perkotaan Tongi. HWHF bagi penyedia layanan bertujuan untuk memperkuat kapasitas penyedia layanan, memberikan penyedia layanan supervisi suportif yang berkelanjutan yang merupakan strategi utama untuk memastikan kualitas layanan MNH/KB. Proyek HWHF mengadaptasi daftar periksa supervisi suportif dari pemerintah untuk mengidentifikasi kesenjangan dalam kompetensi MNCH/FP pada perawatan ibu, pemeriksaan fisik, pemberian resep dan mendokumentasikan suplemen yang diperlukan, dan pencatatan riwayat pasien, informasi kebidanan, dan tanda-tanda vital.

Data menunjukkan peningkatan berkelanjutan dari layanan ANC/PNC berkualitas dalam 11 bulan terakhir karena pemantauan rutin dan supervisi suportif. Juga diamati bahwa supervisi suportif meningkatkan kepercayaan diri penyedia layanan melalui dukungan yang terarah, bimbingan, dan tindak lanjut pada item tindakan. Potensi untuk meningkatkan perawatan di lingkungan serupa lainnya harus dieksplorasi. Di Indonesia, supervisi fasilitatif juga telah diterapkan dan merupakan alat yang sangat penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak. Namun, penerapannya di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan terutama dalam kaitannya dengan bagaimana Peran teknologi dalam supervisi fasilitatif, bagaimana kepemimpinan dalam mendukung supervisi fasilitatif, Studi kasus tentang keberhasilan penerapan supervisi fasilitatif di Indonesia serta peran masyarakat dalam mendukung pelaksanaan supervisi fasilitatif tersebut.

Carol R. Horowitz

Perubahan kebijakan di Amerika Serikat telah meningkatkan akses pasien ke catatan medis, dan catatan tidak lagi hanya untuk anggota tim perawatan pasien, tetapi kini tersedia bagi pasien. Perluasan akses ke catatan pasien dapat meningkatkan hubungan dan perawatan pasien/penyedia layanan. Penelitian tentang Promoting Factual, Affirming, Informative and Respectful (FAIR) Documentation in the EHR to Reduce Bias and Improve Patient Care: memulai dengan tinjauan pustaka tentang bahasa yang bias dan menstigmatisasi dalam rekam medis elektronik (EHR) dengan menggunakan teknik Delphi yang dimodifikasi, dengan masukan dari anggota tim klinis dan nonklinis serta pasien, untuk mengidentifikasi daftar awal 19 Never Words (kata-kata yang tidak ingin digunakan atau didokumentasikan dalam EHR). Kemudian peneliti menggunakan pendekatan bertahap untuk membangun model bahasa yang dapat mendeteksi bahasa yang bias secara andal.

Studi menunjukkan bahwa algoritma dapat dibangun dan dilatih untuk mendeteksi bahasa yang bias dalam catatan UGD, dan bahwa Kata yang Tidak Boleh Diucapkan yang teridentifikasi tidak umum digunakan dalam bagan UGD yang ditinjau. Peneliti juga menerapkan kampanye kesadaran dan edukasi, untuk memastikan bahwa tim perawatan kesehatan memahami pentingnya selalu mendokumentasikan dengan cara yang faktual, penuh tanggungjawab, informatif, dan mendukung. Peneliti juga menemukan bahwa tim klinis dan administratif yang beragam berkomitmen untuk mengupayakan dokumentasi yang mengurangi bias dan mendukung pemberian pelayanan yang aman dan berkualitas tinggi.

Permasalahan serupa dapat terjadi di Indonesia dimana dapat terjadi kesenjangan digital karena tidak semua fasilitas kesehatan di Indonesia memiliki akses yang sama terhadap teknologi informasi, dan ini akan menjadi kendala dalam implementasi EHR dan FAIR Documentation. Pentingnya standarisasi terminology medis yang jelas dan konsisten untuk menghindari penggunaan bahasa yang bias, serta yang saat ini banyak terjadi yakni tentang kerahasiaan data, dimana perlu ada mekanisme yang kuat untuk melindungi kerahasiaan data pasien dalam konteks akses yang lebih luas terhadap rekam medis.

Gang Chen adalah Health of Cancer Health Services Research Unit di Universitas Melbourne; ia juga seorang profesor di Pusat Ekonomi Kesehatan, di Universitas Monash. Gang Chen membawakan hasil penelitian yang berjudul “What matters the most for the quality of inpatient treatment and care experience?. Saat ini semakin penting untuk mendapatkan perspektif pasien tentang kualitas pelayanan kesehatan yang diterima oleh pasien. Sebuah tools dari Australian Hospital Patient Experience Question Set (AHPEQS) yang terdiri dari 12 item telah dikembangkan untuk menilai kualitas pengalaman pasien. Studi yang dilakukan oleh Gang Chen bertujuan untuk memahami apa yang paling penting untuk perawatan dan pengalaman perawatan rawat inap yang dirasakan oleh masyarakat Australia berdasarkan item yang termasuk dalam AHPEQS.

Data dari total 1036 responden dimasukkan dalam analisis. Sekitar setengah dari responden memiliki pengalaman rawat inap dalam lima tahun terakhir pada saat survei; di antara mereka, 86% menilai pengalaman rawat inap terbaru mereka sebagai Baik atau Sangat Baik. Disampaikan bahwa kesembilan atribut secara statistik dan signifikan mempengaruhi pelayanan dan pengobatan rawat inap, meskipun kepentingan relatifnya bervariasi. Studi ini memberikan wawasan penting mengenai persepsi masyarakat umum tentang pentingnya pengalaman perawatan dan pengobatan yang berbeda dan pengalaman pelayanan dan pengobatan rawat inap yang berbeda dan perspektif ini dapat digunakan untuk memfasilitasi evaluasi kinerja rumah sakit.

Kita ketahui bahwa studi mengenai perspektif pasien terhadap kualitas perawatan kesehatan merupakan langkah penting dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan karena dapat memberikan gambaran yang komprehensif tentang apa yang dirasakan dan diharapkan oleh pasien terhadap pelayanan kesehatan yang mereka terima. Dengan mengetahui perspektif pasien maka penyedia layanan kesehatan dapat menempatkan pasien sebagai pusat perhatian untuk perbaikan, sehingga dapat mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki dalam pelayanan kesehatan. Dapat menjadi peluang adanya umpan balik untuk perbaikan yang dapat dijadikan sebagai masukan bagi pihak-pihak terkait, seperti rumah sakit, puskesmas, dan pemerintah, untuk melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas pelayanan serta sebagai dasar untuk pengembangan kebijakan yang dapat digunakan sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan kesehatan yang lebih baik dan berpusat pada pasien. 

Methodius Okouzi

Malaria merupakan momok kesehatan masyarakat di Nigeria. Methodius melakukan penelitian yang berjudul Strengthening Quality Assurance System for Malaria Microscopy to Improve the Quality of Parasitological Confirmation in Benue, Nasarawa, Plateau, and Zamfara states in Nigeria. Konfirmasi parasitologi dengan mikroskopi atau uji diagnostik cepat sangat dan penting untuk memberikan pelayanan yang tepat waktu dan tepat, serta untuk pengukuran beban penyakit yang akurat. Mikroskopi digunakan di fasilitas kesehatan tersier dan sekunder yang menyediakan perawatan rawat inap dengan laboratorium fungsional tempat mikroskopik malaria diawasi dan dilakukan oleh ahli mikroskopi terlatih. Proyek ini melakukan penilaian dasar pada tahun 2020 yang mengungkapkan kurangnya ahli mikroskopi terlatih, pasokan peralatan laboratorium dan bahan habis pakai yang tidak memadai, kurangnya kunjungan pengawasan, dan penggunaan alat pelindung diri yang sangat rendah.

Penelitian ini mendukung pelatihan 55 ilmuwan laboratorium medis bersertifikat pada tahun 2021 dan 2022, persediaan bahan habis pakai laboratorium selama dua tahun termasuk persiapan dan distribusi pewarnaan Giemsa yang terjamin kualitasnya, pengadaan dan distribusi 30 mikroskop binokuler (Cx-23 Olympus) dan satu mikroskop optik multikepala untuk masing-masing dari 31 fasilitas kesehatan yang tidak memiliki mikroskop yang berfungsi untuk mengisi kesenjangan. Penelitian ini menegaskan bahwa penguatan kapasitas ahli mikroskopik malaria melalui pengawasan rutin dan peningkatan pasokan dan ketersediaan peralatan laboratorium penting, bahan habis pakai, dan APD meningkatkan kapasitas petugas kesehatan untuk menghasilkan hasil uji malaria yang akurat menggunakan mikroskopi. Upaya ini meningkatkan deteksi malaria, dan mengurangi risiko kesalahan diagnosis.

Beberapa hal menarik dalam penelitian di Nigeria, yang dapat menjadi upaya pengendalian malaria di Indonesia untuk eliminasi malaria yakni penguatan kapasitas tenaga kesehatan dengan pelatihan berkelanjutan bagi tenaga laboratorium medis, terutama dalam melakukan pemeriksaan mikroskopik malaria. Sertifikasi kompetensi untuk tenaga mikroskopis yang dapat meningkatkan kualitas pemeriksaan, Penyediaan Peralatan dan Bahan Habis Pakai yakni aksesibilitas ketersediaan mikroskop, pewarnaan Giemsa, dan bahan habis pakai lainnya di semua fasilitas kesehatan, terutama di daerah endemis. pemeliharaan peralatan secara berkala harus menjadi prioritas, serta pengawasan berkala dengan melakukan kunjungan lapangan secara rutin untuk memantau kualitas pemeriksaan mikroskopik dan memberikan pembinaan kepada tenaga laboratorium.

Dr. Nurshaim Tilenbaeva merupakan seorang Pejabat Teknis di WHO Athens Office on Quality of Care and Patient Safety. Dr. Nurshaim Tilenbaeva memiliki banyak pengalaman bekerja di organisasi kemanusiaan dan pembangunan internasional yang besar seperti Komite Internasional Palang Merah, Yayasan Aga Khan, dan Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam mengelola program kesehatan masyarakat di bidang peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak, pengendalian tuberkulosis, ketahanan pangan, dan gizi. Dalam kesempatan presentasi di Forum ISQUA beliau menyampaikan mengenai Culture of quality ‘traps’ for quality improvement for mothers and children in the Kyrgyz Republic.

Nurshaim menyampaikan bahwa selama beberapa dekade terakhir, Republik Kirgistan telah mencapai penurunan signifikan dalam kematian neonatal, anak, dan ibu. Meskipun ada kemajuan, angka kematian masih terlalu tinggi dibandingkan dengan rata-rata di Wilayah Eropa WHO. Pemerintah Kirgistan menganggap kesehatan ibu, bayi baru lahir, dan anak sebagai prioritas dan berkomitmen untuk mengakhiri kematian yang dapat dicegah. Sejak tahun 2006, Republik Kirgistan telah mulai memperkenalkan pendekatan berbasis bukti untuk peninjauan kasus nyaris meninggal dan pemantauan kematian. Budaya mutu di negara ini didorong oleh perintah dari atas ke bawah, inspeksi eksternal, dan komite wajib di tingkat fasilitas, bukan sesuatu yang melekat dalam tanggung jawab tim klinis atau tertanam dalam pelatihan dan pengembangan profesional berkelanjutan. Seringkali tuntutan untuk menghukum penyedia layanan kesehatan atas kesalahan yang ‘diduga’ muncul dari masyarakat umum sehingga mobilisasi penggunaan sosial aktif media sosial adalah salah satu pendekatan yang dapat digunakan.

Kita ketahui bahwa budaya menyalahkan menjadi bagian integral dari “lingkaran setan” yang tidak berfungsi ketika menerapkan pendekatan peningkatan kualitas berbasis bukti. Budaya menyalahkan dan tindakan hukuman menurunkan moral tenaga kesehatan. Budaya menyalahkan dan tindakan hukuman juga tidak efektif dalam mengidentifikasi dan memungkinkan pembelajaran untuk mencegah terulangnya kesalahan yang sama di masa yang akan datang. Hal ini juga kontraproduktif karena dapat menyebabkan kerugian lebih lanjut bagi pasien karena penyedia layanan kesehatan yang terlibat akan cenderung menyembunyikan atau menutupi kesalahan untuk mengantisipasi tindakan hukuman yang akan dijatuhkan kepada mereka. Membangun lingkungan regulasi yang mendukung dan melindungi merupakan langkah kunci untuk membangun budaya mutu perawatan yang ‘bebas dari kesalahan. Situasi di Kirgistan memberikan gambaran menarik tentang bagaimana budaya menyalahkan dapat menghambat upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Meskipun konteksnya berbeda, banyak pelajaran yang dapat diambil dan dikaitkan dengan situasi di Indonesia.

Poin-poin utama:

  • Pentingnya Budaya Keselamatan Pasien karena menciptakan budaya dimana kesalahan dianggap sebagai peluang untuk belajar dan memperbaiki, bukan sebagai sesuatu yang harus disembunyikan atau dihukum.
  • Membangun sistem pelaporan insiden yang aman dan berbasis IT dan konfidensial untuk mendorong tenaga kesehatan melaporkan kesalahan tanpa takut akan sanksi.
  • Memberikan pelatihan yang berkelanjutan kepada tenaga kesehatan untuk meningkatkan kompetensi dan keterampilan mereka.
  • Pentingnya Peran Kepemimpinan yang mampu menciptakan visi yang jelas, memotivasi tim, dan membangun budaya yang positif.
  • Membangun komunikasi yang terbuka dan transparan dengan masyarakat untuk meningkatkan kepercayaan terhadap sistem kesehatan.
  • Melibatkan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan terkait pelayanan kesehatan.

Penulis: Andriani Yulianti, SE, MPH

 

{tab title=”Bagian 6″ class=”red”} 

Enhancing Cancer Prevention Through Quality in Primary Healthcare

Presentasi oleh Prof. Mutlu Hayran, Direktur Hacettepe University Cancer Institute, membahas peran layanan kesehatan primer (PHC) dalam pencegahan kanker dengan fokus pada peningkatan kualitas. Presentasi ini menekankan bahwa pencegahan kanker yang efektif memerlukan integrasi yang kuat antara PHC dan spesialis, peningkatan kualitas berkelanjutan, serta pemanfaatan teknologi untuk mengatasi kesenjangan dalam akses dan perawatan kesehatan.

Poin-poin utama:

  1. Kanker dapat dicegah dengan intervensi yang tepat, dimulai dari pencegahan primer di layanan kesehatan primer, seperti kampanye berhenti merokok dan deteksi dini.
  2. Deteksi dini Kanker melalui PHC sangat penting karena dapat meningkatkan tingkat kelangsungan hidup dan mengurangi keterlambatan diagnosis. Program skrining kanker yang dipimpin oleh PHC menjadi prioritas, seperti pengingat otomatis dan edukasi pasien untuk meningkatkan partisipasi.
  3. Strategi Peningkatan Kualitas Kanker di PHC: Penggunaan audit dan umpan balik sebagai strategi untuk meningkatkan kinerja PHC dalam mendeteksi dan mencegah kanker. Teknologi dan dukungan dari tenaga medis sangat membantu dalam meningkatkan angka skrining.
  4. Model Perawatan Terpadu: Kolaborasi antara penyedia layanan primer dan spesialis diperlukan untuk perawatan berkelanjutan pasien kanker, terutama untuk follow-up, yang terbukti menghasilkan tingkat kepuasan dan kualitas hidup yang lebih baik.
  5. Penggunaan Teknologi: Teknologi, seperti catatan kesehatan elektronik (EHR), telemedicine, dan analitik data, dapat membantu dalam melacak pasien berisiko dan meningkatkan strategi pencegahan.
  6. Mengatasi Kesenjangan Kesehatan: Faktor sosial seperti pendapatan, pendidikan, dan akses ke layanan kesehatan sangat memengaruhi risiko kanker. PHC berperan penting dalam memberikan intervensi yang sesuai bagi populasi yang kurang terlayani.
  7. Pendidikan dan Pelatihan: Pendidikan berkelanjutan bagi penyedia layanan primer sangat penting untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam pencegahan dan deteksi dini kanker.

 Penulis: dr. Eka Viora, SpKJ, FISQua

{/tabs}

 

  Ke halaman utama

 

 

Laporan dari International Society for Quality in Health Care (ISQua) 40th, 2024

Istanbul, Turki, 24-27 September 2024

International Society for Quality in Health Care (ISQua) telah menyelenggarakan konfrensi internasional ke 40, tema ‘Health for People and Planet: Building Bridges to a Sustainable Future’ di Lutfi Kirdar International Convention and Exhibition Centre, Istanbul, Turki, 24-27 September, 2024. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FKKMK UGM berkesempatan berangkat bersama peserta dari Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan dan Rumah Sakit Pelni. ISQua merupakan forum global yang menghubungkan para pengambil kebijakan, lembaga akreditasi, praktisi, akademisi, dan peneliti dari berbagai negara di belahan dunia untuk berbagi pengetahuan, inovasi, pengalaman, dan praktik terbaik dalam upaya peningkatan mutu pelayanan Kesehatan dan keselamatan pasien di dunia.

Terdapat 8 tracks dalam Konfrensi ISQua 2024, yang telah dibahas dalam tiga hari melalui sesi pleno, paralel, short oral, dan lightening talks, yaitu:

Continue reading

Memutus Rantai Stigma Kesehatan Jiwa

Stigma seputar masalah kesehatan jiwa masih sulit dihilangkan. Beberapa stigma, seperti depresi, gangguan kecemasan, dan stres, sering kali dikaitkan dengan rendahnya keimanan seseorang. Bahkan, pekerja yang berupaya mencari layanan kesehatan jiwa tak jarang dipandang “sudah tidak mampu lagi bekerja.”

Continue reading

Cara Meningkatkan Penatalaksanaan Stroke Iskemik Akut dengan Teknologi Modern, Kecerdasan Buatan dan Metode Pengobatan Baru

Hari Stroke Sedunia pada tanggal 29 Oktober 2024 bertema “Be Greater than Stroke” merupakan pengingat untuk belajar kembali mengenai stroke, dari mengenali gejala, hingga penanganan awal yang nantinya menyelamatkan nyawa dan mengurangi dampak pada jutaan orang akibat penyakit yang terlambat terdeteksi. Penyakit stroke dianggap sebagai bagian darurat kesehatan masyarakat. Hal ini bisa menjadi sebuah kesempatan untuk meningkatkan kesadaran dan keseriusan bahwa tingkat kejadian stroke memang masih tinggi.

Pada tahun 2015, terdapat 6,3 juta kematian akibat penyakit serebrovaskular di seluruh dunia, menjadikan stroke sebagai penyebab kematian terbesar kedua di dunia. Kematian akibat stroke menyumbang 11,8% dari total kematian di seluruh dunia. Sebanyak 3,0 juta orang meninggal karena stroke iskemik, dan 3,3 juta meninggal karena stroke hemoragik. Eropa Timur, Asia Timur, Asia Tengah, dan Afrika sub-Sahara memiliki tingkat kematian penyakit serebrovaskular yang lebih tinggi dibandingkan negara lain di dunia. Pada tahun 2010, diperkirakan terdapat 11,6 juta kejadian stroke iskemik dan 5,3 juta kejadian stroke hemoragik, masing-masing 63% dan 80% terjadi di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah. Sekitar 10% dari seluruh stroke terjadi pada orang berusia 18 hingga 50 tahun. Kerugian dari penundaan pengobatan selama satu menit sangatlah besar. Setiap menitnya, 1,9 juta neuron, 14 miliar sinapsis, dan 12 km serat mielin dihancurkan. Dibandingkan dengan tingkat normal hilangnya neuron pada penuaan otak, otak iskemik menua 3,6 tahun setiap jam tanpa pengobatan

Untuk mencapai hasil terbaik dan menurunkan angka kesakitan dan kematian pasien stroke, maka penatalaksanaan pasien stroke harus ditingkatkan pada semua langkahnya. Metodologi Utstein untuk perbaikan proses merekomendasikan strategi berikut:

  1. membuat pencatatan stroke,
  2. menciptakan kesadaran masyarakat,
  3. memulai pendidikan publik,
  4. meningkatkan pengenalan dini oleh responden pertama,
  5. mempraktikkan pengiriman yang cepat dan tepat waktu,
  6. mengoptimalkan layanan pra-rumah sakit perawatan stroke dan triase,
  7. mengoptimalkan triase dan perawatan akut di rumah sakit,
  8. menggunakan teknologi cerdas,
  9. menunjukkan akuntabilitas,
  10. menciptakan budaya keunggulan.

Penerapan teknologi modern semakin sering membuat pasien lebih mudah menerima pengobatan endovaskular. Diagnosis pra-rumah sakit memiliki potensi perbaikan yang sangat besar melalui penerapan teknologi inovatif dalam kehidupan sehari-hari. Memodifikasi alat skrining stroke sangatlah penting karena membuat pengobatan lebih mudah diakses. Penggunaan unit stroke bergerak, jaringan telestroke, tim neuroendovaskular bergerak, dan aplikasi ponsel pintar memiliki potensi besar untuk mempersingkat jangka waktu pengobatan.

Kecerdasan buatan (AI) semakin sering digunakan untuk pendidikan ahli radiologi. Radiologi yang ditambah AI dapat memungkinkan pengobatan presisi serta pendidikan kedokteran presisi. Data yang kuat dari pencatatan stroke akan sangat berharga untuk menemukan kriteria pilihan pengobatan inklusi dan eksklusi yang tepat. Kecerdasan buatan (AI) semakin sering digunakan untuk pendidikan ahli radiologi.

Peran teknologi baru dan kecerdasan buatan dalam manajemen pasien stroke akut, yakni:

1. Diagnosis Pra Rumah Sakit

Keterbatasan utamanya adalah sebagian besar masyarakat umum tidak mampu mengenali gejala stroke iskemik akut dengan benar. Panggilan pertolongan pertama yang tertunda memiliki dampak terbatas yang signifikan terhadap hasil pengobatan. Kekurangan ini semakin diperparah pada lansia yang tinggal sendirian. Oleh karena itu, ini adalah titik ideal dimana teknologi modern dapat diterapkan dan dokter dapat memperoleh waktu yang berharga.

  1. Pengenalan Gejala Stroke dan Panggilan Pertolongan Pertama
    Ada berbagai aplikasi telepon seluler yang tersedia, namun kualitas dan fungsinya berbeda menurut beberapa kriteria: sistem operasi, biaya, target orang, keterlibatan, interaksi online, tanggal rilis, ukuran, popularitas, dan kegunaan. Sistem independen lokasi otomatis penanda wajah (yaitu titik bibir, hidung, mata, dan alis) dengan pendekatan berbasis video untuk penilaian orofacial otomatis menjanjikan untuk mendeteksi asimetri secara instan menggunakan koordinat 3D titik wajah. Teknologi berbasis video menambah bukti lebih lanjut mengenai kesesuaian untuk mendeteksi gangguan orofasial akibat penyakit neurologis. Akurasi saat ini yang diperoleh dengan teknik ini mencapai 87%. Validasi dan korelasi klinis lebih lanjut adalah langkah selanjutnya dalam penggunaan rutin sehari-hari
  2. Setelah Pertolongan Pertama Tiba
    Bantuan teknologi untuk diagnosis sumbatan pembuluh darah besar atau perdarahan intrakranial dapat berkontribusi untuk menyeragamkan penggunaan pemeriksaan klinis stroke untuk memfasilitasi triase yang efisien dan meningkatkan pengambilan keputusan transportasi ke pusat-pusat yang mampu melakukan endovaskular.

    Pertama, standarisasi pemeriksaan klinis dapat dicapai dengan aplikasi yang diinstal pada ponsel pintar (misalnya, FAST-ED), yang dapat diandalkan untuk paramedis yang kurang terlatih dan sering terkena stroke, tanpa pengalaman yang sebanding dengan staf rumah sakit yang sangat terlatih. Aplikasi semacam itu berpotensi meningkatkan triase, mengurangi waktu kedatangan di rumah sakit, dan memaksimalkan pengobatan.

    AI dapat meningkatkan kepercayaan diri dan keandalan dalam pembacaan hasil Mobile CT dan Doppler transkranial pra-rumah sakit bagi orang yang tidak ahli, teknik yang saat ini secara rutin tidak digunakan dalam triase pra-rumah sakit, untuk meningkatkan keputusan untuk memulai akses jarak jauh ke ahli stroke endovaskular, dan dengan demikian meningkatkan kecepatan pemberian tPA dan mempersingkat waktu untuk tPA dan endovaskular pengobatan .

2. Aktivasi Tim, Konsultasi, dan Transfer

Penggunaan sumber daya dan sistem telemedis/telestroke harus didukung oleh lembaga layanan kesehatan, pemerintah, pembayar, dan vendor sebagai salah satu metode untuk memastikan cakupan dan perawatan 24/7 yang memadai bagi pasien stroke akut di berbagai situasi. Untuk lokasi yang tidak mempunyai keahlian interpretasi pencitraan internal, sistem teleradiologi direkomendasikan. Jaringan telestroke yang komprehensif dan sistem pusat endovaskular yang saling berhubungan harus dibangun untuk menciptakan sistem perawatan kesehatan yang efektif.

Ambulans memerlukan informasi lalu lintas real-time dan kemampuan pusat stroke terdekat. Waktu pengangkutan pasien ke rumah sakit yang sesuai merupakan kriteria utama, jarak yang ditentukan antara posisi penting ambulans dan rumah sakit setempat kurang penting. Sistem fungsional secara alami harus memiliki informasi lalu lintas terkini. Hal ini sangat penting di wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi seperti wilayah metropolitan. Sistem logistik seperti ini saat ini digunakan di Sydney untuk pemilihan pusat terdekat berdasarkan waktu kedatangan, bukan berdasarkan jarak sebenarnya antara GPS ambulans dan rumah sakit.

3. Prenotifikasi—Aktivasi Tim Stroke sebelum Kedatangan Pasien

Informasi pasien harus dilindungi selama komunikasi antar anggota tim. Perlindungan data harus dijamin oleh pemerintah atau perwakilan resmi sistem layanan kesehatan. Untuk memfasilitasi komunikasi dan mencapai perawatan pasien yang tepat, digunakan aplikasi tidak resmi. Situasi seperti ini berpotensi menimbulkan kebocoran data. Meskipun bagi pasien hal ini mungkin lebih dapat diterima daripada penundaan pengobatan, mengembangkan kerangka kerja resmi stroke internasional yang kompatibel dengan AI untuk melindungi informasi pribadi dan memungkinkan pembagian data yang bertanggung jawab dan transfer data lintas batas di komunitas akan bermanfaat bagi semua orang.

4. Diagnosa Rumah Sakit

Alat statistik yang disertakan dalam aplikasi (misalnya, Aplikasi “Stroke Clock”) dapat digunakan untuk mengidentifikasi proses-proses penting yang memakan waktu dalam alur kerja pengobatan stroke. Aplikasi seluler dapat diinstal dengan nyaman di perangkat Android dan iOS modern. Dengan pengetahuan yang luas, yang justru merupakan aktivitas yang paling memakan waktu, manajemen rumah sakit dapat fokus pada optimalisasi berkelanjutan.

Selengkapnya dapat diakses melalui:
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8229281/

 

 

 

Bullying in medical academia: time to enforce the policies

With increasing recognition of bullying in academic settings, it is vital that institutions adhere to their own policies and protocols when supporting victims of bulling and abusive behaviour in medical academia.

In his pioneering 1976 book on workplace harassment, Brodsky coined the term “bullying” to mean “persistent attempts on the part of one or more persons to annoy, wear down, frustrate or elicit a reaction in another.”

Continue reading

Ramai Kasus Bullying Dokter di Malaysia, Kemenkes Buat Aturan Tegas

Kementerian Kesehatan Malaysia membuat pedoman untuk menangani perundungan di tempat kerja bagi stafnya. Ini dibuat melalui Pusat Keunggulan Nasional untuk Kesehatan Mental (NCEMH). Menteri Kesehatan Datuk Seri Dr Dzulkefly Ahmad menjelaskan pedoman tersebut ditujukan untuk meningkatkan kesadaran di kalangan pekerja kesehatan, mengenai perundungan di tempat kerja.

Continue reading

Physician leadership during the current crisis in healthcare: A perspective drawn from anthropological and clinical leadership research

Sistem layanan kesehatan berada di bawah tekanan besar akibat pandemi COVID-19. Kepemimpinan yang diperbarui dan peningkatan semangat staf sangat penting untuk menjaga kualitas layanan kesehatan. Kemajuan dalam antropologi dapat memberikan perspektif baru mengenai krisis kepemimpinan yang dihadapi oleh sistem layanan kesehatan di negara-negara berpenghasilan tinggi. Para pemimpin yang kredibel berdasarkan keahlian medis mereka mungkin berperan dalam menghidupkan kembali sistem layanan kesehatan yang melemah.

Kepemimpinan medis yang ahli dapat meningkatkan hasil perawatan kesehatan individu, organisasi, dan pasien. Sistem rumah sakit yang dipimpin oleh dokter menerima peringkat kualitas yang lebih tinggi dan tingkat penggunaan tempat tidur yang lebih baik dibandingkan sistem yang dipimpin oleh non-dokter, tanpa perbedaan dalam kinerja keuangan.Sebuah tinjauan sistematis terhadap efektivitas kepemimpinan rumah sakit menemukan bahwa dokter memiliki dampak positif terhadap keuangan dan operasional manajemen sumber daya, kualitas layanan dan manfaat masyarakat. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui apakah dokter lain dapat memberikan kepemimpinan yang sama efektifnya.

Sebuah penelitian terhadap 3000 dokter rumah sakit di Australia, Denmark dan Swiss melaporkan bahwa dokter, ketika dipimpin oleh dokter, cenderung tidak mengundurkan diri dan lebih puas dengan pekerjaan mereka berdasarkan efektivitas supervisor mereka. Keberlanjutan dan moral organisasi layanan kesehatan dapat ditingkatkan melalui kepemimpinan dokter, seperti dalam layanan psikiatris.

Dokter pada dasarnya tidak memiliki semua keterampilan kepemimpinan yang diperlukan, sehingga pelatihan keterampilan khusus mungkin diperlukan. Faktor penting dalam memotivasi dokter untuk bekerja di posisi kepemimpinan dan manajemen adalah peluang untuk mendapatkan hasil positif yang melebihi kekhawatiran tentang beban administratif, kekurangan sumber daya, ketakutan akan kelelahan, dan kurangnya kesiapan organisasi untuk berubah. Oleh karena itu, pendekatan berbasis hasil terhadap pengembangan kepemimpinan bagi dokter dinilai merupakan yang paling efektif agar dapat menunjukkan perbaikan dalam tindakan individu, organisasi, dan pasien. Tindakan tersebut harus mencakup kesadaran diri individu, efikasi diri, pengetahuan kepemimpinan, keterampilan dan perilaku, serta dampak organisasi dan hasil pasien. Pengajaran yang efektif mencakup lokakarya interaktif, simulasi video, masukan dari rekan dan pakar, masukan dari berbagai sumber, pembinaan, pembelajaran tindakan, dan pendampingan.

Status berbasis prestise adalah dasar pembelajaran sosial dan transmisi budaya dalam masyarakat. Keahlian para pemimpin tersebut, berdasarkan kompetensi dalam bidang yang bernilai budaya, ditandai dengan adanya rasa hormat dari orang lain, serta keinginan untuk belajar dari mereka. Secara analogi, seorang pemimpin yang kredibel dan bergengsi dinilai tinggi dalam hal kecerdasan klinis dan akademis, dianggap sebagai pemimpin yang murah hati yang bersedia berbagi keterampilan dan pengetahuannya, dan sangat dihormati oleh rekan-rekan klinisnya.

Transmisi budaya terjadi melalui strategi pembelajaran sosial langsung yaitu infocopying, yang berupa bentuk pembelajaran sosial langsung dari orang lain. Hal ini termasuk imitasi (memperoleh pola motorik melalui observasi), emulasi tujuan (menyimpulkan tujuan perilaku melalui observasi) dan pengaruh, dimana model mengekspresikan pandangan yang mengarahkan orang lain ke arahnya. Biaya eksperimen individu untuk mengembangkan keterampilan seringkali tinggi, sehingga orang termotivasi untuk mencari model potensial untuk ditiru. Manusia pertama-tama berusaha belajar dari orang lain, sehingga menghindari dampak inovasi yang berlebihan, dan kemudian mengasah keterampilan mereka melalui praktik individu. Model-model tersebut dicari berdasarkan petunjuk-petunjuk tertentu: kompetensi model dalam domain yang bernilai budaya (menggunakan ukuran hasil sederhana yang dapat diamati, misalnya jumlah publikasi penelitian); rasa hormat yang ditunjukkan orang lain kepada model, diwujudkan dalam bentuk status dan prestise (misalnya rasa hormat profesional yang diberikan oleh rekan kerja); dan kesehatan dan kebugaran model yang dapat diamati.

Ada potensi penyalinan informasi sistem kesehatan dari dokter dengan keahlian klinis dan akademis yang diakui. Kepemimpinan ahli medis yang berbasis prestise harus tertanam di semua tingkat layanan kesehatan untuk memfasilitasi pembelajaran sosial, termasuk standar etika dan profesional, serta keterampilan medis dan akademik ahli. Kepemimpinan berbasis prestise dapat memberikan landasan bagi kerjasama berbasis tim – melalui perilaku yang berkorelasi antara pemimpin dan pengikut, serta di antara rekan-rekan.

Kepemimpinan berbasis prestise kontras dengan kepemimpinan berdasarkan hierarki berbasis dominasi yang menggunakan kekuatan-ancaman, yang terlihat pada primata dan hewan lainnya, dan muncul bersamaan dengan prestise pada manusia. Dominasi adalah mekanisme budaya manusia untuk mencapai dan mempertahankan tingkat sosial yang tinggi. status melalui paksaan.

Hierarki dominasi dapat terwujud dalam manajemen lini yang ketat dalam sistem layanan kesehatan yang ditandai dengan interaksi agonistik, di mana beberapa individu dapat secara paksa mengeksploitasi kendali atas biaya dan manfaat untuk mendapatkan rasa hormat dari orang lain melalui bentuk agresi, intimidasi, dan ancaman. Perundungan dan pelecehan yang umum terjadi di layanan kesehatan mungkin timbul dari hierarki dominasi, yang mengarah pada peluang adanya pemaksaan oleh dokter terhadap dokter. Formalisasi peran organisasi dalam birokrasi administrasi layanan kesehatan yang luas di bawah kendali pembuat kebijakan dan politisi memfasilitasi penguatan hierarki tersebut, sehingga memungkinkan bos yang tidak bermoral untuk menindas dan mengendalikan dokter junior dan senior mereka. Perubahan sistemik, seperti mewajibkan dewan rumah sakit – termasuk pimpinan dokter – untuk menjadikan kesehatan psikososial dan kesejahteraan staf mereka sebagai indikator kinerja utama.

Kurangnya efektivitas intervensi untuk mengatasi perundungan dan pelecehan di tempat kerja secara umum, dan khususnya dalam layanan kesehatan, mungkin timbul dari kurangnya akses terhadap pengaruh budaya untuk meningkatkan etos sistem kesehatan. Terdapat potensi untuk memanfaatkan para pemimpin dokter yang berbasis prestise untuk secara etis memberikan contoh dan mengelola perilaku intimidasi dan pelecehan yang berbasis ancaman dan dominasi, dan misalnya, kepemimpinan prososial yang berbasis prestise dapat menumbuhkan etos kooperatif.

Penelitian antropologi mengenai pembelajaran sosiokultural melalui prestise berdasarkan keahlian sejalan dengan penelitian organisasi yang menyatakan bahwa dokter dapat menjadi pemimpin yang kredibel dan efektif, melalui pengetahuan dan keterampilan khusus mereka dalam penyediaan layanan kesehatan. Kepemimpinan berbasis prestise ahli dapat menghilangkan dampak manajemen berbasis dominasi yang menimbulkan intimidasi dan pelecehan di tempat kerja layanan kesehatan, dan dimana intervensi sangat diperlukan. Kepemimpinan dokter yang diakui oleh rekan-rekan mereka, baik dalam kecerdasan klinis maupun akademisnya dapat memberikan dampak budaya yang besar terhadap pembelajaran, kerja sama, dan moral dalam layanan kesehatan selama pandemi COVID-19 dan setelahnya.

Selengkapnya dapat diakses melalui:
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10466946/ 

 

 

 

The Future Of Vision: How AI Is Revolutionising Eyecare

The integration of artificial intelligence (AI) into healthcare is rapidly transforming numerous fields, and ophthalmology is no exception. AI’s potential to analyse vast amounts of data with precision is reshaping how eyecare professionals diagnose, treat, and manage vision-related issues.

Continue reading